
" Siala* tuh nenek lampir, bikin ngerusak rencana gw aja ! Gw harus cepat keluar dari rumah sakit ini, agar bisa mendekati Daren kembali. Dan aku harus hamil lagi, biar aku bisa jadikan anak itu untuk mempertahankan pernikahan ku dengan dia sampai semuanya siap aku pergi dari hidup nya. Terlebih wanita breng*** itu sedang hamil anak Daren, pasti nenek lampir itu semakin memuji dia. Aku ga akan rela ! " Ucap Tasya geram. Sampai-sampai Tuti menggelengkan kepala nya, merasa tak percaya ada orang sejahat itu di hadapannya.
Melihat Tuti dengan ekspresi, Tasya bertambah geram. Dia tak ingat jika ada Tuti di sana.
" Kenapa ekspresi mu seperti itu ? Mau mengadu sama majikan mu ? Aaaahhh...pergi kamu dari sini, aku tak butuh kamu lagi ! Kamu lihat kan aku bukan wanita cacat lagi seperti dulu, aku sudah normal kembali. " Ucap Tasya dengan sombongnya, mood nya bertambah buruk karna Tuti mengetahui rencana busuknya.
" Kenapa sih nyonya ga sadar juga ! Harus nya nyonya bersyukur masih di kasih kesempatan untuk hidup untuk kedua kalinya ! Nanti jika Tuhan mengambil nikmat nyonya selama nya, nyonya akan menyesal ! " Tuti berusaha mengingat kan Tasya, namun sayangnya ucapan Tuti membuat Tasya merasa tambah kesal. Jelas saja dia tak akan terima ucapan Tuti.
" Berani sekali kamu bicara itu padaku ! Memangnya kamu itu siapa ? Kamu itu hanya seorang pembantu, tak pantas menggurui aku ! " Sahut Tasya kesal.
Dan akhirnya Tuti tak melanjutkan perbincangan itu lagi, dia justru memilih untuk mengirim pesan chat kepada tuan nya yaitu Daren.
Tasya langsung menghampiri Tuti dan mengambil ponsel Tuti dengan paksa.
" Nyonya kenapa ambil handphone saya ? Sini kembalikan ! " Ucap Tuti tak terima. Namun sayangnya Tasya tak langsung memberikan ponsel Tuti, Tasya melihat-lihat dulu ponsel Tuti. Tapi nyatanya selama ini Tuti tak pernah sedikitpun mengadu, dan saat itu hanya ingin memberi tahu jika Tasya tak membutuhkan nya. Dia pun sudah merasa muak dengan sikap sombong Tasya, jika tak butuh uang besar mungkin dia sudah lama menolak mengurus Tasya.
" Kamu mau kirim pesan apa ? Mengadu semua ucapan saya ? " Tanya Tasya sambil menatap tajam Tuti.
" Loh kata nyonya tadi Nyonya tak butuhkan saya lagi ! Jadi saya mau bicarakan ini ke pak Daren. Tugas apa saya selanjutnya ! Kalau saya mau mengadu semuanya, dari dulu aja saya ceritakan semuanya, tapi nyatanya kan tidak. Saya menutup rapat rahasia nyonya ! " Sahut Tuti membuat Tasya menyeringai licik, karna rencananya berhasil. Daren tak akan tau semua perbuatan dia selama ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Daren sudah pulang dari rumah sakit, dan untuk sementara waktu dia tinggal di rumah orangtuanya. Kondisi nya sudah membaik, namun Mama Mila meminta Daren untuk diam di rumah dua hari lagi. Setelah hasil kontrol nanti baik-baik saja, barulah Mama Mila bertambah tenang. Hal yang sama dengan Tasya. Pihak rumah sakit meminta Tasya tiga hari lagi di rawat di rumah sakit. Karna Tasya masih menyelesaikan tahapan fisioterapi. Sampai semua normal.
" Sepertinya aku harus menghubungi Dion untuk menyuruh nya dia ke sini malam ini ! Aku harus bicarakan semuanya dengan dia, aku juga sangat rindu padanya. Mungkin lebih baik setelah aku pulang, aku menghindari untuk tidak bertemu dulu dengan Dion agar Daren tak curiga. " Gumam Tasya.
Dan akhirnya Tasya memiliki rencana untuk menyuruh Tuti pulang biar dia bisa bermesraan dengan Dion sekalian mencoba ranjang rumah sakit untuk bercinta.
Tentu saja Tuti tak masalah, dia hanya mengikuti apa yang di perintah majikannya. Persetan dengan apa yang di lakukan Tasya nanti, pastinya Tasya akan melancarkan aksi nya tanpa sepengetahuan dia.
\=\=\=\=\=
" Don, tolong kamu ke rumah sakit bawakan makanan untuk Tasya. Aku tak ingin dia marah, karna aku melupakan nya. Biar dia bersemangat segera sembuh ! Sekalian tolong tanyakan kepada dokter atau perawat yang merawat Tasya, masalah kondisi Tasya dan kapan di perbolehkan pulang ! " Perintah Daren pada sang asisten.
Dan di rumah sakit saat ini Tasya sedang menghubungi Dion untuk menemui dirinya di rumah sakit untuk membicarakan perihal yang penting. Awalnya Dion menolaknya karna sudah berjanji pada Rianty akan berkunjung ke rumah nya. Namun karna Tasya memaksa akhirnya Dion menyetujui nya.
Seperti biasanya Dion mendatangi rumah sakit dengan memakai hoodie berwarna hitam, kaca mata hitam, dan juga topi agar tak ada yang mengetahui identitas nya.
" Sayang... akhirnya kamu datang juga ke sini ? Aku rindu sekali dengan mu. " Ucap Tasya saat melihat kedatangan Dion. Bahkan Tasya yang kini sudah tak menggunakan infus langsung bangkit memeluk Dion, melepaskan rasa rindunya. Mereka saling berpelukan erat. Namun sayangnya rasa cinta nya sedikit luntur, dan terbagi dengan Rianty yang belum lama dia pacari.
__ADS_1
" Maaf Sa...aku menduakan mu. Karna hatimu pun untukku telah kau bagi dengan Daren. " Ucap Dion lirih dalam hati. Dia tak mau membayangkan betapa sakitnya Tasya jika cintanya terbagi, karna selama ini yang Dion tau Tasya telah banyak berkorban untuk nya. Dengan relanya Tasya mengkhianati Daren untuk menjalin hubungan dengan nya.
" Kamu kenapa dia saja ? Apa kamu tak merindukanku ? " Tasya melepaskan pelukannya, dan menatap Dion. Entah mengapa hatinya merasa ada sesuatu yang kekasihnya tutupi darinya.
" A...aku ? Kata siapa aku tak kangen sama kamu ? " Mungkin belum saatnya dia berkata jujur pada Tasya, Dion ingin Tasya benar-benar sehat dulu. Ingin mencari waktu yang tepat untuk dirinya mengungkapkan.
" Lihatlah ! Aku sudah sembuh ! Aku sudah normal kembali !" Tasya berputar-putar dan menampilkan wajah bahagianya.
Nyes
Ada perasaan yang di rasa Dion saat melihat senyum indah yang terbit dari bibir Tasya, rasanya dia tak sanggup bicara apa yang terjadi sekarang.
Dion mencoba tersenyum, menghibur Tasya. Ikut larut dalam kebahagiaan wanita yang pernah ada di hatinya seutuhnya.
Doni kini sedang berada di sebuah restoran sedang menunggu pesanan makanan untuk Tasya. Membeli 1 paket nasi, ayam bakar, dan juga capcay.
" Sudah selesai, sekarang tinggal ke rumah sakit bertemu wanita ular itu. Rasanya malas sekali membelikan dia makanan yang lezat dan harus bertemu dengannya. " Gerutu Doni, dan saat ini dia sedang melajukan kendaraan menuju rumah sakit.
Dan di dalam ruang rawat inap Tasya, Tasya sedang berdebat dengan Dion yang menolak untuk bercinta. Dengan alasan dia takut jika dokter dan perawat masuk, dan tau tentang perselingkuhan mereka. Ada perasaan was-was yang di rasa Dion saat mereka berciuman mesra.
__ADS_1
" Aku pamit ya ! Nanti kita berkabar lagi ! Semoga kamu cepat pulih dan kita bisa bertemu lagi ! " Ucap Dion lembut, mengelus rambut Tasya dan mencium kening Tasya agar sang kekasih tenang dan mengerti. Dengan perasaan berat dan wajah cemberut Tasya melepaskan Dion pergi meninggalkan nya.
Bruk...