
Daren menaiki anak tangga menuju kamarnya, perlahan dia membuka pintu kamar memasuki kamarnya.
Tes
Tes
Tes
Tak terasa air mata Daren menetes dari pelupuk nya.
" Bahkan untuk berdiri pun aku tak mampu tanpa dirimu ! Aku lemah ! Aku lemah tanpa mu ! Aku baru menyadari betapa berarti nya dirimu di hidupku ! Del...aku sangat merindukan mu ! " Daren bersimpuh di lantai, tubuhnya terasa lemah bahkan untuk menopang kedua kaki nya pun rasanya tak kuat.
Bi Yati dan Bi Yani yang merasa khawatir dengan kondisi tuannya memilih menyusul tuannya ke atas. Dia takut jika tuannya akan berbuat nekat bunuh diri karna frustasi.
" Tuan...ayo bangun ! " Ucap Bi Yati yang mencoba membangunkan Tuannya. Begitu juga Bi Yani yang mengikuti Bi Yati ikut membantu Tuannya untuk bangkit dan membawa tuan nya ke ranjang. Membaringkan tubuh tuannya di ranjang.
" Yan...buatkan tuan teh manis hangat ! Apa Tuan mau maka ? " Titah Bi Yati dan bertanya pada tuannya. Namun Daren hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Seorang yang angkuh, sombong , dingin , arogan dan semacamnya tak ada lagi, kini berganti menjadi orang yang lemah tak berdaya.
" Ini tuan di minum dulu, biar tubuh tuan hangat ! " Bi Yani meletakkan teh manis hangat di nakas. Dengan tangan bergetar Daren mencoba meraihnya.
" Maaf tuan, ada yang tuan butuhkan lagi ? Jika tidak kami permisi dulu ? " Tanya Bi Yati, dan langsung mendapat gelengan kepala dari tuannya.
Bi Yati dan Bi Yani keluar meninggalkan kamar tuannya menuruni anak tangga kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Kring...kring...
" Bi Yati, seperti nya ada ponsel berbunyi dari kamar Bi Yati ! " Ucap Bi Yani menghampiri Bi Yati yang sibuk memotong sayur-sayuran. Bi Yani yang sedang mencuci tak sengaja mendengar bunyi ponsel yang terus menerus berdering, karna ruang laundry tempat dia mencuci bersebelahan kamar para pekerja nya. Bi Yati dan Bi Yani. Di kediaman Delia, Bi Yati bertugas memasak dan membersihkan lantai 1 dan halaman rumah sedang Bi Yani bertugas mencuci, setrika, dan membersihkan lantai 2.
__ADS_1
Mendengar laporan dari Bi Yani, akhirnya Bi Yati memilih menghentikan dulu urusan motong memotong nya dan menuju kamarnya. Dia khawatir keluarga nya yang menghubungi dirinya karna penting.
" Ga ada panggilan masuk dari siapapun ? Kata Yani, ponsel ku terus berdering ? " Gumam Bi Yati dalam hati, dia tak ingat jika sebelum berangkat Delia sempat menitipkan ponsel pemberian Daren ke Bi Yati. Ya... tentunya Delia tak ingin Daren mencari keberadaan dirinya lewat menyadap nomor telpon dirinya. Delia tak ingin sedikit pun meninggalkan jejaknya. Namun Delia sudah sempat menyimpan nomor telpon ibu mertuanya, Bi Yati , Reynaldi jika suatu saat nanti dia membutuhkan.
Tapi tak lama kemudian ponsel Delia berbunyi lagi..
" Bunyi punya siapa ya ? " Gumam Bi Yati. Dia sempat berpikir, karna saat ini dia sedang memegang ponsel miliknya.
" Ya ampun punya Nyonya Delia, pasti Tuan Daren yang menghubungi nya. " Bi Yati akhirnya ingat.
" Aku harus segera beri tahu tuan. " Ucap Bi Yati saat menemukan ponsel Delia, dan benar saja tuannya lah yang menghubungi ponsel milik Nyonya ya.
Bi Yati melangkahkan kaki nya menuju kamar tuannya...
Sedangkan Daren di dalam kamar sedang menggerutu karna Delia tak kunjung mengangkat telpon dari nya..
" Kemana sih kamu Del ? Sudah berkali-kali aku menghubungi dirimu, kamu tak kunjung mengangkat ? " Daren merasa kesal hingga melempar ponselnya begitu saja ke ranjang.
" Tuan maaf ganggu ! " Ucap Bi Yati dari luar kamar.
Akhirnya dengan malas, Daren berjalan menuruni ranjang membuka pintu kamarnya.
" Maaf Tuan ini handphone Nyonya ! Semalam sebelum berangkat nyonya menitipkan ini pada saya ! Maaf tadi saya lupa memberikannya pada tuan ! " Ucap Bi Yati sambil menyerahkan ponsel milik Delia ke Daren.
Semakin lesu saja Daren mendengar penuturan Bi Yati.
" Ya sudah..." Ucap Daren singkat, kemudian langsung menutup pintu kamar begitu saja.
" Aaaahhh..." Daren meluapkan perasaan nya.
__ADS_1
" Del...kenapa kau tega melakukan ini padaku ? Kamu berhasil jika niat menghukum ku ! Kamu kemana Del membawa anak kita ? " Gumam Daren.
Rasa frustasinya semakin menjadi, saat kenangan kebersamaan nya dengan Delia terlintas. Teringat akan perlakuannya dulu, saat menganggap Delia sebagai seorang ja****, betapa jahat nya dulu dirinya menghina mencaci maki Delia, dan bahkan bermesraan dengan Tasya di hadapan Delia. Ini semua kesalahannya, dan kini dia harus menanggung dari hasil perbuatannya.
" Lebih baik aku mandi dan cari pria breng*** itu. Ku yakin pasti dia yang merencanakan ini. "
πππ
" Aku yakin pasti suami Delia akan mencari ku, menanyakan keberadaan istri nya. Jangan mimpi, sampai kapan pun aku tak akan buat kalian bersatu ! Aku tak akan pernah memberi tahu keberadaan Delia. Ku pastikan tak akan ada satu orang pun yang tau ! " Ucap Reynaldi yang kini menyeringai licik. Jika dirinya tak bisa memiliki Delia, Daren pun tak akan bisa. Sebisa mungkin dirinya akan memisahkan Delia dari Daren.
Daren sudah berdandan rapih, karna hari ini setelah menemui Reynaldi dia akan langsung ke Perusahaan nya karna hari ini ada pertemuan penting dengan klien yang ingin menanam modal di perusahaan yang dia pimpin.
" Tuan makanan sudah siap ! " Ungkap Bi Yati saat melihat tuannya menuruni anak tangga.
Karna merasa perutnya lapar, akhirnya Daren memilih sarapan dulu sebelum berangkat.
" Biasanya kamu yang menyiapkan untuk ku. Aku merasa rumah ini terasa sangat sepi. Del...ku mohon kembali lah ke rumah ini ! Aku ingin mendengar suara tangis anak kita dan juga mendengar anak kita memanggil aku papi saat beranjak besar. " Gumam Daren dalam hati.
Bi Yati menatap tuannya yang diam termenung. Dia sangat yakin jika kini tuannya sedang memikirkan nyonya nya. Ada perasaan senang yang di rasa Bi Yati saat melihat perubahan tuannya yang terlihat kehilangan.
Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, Daren telah selesai sarapan dan kini sudah bersiap untuk berangkat ke butik Delia. Dia ingin mencari tahu keberadaan sang istri.
Kini Daren telah sampai di halaman parkiran butik Delia, namun butik Delia masih tutup dan terlihat sepi.
" Terpaksa aku harus menunggu pria breng*** itu di sini ! " Ujar Daren yang kini menunggu di parkiran.
Sudah 1,5 jam dia menunggu, namun butik tak kunjung di buka. Daren terlihat sudah mulai gelisah. Hingga akhirnya selang 30 menit Reynaldi turun dari mobilnya dan memasuki butik begitu juga pegawai butik Delia.
" Breng*** di mana kau sembunyikan istri ku ! Cepat katakan ! " Ucap Daren yang kini menarik kerah baju Reynaldi, memaksa Reynaldi untuk bicara.
__ADS_1
Author minta dukungan nya ya ! Mohon tinggalkan jejak kalian ya !πππ€ππππ·πΉ