
Hari ini Doni akan menemui Tuan Fatah, dia ingin mencari tau lebih jelas tentang Anara. Karna orang suruhan Doni tak bisa memberikan laporan secara detail tentang motif di balik penyamaran Anara.
"Selamat siang tuan Doni, silahkan duduk! Wah suatu keberuntungan untuk saya, atas kehadiran anda di kantor kami!" ucap Tuan Fatah. Tuan Fatah termasuk salah satu pengusaha hebat yang menjadi favorit Doni. Meskipun dirinya di kenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Jakarta, namun Tuan Fatah selalu welcome oleh siapapun. Seperti saat ini, meskipun Doni hanyalah seorang asisten tapi dia tetap menyambut dengan baik.
Doni membalas dengan senyuman. Kini mereka sudah duduk berhadapan. Tuan Fatah memandang Doni dengan tatapan menyelidik, membuat Doni tiba-tiba merasa tegang.
"Katakan, apa yang tuan Doni ingin sampaikan kepada saya!" ujar Tuan Fatah kembali.
Doni mencoba menetralisir jantungnya yang kini berpacu sangat cepat. Doni pun merasa aneh, padahal ini bukanlah hal pertama bagi Doni untuk mengobrol masalah serius. Tapi baru kali ini dirinya merasa gugup.
"Emmm...begini tuan, sebelumnya saya ingin meminta maaf pada anda! Kedatangan saya ke sini tidak ada hubungannya dengan bisnis. Saya ingin menanyakan masalah pribadi kepada anda! Apa saya boleh bertanya tentang putri anda yang bernama Anara?" ujar Doni. Akhirnya Doni bisa merasa lega karna sudah menyampaikan maksud dan tujuan dirinya datang.
Dan kini tinggallah Tuan Fatah yang merasa bingung, mengapa Doni menanyakan tentang anaknya.
__ADS_1
"Me-memangnya ada apa dengan Anara? Apa dia membuat ulah dengan anda? Dan kalian kenal di mana?" tanya Tuan Fatah sambil menatap wajah Doni dengan serius, hal itu membuat Doni bertambah tak karuan.
Doni berpikir sejenak, apa sebaiknya dirinya menceritakan tentang apa yang di lakukan Anara. Hingga akhirnya Doni memutuskan menjelaskan semuanya pada Tuan Fatah. Tentu saja hal itu membuat Tuan Fatah tersentak kaget atas kelakuan sang anak yang benar-benar keterlaluan. Dia tak menyangka jika di belakangnya, Anara menyulap dirinya menjadi gadis yang culun dan kampungan. Dirinya baru ingat, jika sang anak sempat pergi meninggalkan rumah dengan alasan ingin mandiri. Ternyata di luar sana membuat ulah.
"Terima kasih infonya tuan Doni. Sepertinya saya harus membuat tindakan tegas kepadanya, untuk segera menikahkan dia setelah lulus kuliah. Selama ini saya selalu di buat pusing dengan sikap mandirinya. Seperti halnya saat pemilihan tempat magang, dia tetap bersikeras untuk mencari tempat magang di tempat orang lain. Padahal saya sudah membebaskan dia untuk memilih di perusahaan saya mana pun dia mau. Dia juga tak pernah mau memakai mobil pemberian saya, dan lebih suka naik motor sportnya. Dan asal tuan Doni ketahui dia juga meminta mobil yang murah tak seperti kakaknya. Anara juga selalu bersikap sederhana." ungkap Tuan Doni. Mendengar penuturan tuan Fatah tentang Anara, membuat Doni merasa salut. Ternyata apa yang dia pikirkan tentang Anara selama ini ternyata salah, Anara menyamar hanya ingin hidup tanpa embel-embel sang papa. Senyum manis terbit dari bibir Doni. Dan bayangan wajah cantik Anara tiba-tiba menghampiri dirinya.
Namun tiba-tiba saja Doni teringat akan ucapan Tuan Fatah yang menyatakan bahwa dirinya akan segera menikahkan Anara. Entah mengapa Doni merasa tak terima jika Anara menikah dengan orang lain.
Tuan Fatah menatap wajah Doni seksama dan berakhir dengan senyuman. Karna ternyata menganggap ucapannya dengan serius, seperti tak rela.
"Apa kau mau menikahi Anara?" tanya Tuan Fatah to the point, membuat jantung Doni hampir melompat dari tempatnya. Dia tak menyangka Tuan Fatah akan menanyakan hal itu padanya. Tuan Fatah cukup mengenal Doni, meskipun Doni hanya seorang asisten tapi Tuan Fatah yakin jika Doni calon menantu yang baik, yang bisa melanjutkan kerajaan bisnisnya jika dirinya sudah tidak ada. Tuan Fatah tidak peduli jika Doni hanya orang biasa.
Doni hanya diam seribu bahasa, bibirnya terasa kelu untuk mengucap jika dirinya mau. Mungkin ini terlalu cepat, dia pun sangat yakin jika Anara akan menolaknya. Karna selama ini mereka adalah musuh bebuyutan. Terlebih belum ada cinta di antara mereka.
__ADS_1
"Apa Tuan merasa yakin memilih saya sebagai calon menantu anda? Saya bukanlah dari keluarga kaya, kedua orang tua saya pun sudah meninggal sejak lama. Saya hanya hidup sebatang kara. Sedangkan Anara terlahir dari keluarga yang sempurna, usia dia pun terpaut jauh dengan saya. Sangat banyak perbedaan kita." ujar Doni jujur. Namun Tuan Fatah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Karna dia bukan tipe calon mertua yang melihat calon menantunya dari segi harta. Baginya harta Anara sudah cukup banyak, Anara ga akan kekurangan. Anara bukan tipe wanita yang mencari pria dari segi harta. Bahkan Anara selama ini selalu tak ingin melibatkan sang papa dalam hidupnya. Dia hanya ingin mencari pendamping yang tulus mencintai dirinya, bukan karna harta papanya. Terlebih calon suami kedua putrinya kelak akan melanjutkan perusahaan yang di miliki Fatah.
"Lantas jika Anara menolak saya bagaimana?" ujar Doni. Melihat latar belakang dirinya dengan Anara yang musuh bebuyutan dan sifat keras kepala Anara membuat Doni harus melakukan kerja keras untuk meraih cinta Anara.
"Dekatilah dia! Berikan cinta yang tulus padanya! Karna itu yang dia butuhkan! Bukan harta yang melimpah. Saya juga akan membicarakan hal ini kepada Anara. Saya akan mengatur sebuah rencana agar Anara mau menerima kamu. Satu pesan saya untuk kamu, jangan pernah sakiti putriku! Cintailah dia secara tulus! Jika kamu coba-coba untuk menyakiti hatinya, saya akan membawa paksa dia dari kamu!" Doni Langsung menganggukkan kepalanya, mengerti atas ucapan Tuan Fatah. Dan dia berjanji akan berusaha melakukannya.
Kini Doni sudah sampai di depan pintu kosan Anara. Dia ingin menanyakan langsung maksud Anara melakukan penyamaran. Agar dirinya lebih yakin, jika Anara bukan mengejar bos nya.
Saat pintu kamarnya di ketuk, Anara langsung cepat-cepat untuk segera membukanya. Dan melihat penampilan Anara yang seksi, tentu saja hal itu membuat Doni tak rela jika keseksian Anara menjadi tontonan publik.
"Apa kamu tak merasa malu berpakaian seperti ini?" ujar Doni. Doni langsung mendorong tubuh Anara agar dirinya bisa masuk ke dalam kamarnya. Doni mendorong hingga Anara menyentuh dinding. Dan jarak mereka sangat dekat. Bahkan hembusan nafas mereka sangat terasa satu sama lain. Jantung keduanya berpacu sangat cepat.
Selamat hari Senin, selamat beraktifitas. Jangan lupa dukungannya, waktunya voteππ
__ADS_1