Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Panas


__ADS_3

Tasya mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia menampar wajah Dion, meremas mulut Dion yang tak berfilter.


" Aku menyesal. Kalau aku tak mengkhianati Daren pasti saat ini aku masih hidup enak. " Gumam Tasya. Saat ini dirinya berusaha belajar untuk memasak. Dulu jangan kan untuk memasak, menyentuh peralatan masak pun tak pernah.


Sedangkan kini Dion dan Riyanti sudah berada di dalam kamar. Namun tak ada yang mereka lakukan. Awalnya Riyanti merasa bingung dengan ucapan Dion akan bercinta. Namun setelah Dion menjelaskan, akhirnya Riyanti yang sempat ingin memutuskan hubungannya dengan Dion menjadi mengerti. Dion bersujud meminta maaf pada Riyanti, karna dirinya pernah menjadi seorang penzina. Dan Dion menceritakan jika Tasya wanita yang saat ini tinggal bersama nya adalah mantan pemuas ranjangnya, namun Dion berjanji tak akan melakukan lagi pada Tasya.


Berbeda hal nya saat ini yang di rasa Tasya. Tasya merasa sangat gelisah, hati nya terasa sangat panas. Bahkan dirinya sempat menguping apa yang sedang di lakukan Dion dan Riyanti di dalam, jiwa kepo nya meronta. Dan hasilnya dia harus menikmati hasil masakan nya gosong.


Tasya langsung berlari kembali ke dapur saat suara pintu akan di buka.


" Aw...panas. " Ringis Tasya saat tangan nya terkena wajan panas, saking kagetnya Tasya tak sadar langsung memegang wajan panas.


" Kau ini bisa masak ga sih ? Kau ingin membuat apartemen ku kebakaran ? " Sentak Dion membuat Tasya yang sedang sakit karna tangannya melepuh terkena wajan panas menjadi bertambah sakitnya. Hatinya pun menjadi sakit. Tak ada rasa peduli yang di lakukan Dion, Dion yang dia kenal dulu benar-benar telah berubah.


Tasya menggelengkan kepalanya lemah, bahkan butiran bening kini menetes di pipinya. Dirinya tak kuasa lagi menahan kesedihannya di perlakukan Dion seperti ini.


" Percuma donk aku menggaji kamu jika masak saja tak bisa ? " Ucap Dion kasar.


" Sudahlah mas...jangan marah-marah ! Mungkin si mba emang ga bisa masak, biar aku yang memasak saja.. " Ucap Riyanti lembut menenangkan Dion. Dion mereda justru Tasya lah yang saat ini hatinya merasa sangat panas. Bagaimana tidak, Riyanti saat itu mengusap wajah Dion dengan mesra.


" Kamu memang calon istri ku yang sempurna, wajar jika aku sangat mencintaimu. I LoVe You Honey..." Sahut Dion mesra membuat Tasya mengepalkan tangannya merasa geram.

__ADS_1


" Sungguh teganya kamu menyanjung wanita lain di hadapan ku ? Bahkan panggilan mesra mu dulu, kini kau sematkan padanya ! " Ucap Tasya dalam hati.


Riyanti memasak dengan cekatan. Memang benar yang di katakan Dion. Dirinya merasa bersyukur karna memilih Riyanti menjadi pendamping hidupnya. Bukan hanya cantik dan lembut, Riyanti juga cocok menjadi istri yang baik sangat berbeda dengan Tasya.


" Emm...harum sekali masakan mu. Seperti nya sangat enak. Bukan hanya cantik tapi kamu juga pintar mengurus calon suami mu. " Puji Dion bahkan Dion sempat memberikan kecupan di pipi Riyanti membuat hati Tasya seperti kebakaran.


" Mba...ayo makan bareng sini ! " Ajak Riyanti


Bagai mendapatkan angin segar, Tasya melangkahkan kaki nya menghampiri meja makan, namun saat dirinya ingin duduk suara Dion membuat dirinya terhenti.


" Enak saja mau makan bareng. Pembantu tak pantas makan bareng ! Makan saja sana masakan mu ! Dasar pembantu ga tau diri, bukannya menyiapkan ini malah nyonya nya yang masak dan dengan tak malunya mau ikut makan. " Ucap Dion kasar membuat hati Tasya seperti tertusuk belati.


" Biarin aja mas ! Takutnya si mba laper juga, biar dia makan bersama kita ! " Sahut Riyanti, namun Dion tetap tak mempedulikan nya membuat Riyanti menggelengkan kepalanya. Riyanti merasa tak percaya jika Dion begitu dendam pada Tasya.


" Aw...perutku sakit sekali. " Ringis Tasya. Bukan hanya sakit karna penyakit yang dia derita, tapi sepertinya lambung nya pun ikut bermasalah karna dirinya sering telat makan.


Tasya membaringkan tubuhnya di ranjang. Kamar Tasya ukurannya sangat kecil hanya berisi kasur tidur untuk bawah dan lemari plastik. Tak ada ac dan hanya kipas angin yang ada di sana. Tasya benar-benar merasa kehidupan yang sangat sulit. Namun hanya Dion yang kini di jadikan tumpuannya.


" Tasya...Tasya. " Teriak Dion berkali-kali memanggil Tasya.


Mendengar namanya di panggil, Tasya pun berusaha bangkit meskipun terus terasa sangat melilit. Tasya keluar menghampiri Dion dan Riyanti yang masih duduk di meja makan.

__ADS_1


" Bereskan ! Jangan malas, kerjaannya tidur terus ! " Perintah Dion.


Tasya tertatih-tatih membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekas Dion dan Riyanti makan. Meskipun perutnya terasa sakit, namun dirinya tetap memaksakan. Bahkan kini Tasya terlihat sangat pucat, Riyanti yang melihat wajah Tasya seperti itu membuat dirinya merasa tak tega, dia merasa kekasihnya terlalu keterlaluan.


Riyanti mencoba membantu Tasya untuk mencuci piring, namun sayangnya Dion melarangnya. Dion menarik tangan Riyanti dan membawanya ke ruang tv untuk bersantai.


" Ih...mas...geli ! " Ucap Riyanti saat tangan jahil Dion memberi sengatan di leher Riyanti. Dion langsung menangkap tubuh Riyanti dalam pelukannya. Mata mereka saling menatap.


Tasya menyiapkan dua gelas berisi sirup dan membawanya ke Dion. Dengan sengaja Tasya menyiram tubuh Dion membuat Dion marah besar.


" Breng*** Kau ! Berani sekali kau melakukan hal ini padaku !" Dion menatap tajam Tasya sedangkan Tasya tersenyum puas karna sudah melancarkan aksinya.


Jika Riyanti tak menjadi penengah, dan menahan tangan Dion yang hendak menampar Tasya mungkin saat itu Tasya sudah habis menjadi sasaran empuk Dion.


" Sudah mas ! Jangan berbuat kasar pada dia ! Dia itu wanita, tak pantas kamu melakukan hal itu padanya ! " Sungguh berhati sangat mulia sekali Riyanti, bukan hanya menerima calon suaminya apa adanya namun dia juga justru menjadi penengah perseteruan Tasya dengan Dion.


Riyanti meminta Dion untuk mengantarkan dirinya pulang, dan Dion pun menuruti kemauan sang kekasih. Dan kedua pasangan itu pun pergi meninggalkan Tasya yang termenung meratapi nasibnya.


" Apa lebih baik aku mati lebih cepat saja, agar tak merasakan pembalasan yang begitu menyakitkan ? " Tasya termenung duduk sendiri di kamarnya. Jika dirinya ada kekuatan, mungkin dirinya memilih untuk pergi. Hatinya tak sekuat baja yang harus melihat kemesraan Dion dengan Riyanti di depan mata kepalanya sendiri.


Dan semalaman Tasya hanya menangis. Bahkan dirinya melupakan rasa lapar yang berdemo sejak tadi.

__ADS_1


Setelah mengantarkan Riyanti, Dion pun langsung pulang ke apartemen.


" Kemana dia ? Apa dia pergi karna tak sanggup mendapat caci maki dari ku ? " Gumam Dion dalam hati sambil berjalan menuju kamar Tasya dan ternyata Dion mendapati Tasya yang sedang menangis tersedu-sedu.


__ADS_2