
"Don, hari ini sepertinya saya tak bisa menghadiri pertemuan dengan Tuan Takasimura. Tolong kamu saja yang mewakilinya sama Anara! Saya rasa dia cukup kompeten untuk melakukan persentasi. Nanti pas di sana tolong kerjasama dengan Alana ya!" ucap Daren. Entah mengapa tiba-tiba saja tubuhnya merasa tak enak badan. Sejak tadi tubuhnya mengelus keringat dingin dan kepala nya terasa sangat berat. Hingga akhirnya Daren memilih untuk langsung pulang, di anter oleh supir kantor. Daren langsung pamit pulang meninggalkan Doni yang masih diam terpaku.
"Huhft...mimpi apa gw semalam? Sial banget gw harus bareng si wanita aneh itu." gerutu Doni dalam hati.
Sama hal nya dengan Doni, Anara pun sedang mengumpat Doni dalam hati. Kenapa dirinya harus bersama cowok mesum itu. Setelah kejadian di pantry, Anara menjuluki Doni cowok mesum.
"Ayo kita berangkat bareng ketemu Tuan Takasimura! Apakah sudah di siapkan semua berkas-berkasnya?" ucap Doni membuka omongan. Doni berpikir jika dirinya harus tetap bersikap profesional, meskipun dirinya tak menyukai sekeras bos nya itu.
"Semua berkas sudah saya siapkan! Ini berkasnya! Apa masih ada yang kurang? Tapi untuk berangkat, biar kita masing-masing saja! Karna saya kebetulan membawa motor. Jadi tuan ga perlu bolak balik ke sini untuk mengantarkan saya mengambil motor!" sahut Anara sambil menunjukkan berkas-berkas yang akan di bawa.
"Emm...saya rasa sudah cukup! Jangan membantah! Kita harus berangkat bersama, ini sesuai permintaan tuan Daren. Lagi pula siapa yang bilang, saya akan mengantarkan kamu ke sini? Kamu kan bisa naik taksi online dari sana untuk mengambil motor kamu! Saya soalnya sudah ada janji sama orang!" ujar Doni membuat Anara bertambah gemas. Bagaimana tidak, Anara kini menambah julukan untuk Doni. Pria tidak bertanggungjawab.
Doni tak mempedulikan wajah Anara yang sudah di lipat 12, karna harus berada satu mobil dengannya. Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang sama.
"Dasar wanita aneh! Harusnya kamu suka bareng saya! Jarang-jarang saya membawa cewek masuk ke dalam mobil saya! Kecuali cewek-cewek saya!" sindir Doni. Tentu saja ucapan Doni membuat Anara naik pitam, tidak terima.
"Cih..anda pikir saya sudi naik mobil anda? Bukankah tadi anda yang mengajak saya untuk naik mobil ini? Dasar playboy kelas teri!" sahut Anara ketus membuat Doni mengerem mobil mendadak.
"Apa? Berani-beraninya kamu mengatakan kalau saya playboy kelas teri? Apa kamu mau mencoba rudal saya?" ujar Doni geram, dan hal itu membuat Anara wajahnya berubah memerah.
Dalam hati, Doni tertawa geli. Dia berhasil membuat Anara tak berkutik.
__ADS_1
" Cih...siapa lagi yang mau memberikan rudal aku ke sembarang orang? Padahal aku tak akan melakukan hal itu, meskipun aku seorang pria dewasa. Kelak rudal aku hanya untuk istri ku nanti." gumam Doni dalam hati.
Kini mereka sudah hampir sampai. Tak ada sepatah kata pun terlontar dari bibir mereka. Mereka sibuk dengan pemikirannya sendiri. Anara memilih diam tak merespon ucapan Doni.
Mobil Doni sudah terparkir rapi di restoran mewah tempat mereka akan mengadakan pertemuan.
"Ingat di sana jangan buat malu! Tujuan kita untuk meeting, bukan untuk makan!" ujar Doni membuat Anara semakin geram. Karna merasa terhina dengan ucapan Doni. Doni tidak tau aja siapa Anara, ini bukan pertama kali untuk Anara mencicipi makanan di restoran mewah. Karna setiap dua minggu sekali dirinya selalu makan bersama dengan keluarganya.
Doni berjalan lebih dulu, dan Anara mengekor di belakangnya. Tujuannya langsung menemui Tuan Takasimura.
"Selamat siang tuan, maaf saya datang terlambat! Dan saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada anda, karna tuan Daren berhalangan hadir di karna kan tiba-tiba sakit dan harus segera pulang cepat." ucap Doni membuka obrolan.
Doni melirik ke arah Anara, dia tak menyangka jika cewek culun dan kampungan seperti Anara ternyata sangat menguasai table manner.
"Ternyata dia bisa? Apa dia pernah belajar hal itu? Wanita aneh! Padahal penampilannya norak dan culun begitu, tapi saat makan dia terlihat elegan. Siapa dia sebenarnya? Apa dia hanya sekedar menyamar untuk menggangu rumah tangga tuan Daren?" gumam Doni dalam hati. Dia menjadi curiga dengan Anara.
Di tempat berbeda saat ini Delia sedang sibuk mengurus suaminya yang sakit, dia mencoba melakukan pertolongan pertama.
"Ayah kita bawa ke dokter saja Bun!" ucap Lisa. Saat ini dia berada di samping ayahnya.
"Iya...mas, ayo kita ke dokter! Biar lebih jelas mas sakit apa?" ujar Delia.
__ADS_1
" Iya, jangan-jangan ayah covid lagi? Ih serem, Lisa ga jadi dekat ayah." celetuk Lisa.
Delia mengajak sang anak untuk berdoa agar sang ayah sakit bukan karna terpapar covid 19, meskipun ciri-ciri yang di rasakan suaminya mengarah ke sana. Terlebih sekarang ada varian baru yang lebih membahayakan.
Tanpa pikir panjang, Delia membawa Daren ke rumah sakit untuk melakukan swab pcr. Namun untuk sebagai acuan, Daren akan melakukan swab antigen terlebih dahulu.
" Lisa, Daffa, bunda ke rumah sakit dulu ya!" ucap Delia sambil memapah suaminya ke dalam mobil. Delia sendiri yang membawa suaminya ke dokter.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit, Delia telah sampai di rumah sakit. Delia memilih untuk memeriksakan suaminya di rumah sakit yang dekat perumahannya. Delia langsung membawa suaminya ke IGD untuk melakukan pengecekan. Karna penafsirannya masih dua. Suaminya memang benar-benar sakit atau memang benar terpapar covid 19.
"Ibu juga sebaiknya melakukan swab juga, karna ibu berkontak langsung dengan bapak! Jadi ibu daftar dua ya! Sambil menunggu bapak melakukan pengecekan kondisi bapak!" ucap dokter yang menangani Daren.
Keduanya telah melakukan swab antigen dan pcr. Untuk pcr harus menunggu besok hasilnya. Dan untuk antigen hasilnya langsung keluar dan mereka berdua di nyatakan negatif. Berarti memang Daren sakit biasa. Dan menurut hasil pemeriksaan lab, Daren terkena tipes. Pihak dokter mengatakan jika Daren tak perlu di rawat di rumah sakit. Yang terpenting pola makan harus teratur dan tidak boleh pedas dan asam. Dan di sarankan makan bubur dulu. Dan harus banyak beristirahat minimal 3 hari.
" Baik dok, kalau memang suami saya boleh pulang. Kami putuskan pulang saja dok, istirahat di rumah." ujar Delia dan di setujui pihak dokter. Dokter hanya memberikan resep kepada Delia untuk di tebus.
Mohon maaf kalau kemarin-kemarin ga sempat up. Karna author sedang mengejar kata di dua karya ongoing. Jadi untuk bonchap nya terhambat. Author usahakan mengurus yang ini juga.
Jangan bosan untuk mendukung, karna author sangat butuh dukungannya.
Tekan tombol Like, vote, berikan hadiah, comment, dan juga rating πππππ ππππ
__ADS_1