Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Daffa Devano


__ADS_3

Delia telah kembali pulang ke rumah kakak dari Reynaldi. Sebenarnya dia ingin menyewa sebuah rumah untuk dia tempati. Karna merasa tak enak jika terus menerus merepotkan kakak dari Reynaldi, terlebih hatinya tak pernah terpaut dengan Reynaldi.


" Gimana kamu sudah merasa lebih sehat ? Kalau kamu masih merasa pusing atau lemas, biar kakak saja yang jaga Daffa. " Tanya kak Renita.


" Aku sudah merasa lebih segar kak, tinggal pemulihan saja ! Lagi pula aku ingin merawat anak ku sendiri, menikmati peran ku jadi ibu ! " Ucap Delia dengan senyum mengembang di wajahnya.


" Kamu tidur di kamar bawah saja, sudah kakak bersihkan ! Sebelum kamu pulang, kemarin kakak bersihkan terlebih dahulu. Oh ya, kamu sudah beritahu Reynaldi tentang kelahiran putra mu ? " Ujar Kak Renita.


" Belum, nanti aku hubungi Reynaldi kak ! " Sahut Delia.


Delia berpamitan untuk masuk ke kamarnya, meletakkan Daffa di box, kemudian dirinya ingin membersihkan diri karna merasa tubuhnya terasa lengket.


Tak memakan waktu lama, kini Delia telah selesai mandi. Dirinya langsung bergegas menghampiri sang baby boy yang kini tertidur pulas


" Memandang mu mengingatkan bunda pada ayahmu ? Wajah tampan mu sangat mirip dengan ayah, bunda berharap kelak sifat dan kelakuan kamu tak seperti ayah ! Kamu bisa lebih menghargai seorang wanita ! Teruslah jadi penyemangat dan penerang di hidup bunda. Bunda sayang sama kamu ! " Ucap Delia sambil terus menatap sang anak.


Delia teringat ucapan kak Renita, agar dirinya memberitahukan tentang kelahiran Daffa. Delia mencari keberadaan ponsel nya untuk melakukan panggilan ke Reynaldi.


" Hai...Del. Tumben kamu hubungi aku ? Ada masalah apa Del ? " Tanya Reynaldi membuka pembicaraan di ponsel.


" Aku hanya ingin memberi tahu ke kamu, bahwa aku sudah melahirkan. Dan anak ku cowok. " Sahut Delia dengan tersenyum. Rona bahagia selalu terpancar dari wajah Delia, rasa sakit atas penderitaan sudah terganti dengan kelahiran Daffa.


" Congratulation...Selamat ya Del, akhirnya kamu menjadi seorang ibu. Semoga kelak anak kamu menjadi penolong kamu di kemudian hari. Dan menjadi penyemangat dirimu menjalani kehidupan ! " Doa tulus dari Reynaldi.

__ADS_1


" Makasih ya Rey doanya ! Semoga kamu juga menyusul cepat mendapat pendamping hidup, dan memiliki keturunan !" Ucap Delia, membuat hati Reynaldi tersentak.


" Aku tak akan pernah mencari orang lain untuk menjadi pendampingku, karna aku sudah menemukan dan menunggu dia menerimaku ! " Sahut Reynaldi.


Jleb


Delia terdiam tak bisa berkata-kata. Dirinya sangat yakin jika yang Reynaldi maksud adalah dirinya. Delia termasuk orang yang sulit untuk jatuh cinta, bahkan dengan Daren pun yang telah memberikan dia anak hatinya masih belum terpatri. Apalagi Reynaldi yang selalu dia anggap sahabat.


" Rey...udah dulu ya ! Daffa nangis. " Seakan sang anak tak rela jika sang bunda asyik mengobrol dengan seorang pria yang bukan ayahnya.


Dan akhirnya mau tak mau, Reynaldi memutuskan panggilan telepon dengan Delia.


" Cup... cup...cup ! Anak bunda kenapa nangis ? Haus ya ? " Delia mengambil baby Daffa dari dalam box dan memasukkan sang anak dalam dekapannya.


Baby Daffa tertidur kembali dengan puas, karna perutnya sudah terasa kenyang.


Delia memberikan nama Daffa Devano untuk anaknya. Sengaja dia tak menambahkan nama keluarga Pramudya di belakang nama sang anak. Karna dia tak ingin memiliki kaitan lagi, meskipun tetap Daren lah ayah dari anaknya.


" Sudah hampir satu tahun lama nya aku pergi, aku tak tau apa kamu kini sudah berpisah atau masih terpaku pada maduku ? Beberapa bulan lagi, kita akan selesai kontrak perjanjian kita ! Aku dan kamu sudah bisa bercerai, karna aku sudah melahirkan ! Tak ada lagi yang bisa menghalangi perceraian kita ! " Ucap Delia sambil menatap langit-langit.


Delia sudah mengikhlaskan Daren bersama Tasya. Baginya dia sudah bersyukur bisa memiliki teman hidup yaitu Daffa Devano, anak yang baru beberapa hari terlahir dari rahimnya.


\=\=\=\=

__ADS_1


Sesuai rencana, hari ini Tasya sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Tasya hanya butuh kontrol saja. Dengan keterpaksaan Doni harus menjemput Tasya dan berada satu mobil dengan Tasya, wanita yang di benci Doni.


Doni hanya menjalankan tugasnya, dirinya memilih tak bicara sepatah kata pun pada Tasya.


" Kenapa Lo diam aja ? Pasti Lo kecewakan akhirnya bos Lo masih memilih mendengarkan apa kata gw ? Gw ga habis pikir kenapa Lo benci banget sih sama gw ? Apa Lo cemburu lihat gw sama bos Lo ? Atau mungkin Lo pengen gw puaskan juga ? Gw siap ko melayani Lo, sebagai imbalan karna gw masih memenangkan perlombaan ini ! " Ucap Tasya menggoda, Tasya tertawa terbahak-bahak merasa puas.


" Cih.. Bisa diam ga Lo ? Mau gw turunin di sini ? Naji* gw kasih perjaka gw ke wanita ular kaya Lo ! Mending gw jadi perjaka seumur hidup, dari pada bermain sama wanita jala** seperti Lo ! " Sahut Doni, membuat Tasya geram merasa terhina. Sedangkan Doni masih fokus menyetir. Telinganya mendengar ucapan Tasya, mulutnya berbicara kepada Tasya. Namun tak sedikitpun dirinya melirik ke arah Tasya meskipun Tasya berpakaian sangat sexy.


" Sia*** Lo menghina gw ! Emangnya Lo siapa ? Lo tuh cuma asisten. Harusnya Lo bersyukur bisa bercinta sama gw ! Seorang model papan atas. " Ujar Tasya.


Bukannya terpancing, justru kini Doni tertawa terbahak-bahak. Baginya ucapan Tasya hanyalah sebuah lelucon yang sangat lucu baginya.


" Model papan atas ? Bahkan gw ga yakin Lo seperti itu ! Daren juga sudah bosen ko sama Lo, mungkin milik Lo udah ga enak ! Makanya dia milih bercinta sama Delia, hingga Delia hamil. " Doni terkekeh, memperolok Tasya.


" Lihat saja akan aku buktikan, kalau bos mu akan selalu bertekuk lutut padaku ! " Ucap Tasya dalam hati.


Mobil yang di tumpangin Tasya telah sampai di parkiran apartemen tempat Tasya tinggal. Doni dengan perasaan terpaksa, harus membawakan barang-barang Tasya yang masih menjadi istri bos nya.


" Awas hati-hati, itu barang mahal semua ! Bahkan gaji kamu tak akan sanggup membayar 1 barang ku ! " Ucap Tasya saat Doni mengambil dan membawa barang-barang bawaan Tasya dengan kasar.


Rasanya ingin sekali Doni melemparkan barang-barang bawaan Tasya ke wajah Tasya, namun balik lagi dirinya hanya seorang asisten bos nya. Benar apa yang di katakan Tasya, 1 barang pun dirinya tak akan sanggup membayarnya. Standar dengan 5-10x gajinya. Dan akhirnya Doni memilih mengurungkan niatnya.


" Akhirnya aku bisa menghirup udara segar dan bebas berekspresi lagi ! " Gumam Tasya saat melangkahkan kakinya di apartemen.

__ADS_1


Like, vote, comment, dan hadiahπŸŒ·πŸ˜„πŸ˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™


__ADS_2