
Tasya tak mampu lagi berkata-kata, dirinya memilih untuk pergi meninggalkan Dion. Hatinya sudah sangat sakit.
" Hiks...hiks...mengapa kau terus menghukum ku ? Hentikan, aku sudah tak sanggup lagi ! " Ucap Tasya terisak tangis, rasanya dirinya tak mampu lagi menahannya.
" Aku ga boleh lemah seperti ini, besok aku akan ke tempat Agency model tempat ku bernaung dulu. " Ucap Tasya, Tasya menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
Tubuhnya sudah terasa lelah, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk tidur persiapan besok. Saat Dion dan Riyanti bekerja, Tasya akan pergi ke luar.
\=\=\=\=\=\=
Matahari mulai menampakkan cahaya nya. Udara pagi terasa dingin. Tasya perlahan membuka matanya. Untungnya Riyanti berbaik hati, dirinya terbebas dari memasak karna Riyanti lah yang memasak untuk mereka bertiga makan.
Setelah sarapan pagi, Dion dan Riyanti pergi meninggalkan apartemen untuk bekerja. Sedangkan Tasya bersiap-siap untuk ke tempat Agency.
" Wajah ku terlihat pucat sekali, tubuhku terlihat kurus. Apa Agency masih bisa menerima ku menjadi model ? Ku coba saja dulu, semoga Dewi keberuntungan berpihak padaku. Aku di terima dan bisa keluar dari neraka ini. " Ucap Tasya sambil tangannya merias secantik mungkin. Dia berusaha optimis.
" Dah cantik, tinggal berangkat. " Tasya bersemangat, namun langkah nya terhenti.
" Aku kan sekarang ga naik mobil, pasti make up ku acak-acakan lagi. Dan lebih baik aku memakai high heels nya di sana aja. " Ucap Tasya lirih dalam hati.
Tasya berusaha untuk semangat meskipun kondisinya sekarang tak seperti dulu penuh dengan kemewahan. Untungnya dia masih memiliki tas, baju, high heels mewah pemberian Daren dulu. Dengan percaya diri Tasya keluar apartemen untuk naik ojek menuju tempat Agency.
Dan benar saja sesampainya di sana, penampilan Tasya berubah. Tasya mencari tempat untuk merapihkan terlebih dahulu penampilan diri nya. Setelah merasa rapih, Tasya langsung masuk ke dalam tempat Agency.
" Tasya...tumben loh ke sini ? " Ucap salah satu orang yang mengenal Tasya. Mereka sangat tahu jika Tasya dulu sangat sombong.
__ADS_1
" Hehehe iya...pak bos ada ga ? " Tanya Tasya pada Mentari, yang dulu pernah kerja bareng padanya.
" Ada di dalam. Lo cari kak Messy dulu aja biar dia bisa bawa Lo ke pak bos ! " Ucap Mentari, dan Tasya mengikuti nya.
Tasya sekarang terlihat berbeda. Beda hal nya dulu. Dirinya begitu sombong karna Daren telah memberikan dirinya segalanya hingga dirinya tak perlu cape bekerja. Setelah dirinya menjalin hubungan dengan Dion, model di jadikan kedoknya untuk bertemu Dion.
" Misi kak.." Panggil Tasya kepada kak Messy membuat yang punya nama menoleh ke sumber suara.
" Eh Tasya. Tumben ke sini. Bukan nya Lo udah ga mau ke sini lagi ? " Sindir kak Messy membuat Tasya merasa malu.
" Hehehe...aku butuh pekerjaan kak. Aku ingin seperti dulu. " Ucap Tasya dengan malu-malu.
" Hahahaha..." Kak Messy tertawa keras mendengar penuturan Tasya.
Jleb
Kata-kata kak Messy seperti menusuk tepat ke jantung nya.
" Tahan Tasya, kamu harus kuat ! Kamu ga mau hidup susah terus menerus kan ? " Ucap Tasya menguatkan hati nya untuk bersabar.
" Aku sudah tidak sama dia kak, sekarang aku butuh pekerjaan untuk kelangsungan hidupku ! Aku mohon kakak bisa memberikan aku pekerjaan. " Ucap Tasya memohon.
" Kayanya kerjaan untuk high class belum ada. Paling kalau mau, Lo bisa jadi pemeran pembantu dulu. Gimana kalau sekarang Lo main film aja dulu ? Sahut kak Messy. Kak Messy ingin lihat dulu Tasya, dia tak ingin jika Tasya mengecewakan Agency ini.
Tasya tak percaya jika dirinya harus menjadi pemeran pembantu, terlebih gajinya sangat murah. Tapi dia juga tak ingin jika terus menerus tinggal di apartemen Dion. Dan akhirnya dirinya menerima tawaran itu.
__ADS_1
" Badan Lo sekarang kurus banget, wajah Lo juga ga berseri. Lo sakit ? Lo harus berubah sa biar bisa jadi model lagi, kalau penampilan Lo seperti ini mana ada yang mau menerima Lo ! " Jelas kak Messy. Tasya memilih menutupinya, dia tak ingin kak Messy mengetahui kondisi dan penyakit nya.
Bagaimana bisa kurus dan tak berseri, orang hari-harinya Tasya jarang makan karna tak nafsu makan. Tasya yang sekarang berbeda, kini hari-hari nya sudah sibuk menjadi art dan mana ada uang untuk dirinya melakukan perawatan. Dan sekarang dia tak lagi naik turun mobil, tapi naik ojek dan berjalan kaki.
Berbeda halnya di Paris...
Delia sedang merasa bahagia karna dia memenangkan penghargaan sebagai designer muda berbakat mengalahkan designer senior lainnya. Delia sebagai perwakilan dari Indonesia.
" Terima kasih Tuhan, engkau telah mewujudkan cita-cita ku..Impian ku dulu, dan semua menjadi kenyataan. Bahkan aku tak menyangka jika diriku bisa menerima penghargaan bergensi kembali. "
Daffa merangkak menghampiri sang bunda, dengan wajah menggemaskan nya.
" Anak bunda yang pintar. Bunda sayang banget sama kamu. Doakan bunda terus ya ! " Delia terus menciumi pipi gembul sang anak secara terus menerus karna merasa gemas hal itu membuat Daffa tertawa geli dan riang seolah mengerti jika sang bunda sangat menyayanginya.
Kebahagiaan terus menghampiri dirinya, usaha konveksi dan butiknya semakin melejit. Namun Delia terus meminta untuk tetap merahasiakan keberadaan dirinya.
" Aku sudah rindu makam ibu sama ayah. Ingin rasanya aku kembali ke Indonesia, tapi aku takut Daren akan merebut Daffa dari ku. Aku tak akan pernah memberikan Daffa untuk di urus Tasya. Tepat 2 tahun, aku akan kembali mengurus perceraian ku dengan nya. Membiarkan dirinya hidup bahagia dengan maduku. " Ucap Delia.
Celotehan Daffa membuyarkan pikirannya. Anak nya selalu membuat hari-harinya bahagia, dan melupakan kenangan yang sangat menyakitkan. Namun sampai saat ini dirinya belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Dia ingin menyelesaikan terlebih dahulu pernikahan nya dengan Daren. Meskipun Reynaldi berusaha untuk merebut hatinya dan siap menjadi ayah sambung untuk Daffa, tapi Delia tak mau. Dia tak ingin bermain-main sebelum pengadilan melakukan ketuk palu. Kadang hal ini membuat Reynaldi merasa kesal karna selalu mendapatkan penolakan. Dirinya menganggap jika Delia masih ga bisa melupakan Daren.
" Wajah mu mirip sekali sama ayah, nak ! Tapi bunda mohon padamu, jika nanti kamu besar sifat kamu jangan seperti ayah ya ! Kamu harus menghargai pasangan mu ! " Ucap Delia dalam hati sambil menatap sang anak, membuat Daffa tertawa riang menunjukkan dua gigi nya yang mulai tumbuh.
Sedangkan Daren saat ini masih tak bersemangat makan. Bahkan mama Mila rela menyuapi sang anak meskipun cuma beberapa suapan saja. Pandangan mata Daren terlihat kosong, seperti orang yang frustasi.
Terus berikan dukungan ya ππππβ€οΈππΉ
__ADS_1