Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Kesedihan Daffa


__ADS_3

" Nek, afa au emu Bubun. " Ucap Daffa dengan wajah memelasnya.


" Kamu ga boleh masuk ke dalam rumah sakit sayang...doakan dari rumah aja ya sayang ! Kita doakan biar bunda cepat sehat kembali. " Sahut sang nenek. Bukannya mengerti justru Daffa malah histeris menangis. Dirinya sudah merasa kangen dengan sang bunda. Malah dia ingin


tinggal sama sang bunda di rumah sakit.


" Gimana ini pah ? Kan ga boleh masuk pasti Daffa. " Tanya Mama Mila bingung.


" Coba aja nanti ajak Daffa, kali aja di bolehin. Kasihan udah kangen dia sama bundanya. " Sahut papa Agung.


Kini Daffa, Papa Agung, dan Mama Mila sudah sampai di rumah sakit. Papa Agung meminta tolong agar Daffa di perbolehkan masuk. Papa Agung berharap Delia akan bangun setelah mendengar suara Daffa. Dan akhirnya Scurity yang bertugas memperbolehkan masuk karna merasa kasihan dengan Daffa.


" Ayah..." Teriak Daffa saat dirinya melihat sang ayah yang sedang duduk termenung di luar sendirian. Daren langsung menggendong tubuh mungil Daffa dalam dekapan hangatnya.


" Daffa doain bunda ya ! Suruh bunda bangun, agar kita bisa berkumpul lagi bersama. " Ucap Daren pada sang anak. Daffa menganggukan kepalanya tanda setuju.


Daffa berjalan masuk menghampiri sang bunda yang masih menutup mata.


" Bubun ini afa. Bubun angun ! Bubun epet ehat ! Afa edih Auh Ama Bubun. Hiks ..Hiks .." Daffa meraung-raung di sebelah sang bunda.


Daffa langsung menciumi wajah bundanya, kedua pipi dan keningnya. Air matanya menetes mengenai wajah sang bunda. Tapi tetap aja masih belum ada pergerakan dari sang bunda.


" Daffa ga boleh nangis ya, doakan bunda ! " Ucap Daren sambil mengelus kepala sang anak agar sang anak berhenti dari nangisnya.


" Afa edih iat Bubun gini iacanya Bubun angsung anun ain Ama afa. " Ucap Daffa yang masih terisak tangis. Daffa mendorong-dorong bahu bundanya, berharap sang bunda akan terbangun.

__ADS_1


Mama Mila dan Daren melihat Daffa seperti itu, ikut menangis. Sedangkan papa Agung hanya merasa iba. Terlebih Daren, hati nya terasa sakit. Karna semua ini salahnya, jika dia tak melibatkan Delia. Istrinya ga akan terbaring koma, dan anaknya ga akan sedih seperti sekarang ga bisa berkumpul dengan sang bunda.


Daren langsung mendekap hangat tubuh sang anak. Daren berharap Tuhan mendengar doa-doanya menyatukan mereka kembali bersama.


" Kenapa Bubun ga angun ? Afa ebel Ama Bubun..." Ucap Daffa pada sang ayah.


" Daffa ga boleh ngomong seperti itu ! Meskipun bunda ga menjawab ucapan Daffa. Tapi bunda dengar ucapan Daffa. Jadi Daffa harus buat bunda semangat bangun ya ! " Daren mencoba memberi pengertian pada sang ank.


" Yayah ayo ulang ! " Ajak Daffa pada sang ayah.


" Maafin ayah sayang... ayah ga bisa pulang sama kamu ! Ayah harus temenin bunda di sini sampe bunda bangun dan sembuh. Daffa sama nenek kakek ya ! Inget Daffa ga boleh rewel ! " Ujar Daren pada sang anak. Daffa yang awalnya ga mau, karna sang nenek memberi pengertian juga kepadanya. Akhirnya Daffa mencoba mengerti.


" Delia...cepat bangun ya nak ! Kasihan Daffa kalau kamu terus menerus seperti ini ! Kamu harus semangat untuk sehat kembali ! Ingat di sini ada orang-orang yang sayang sama kamu sedang menunggu mu ! " Bisik Mama Mila pada sang menantu. Mama Mila yakin jika di alam bawah sadar sang menantu mendengar penuturannya.


" Gimana Don perkembangan perusahaan ? Apa semua berjalan baik-baik saja ? " Tanya papa Agung pada Doni.


" Alhamdulillah. Semua berjalan seperti mestinya tuan. " Sahut Doni membuat Papa Agung merasa lega. Dia sangat khawatir jika perusahaannya akan kembali bermasalah seperti dulu. Untungnya masih ada orang yang percaya membantu Agung Jaya Group, hingga akhirnya sampai saat ini Perusahaan Agung masih berdiri dan membaik kembali.


Doni melirik ke anak bosnya yang diam tak bersemangat. Wajahnya terlihat murung. Dan akhirnya Doni menghampiri Daffa mencoba menghibur.


" Halo keponakan om yang tampan. Udah makan belum ? Ko ga semangat sih ? Katanya power ranger ko lesu begitu. " Ucap Doni sambil mencubit pipi chubby keponakannya.


" Afa edih om, Bubun acih akit. Afa engen Ama Bubun ama Yayah. " Curhat Daffa pada Doni.


" Iya om ngerti perasaan yang di rasa Daffa. Tapi Daffa ga boleh terus menerus sedih. Pasti nanti bunda sedih dan marah jika melihat Daffa seperti ini. Jadi Daffa harus semangat ! Om yakin bunda akan segera sembuh. Mungkin sekarang bunda masih merasa lelah jadinya masih mau bobo memejamkan matanya ! " Ucap Doni berusaha memberi semangat. Dan akhirnya Daffa mengerti ucapan sang om. Daffa sudah bisa tersenyum.

__ADS_1


Setelah selesai mengobrol dan merasa puas jika perusahaan nya baik-baik saja. Papa Agung dan Mama Mila berpamitan pulang. Namun mereka tidak langsung pulang. Papa Agung mengajak Daffa ke tempat bermain dulu yang mereka datangi bersama Delia dan Daffa.


Dan kini mereka telah sampai di tempat bermain tersebut. Namun Daffa tak terlihat bahagia. Justru dia malah menangis histeris membuat papa Agung dan Mama Mila panik merasa khawatir dengan sang cucu yang tiba-tiba histeris.


" Sayang...kamu kenapa ? Kenapa kamu malah menangis ? Daffa emang ga suka datang ke sini ? " Tanya Papa Agung sambil mensejajarkan dirinya dengan sang cucu.


Daffa menggelengkan kepala. Hingga membuat Mama Mila dan Papa Agung mengerutkan keningnya merasa bingung dengan sikap cucunya.


" Afa inget Bubun ama ayah. Afa edih ga Ica ain Ama Bubun ama Yayah. Hiks...hiks..." Daffa terisak tangis. Mama Mila dan Papa Agung menghela nafas panjang. Mereka sangat tahu yang di rasa cucu nya saat ini. Harus berpisah sementara dengan sang ayah dan bunda nya. Terlebih Daffa harus merasakan sang bunda yang terbaring koma tak sadarkan diri.


" Sekarang Daffa main sama Nenek sama kakek dulu ya ! Nanti kalau bunda da sembuh, Daffa ke sini lagi sama ayah bunda ! Yuk, main sama Nenek sama kakek. Daffa mau naik apa ? " Ujar sang nenek.


" Iya ayo main sama kakek. Daffa mau naik bom-bom car sama kakek ? " Tanya Kakek Agung. Dan akhirnya perlahan demi perlahan Daffa membuka diri untuk mau bermain dengan sang kakek dan nenek. Melupakan sejenak kesedihannya tak bisa bermain dengan sang ayah dan bunda nya.


Tawa riang sudah mulai keluar dari bibir Daffa. Sejenak dirinya melupakan kesedihannya. Dan kini berubah wajah cerianya, Daffa terlihat senang.


Papa Agung dan Mama Mila merasa bahagia. Cucu nya bisa tersenyum bahagia. Meskipun hanya sesaat. Karna dia yakin jika setelah ini Daffa akan sedih kembali.


Like


Vote


Comment


Hadiah🌷☕

__ADS_1


__ADS_2