
Semua mata menatap Erland dengan cemas setelah keluar dari ruangan Sarah. Terlebih lagi saat Sarah juga terlihat menangis di belakang Erland.
"Mas, aku mohon maafkan aku Mas" Sarah meraih lengan Erland. Tak rela jika suaminya itu pergi meninggalkannya dengan kehancuran seperti itu.
"Lepaskan Sarah!!" Ucap Erland tanpa mau menoleh pada Sarah. Rasa iba pada wanita yang pernah dicintainya itu juga sudah tak ada.
"Enggak!! Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu menarik semua ucapan kamu tadi Mas!!" Sarah semakin erat mencengkeram lengan Erland.
Viola dan yang lainnya masih belum paham dengan apa yang terjadi. Penyebab Sarah menangis dan menahan Erland juga belum mereka ketahui.
"Lepas!!" Dengan sekali hentakan lengan Erland bisa terlepas dati Sarah.
"Segera keluar dari sini, dan kita selesaikan semuanya. Jangan lakukan banyak drama lagi sebelum aku semakin muak dengan mu Sarah!!" Desis Erland yang kemarahannya sudah sampai di ubun-ubunnya.
"Tapi Mas"
"Ayo sayang" Erland meraih tangan Viola untuk pergi dari sana.
Gendis dan yang lainnya juga bergegas mengikuti Erland pergi dari sana.
Sementara Sarah hanya bisa pasrah melihat kepergian Erland dengan menggenggam tangan Viola. Hati Sarah hancur bersamaan dengan hidupnya. Sarah menangisi nasibnya saat ini. Pada siapa lagi dirinya akan bergantung setelah Erland benar-benar mencampakkannya. Tidak akan ada lagi yang akan membiayai hidupnya setelah ini.
"Sarah, apa yang sebenarnya terjadi?? Apa yang di katakan Erland padamu sampai kamu seperti ini??"
"Mama, aku harus bagaimana sekarang Ma??" Tangis Sarah dengan pilu di depan ruangannya.
"Apa maksud kamu Sarah?? Katakan dengan jelas, mama tidak mengerti"
"Aku akan segera menjadi janda Ma. Mas Erland akan menceraikan ku" Tubuh Sarah luruh ke lantai saat tangan Rasti tak lagi menopang tubuh Sarah.
"A-apa?? Ce-cerai??"
Bukan hanya dunia Sarah yang hancur namun Rasti pun begitu. Jika Erland memang benar ingin menceraikan Sarah, mau tak mau dia akan hidup melarat lagi seperti semula. Kemewahan yang kembali ia dapatkan setelah Sarah menikah dengan Erland akan segera musnah. Tidak akan ada lagi yang akan memberikannya uang dengan mudah. Baginya Erland adalah menantu terbaiknya selama ini.
"Sarah, ini tidak bisa di biarkan Sarah. Mama nggak mau hidup miskin lagi. Kamu harus mencari cara agar Erland tidak jadi menceraikan kamu. Seandainya itu terjadi, kamu juga harus menuntut harta gono gini yang banyak dari Erland. Jangan sampai dia membuang mu tanpa uang sepeserpun"
__ADS_1
*
*
*
*
Viola kembali melirik Erland yang masih diam mengendarai mobilnya. Sudah beberapa waktu yang lalu setelah mereka meninggalkan Rumah sakit, Erland masih setia dengan kebisuannya.
Viola tau jika Erland masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia terima. Di bohongi olah orang yang kita cintai memang begitu menyakitkan. Itu juga yang pernah di rasakan Viola.
"Abang"
"Sayang"
"Iya Bang, kenapa??" Viola mengalah lebih dulu memberikan kesempatan untuk Erland berbicara.
"Sekarang Abang tau bagaimana rasanya di bohongi oleh seseorang yang kita cintai. Abang tak tau kalau rasanya akan sesakit ini" Bisa Viola lihat dari samping jika air mata Erland mulai menetes.
"Kita berhenti dulu Bang, jangan mengemudi dalam keadaan kacau seperti ini"
Erland menuruti perintah Viola untuk menepikan mobilnya. Setelah itu pula pertahanan Erland runtuh. Erland tak takut jika Viola menganggapnya pria cengeng saat ini. Yang jelas dia hanya ingin mengeluarkan perasaannya saat ini.
"Sayang, Abang menyesal karena tidak bisa mengetahui kebohongan Sarah dari awal. Abang suami yang tidak becus karena tidak menyadari sesuatu yang sebenar ini" Erland menyembunyikan wajahnya pada kemudi mobilnya.
Tangan Viola bergerak mengusap punggung bergetar Erland dengan lembut.
"Jangan salahkan diri mu sendiri Bang. Semua memang sudah di rencanakan Sarah dari awal. Abang yang terlalu baik sehingga tidak bisa membedakan kebohongan sedikitpun"
Erland mengangkat kepalanya, memandang Viola dengan matanya yang berair.
"Apa jadinya jika Abang percaya dengan omongannya dan lebih memilih melepaskan kamu sayang?? Apa saat semuanya terbongkar Abang tidak akan gila karena membuat keputusan yang salah??"
Viola tersenyum lalu mengusap wajah basah milik suaminya itu.
__ADS_1
"Untung saja Abang membuat keputusan yang benar"
Erland menghambur memeluk Viola. Membenamkan wajahnya pada bahu Viola. Menghirup aroma dari wanita itu yang begitu ia sukai.
"Waktu itu kamu tidak marah sama sekali saat tau Sarah hamil. Apa itu karena kamu tau kalau dia berbohong??" Tanya Erland masih dalam pelukan Viola.
"Benar. Kehamilan Sarah itu justru membuatku yakin kalau Abang sama sekali tidak menyentuhnya malam itu. Aku jadi tau kalau semua itu hanyalah bagian dari rencana Sarah saja"
Erland mengurai pelukannya, membenarkan kembali posisi duduknya di balik kemudi.
"Tapi kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari Abang yank??"
"Abang" Viola meraih tangan Erland dan memainkan jarinya.
"Waktu itu aku hanya asal mengucapkan sumpah pada kalian dan Sarah. Tapi saat itu aku tidak tau kalau setelahnya Abang akan menikahi ku. Setelah itu aku merasa bersalah karena masuk ke dalam rumah tangga kalian. Aku juga tidak tau kalau ternyata Sarah menyembunyikan semua itu dari Abang. Namun sebagai seorang wanita, aku paham jika Sarah tak ingin mengecewakan suaminya dengan menyembunyikan kekurangannya. Jadi kupikir berlahan Sarah akan berubah dengan sendirinya dan menyadari kesalahannya. Tapi ternyata aku salah, Sarah telah tega membohongi Abang sejauh itu"
Sarah mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya.
"Aku minta maaf sama Abang karena telah membuka rahasia Sarah di depan Abang dan yang lainnya. Aku telah membuat Abang sakit karena hal ini. Aku benar-benar minta maaf Bang"
Erland menarik tangan Viola dan mengecupnya berkali-kali.
"Kamu nggak salah sayang, Abang justru berterimakasih karena kamu telah menghentikan Sarah. Apa jadinya jika Sarah terus-terusan berbohong seperti ini. Bisa jadi Sarah akan mencari seorang anak yang akan dia akui sebagai anakku nantinya"
Viola hanya bisa mengulas senyum tipisnya untuk Erland.
"Kalau gitu, sekarang kita jalan lagi yuk Bang"
Viola kembali menoleh pada Erland yang masih tak bergeming menatap dirinya.
"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Abang sampaikan sama kamu Sayang" Ucap Erland dengan pelan.
"Apa itu Bang??" Viola jelas penasaran karena itu pasti suatu hal yang penting, karena Erland bisa saja mengatakannya langsung tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Abang sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Sarah secepatnya" Ucap Erland dengan yakin.
__ADS_1
"Apa Bang?? Cerai??" Viola tak menyangka jika rahasia yang ia bongkar akan membawa mereka pada perceraian.