Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
87. Seandainya


__ADS_3

"Mau ngapain??" Viola menatap Erland dengan tajam karena pria itu mengikutinya masuk ke dalam.


"Ya mau mandi dong yank, badan Abang udah capek banget, mau cepat istirahat" Keluh Erland dengan wajahnya yang memang terlihat sangat lelah.


"Enggak!! Kamar kamu bukan disini!!" Viola membuka pintunya lebar-lebar, mempersilahkan Erland untuk segera keluar dari kamarnya.


Erland justru melengos dan malah masuk ke dalam kamar mandi. Menganggap perintah Viola itu hanyalah angin lalu.


"Sabar, sabar!!" Ucap Viola dengan memejamkan matanya, mengendalikan tekanan darahnya yang sepertinya sudah mulai naik.


Viola duduk di depan meja riasnya. Mulai melepas sanggul dan juga aksesorisnya. Meluruskan kakinya yang terasa begitu pegal. Tangannya kemudian berlahan memijat kedua betisnya.


Tak sampai lima belas menit Erland sudah keluar kamar mandi. Badannya yang sudah sangat lelah membuatnya ingin cepat-cepat berbaring di tempat tidur bersama istrinya.


Pandangan Erland langsung tertuju pada Viola yang duduk sambil memijat kakinya.


"Mandi dulu yank, habis itu kita sholat dulu"


Viola hanya melirik Erland yang ternyata hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja.


GLEEKK...


Viola menelan ludahnya dengan kasar, pemandangan di depan matanya itu membuatnya gugup seketika. Dada bidang Erland dan juga perutnya yang berotot itu masih basah karena tetesan air dari rambut Erland. Pria matang itu terlihat semakin seksi di mata Viola.


"Buang pikiran kotor mu itu Viola!!" Viola menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Kamu kenapa yank??" Erland mendekati Viola kaos yang masih ditentengnya.


Bukannya menjawab, Viola malah bergerak meninggalkan Erland ke kamar mandi.


"Huffftt!!" Erland menggembungkan pipinya pasrah.


Erland tidak tau sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Yang jelas dia tidak akan diam saja, entah itu dengan membujuk atau memaksa Viola, Erland akan berusaha tetap dekat dengan wanita yang dicintainya itu.


***


Erland berbalik dengan mengulurkan tangannya pada Viola. Sholat berjamaah pertama setelah lebih dari satu bulan mereka saling mendiamkan.


Viola tak menolak, dia tetap mencium tangan Erland dengan takzim. Seperti pasangan lainnya yang akan mencium kening istrinya sesaat setelah si istri mencium tangan suaminya. Erland juga melakukan hal yang sama. Ciuman di kening Viola begitu terasa dalam dan penuh ketulusan dari dalam hatinya.

__ADS_1


Kedua tangan Erland itu lalu menengadah ke atas, memohon ampunan kepada Sang pemberi kehidupan.


Viola sebagai makmumnya, ikut mengaminkan segala doa yang terucap dari bibir Erland. Dengan jelas Viola mendengar doa dan harapan Erland pada pernikahan dan calon anak mereka. Dari belakang punggung yang sedikit bergetar itu, Viola ikut menitikkan air matanya. Merasa malu karena menghadap kepada Tuhannya karena masih menyimpan amarah pada imamnya sediri.


Viola meraup wajahnya dengan lembut ketika Erland mengucapkan kata "Aamiin" sebagai tanda berakhirnya doa yang telah ia panjatkan.


Erland menarik kakinya yang terlipat, kemudian memutar tubuhnya ke belakang hingga bisa menatap wajah Viola yang begitu cantik saat memakai mukena.


"Kamu cantik sekali saat aurat mu tertutup seperti ini sayang. Abang bahkan begitu terpesona saat pertama kalinya kita sholat berjamaah" Erland dengan gamblangnya memuji kecantikan Viola.


"Cantik itu relatif tergantung dari segi apa kita memandangnya. Cantik juga tidak abadi, jadi apa yang harus di banggakan" Ucapan Viola masih terdengar dingin namun itu lebih baik daripada tidak bersuara sama sekali.


Viola segera melepas mukenanya, mengacuhkan Erland yang terus menatap wajahnya.


"Aku mau tidur. Kalau mau tidur di sini, tidurlah di sofa atau kalau mau tidur di luar aku dengan senang hati memperbolehkannya"


Viola sudah menaiki ranjangnya yang empuk itu, menarik selimut sebatas pinggangnya. Rasa nyaman langsung di dapat Viola setelah seharian penuh menyiksa pinggang dan kakinya.


Viola terpaksa membuka matanya karena seseorang yang menyentuh kakinya. Meski masih terhalang selimut, Viola masih bisa merasakan pijatan pada kedua kakinya.


"Ngapain sih?? Lepas!!" Hardik Viola karena Erland ternyata tidak pergi tidur tapi malah memijat kakinya.


Viola menarik kakinya menjauh dari tangan Erland yang ingin meraihnya kembali.


"Nggak usah, tidur aja!! Katanya capek" Tolak Viola.


"Iya Abang memang capek, tapi Abang tau kalau kamu lebih capek karena membawa anak kita kemana-mana"


Erland menarik kaki Viola dengan paksa. Meletakkan kedua kaki putih itu di atas pangkuannya.


"Jadi Abang pijitin dulu, setelah itu baru Abang tidur"


"Terserah" Viola memilih memejamkan matanya.


Mau apa lagi kalau Erland sudah memaksa begitu. Menolak pun Viola sudah tidak akan bisa.


Erland tersenyum tipis karena Viola hanya diam dan menurut meski dengan sedikit paksaan.


"Sayang, untuk acara tujuh bulanan itu, kamu mau pilih tanggal berapa?? Biar Abang mulai menyiapkan semuanya" Tanya Erland dengan terus memijat kaki Viola dengan berlahan.

__ADS_1


"Hari minggu besok" Jawab Viola dengan matanya yang terpejam.


Erland memang tau kalau istrinya itu tidak tidur, makanya dia sengaja mengajaknya bicara. Erland juga tau kenapa Viola melakukan itu. Pastilah Viola hanya mencoba menghindarinya saja.


Erland tak bisa menahan senyumnya, karena hari minggu itu jatuh pada tanggal kelahirannya. Entah Viola sengaja atau tidak, yang jelas Erland begitu bahagia karena acara itu akan menjadi hadiah ulang tahun untuknya.


"Memangnya kenapa harus hari itu yank??" Tanya Erland penasaran dengan jawaban yang akan di berikan Viola.


Viola membuka matanya sekejap, memandang wajah pria yang sedang melengkungkan bibir di depannya itu.


"Hari minggu itu semua yang bekerja pada libur, anak-anak yatim juga libur sekolah. Yang paling penting ada EO yang menawarkan diskon sampai 30% buat hari minggu besok" Jawab Viola dengan cepat kemudian menutup matanya kembali.


"Ya Allah yank, Abang bisa kok bayar penuh, nggak perlu ngejar diskon" Memang sedikit ada rasa kecewa di hati Erland karena Viola sama sekali tak mengingat hari kelahirannya.


"Iya-iya aku tau kalau sekarang kamu sudah kaya raya. Tapi nggak papa, uangnya bisa buat yang lain"


Mereka kembali terdiam karen Erland tidak mau membantah Viola. Dia tidak mau di antara mereka terjadi ketegangan lagi.


Erland juga terus melanjutkan pijatannya pada kaki Viola. Dari lutut kemudian turun hingga telapak kaki Viola yang benar-benar sakit karena berdiri dengan sepatu yang sedikit tinggi.


"Sayang??" Panggil Erland dengan lembut.


"Hmmm" Tampaknya Viola sudah hampir terjun ke dalam mimpinya.


"Kalau seandainya Abang menceraikan Sarah. Apa kamu mau membuka hati kamu lagi buat Abang??"


Erland sudah beberapa detik menunggu jawaban dari Viola. Namun wanitanya itu sama sekali tak membuka mulutnya.


"Yank??" Viola masih diam.


"Sayang?? Kamu tidur ya??" Erland mengguncangkan kaki Viola dengan pelan namun sama sekali tak ada reaksinya.


Erland kemudian tersenyum dengan lembut. Menurunkan kaki Viola dari pangkuannya dengan pelan. Menyelimuti tubuh yang mungkin sudah naik beberapa kilogram akibat kehamilannya itu.


"Kamu pati capek banget sampai gampang ketiduran kaya gini" Erland mengusap pipi Viola dengan ibu jarinya.


Erland mengambil posisi berbaring di samping Viola. Mensejajarkan kepalanya dengan perut Viola. Tidak peduli jika besok pagi Viola akan memarahinya karena berani tidur di sisinya.


"Selamat tidur cintanya Abang dan kesayangan Papa" Tangan Erland terulur mengusap perut Viola seraya dengan matanya yang mulai terpejam menyusul istrinya.

__ADS_1


__ADS_2