
"Hufff...." Viola menyeka keningnya yang berkeringat itu.
Dia dan Bi Tum telah bersusah payah memapah Erland hingga ke kamar Viola.
Tadi saat Bi Tum kembali dari apotek, dia melihat Erland yang sudah tergeletak di lantai. Wajahnya pucat dan suhu badannya sangat panas.
"Ibu tidak papa??" Bi Tum khawatir pada majikannya itu, mengingat Viola sedang hamil namun bersusah payah mengangkat tubuh suaminya yang tinggi itu.
"Nggak papa Bi, tolong ambilkan handuk kecil dan air hangat ya??"
"Iya Bu"
Viola mencari baju ganti untuk Erland. Beruntung Erland sempat memindahkan beberapa potong bajunya ke kamar Viola. Jadi Viola tidak harus bersusah payah mengambilnya dari kamar Sarah.
Bi Tum juga sudah membawakan baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
Meski rasa marah pada Erland belum juga reda, tapi dia tidak tega juga melihat Erland tak berdaya seperti itu.
Viola mulai melepaskan baju Erland satu per satu, membasuh kulitnya dengan handuk yang tadi di bawa Bi Tum. Menggantinya dengan pakaian yang bersih dan lebih nyaman untuk tidur, celana pendek dan kaos oblong yang begitu pas di tubuh Erland. Meski Viola harus beberapa kali mengusir pikiran kotornya kala melihat tubuh Erland yang polos itu, tapi akhirnya di menyelesaikannya dengan baik.
Selang infus juga sudah terpasang di tangan kanan Erland. Viola hanya perlu menunggu suaminya itu membuka mata untuk meminum obatnya.
Viola meninggalkan Erland untuk membuat bubur untuknya. Saat ini Viola menganggap Erland hanya sebatas pasien yang harus dirawatnya.
Erland mulai mengerutkan keningnya. Merasakan perutnya yang perih dan terasa mual. Kepalanya pusing dan badannya dingin.
Tapi setelah Erland membuka matanya, dia baru sadar jika di kamar Viola. Kamar yang tidak boleh dimasukinya sejak semalam.
Senyum tipis tiba-tiba menghiasi bibir Erland, apalagi melihat tangannya yang sudah terpasang jarum infus. Erland merasa senang karena ada sedikit perhatian Viola untuknya.
Erland melihat ke arah pintu yang di buka dari luar. Dari sana muncul sosok cantik pujaan hatinya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Viola, wanita yang berhasil menawan hatinya.
Viola datang dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih untuk Erland.
__ADS_1
"Sayang, makasih ya sudah mau merawat Abang" Ucap Erland setelah Viola meletakkan nampannya pada nakas di samping tempat tidur Viola.
Viola tetap diam, dan berdiri di sisi Erland denhan tangannya yang terlipat di dada. Sungguh terlihat angkuh dan menyeramkan.
"Apa yang kamu rasakan??" Tanya Viola dengan dingin.
"Perut Abang perih dan mual, pusing dan badan Abang rasanya dingin" Adu Erland pada istrinya itu.
"Telat makan??"
"Abang terakhir makan kemarin pagi saat sarapan" Viola terlihat mendengus kecil setelah mendengar pernyataan Erland tadi.
"Makanlah, ku siapkan obatnya. Setelah merasa lebih baik, lekas kembali ke kamar mu"
Wajah Erland yang pucat itu kembali sendu. Ternyata Viola masih begitu mengacuhkannya. Duduk di sebelahnya saja tidak mau. Bahkan kesannya ingin mengusir Erland secepatnya dari kamar itu.
Erland tampak kesusahan saat bangun dari tidurnya. Tapi Viola tetap fokus membaca bukunya yang amat tebal itu. Sama sekali tak peduli bahkan melirik pun tidak.
Tangan Erland yang gemetar itu mencoba meraih mangkuk berisi bubur itu. Tapi Erland mengurungkan niatnya kembali, karena rasanya tangannya tak kuat mengambil mangkuk yang ringan itu.
Erland memilih memejamkan matanya sambil bersandar dengan posisi duduk. Membiarkan tubuhnya lebih baik dahulu agar tangannya tidak lemas dan gemetar meski perutnya sudah sangat melilit.
"Kenapa nggak di makan??"
"Sebentar yank, tangan Abang masih gemetar" Jawab Erland dengan lemas.
"Kalau nggak bisa itu minta tolong!!" Ketus Viola lalu mendekat pada Erland.
"Abang takut buat kamu semakin marah sama Abang" Jujur Erland.
Viola hanya diam meraih mangkuk berisi bubur itu.
"Buka mulutnya!!" Erland hanya pasrah sekaligus bahagia. Meski terlihat begitu galak tapi ada perhatian di balik sikap Viola itu.
__ADS_1
Hingga bubur dalam mangkuk itu tandas, tak ada satu kata pun lolos dari bibir mereka berdua. Erland yang takut memulainya dan Viola yang tak mau mengawalinya. Viola juga tak mau mengangkat wajahnya untuk Erland sama sekali, meski mata Erland itu terus tertuju padanya.
Erland menahan tangan Viola yang sudah ingin beranjak dari sisinya.
"Bisa si sini saja temani Abang??"
Viola menatap mata Erland yang memohon itu beberapa detik. Kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Erland.
Begitu kecewanya Erland karena Viola sama sekali tak mau untuk sekedar menemaninya yang sedang tak berdaya itu. Erland bingung harus dengan cara apa lagi dia meyakinkan Viola.
Usahanya untuk membuat Viola luluh selama tiga bulan ini, kini harus hancur karena kecerobohannya sendiri.
Dalam hati Erland ingin rasanya mengutuk mertuanya yang membuat acara tak penting itu. Namun Erland masih mengingat dosa hingga menarik kembali niatnya itu.
Tapi anggapan Erland itu salah, nyatanya Viola memutari ranjangnya. Memilih berbaring menyamping dengan memunggungi Erland. Meski Viola menyisakan jarak dari Erland tapi harapan yang tadi sempat pupus itu kini mekar kembali.
Erland tersenyum senang, lalu ikut berbaring di belakang Viola. Tak sedekat biasanya, hanya memandangi punggung Viola saja dari tempatnya.
"Makasih ya sayang" Suara Erland itu terdengar jauh di telinga Viola karen rasa kantuk yang menyerangnya.
-
-
Entah sudah berapa lama Viola tertidur di pagi hari ini, tapi dia harus terusik gara-gara tangan yang menyentuh perutnya dengan lembut.
"Sayang, kamu sehat kan di dalam perut Mama?? Papa minta maaf, Papa tidak bermaksud melupakan janji Papa sama kamu dan Mama. Tapi dari kemarin pagi Papa sangat sibuk, hingga tidak melihat ponsel Papa sekalipun. Maafkan Papa yang sudah membuat Mama marah ya?? Bantuin Papa bujuk Mama supaya Mama tidak marah lagi. Papa nggak tahan di acuhkan Mama seperti ini, Papa sedih"
Viola bisa mendengar suara Erland yang bergetar itu. Mati-matian Viola menahan agar bibirnya tak bergetar. Ingin rasanya Viola menjauh dari Erland saat ini juga, ia juga tidak tahan menahan air matanya.
Viola jadi heran, kenapa pria tiga puluh lima tahun yang sudah menjadi suaminya itu kini menjadi pria cengeng yang mudah sekali menangis di hadapannya. Tidak, kali ini di belakang Viola karena Erland menganggap Viola masih terlelap dalam tidurnya.
"Kamu sehat-sehat di dalam ya sayang. Jangan buat Mama kerepotan. Bantu Papa jagain Mama saat Papa kerja oke" Kini Viola merasakan perutnya di kecup oleh Erland dengan bisikan yang membuat Viola hampir tak tahan dengan tangisannya.
__ADS_1
"Papa sangat mencintai kalian berdua"
Setelah mengucapkan itu, Erland kembali menjauh dari Viola, kembali ke posisinya. Sementara Viola berusaha mengatur nafasnya dulu sebelum berpura-pura terjaga dari tidurnya.