
JEDERRR...
"A-apa Dokter?? Ha-amil??" Bagaikan kilat yang menyambar tepat di pucuk kepalanya. Erland bahkan susah untuk mengeluarkan suaranya.
"Anak saya hamil Dokter??" Tanya Rasti yang masih tak percaya.
"Betul Bu"
"Alhamdulillah" Ucapnya dengan syukur.
Gendis yang masih ada di sana juga tampak bahagia akan hadirnya cucu baru lagi.
Namun Erland langsung menoleh pada Viola yang tengah menatapnya tajam.
"Sayang, Abang bi..."
Viola tak peduli dengan apa yang ingin Erland jelaskan. Wanita yang sejak pagi menampilkan wajah cerianya itu langsung pergi dari sana dengan kekecewaan.
"Mau kemana kamu Erland!! Temui istri kamu, bukankah kalian sudah menantikan kehamilan Sarah selama bertahun-tahun??" Cegah Rasti.
Erland tak bisa berbuat apa-apa, dia juga masih tidak percaya dengan kabar kehamilan Sarah itu. Rasa yang cukup aneh menggerayangi hatinya. Seharusnya ia bahagia mendengarnya, mungkin juga berteriak dengan lantang karena perjuangannya kini membuahkan hasil. Tapi justru kehampaan yang ada dalam dada Erland. Rasanya tak sebahagia saat mendengar kabar Viola yang mengandung anaknya.
Akhirnya Erland melangkah masuk ke dalam kamar Sarah.
"Mas" Lirih Sarah.
"Aku hamil Mas, akhirnya aku bisa mengandung anak kamu" Erland melihat Sarah menitikkan air matanya.
"Kenapa kamu bisa hamil?? Seingat ku aku tidak pernah menyentuhmu" Erland masih belum menerima kabar gembira itu.
"Apa Mas?? Jadi kamu benar-benar tidak percaya kalau malam itu kamu memang menyentuhku?? Tega sekali kamu Mas!!" Sarah membuang wajahnya ke samping.
"Bukannya tak percaya Sarah. Aku yakin kalau aku tidak melakukan apapun kepadamu!!" Tegas Erland dengan keyakinannya.
Sarah langsung menatap Erland dengan sorot matanya yang tajam namun berair.
"Apa buktinya kalau kamu memang tidak menyentuhku Mas?? Sedangkan aku sudah membawa dia dalam rahimku sebagai bukti!!" Sarah menunjuk perutnya sendiri.
Erland mengusap wajahnya dengan kasar. Masih tidak menyangka jika keadaannya akan menjadi serumit ini.
"Bukankah dulu kamu sangat ingin mempunyai anak dariku Mas?? Tapi kenapa sekarang kamu berubah?? Aku bahkan tidak melihat kebahagiaan di wajahmu sama sekali" Wajah Sarah tertunduk sendu. Kini dia benar-benar merasa jika cinta Erland kepadanya sudah hilang tak bersisa.
__ADS_1
Erland masih diam tak bersuara, dia juga enggan menatap Sarah yang masih berbaring lemah di ranjangnya.
"Apa kamu tidak mau menyapa anak kamu dulu Mas?? Dia pasti senang karena mempunyai Papa sehebat kamu" Suara Sarah kini sudah berubah. Sudah menghilangkan suara yang lirih dan terdengar menyedihkan itu. Kini dia justru tempak begitu bahagia tanpa mempedulikan kegundahan yang sedang di rasakan oleh Erland.
Erland sedikit mendekat pada Sarah. Membetulkan selimut yang sedikit tersingkap itu.
"Istirahatlah dulu, masih ada yang harus aku urus di bawah" Ucapnya seraya memberikan senyum tipis pada Sarah.
"Tapi Mas, aku ma..."
Sarah tampak kecewa karena Erland terus berjalan keluar tanpa mempedulikannya sama sekali.
"Aku tau siapa yang akan kamu temui setelah ini Mas"
"Selamat bersenang-senang dorongan kabar membahagiakan ini Viola. Sebentar lagi aku akan membuat kamu tersingkirkan dari hidup Erland selamanya"
*
*
*
"Beca, dimana Viola??" Erland talah mencari Viola kemanapun tapi tak juga menemukannya.
Erland tak peduli sama sekali dengan apa yang Beca katakan. Dia tetap akan menemui Viola apapun yang terjadi.
Dari kejauhan Erland bisa melihat Viola yang duduk di atas gasebo. Kepalanya menengadah ke atas menatap langit malam yang bertaburkan ribuan bintang.
"Sayang??" Panggil Erland dengan lembut setelah tiba di dekat Viola.
Viola melirik laki-laki di sampingnya itu. Hanya melirik, kemudian kembali menatap langit yang tak bisa di ajaknya bicara itu.
"Kenapa?? Mau menjelaskan kalau Sarah tidak mengandung anak kamu begitu??" Tebak Viola yang berhasil membuat Erland bungkam. Mau menjawab apa lagi kalau tebakan Viola itu benar.
"Berarti benar kamu berbohong kan waktu itu. Buktinya sampai tumbuh nyawa di dalam perut Sarah" Viola kembali mengingat saat Erland meyakinkannya jika dia tidak meniduri Sarah sama sekali.
"Sayang, Abang memang tidak merasa melakukan itu pada Sarah. Abang juga bingung kenapa Sarah bisa hamil saat Abang hanya sekali menyentuhnya. Sedangkan bayi tabung saja tidak berhasil pada Sarah" Erland masih terus menampik kenyataan itu.
Viola menurunkan tatapan matanya, hingga ia gunakan untuk melihat pria yabg tampak begitu kacau di sampingnya.
"Kamu mungkin menganggap Abang ini pria yang keras kepala dan suka berbohong, tapi Abang tetap yakin kalau malam itu tidak terjadi apa-apa. Abang juga tidak tau kenapa jadi sepeti ini"
__ADS_1
Viola tersenyum miris melihat suaminya itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Viola itu hingga memandang Erland dengan tatapan yang aneh. Seperti kasihan namun juga marah dan kesal.
"Abang mohon sama kamu sayang. Jangan marah lagi sama Abang" Erland menggenggam tangan Viola meski takut istrinya itu akan menampiknya.
"Aku tidak marah" Jawab Viola.
"Apa??" Erland membulatkan matanya.
"Iya, aku memang tidak marah. Dan Abang juga harusnya senang kan, akhirnya punya anak dari Sarah" Ucapan Viola itu terdengar ringan tanpa beban sama sekali.
"Kenapa jamu tidak marah sama sekali?? Saat kamu tau Abang melakukan hubungan suami istri dengan sarah saja kamu begitu marah" Tanya Erland penasaran.
"Kasihan anak yang ada dalam kandungan Sarah kalau aku ikut-ikutan tidak mau menerimanya kaya kamu" Lagi-lagi jawaban Viola Erland bingung.
"Tapi.."
"Bang!!" Suara Edgar menghentikan Erland yang ingin membantah Viola.
"Kenapa??" Tanya Erland kesal.
"Bisa bicara sebentar??" Edgar langsung memberikan kode pada Erland untuk menemuinya di dalam.
"Abang pergi sebentar ya yank"
Viola hanya mengangguk. Namun ia teringat saat mereka berdua membicarakan sesuatu yang membuat Viola curiga.
Tanpa sepengetahuan Erland, Viola memutuskan untuk mengikuti Erland. Dia ingin tau apa yang akan Edgar bicarakan pada Kakkanya.
"Bang, aku dengar dari Ibu kalau Mbak Sarah hamil, benarkah Bang??" Viola bisa mendengar dengan jelas kalimat Edgar itu dari balik pintu ruang kerja Erland.
"Lalu bagaimana dengan rencana Abang itu?? Kita sudah mendapatkan semua bukti tentang Mbak Sarah kan Bang??"
"Bukti apa yang Edgar maksud??" Batin Viola.
"Mau bagaimana lagi Ed, seharusnya setelah ini aku menyelesaikan semuanya tapi malah kejadian seperti ini. Tapi aku yakin kalau Sarah itu tidak mengandung anakku" Jawab Erland.
Viola masih dengan was-was mencuri dengar obrolan mereka.
"Sudah aku bilang Bang, seharusnya dari kemarin-kemarin saja Abang bertindak" Edgar terdengar sangat kesal.
"Kemarin itu pernikahan Endah Ed, mana mungkin Abang membumbui kebahagiaan Endah dengan maslah Abang. Terus hari ini juga acara ku dan Viola. Abang yakin kalau Abang sudah melayangkan gugatan cerai Abang pada Sarah. Acara tadi tidak mungkin di adakan"
__ADS_1
Deg...
"Cerai?? Bang Erland akan menceraikan Sarah??" Viola memegang jantungnya yang langsung berdetak begitu kencang.