Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
68. Endah Anindita


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


"Endah, buka pintunya sayang!!" Teriak Gendis dari luar kamar Endah.


"Ndah, ini sudah siang. Buka pintunya!!


Endah yang memang sudah bangun dari tadi itu sebenarnya malas membukakan pintu untuk Ibunya. Tapi karena teriakan dan ketukan pintu yang terus menerus membuat Endah akhirnya bangkit dari pembaringannya.


"Iya Bu, Endah udah bangun" Ucapnya saat membuka pintu kamarnya.


"Ayo kita harus siap-siap. Orang yang akan merias kita sudah datang, Viola yang megirim mereka ke sini. Ini sudah siang loh Ndah. Ibu nggak mau kita telat datang ke sana"


"Apa Bu?? Kenapa harus ada MUA segala, Endah kan bisa dandan sendiri"


Endah benar-benar tak habis pikir dengan Viola. Kenapa sahabatnya itu bisa semaunya sendiri. Mengirim MUA tanpa persetujuannya pula.


"Sudahlah, pokoknya cepat kamu mandi mandi biar Ibu yang siap-siap duluan. Jangan bikin Abang kamu malu karena kita telat datang ke sana!!" Gendis meninggalkan Endah yang masih termenung di depan pintu.


Terpaksa Endah menggerakkan kakinya untuk menuruti perintah Ibunya tadi meski berat, meski tak ingin.


Kini tiba giliran Endah untuk di rias. Duduk di depan MUA yang katanya cukup terkenal di kalangan selebriti.


Endah sudah pasrah mau di apakan oleh MUA itu, karena nantinya juga pasti akan basah oleh air matanya.


Kira-kira satu jam make up dan rambut Endah telah siap. Kini tinggal memakai kebaya yang semalam belum sempat di coba oleh Endah itu. Entah muat atau tidak, Endah tidak peduli lagi.


"Mari Kak, saya bantu pakai kebayanya" Endah hanya mengangguk lalu berdiri mengulurkan tangannya pada lengan yang telah siap di pegang oleh orang yang menyanggul rambutnya tadi.


"Cantik, sempurna" Ucap orang itu.


"Iya Ndah, kamu cantik sekali" Gendis bahkan sampai terperangah melihat kecantikan anak perempuan satu-satunya itu.


"Benar Bu, Kak Endah cantik sekali" Ucap Alisa yang bari datang bersama Edgar.


"Kamu di sini juga Al??" Tanya Endah.


"Iya Kak, aku yang ajak"


Endah melihat dirinya di depan cermin. Dia baru sadar ternyata kebaya yang dia pakai berbeda dengan yang di pakai Gendis. Hanya warnanya saja yang serupa. Tapi miliknya lebih mewah, dengan hiasan batu-batu cantik di berbagai sisinya.


"Bu, kenapa kebaya punya ku beda sama punya Ibu??"

__ADS_1


"Beda dong sayang, punya Ibu sama kaya punya Tante Via, sedangkan kamu sama seperti Viola" Endah hanya diam kembali melihat penampilannya lagi.


"Ini kenapa make upnya kaya gini?? Cantik sih, tapi kesannya kaya gue yang mau di lamar" Batin Endha.


"Sadar Ndah!! Beca yang akan ada di posisi itu sekarang. Jadi jangan ngarep!!" Omel Endah pada dirinya sendiri.


-


-


Mereka berempat kini sudah sampai di gedung tempat lamaran itu di adakan. Edgar juga sudah rapi dengan kemeja batiknya, membuat pria itu tampak begitu tampan dengan rambutnya yang selalu rapi.


Endah tampak ragu melangkahkan kakinya ke dalam. Baru di luar saja dadanya sudah terasa sesak, rasanya tidak sanggup untuk berjalan masuk ke dalam.


"Ayo Kak!!" Edgar menggandeng tangan Endah beserta Alisa di sisi yang satunya.


"Kenapa sih?? Aku nggak kenapa-kenapa kali. Kaya jompo aja pakai di apit segala jalannya, lepas!!" Protes Endah sok kuat.


Akhirnya Edgar dan Alisa memilih melepaskan tangan mereka dari Endah. Membiarkan wanita yang sedang rapuh itu berjalan di samping Gendis.


Berlahan Endah masuk ke dalam gedung yang sudah di sulap dengan ribuan bunga mawar berwarna merah muda itu. Hampir senada dengan baju yang dipakai Endah dan Ibunya.


"Endah duduk di sini saja Bu" Endah memilih duduk di bangku yang letaknya hampir di deretan paling belakang.


Deg...


"Apalagi ini?? Apa Viola saja tidak cukup, kenapa harus Ibu dan Abang ikut menyakiti ku??" Batin Endah mulai nelangsa.


Gendis hanya mengangguk, membiarkan Endah duduk sendirian di sana. Sementara dirinya berlalu ke depan menghampiri Viola dan Via bersama Endah dan Erland. Sudah tidak ada tenaga lagi baginya untuk mengeluarkan isi hatinya.


Tapi dari kejauhan Endah baru sadar jika kebaya yang ia pakai Via berbeda dengan Gendis. Padahal tadi Ibunya berkata jika mereka berdua akan senada. Via justru berkebaya berwarna navy. Sedangkan Viola juga memakai yang bermodel sama dengan Ibunya.


Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Endah belum melihat Vino duduk di kursi paling depan yang menghadap ke arahnya saat ini.


"Ndah, nggak duduk di depan saja??" Tanya Erland yang datang bersama Sarah.


"Enggak Bang, di sini saja"


"Ya sudah, Abang ke depan dulu ya??"


Endah melihat Sarah juga mengenakan kebaya berwarna rose seperti milik Ibunya. Tapi modelnya pun sama dengan milik Gendis dan juga Viola. Endah melihat kebaya miliknya yang berbeda sendiri.

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian perhatian Endah berdalih pada Beca yang mendekat ke arah Viola. Beca tampak cantik memakai kebaya berwarna navy seperti milik Via.


"Kenapa semuanya jadi aneh begini??" Batinnya.


Seorang MC mulai maju ke dapan, bangku-bangku di sekitar Endah juga sudah terisi penuh. Hingga sang pembawa acara itu memanggil Vino untuk masuk ke dalam sana.


Mata Endah tentu saja menantikan kedatangan pria itu. Ingin sekali melihat betapa tampannya pria yang akan melamar pujaan hatinya itu.


Benar saja, Endah bahkan sampai tak bisa berkedip melihat Vino yang tampil dengan kemeja batik panjangnya. Rambutnya di sisir rapi, dengan sepatunya yang hitam mengkilap. Untuk sepersekian detik mata mereka berdua bertemu. Seulas senyum tipis terlihat di bibir Vino untuk Endah yang duduk berjauhan darinya.


"Silahkan Bapak, Ibu atau wali dari kedua pasangan untuk duduk di depan" Ucap MC itu sebelum acara di mulai.


Endah hanya menundukkan air matanya, tak mau melihat kebahagiaan Vino di depan sana.


Endah bahkan tidak mendengarkan apa yang MC katakan sedari tadi. Tapi saat Dito bersuara Endah mulai menajamkan pendengarannya.


"Erland, terimakasih banyak karena hari ini kamu mengijinkan Papi dan seluruh keluarga Papi untuk berdiri di depan mu saat ini"


Air mata Endah terus menetes. Erland yang harusnya menerima lamaran untuk Endah kini justru menjadi wali untuk wanita lain. Yang lebih menyakitkan lagi, Erland akan menerima lamaran dari pria yang sangat di cintai adiknya.


"Hari ini, di hadapan kamu dan seluruh keluargamu Papi dengan segala kerendahan hati ku memohon secara langsung kepadamu untuk melamar adik mu untuk anak Papi, Vino"


Bahu Endah sudah bergetar, menahan suara tangis yang akan mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Saya sebagai Wali dari adik saya, menerima kedatangan keluarga Papi dengan penuh rasa hormat. Rasa terimakasih juga saya ucapkan untuk seluruh keluarga Vino yang telah berniat baik untuk melamar adik saya. Namun saya sebagai Kakak sekaligus Wali akan menyerahkan segala keputusan itu kepada adik saya. Jadi untuk Vino, silahkan sampaikan maksud dan tujuan mu datang kesini bersama seluruh keluargamu" Ucap Erland dengan penuh haru, bahkan Endah pun bisa mendengar suara Kakaknya yang bergetar.


"Apa kalau aku yang di lamar, Abang akan seharu ini??"


Vino mulai berdiri dari duduknya, dengan untaian bunga di tangannya.


"Erland, sahabatku sekaligus wali dari wanita yang sangat aku cintai"


Baru satu kalimat yang keluar dari bibir Vino, tapi sudah membuat Endah tak tahan.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menyampaikan segala niat baikku ini langsung pada wanita yang aku cintai"


"Dan teruntuk wanita yang begitu berarti dalam hidupku selama ini. Wanita yang diam-diam aku cintai selama lebih dari sepuluh tahun lamanya, cinta yang tak pernah berani aku ungkapkan. Tapi di saat ini, aku sudah berdiri di tempat ini, di depan seluruh keluargamu, aku ingin memintamu menjadi istriku, menjadi Ibu dari anak-anakku"


Endah benar-benar tak tahan lagi, ia memilih pergi dari tempat itu. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang akan tertuju kepadanya.


"Endah Anindita..."

__ADS_1


Endah mengehentikan langkahnya karena suara berat itu menyebut namanya.


"Maukah kamu menerima cintaku dan menjadi istriku??"


__ADS_2