
"Sayang, tolong pasangkan dasi Abang ya??"
Erland memberikan dasinya pada Viola. Karena beberapa pasang mata sedang melihat ke arahnya, mau tak mau Viola menerima dasi yang di ulurkan Erland itu.
Tapi dari sudut matanya, Viola bisa melihat tatapan tak suka dari Sarah. Namun berbeda dengan Gendis yang tampak tersenyum senang melihat keharmonisan hubungan Erland dan menantu kesayangannya itu.
Saat ini mereka semua sedang berada si sebuah kamar hotel yang di gunakan keluarga kedua mempelai sebagai tempat berias diri. Yaa, hari ini adalah hari kebahagiaan Endah dan Vino yang akan mengikat janji suci mereka.
Viola mulai berdiri di depan Erland hanya dengan jarak dua jengkal orang dewasa saja. Jarak sedekat itu mampu membuat Erland menikmati kecantikan istrinya yang sudah di tambah dengan polesan make up dari MUA ternama.
Erland terus memandang wajah Viola yang sudah mulai menyimpulkan dasi untuknya tanpa berkedip.
"Apa kamu sungguh ingin membuat lubang hidungku menjadi tiga gara-gara tatapan mu itu??" Gumam Viola yang membuat Erland terkekeh.
Tangan Erland menarik pinggang Viola mendekat hingga perut besarnya bersentuhan dengan pinggang Erland.
"Habisnya kamu cantik banget, siapa yang nggak terpana melihat kamu coba??"
"Sudah selesai, lepas!!" Viola tak menyahut ucapan Erland tadi. Dia buru-buru ingin lepas dari pelukan pria itu.
Sungguh tak tau malu Erland melakukan itu di depan keluarganya, termasuk di depan Sarah.
"Tidakkah kamu tau kalau mata Sarah dan mertuamu sudah hampir keluar melihat tanganmu memelukku seperti ini??" Bisik Viola dengan geram.
Erland melirik Sarah sekejap "Biarkan saja, salah siapa dia tidak bisa memasang dasi" Jawaban acuh Erland sungguh membuat Viola geram.
"Pak Erland, acaranya akan segera di mulai silahkan ikut kami ke dapan, sudah di tunggu penghulu dan yang lainnya" Ucap seorang dari WO.
"Iya, tunggu sebentar!!"
Mau tak mau Erland melepaskan tangannya dari pinggang Viola.
"Kamu lolos kali ini sayang"
Cup..
Kecupan yang sangat disingkat mendarat di pipi Viola. Namun sayang, hal itu juga tak luput dari padangan Sarah. Wanita itu bahkan sudah mencengkeram kebaya berwarna lilac yang di pakainya.
__ADS_1
"Lihat kelakuan mereka, Mama sudah mual melihatnya" Bisik Rasti pada putrinya itu.
"Mereka memang kurang ajar!! Mereka seolah-olah tidak menganggap ku ada disini" Geram Sarah yang hanya bisa di dengar oleh Rasti.
"Endah, Abang ke depan dulu ya. Kamu jangan gugup, tenang saja. Abang akan mengantarkan kamu menuju kehidupan yang sesungguhnya" Ireland menghampiri Endah yang masih di rapikan penampilannya.
"Iya Bang, terimakasih banyak ya Bang" Endah sudah ingin menangis jika Erland tidak menghentikannya.
"Sudah, Abang keluar dulu. Lama-lama make up kamu bisa luntur kalau kamu ngomong sama Abang lagi" Sebenarnya Erland juga sudah ingin menangis, namun sebisa mungkin ia menahannya.
Melepaskan adik perempuannya yang sangat dia sayangi tentu saja sangat berat, adik yang sudah menjadi tanggung jawabnya setelah Ayah mereka meninggal.
"Bu, doakan Erland semoga bisa menjadi wali Endah dengan lancar. Erland bahkan saat ini sudah hampir menangis Bu" Erland berbisik pada Ibunya, berharap Endah tak mendengar apa yang sedang ia ucapkan. Karena dia tidak mau membuat adiknya itu menangis saat ini.
"Pasti sayang, sebelumnya Ibu ucapkan terimakasih karena kamu sudah bertanggung jawab menjaga adik mu hingga sampai ke titik ini" Gendis memeluk putra sulungnya itu.
"Itu sudah kewajiban Erland Bu"
"Susah sana, kamu sudah di tunggu" Erland mengangguk lalu mendekat lagi pada Viola.
"Doain Abang ya sayang" Erland mengusap pipi Viola dengan lembut.
Viola memperhatikan penampilan Erland sekali lagi. Pria yang tinggi dan tampan itu terlihat semakin berkarisma dengan setelan jas dan dasinya yang rapi. Mungkin bisa saja orang mengira Erland lah mempelai prianya karena pesona Erland yang tak bisa di tampik lagi.
"Mas!!" Kini Sarah tak mau diam.
"Iya??" Sahut Erland tanpa rasa bersalah sekalipun.
"Kamu nggak minta doa juga dari aku??" Ketusnya dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Iya, doain ya" Jawab Erland dengan singkat lalu pergi dari ruangan yang penuh dengan wanita itu.
Lirikan Sarah yang tajam langsung menjurus pada Viola yang tak tau apa-apa. Yang bertindak acuh tak acuh adalah Erland namun Sarah justru terlihat menyalahkannya.
Viola yang tak peduli sedikitpun lebih memilih menghampiri Endah.
"Lo gugup Ndah??" Viola melihat Endah yang terus meremas keuda telapak tangannya.
__ADS_1
"Iya Vi, rasanya gue pingin ke belakang terus" Endah meringis menatap Viola.
"Gue cuma bisa doain aja Ndah, soalnya gue juga nggak tau yang lo rasain sekarang kaya gimana. Lo tau sendiri kan pernikahan gue kaya gimana??" Wajah Viola langsung berubah sendu.
"Lo ada di sini aja gue udah seneng banget Vi, apalagi lo mau doain gue. Jadi jangan sedih ya, gue yakin di balik pernikahan lo sama Abang gue yang rumit itu, pasti Allah punya rencananya sendiri"
Viola mengusap ujung matanya yang tak terasa sudah basah.
"Udah ah, harusnya kan gue yang kasih dukungan buat lo. Tapi malah lo yang hibur gue"
"Nggak papa, jangan nangis lagi ya. Kasian ponakan gue kalau Mamanya sedih terus" Viola mengangguk lemah.
"Permisi!! Mana calon pengantinnya ya??" Teriak Beca yang baru saja membuka pintu kamar hotel itu.
"Siapa sih dia, berisik banget" Cibir Rasti.
"Temannya si madu" Jawab Sarah menatap Beca tak suka.
"Beca??" Endah menoleh pada Beca yang juga sudah siap dengan kebaya yang sama dengan Viola. Untuk kali ini warna yang mereka kenakan semuanya sama kecuali calon pengantinnya.
"Endah, lo cantik banget. Kak Vino pasti pangling saat lo keluar nanti"
"Benar banget, gue nggak bisa bayangin gimana wajah Bang Vino saat itu" Sahut Viola.
Ketiga wanita yang seumuran itu tertawa bersama. Endah dan Beca yang bisa di bilang baru saja saling mengenal saja sudah bisa seakrab itu. Tentunya Viola sangat senang karena kedua sahabatnya itu saling mendukung dan begitu baik kepadanya.
"Udah ah, jangan ngomongin Bang Vino terus. Kupingnya pasti panas sekarang, kan kasihan. Dia juga pasti lagi gugup-gugupnya" Endah menghentikan Viola dan Beca yabg terus menggosipkan calon suaminya itu.
"Iya, iya. Calon istri lagi belain calon suaminya nih" Cibir Beca membuat wajah Endah memerah.
"Apaan sih, biasa aja kali" Bantah Endah langsung memalingkan wajahnya.
"Ha..ha..ha..ha.." Viola dan Beca bahkan sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Di balik tawa ketiga sahabat itu, ternyata ada juga yang tak suka melihat wajah bahagia mereka.
"Lihatlah mereka, bisa mereka tertawa kaya begitu di depan kita. Mama yakin mereka sebenarnya meledek kamu Sarah" Ucap Rasti terus menatap tajam pada Viola.
__ADS_1
"Mama tenang aja, tawa mereka tidak akan bertahan lama. Ingat Ma, formalin bukan untuk tawa berisik mereka"