
Erland yang baru saja terlelap di tengah malam karena harus memeriksa beberapa laporan yang di berikan Edgar harus kembali terjaga karena suara tangis anaknya.
"Ssttt.. Cup, cup sayang. Papa disini, jangan nangis. Biarkan Mama istirahat dulu. Mama pasti sudah lelah menemani kamu seharian"
Erland menimang Ezra dalam dekapannya yang hangat. Bayi kecil itu seolah tau apa yang di katakan oleh Papanya. Berlahan Ezra mulai menghentikan tangisannya yang menggemaskan itu.
Erland mengayun-ayunkan Ezra sambil terus memandangi wajah yang seperti pinang di belah dua dengannya itu. Hingga kurang lebih sepuluh menit, Ezra kembali terlelap.
Dengan berlahan Erland menidurkan bayi yang baru berusia satu minggu itu ke dalam boksnya. Kemarin Erland memang sudah menyiapkan kamar sendiri untuk Ezra. Namun Viola masih belum tega untuk berpisah kamar dengan anak sematawayangnya itu.
Jadi Erland memutuskan untuk memindahkan boks bayi untuk Ezra ke dalam kamarnya. Sehingga Viola dan dirinya bisa leluasa mengawasi Ezra saat tertidur
Namun belum juga Erland kembali ke ranjangnya, Ezra kembali terbangun dan mengeluarkan suara tangisannya.
"Sayang, kamu nggak mau bobok sendiri di sini ya?? Maunya bobok sama Papa, iya??"
Erland kembali menggendong Ezra. Sepertinya bayi itu memang tidak mau lepas dari dekapan Erland karena buktinya dia langsung terdiam kembali saat ini.
Erland melirik Viola di ranjangnya. Wanita itu sama sekali tak terusik sama sekali dengan sura tangisan Ezra.
"Sepertinya Mama memang benar-benar lelah sayang. Mama sampai nggak dengar suara tangisan kamu" Erland menggesekkan hidung mancungnya pada hidung Ezra yang masih teramat kecil dan mungil.
Erland duduk di ranjang dengan bantal yang di tumpuk di belakangnya sebagai tempat ia bersandar. Ezra bayi merah itu Erland letakan tengkurap di dadanya. Lalu dengan pelan Erland menepuk pantat Ezra hingga bayi itu tenang dan mulai terlelap.
Erland terkekeh sendiri melihat kelakuan Ezra. Dia lebih memilih tidur dalam posisi seperti itu daripada harus di boks bayinya yang nyaman. Atau mungkin menurut Ezra, pelukan Papanya lebih nyaman dari apapun saat ini.
Karena rasa kantuknya yang sudah tak bisa di tahan lagi, akhirnya Erland ikut terlelap bersama Ezra dalam pelukannya.
Namun tak lama setelah itu, justru Viola yang terbangun. Dia ingat harus memberikan asi setiap dua jam sekali pada bayinya.
Namun pemandangan yang pertama dia lihat saat membuka matanya membuat Viola tersenyum dengan haru.
Putra kecilnya tidur dengan tenang di dada Erland. Kedua pria yang ia cintai itu tampak nyaman tidur dengan posisi seperti itu.
Viola langsung mengambil ponselnya. Mengabadikan momen yang menurutnya begitu indah itu. Viola kembali tersenyum melihat hasil jepretannya itu. Tangannya dengan cepat mengotak atik ponselnya, merubah wallpaper ponselnya dengan foto yang baru saja ia ambil.
"Kalian sweet banget sih" Viola menoel-noel pipi Ezra. Membangunkan bayinya untuk di beri asi. Dengan pelan Viola mengambil alih Ezra dari pelukan Erland agar tidak mengusik tidur suaminya itu.
Ezra seakan tak rela lepas dari Papanya karena bayi itu langsung merengek dengan gemasnya.
"Sayang, kasihan Papa dong. Biarkan Papa tidur dulu. Besok main lagi sama Ezra ya??"
__ADS_1
Ucap Viola sambil membuka kancing bajunya. Bayi mana yang tak akan terdiam jika menemukan sumber kehidupan di depannya. Begitupun dengan Ezra, dia langsung terdiam begitu Viola menyodorkan tempat persediaan makanannya selama dua tahun ke depan itu.
Setelah Ezra kembali terlelap, Viola memutuskan untuk menidurkan Ezra di antara dirinya dan Erland. Membiarkan bayi itu merasakan kehangatan di apit ke dua orangtuanya.
"Ezra!!"
Erland tiba-tiba saja terbangun dengan keterkejutannya karena tidak merasakan anaknya dalam dekapannya lagi.
"Abang, tenanglah. Dia ada disini" Viola mengusap dada Ezra pelan karena bayi itu sedikit terkejut karena teriakan Papanya.
"Hufffttt, syukurlah. Abang kira jatuh" Erland kembali berbaring di sebelah Ezra.
"Tadi Ezra bangun ya Bang?? Maaf ya aku nggak dengar"
Erland tersenyum meski matanya kadang-kadang terpejam. "Nggak papa sayang. Abang tau kalau kamu pasti lelah mengurus Ezra seharian. Tadi Abang juga belum tidur saat dia bangun" mereka berdua berbaring saling berhadapan dengan pembatas bayi kecil di antaranya.
"Ya sudah, sekarang Abang tidur lagi. Abang juga capek kan??"
Erland berkali-kali di buat terpana oleh kecantikan Viola, termasuk kali ini. Viola memamerkan senyumnya yang begitu cantik untuk Erland.
"Iya, kita tidur sama-sama"
Viola mengangguk, lalu meraih tangan Erland yang terulur ke arahnya. Empat tahun yang lalu saat melihat Erland menikahi Sarah, dia tak menyangka bisa merasakan momen seperti sekarang ini.
Suasana yang aneh di rasakan Yovi saat dirinya pertama kali membuka mata. Ia merasa ada seseorang yang tidur di sampingnya. Dengan jelas Yovi juga mendengar suara nafas yang teratur tapi bukan berasal dari dirinya.
Tapi saat tangannya tak sengaja menyentuh bagian bawahnya yang terasa tak tertutup apapun selain selimut yang kini menutupinya hingga sebatas bahu, Yovi baru menyadari sesuatu.
"Astaghfirullah Beca!!" Yovi membuka matanya dan benar melihat Beca masih terlelap di sampingnya.
"Kenapa aku bisa lepas kendali seperti semalam?? Maafkan aku Ya Allah, aku telah berbuat dosa besar" Gumam Yovi meraup wajahnya dengan kasar.
"Beca!! Bangun Beca!!" Yovi mengguncangkan bahu Beca dengan pelan.
"Apa yang akan ku katakan kepadanya nanti" Gumam Yovi.
Apalagi dia telah merenggut kesucian Beca tadi malam. Yovi tadi malam sebenarnya bisa merasakan jika Beca masih perawan, karena milik Beca begitu susah untuk di terobos olehnya. Namun Yovi yang sudah di kuasai hawa na fsu tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Ssshhhh..." Beca meringis saat menggerakkan kakinya. Rasanya begitu perih di bagian intinya hingga membuatnya terbangun seketika.
"Beca" Panggil Yovi lembut.
__ADS_1
Meski Beca belum melihat orangnya, tapi dia tau betul pemilik suara itu. Beca langsung berbalik menghadap pemilik suara di belalangnya.
"Ngapain kamu disini!!" Beca memelototi Yovi tanpa sadar dirinyalah yang berdada di kamar Yovi.
Beca terduduk tanpa sadar jika dirinya dalam keadaan polos saat ini.
"Beca, tolong jangan salah paham dulu. Aku minta maaf karena semalam.."
"Tunggu!!"
Beca langsung tersadar jika pria di depannya bertel anjang dada. Kini dirinya melirik ke bawah, dimana selimut yang menutupi badannya telah melorot sampai k batas pinggangnya.
"AAAAA....!!!!!!" Beca menarik selimutnya lagi, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut itu.
"A-apa yang telah kita lakukan??" Beca menatap Yovi berkaca-kaca.
"Beca, dengar dulu. Aku akan bertanggung jawab. Tapi aku mohon kamu tenang dulu ya"
Dari ucapan Yovi itu Beca sudah bisa menyimpulkan apa yang sudah terjadi. Apalagi badannya yang terasa remuk dan bagian intinya yang sakit.
"Kenapa bisa kaya gini?? Kenapa aku bisa ada di sini??" Beca mengacak rambutnya dengan kasar.
"Beca, tadi malam kamu mabuk berat. Lalu ada orang yang menghubungi ku untuk menjemput kamu di club. Aku nggak mungkin bawa kamu ke rumah Tante Via. Jadi aku bawa kamu kesini. Aku minta maaf karena aku sudah merenggut kesucian kamu" Ucap Yovi menyesal atas perbuatannya semalam.
"Maafkan aku Beca. Aku janji aku akan tanggungjawab sama kamu"
Beca masih menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini??" Beca mengangkat wajahnya dan menatap Yovi dengan garang.
"Kenapa aku tawarkan yang halal, malah memilih perbuatan haram ini semalam. Kalau seandainya kemarin kamu mau menerima tawaran aku untuk menikah. Kamu bahkan bisa mendapatkannya seumur hidup. Dasar lali-laki b****sek!!" Beca melirik Yovi dengan tajam.
"Kamu tidak bisa menyalahkan aku begitu saja Beca. Semalam kamu yang lebih dulu mencium ku"
Beca teringat kilasan-kilasan malam kelam yang ia lewati bersama Yovi semalam.
"Tapi harusnya kamu bisa menahannya. Kamu tidak mabuk kan Kak??"
Yovi tak berkutik. Memang dia sendiri yang terbuai oleh bibir lembut Beca sampai membuatnya kebablasan.
"Aku akan bertanggung jawab. Besok kita menikah!!"
__ADS_1