Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
38. Nyaman


__ADS_3

"Mas, aku minta maaf. Aku cuma kesal sama dia Mas. Karena dia kamu jadi lupa kalau malam itu jadwalnya kamu tidur sama aku" Sarah terus merengek meminta maaf dari Erland.


"Aku tidak suka hal kekanakan seperti itu" Balas Erland acuh.


"Maafin aku dong Mas, aku janji nggak bakalan bertingkah lagi. Tapi jangan diemin aku kaya gini dong " Sarah terus merengek seperri anak kecil.


"Aku nggak diemin kamu, aku cuma nggak mau sampai berkata kasar sama kamu Sarah!! Perbuatan kamu itu sudah termasuk keterlaluan, bisa-bisanya kamu sengaja membuang baju-baju Viola ke tempat sampah" Erland benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Sarah.


"Ya habisnya aku cemburu Mas. Kamu tau sendiri kalau cemburu bisa membuat seseorang berbuat apa saja" Sarah mencoba membela dirinya sendiri.


"Apapun alasannya yang jelas itu salah. Aku nggak mau kejadian ini terulang lagi. Kalau kamu marah, lampiaskan semuanya sama aku aja. Aku yang salah waktu itu, bukan Viola" Erland masih tetap mengontrol kemarahannya. Sebisa mungkin tak meninggikan suaranya yang bisa membuat Sarah sakit hati.


"Kali ini aku maafkan kamu. Tapi harus janji jangan aneh-aneh lagi"


"Iya, iya Mas. Aku janji" Ucapnya dengan bibir yang mengerucut.


"Aku lelah, mau istirahat" Erland mengambil sebuah kemeja dari dalam lemarinya. Lalu pergi keluar meninggalkan Sarah. Tentu saja tujuannya adalah kamar Viola.


Ceklek.. Ceklek..


Erland mengunci pintu kamar Viola setelah dia berhasil masuk ke dalamnya.


Dapat Erland lihat jika Viola sempat melihat kearahnya yang tiba-tiba datang langsung mengunci pintu kamarnya.


"Kamu sudah nggak ada baju buat tidur kan?? Pakai baju Abang dulu aja ya??" Erland mengulurkan kemeja yang di bawanya tadi.


"Pakai ini aja" Tolak Viola.


"Itu pasti tidak nyaman buat tidur. Cepat sana!!" Erland menarik tangan Viola lalu menyerahkan kemejanya dengan paksa.

__ADS_1


"Huffttt pemaksa!!" Mau tak mau akhirnya Viola pergi ke kamar mandi meski dengan sedikit menggerutu.


Erland sudah berbaring di ranjang, tempat yang sama beberapa hari yang lalu saat pertama kali tidur seranjang dengan Viola. Menunggu Viola yang sedikit lama berada di kamar mandi.


Sama seperti saat pertama kali satu kamar dengan Viola di rumah Ibu waktu itu. Rasanya campur aduk, Erland gugup, gemetar dan panas dingin padahal Erland hanya akan tidur seranjang tidak melakukan hal lain seperti pasangan suami istri lainnya. Dengan Sarah juga tak begitu mendebarkan seperti itu.


Perhatian Erland teralihkan karena suara pintu kamar mandi. Istri cantiknya itu keluar dari sana dengan kemeja putih miliknya yang tampak kebesaran di pakai Viola. Panjang kemejanya yang hanya menutupi sampai pangkal paha Viola saja membuat Erland menelan ludahnya dengan susah payah. Padahal hanya kemeja biasa, tapi kenapa saat Viola yang memakainya mampu membuat Erland kalang kabut.


Kulit Viola yang putih mulus, serta kaki jenjangnya yang ramping dan panjang semakin membuat Erland tak dapat berkedip.


"Kenapa??" Tanya Viola dengan polosnya.


"Kamu cantik memakainya" Puji Erland yang sudah berhasil mengendalikan dirinya.


"Sini, tidurlah. Abang tidak akan macam-macam" Erland menepuk ranjang di sebelahnya.


Viola menurut lalu menaikkan satu kakinya lebih dulu sebelum di susul kaki satunya. Dan itu mampu membuat Erland semakin tersiksa karena tak sengaja Erland bisa melihat celana d*lam Viola yang berwarna hitam.


Erland memejamkan matanya merasakan sesuatu yang sudah sangat keras di bawah sana. Erland heran kenapa adiknya bisa bereaksi secepat itu melihat hanya dengan melihat Viola yang begitu menggoda.


Padahal dulu Erland sering di kirim wanita-wanita penggoda oleh rekan bisnisnya hanya agar Erland menerima tawaran kerja sama mereka. Tapi saat itu Erland tak tergoda sama sekali. Bahkan adiknya bereaksi pun tidak. Tapi kali ini, Erlsnd juga bingung.


"Apa kau mulai mencintaimu Vi?? Tapi ini baru beberapa hari kita bersama. Atau hatiku sudah tidak mampu menolak pesona mu"


Erland terus mencoba menidurkan adiknya dengan memikirkan hal-hal yang lain. Memejamkan matanya dan mengatur nafasnya dengan teratur.


"Kenapa??" Tanya Viola yang merasa aneh karena Erland memejamkan matanya dan berulang kali menghembuskan nafas panjangnya.


"Hah?? Oh nggak papa Vi" Erland sepat bingung dengan pertanyaan Viola yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Vi, besok mau Abang antar ke rumah Mami untuk ambil baju kamu?? Atau Abang belikan yang baru saja ya??" Tanya Erland, agar pikiran kotornya berangsur menghilang.


"Beli aja, lagian di rumah Mami juga cuma sedikit. Besok sekalian kita pergi ke Dokter" Meski masih cenderung dingin. Erland senang karena Viola tak lagi kasar seperti kemarin.


Mungkin setelah Viola mengatakan ikhlas dengan pernikahan itu, dia mencoba untuk berubah sedikit demi sedikit.


"Kalau gitu, kita ke Dokter dulu, baru setelah itu Abang antar beli baju ya??" Viola mengangguk.


Betapa senangnya Erland karena Viola benar-benar ingin mempunyai anak dengannya.


"Vio, terimakasih banyak ya, karena kamu sudah mengabulkan keinginan Ibu untuk memberikannya cucu" Erland menatap Viola yang duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Hemm, itu sudah kewajiban ku sebagai istri"


Sebenarnya bukan hanya demi Ibu mertuanya. Viola juga melakukan itu demi Maminya. Mungkin jika melihat Viola hamil, Maminya akan percaya jika kehidupan rumah tangganya baik-baik saja.


"Abang sangat berharap, kalau nanti kamu mengandung anak Abang, hubungan kita bisa semakin dekat"


Viola hanya membalas Erland dengan senyum tipisnya saja.


"Mungkin ini terlalu awal untuk Abang mengatakan ini. Tapi hati Abang merasa begitu tenang saat di dekat kamu. Rindu saat Abang tidak bertemu kamu meski hanya dua hari. Abang juga tidak mengatakan itu cinta, karena kesannya akan sangat terburu-buru. Tapi Abang merasa nayaman di dekat kamu Vi"


Viola melirik Erland yang terus saja menatapnya dengan dalam. Meski terlihat tenang tapi di tatap sedalam itu terlebih lagi oleh orang yang membuatnya cinta mati, tentu saja jantung Viola sedang berperang di dalam sana.


"Aku juga tidak akan mudah mempercayainya meskipun apa yang kamu katakan itu benar. Aku hanya akan mengikuti arusnya saja, yang akhirnya akan membawaku kemana" Jawab Viola dengan mata mereka yang terus bertautan.


"Abang tidak akan banyak berjanji padamu Vi, Abang hanya ingin membuktikan keseriusan Abang sama kamu. Entah kenapa sekarang ini Abang begitu yakin sama kamu, berbeda dengan tiga belas tahun yang lalu. Maafkan Abang karena mengatakan ini di saat Abang punya istri lain selain kamu. Tapi inilah Abang, laki-laki yang penuh dosa dan dusta"


Viola ingin menitikkan air matanya namun dia buru-buru membuang wajahnya ke samping.

__ADS_1


"Bolehkah Abang tidur dengan menggenggam tangan kamu Vi??"


__ADS_2