Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
106. Keputusan Sarah


__ADS_3

Dua hari setelahnya, karena merasa dirinya tak di anggap dan tak di pedulikan sama sekali. Dia ingin membujuk dan meminta pengacaranya untuk mencari jalan keluar atau mengulur waktu selama mungkin agar Sarah tidak bisa menandatangani surat gugatan perceraian itu.


Sarah sudah duduk manis di sebuah cafe yang cukup ramai di siang hari. Menunggu pengacara yang sering di sebutnya b*doh itu.


Tak butuh waktu lama menunggu, seorang pria berkacamata tebal dengan rambutnya yang klimis mendatangi meja Sarah.


"Maaf membuatmu menunggu lama" Ucap pria itu sambil meletakkan tasnya yang terlihat begitu berat.


"Kau memang biasanya begitu, tidak pernah tepat waktu" Ucap Viola tanpa rasa sungkan.


Pengacara Sarah itu mengeluarkan amplop besar dari dalam tasnya. Sudah bisa Sarah tebak itu adalah surat terkutuk yang dikirimkan Erland untuknya.


"Aku tidak mau melihatnya sama sekali. Jadi singkirkan jauh-jauh dari hadapanku" Ucap Sarah saat pengacaranya menyodorkan amplop itu kearahnya.


Lawan bicara Sarah hanya bis mengembuskan nafas pasrah, dan menarik kembali amplop itu.


"Apa yang harus aku lakukan supaya dia membatalkan gugatan itu?? Atau apa yang bisa kau lakukan agar bisa mengulur waktu selama mungkin" Ucap Sarah to teh point.


"Satu-satunya cara sudah kau lakukan, pura-pura hamil yang gagal itu adalah cara terampuh. Namun semuanya sudah berakhir jadi menurutku tak ada cara lain lagi"


Mata Sarah langsung memicing menajam pada pengacara itu.


"Darimana kau tau rencana ku itu??"


"Siapa lagi kalau bukan mulut besar Mamamu yang memberitahuku"


Sarah mendengus kasar. Memang benar katanya, jika bukan dari mamanya dari siapa lagi pria itu mendengar rencana busuknya yang sia-sia itu.


"Lalu apa lagi yang harus aku lakukan?? Bantu aku berpikir, jangan buat aku menyesal karena telah memilih pengacara b*doh sepertimu!!"


"Kalau kau tau aku bodoh kenapa menyuruhku berpikir??"


Sarah menganga karena jawaban dari pengacaranya itu.


"Baiklah, baiklah. Apa kau punya ide??" Tanya Sarah mengalah.

__ADS_1


Pria yang terlihat berumur di bawah Sarah itu hanya menggeleng.


"Cihhh.. Sudah kuduga" Cibir Sarah.


"Aku sudah menyerah melawan suamimu karena dia sudah punya bukti perselingkuhan mu dengan Radian. Tapi aku hanya bisa menyarankan kepadamu untuk menerima gugatan darinya saja" Saran dari pengacaranya itu langsung di sambut tatapan tajam dari Sarah.


"Kau gila??"


Mendapat umpatan dari Sarah hanya di sambut gelengan oleh pengacara itu.


"Lalu mau apa lagi?? Setidaknya suamimu itu akan memberikan harta gono gini yang besar kepadamu kalau sampai perceraian ini terjadi. Tapi kalau kau tetap berbuat nekat, jangan salahkan aku nantinya kalau suamimu akan menuntut mu atas dasar penipuan"


"Maksudmu??" Sarah bingung kenapa dia bisa di tuntut atas dasar penipuan.


"Kau tidak berpikir kalau kau dengan sengaja menyembunyikan pengangkatan rahim mu pada Erland, dan selama ini kau terus mengaku mengikuti program kehamilan bahkan program bayi tabung. Tentu saja Erland mempunyai semua riwayat pengeluaran uang demi program kalian. Lalu kemana uang dari Erland itu?? Uang dari program bayi tabung juga tidak sedikit Sarah. Kau bisa di tuntut kalau Erland mau, tapi dia masih diam sampai sekarang. Seharusnya kau sadar akan hal itu dan tidak usah mempersulit urusan ini"


Sarah tampak berpikir sejenak. Semua penjelasan dari pengacaranya itu mulai masuk ke dalam pikirannya.


"Berikan surat gugatan tadi kepadaku!!" Pengacara Sarah tampak sedikit terkejut karena perubahan hati Sarah yang begitu cepat.


"Kau itu bagaimana?? Bukankah kau yang menyarankan aku untuk menandatangani surat ini??" Sarah merebut amplop itu dengan cepat.


"Secepat ini??" Pengacara itu masih belum percaya.


"Tidak usah banyak tanya!!"


Sarah membuka amplop itu, kemudian membacanya dengan sekilas.


"Baiklah, aku akan menyerahkannya sendiri pada Mas Erland. Tapi sebelum aku benar-benar bercerai dengan Mas Erland, aku akan mengerikan hadiah kecil untuk mereka, terutama pada Viola" Sarah tersenyum lebar membayangkan rencana di dalam pikirannya.


"Jangan aneh-aneh lagi Sarah!! Aku jamin kalau aku tidak bisa membantumu lagi setelah ini kalau kau sampai berbuat nekat" Pengacaranya itu mencium bau-bau kelicikan dalam senyuman Sarah.


"Tenang saja Ben. Aku tidak akan membuatmu susah. Aku hanya akan sedikit bermain dengan mereka sebelum aku pergi dari kehidupan mereka"


Pengacara yang ternyata bernama Ben itu hanya bisa berdoa dalam hatinya agar Sarah tak berbuat hal di luar nalarnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, jangan lupa sampaikan pada pengacara Mas Erland kalau aku sedang mempertimbangkan perceraian ini"


Sarah meraih tasnya lalu pergi dari cafe itu dengan senyum hang terus berkembang di bibirnya. Berbeda dengan saat kedatanganya tadi, kini wajahnya sudah berubah ceria.


Tak ada yang tau dengan rencana Sarah kali ini. Dia juga memutuskan untuk tidak memberitahu Rasti, karena dia tidak ingin Mamanya itu memberitahu Ben dan membuat pria itu menggagalkan rencananya.


Sementara di rumah, Viola baru saja makan siang di temani Erland. Setelah dua hari yang lalu Sarah mengancam dengan aksi nekatnya, kini Erland lebih memilih pulang ke rumah saat jam makan siang demi melihat keadaan Viola secara langsung.


Erland juga sebenarnya tak tega meninggalkan Viola bekerja di saat mendekati kelahiran bayinya seperti sekarang ini. Namun masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum dia menyerahkan semua pekerjaan kepada sekretarisnya demi menemani Viola menjelang waktu melahirkan.


"Kamu belum kerasa apa-apa kan sayang??" Tanya Erland dengan khawatir.


"Belum Abang. Ini udah ke empat kalinya Abang tanya kaya gini sejak kepulangan Abang tadi loh" Viola tau jika suaminya itu ingin menjadi suami yang siaga untuknya. Namun kekhawatiran Erland itu kadang membuat Viola kesal.


"Iya sayang maaf. Abang berangkat dulu ya??"


Erland sudah mengulurkan tangannya ke depan Viola, tapi belum sempat Viola menyambutnya, Sarah sudah lebih dulu tiba.


"Mas, kamu kok di rumah??" Tanya Sarah dengan suara lembutnya. Tak ada kata-kata memohon atau kemarahan seperti kemarin.


Meski Erland tak menjawab tapi Sarah tak mengendurkan senyumannya.


"Mas, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu" Erland memang tak menjawab tapi dia sedikit melirik ke arah Sarah.


"Aku sudah memutuskan untuk menandatangani surat gugatan perceraian yang kamu kirimkan melewati pengacara ku"


Erland langsung menatap Sarah dengan penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin Sarah yang menolak dengan keras langsung berubah dalam waktu dua hari.


"Kenapa kamu berubah pikiran secepat ini??" Tanya Erland dengan dingin.


Sarah menarik nafas panjangnya sebelum menjawab pertanyaan Erland.


"Aku sadar tentang semua kesalahan aku Mas. Dan aku minta maaf sama kalian berdua. Aku sungguh-sungguh menyesali semua perbuatan ku Mas. Jadi aku memilih untuk mundur karena memang aku yang bersalah"


Erland masih diam taj bergeming. Dia masih menunggu Sarah menjelaskan perubahan keputusannya itu.

__ADS_1


"Tapi ijinkan aku tinggal di rumah ini, setidaknya sampai sidang pertama kita Mas. Setelah itu aku janji kalau aku akan pergi dari rumah ini"


__ADS_2