Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
136. Surat dari mantan


__ADS_3

Sarah hanya duduk di lantai selnya yang dingin dengan terus memandangi amplop yang diberikan Alisa tadi. Rasanya tak sanggup untuk membaca tulisan di dalamnya karena mendengar Radian yang akan menikah. Pasti di dalamnya hanyalah kata maaf dari Radian yang di tujukan kepadanya. Sarah sudah bisa menebaknya.


Di dalam benaknya masih tak percaya jika Radian bisa melupakannya begitu saja setelah lebih dari sepuluh tahun mereka bersama. Jika di tanya, apa di dalam hati Sarah masih mencintai laki-laki itu. Tentu jawabannya adalah, iya.


Dulu Sarah menikah dengan Erland hanya tergiur dengan hartanya saja. Meski lama-kelamaan tumbuh rasa di hati Sarah karena wajah tampan dan juga perhatian Erland. Namun jika di bandingkan dengan Radian yang sudah mengisi hatinya sejak SMA, Sarah lebih mencintai pria itu meski Erland lebih dari segalanya.


Sekarang, Sarah bisa apa?? Dia di dalam sel. Berlari menemui Radian saja tidak bisa. Apalagi mau memohon kepada pria itu untuk membatalkan pernikahannya. Itu sungguh mustahil bagi Sarah saat ini.


Sarah mengusap air matanya yang tiba-tiba merembes keluar. Jemarinya yang lentik itu mulai membuka amplop berwarna putih di tadi. Meski sudah menebak isi di dalamnya. Sarah tetap membuka amplop itu.


Tulisan tangan dengan tinta berwarna hitam itu sudah menyambut Sarah. Kalimat demi kalimat yang sengaja di tulis Radian itu seakan melambai meminta Sarah untuk mulai mengejanya.


🌹🌹🌹


Untuk Sarah, wanita yang pernah aku cintai...


( Sarah tersenyum kecut. Dari satu kalimat pembuka ini saja, Radian secara gamblang mengatakan jika saat ini dia bukan wanita yang dicintanya )


Sarah, aku tidak akan menanyakan apa kabarmu, karena aku sudah dengar tentang apa yang sedang terjadi kepadamu saat ini.


Sampai saat ini aku tidak pernah menyangka jika hubungan kita akan berakhir seperti ini.


Dulu kita selalu bermimpi ingin membangun keluarga kecil yang bahagia.


Tapi ternyata takdir begitu jauh memisahkan kita.


Melalui surat ini, aku minta maaf karena segala kesalahan ku di masa lalu telah menghancurkan hidupmu.


Andai saja dulu kita tidak melakukan hal yang terlarang itu, pasti saat ini kamu masih bisa mengandung anak dari suamimu.


Aku minta maaf untuk hal itu, sungguh aku menyesal Sarah.


Tapi waktu terus berjalan dan kita tidak bisa memutar waktu kembali ke belakang.

__ADS_1


Kamu memang selalu menjadi pemilik hatiku Sarah, tapi itu dulu sebelum aku mencoba mengikhlaskan mu untuk kembali kepada suamimu.


Sekali lagi maafkan aku Sarah, karena mengatakan hal ini kepadamu.


Dalam waktu dekat ini, aku akan menikahi wanita yang kini berhasil menggantikan mu di dalam hatiku.


Entah kenapa dalam waktu singkat dia berhasil menguasai seluruh hatiku.


Bukan maksudku untuk mencampakkan mu dengan wanita lain.


Aku hanya ingin minta maaf kepadamu karena tidak bisa lagi kembali padamu meski kamu sudah bercerai


Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di waktu yang akan datang karena dulu aku sempat berjanji akan menikahi kamu saat kamu sudah bercerai dari suamimu.


Aku hanya bisa mendoakan agar kamu tabah dan sabar menjalani semua ini.


Aku juga yakin kalau masih ada sisi baik di dalam hati kamu yang paling dalam.


Jadi jangan bertindak gegabah lagi sehingga bisa membuatmu semakin kesulitan.


Radian...


🌹🌹🌹


Sarah menggenggam erat kertas itu hingga permukaannya lusuh tak berbentuk. Punggungnya bergetar dan isakan kecil mulai keluar dari bibirnya.


Sarah menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Menangis dengan mencoba menahan suaranya agar tidak keluar. Rasanya sakit saat menangis dalam keadaan seperti itu.


Harusnya dia berteriak membuang semua beban di pundaknya saat ini. Dimana tidak ada lagi tempatnya untuk berbagi, tidak ada lagi tempatnya pulang saat ini.


Sungguh balasan yang ia terima atas perbuatannya sudah membuatnya tersiksa padahal baru beberapa hari. Apalagi kalau menghadapi sepuluh tahun lagi. Rasanya Sarah tak sanggup. Dia bagaikan sebatang kayu yang terombang-ambing di lautan lepas. Sendirian tak ada yang peduli dan tak ada yang berniat memungutnya.


"Benar apa kata kamu. Waktu memang tidak bisa di putar lagi. Tapi jika kesempatan itu memang benar adanya. Aku mau kembali ke saat-saat kita bahagia bersama. Jika aku di berikan kesempatan lagi, aku tidak akan menggugurkan calon anak kita Radian. Aku juga tidak akan pernah menikah dengan Erland kalau saja aku menerima hidup sederhana bersamamu. Semua memang salahku, aku yang serakah dan jahat. Biarkan semua ini menjadi balasan untuk perbuatan ku. Aku rela mendekam di dalam sini, bahkan untuk selamanya. Karena di saat keluar pun aku tidak akan punya siapa-siapa lagi"

__ADS_1


Setelah tangisannya reda, Sarah mengeringkan wajahnya yang penuh dengan air mata itu. Lalu dengan tertatih Sarah berjalan menuju pintu selnya.


"Permisi!! Bu saya minta ijin keluar. Saya mau telepon kerabat saya sebentar" Ijin Sarah pada salah satu penjaga yang bertugas di sana.


"Ada urusan apa??" Tanya sipir berwajah galak itu.


"Hanya menanyakan kabar saja. Tidak ada yang penting. Saya mohon, sebentar saja" Baru kali ini Sarah memohon seperti itu kepada orang lain


"Tidak boleh lebih dari sepuluh menit!!" Ucap wanita itu dengan matanya yang melotot tajam.


"Baik Bu, terimakasih banyak" Sarah tersenyum, tampak begitu bersemangat hanya karena di berikan kesempatan untuk menghubungi seseorang.


Sarah di bawa ke ruangan yang di dalam sana juga di jaga oleh beberapa sipir yang bekerja di sana. Namun mereka tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sarah mendekat ke arah telepon yang letaknya lebih ke pojok dari ruangan itu. Meski mereka yang ada di sana tampak fokus dengan pekerjaannya, namun Sarah merasa setiap gerak geriknya terus di awasi. Tapi dia tak peduli, karena memang tidak ada hal aneh yang akan dia lakukan.


Sarah mulai mengangkat gagang telepon berwarna putih itu. Menekan dua belas angka yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala.


Jantungnya berdetak lebih cepat hanya karena mendengar suara telepon yang sedang terhubung. Rasanya benar-benar menegangkan bagi Sarah. Padahal yang dia hubungi adalah orang yang sudah bersamanya sekian tahun.


"Halo??" Jawab seorang pria di seberang sana.


Suara berat yang sangat Sarah rindukan. Suara yang dulu sering menemani hari-harinya.


"Halo?? Maaf, ini dengan siapa ya??" Tanya pria itu lagi karena Sarah tak kunjung mengeluarkan suaranya.


"Apa ada yang bisa saya bantu??" Tanya pria itu lagi.


"Siapa Mas??" Sarah bisa mendengar suara perempuan di dekat pria itu.


"Tidak tau sayang, mungkin salah sambung atau orang iseng" Jawab si pria.


Sarah membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya. Mendengar pria itu memanggil wanita lain dengan sebutan "sayang" membuat hatinya teriris.

__ADS_1


Sarah langsung mematikan panggilannya dengan meletakan gagang telepon itu kembali ke tempatnya.


"Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan kamu itu Radian"


__ADS_2