
Kalau gitu ayo kita menikah!"
"Uhukk..uhukk..uhukk!!" Yovi terus terbentuk sampai rasanya hampir mati karena tersedak.
Beca langsung berdiri menghampiri Yovi. Mengulurkan air minum dan menepuk punggung Yovi dengan pelan.
"Pelan-pelan dong Kak"
"Udah Ca, udah" Yovi mencoba mengatur nafasnya.
"Huffftt hampir aja aku kehilangan calon suami" Keluh Beca yang masih berdiri di sis Yovi.
Lagi-lagi Yovi di buat melongo dengan ucapan spontan dari Beca.
"Emangnya aku mau nikah sama kamu??"
"Jadi kamu nggak mau ya??" Tanya Beca dengan polosnya.
Yovi menepuk jidatnya karena kepolosan wanita yang sudah tidak pantas lagi jika memiliki sifat seperti itu.
"Sekarang aku tanya, emangnya kamu cinta sama aku??" Yovi menatap Beca dengan serius.
"Belum sih. Tapi ya di coba aja" Yovi bahkan menyandarkan punggungnya dengan lemas ke belalang karena menghadapi Beca dengan sifat seperti itu ternyata membuatnya merasa kesal sendiri.
"Kamu pikir pernikahan itu mainan. Seenaknya di mau di coba"
"Aku nggak pernah berniat mempermainkan pernikahan. Aku serius" Beca melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Yovi begitu dalam dengan kedua matanya yang bening itu
"Kenapa kamu ngajak aku nikah??" Yovi juga melakukan hal yang sama seperti Beca. Melipat kedua tangannya seperti anak TK yang sedang mendengarkan gurunya.
"Karena pingin nikah aja"
"Nggak terima alasan kaya gitu!!" Tolak Yovi dengan telak.
"Ckk.." Beca bercedak kesal.
"Kak, kita udah sama-sama dewasa. Kamu dan aku sudah waktunya menikah, tapi kita sama-sama belum ada pasangan. Kamu sudah di desak menikah sama orang tua kamu sedangkan aku butuh suami untuk tempat aku pulang. Aku nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Jadi aku butuh seseorang untuk menjadi keluargaku" Penjelasan Beca telah menunjukkan betapa miris hidupnya.
"Aku nggak buru-buru Beca. Aku masih bisa mencari wanita yang memang bisa mengerti aku. Yang bisa paham dan mengerti semua sisi dari diriku. Sementara kamu kalau ingin sebuah keluarga. Kamu bisa kan mengadopsi seorang anak"
Beca menggeleng "Kalau aku mengadopsi anak, kelak saat dia dewasa juga akan meninggalkan aku. Aku butuh suami yang bisa menemaniku sampai tua nanti"
"Kalau Kak Yovi hanya ingin itu dari seorang wanita, aku bisa Kak. Aku akan belajar mengerti semua tentang dirimu. Aku juga tidak akan menjadi istri yang terlalu banyak menuntut. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Asalkan Kak Yovi mau mempertahankan pernikahan itu sampai aku mati, karena aku tidak mau mempermainkan yang namanya pernikahan"
"Gila kamu Beca. Kita tidak ada perasaan apa-apa!!" Yovi tetap tidak mau menerima semua alasan dan janji yang di berikan Beca itu.
"Kita bisa belajar Kak. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya asal kita saling menerima. Anggap saja kita sedang bekerja sama dalam pernikahan ini"
Yovi menatap Beca dengan cara berbeda. Kali ini Yovi benar-benar tidak mengenal Beca yang beberapa bulan ini sering menemani hari-harinya. Beca di hadapannya kini terlihat sebagai wanita mengerikan yang rela menjatuhkan harga dirinya demi mengejar seorang pria.
"Sorry aku nggak bisa Ca. Lebih baik kamu cari orang lain aja. Jangan rendahkan diri kamu hanya untuk meminta seorang pria menikahi kamu Beca"
__ADS_1
Yovi langsung meraih laptop dan tasnya. Pergi begitu saja meninggalkan Beca yang matanya mulai berkaca-kaca.
*
*
*
Beca yang telah hilang arah karena ucapan Yovi tadi memutuskan untuk masuk ke sebuah club malam. Mungkin dengan meneguk minuman beralkohol itu bisa menghilangkan semua beban pikirannya seperti kata orang-orang.
Selama dia hidup di Korea, dia memang tidak pernah menyentuh minuman itu karena Viola yang beraura positif membuat Beca juga tidak pernah terkontaminasi minuman seperti itu.
Tapi kali ini dirinya mulai terhasut oleh bisikan-bisikan dadi sisi lain dirinya yang menuntunnya masuk ke dalam tempat yang ramai dengan suara musik yang di putar dengan keras itu.
Beca terus meneguk minuman yang sama sekali belum pernah ia rasakan. Rasanya yang panas di tenggorokan namun membuatnya ketagihan untuk terus memesannya.
Wanita malang itu kini sudah hampir kehilangan kesadaran. Untuk menopang kepalanya saja sudah tidak sanggup. Bibirnya terus meracau memanggil Yovi dan mengeluarkan semua isi hatinya pada pria itu.
"Dasar Yovi munafik!!"
"Yovi bodoh!!"
"Hahaha.. Kasihan sekali kamu Yovi. Kamu mencintai wanita yang sudah bersuami. Tapi kamu tidak menerima wanita lain yang mau menjalani hidup denganmu"
Beca terus merasa dengan matanya yang terpejam dan kepalanya yang sudah tak bisa di tegakkan.
"Nona!! Kau sudah terlalu mabuk. Siapa yang harus aku hubungi untuk membawamu pulang??"
"Hay Yovi. Kamu itu sebenarnya tampan tapi kamu naif sekali" Beca mengira pria itu adalah Yovi hingga sengaja menunjuk wajah pria itu seakan dia adalah Yovi.
Pria itu langsung tanggap, pasti ada nama yang di sebut oleh Beca ada di dalam ponsel Beca. Pria itu sudah sering menghadapi wanita yang mabuk seperti Beca saat ini.
*
*
*
Brukk..
"Akhhhh..."
Yovi mengibaskan tangannya yang kebas karena menggendong Beca dari basemen hingga sampai di apartemennya yang terletak di lantai 22.
Tadi saat Yovi sudah bersiap untuk tidur karena badannya yang sudah sangat lelah harus kembali mengganti bajunya karena mendapat telepon dari Beca. Yang lebih membuat Yovi kesal adalah, seseorang yang menggunakan ponsel Beca mengatakan jika pemilik ponsel itu sudah tak sadarkan diri di club sendirian.
Mau tak mah Yovi harus menjemput Beca dan kini membawanya ke apartemen miliknya.
"Menyusahkan sekali" Yovi menyentil kening Beca dengan pelan. Dia juga sebenarnya kasihan saat melihat Beca yang tak sadarkan diri di club. Untung saja ia cepat datang, kalau tidak, mungkin saja nasib Beca udah berada di tangan pria hidung belang di luar sana.
"Yovi!!" Beca kembali meracau.
__ADS_1
Yovi yang sedang mengganti bajunya dengan baju tidurnya lagi langsung kembali mendekat. Dia tau kalau Beca hanya mengigau namanya saja.
"Kamu munafik sekali!! Bilang saja kalau kamu tidak mau menikahi wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti aku kan??"
Beca kemudian terkekeh dengan matanya yang masih terpejam.
"Dasar sok ganteng!! Kaya laku aja kamu!! Sudah tua begitu. Ada wanita yang mengajak kamu menikah saja sudah bagus. Malah sok-soakan mau cari wanita yang bisa mengerti kamu. Semuanya juga tidak akan mengerti kalau kamu saja tidak memberikan kesempatan kepadanya!! Dasar bodoh!!"
Meski Beca mengatakan semua itu dengan suara yang hampir tak jelas namun Yovi masih bisa memahaminya.
"Cih.. Kamu yang bodoh!!" Sahut Yovi sambil tertawa mendengar ocehan Beca.
"Hey, pria tengik!! Kenapa kamu menghancurkan hatiku dengan berkata seperti itu?? Apa wanita yang mengajak pria menikah itu begitu seperti merendahkan diri sendiri di matamu??"
Yovi terhenyak, tak menyangka jika kata-kata spontan yang tadi dia ucapkan telah menyakiti hati Beca.
"Harusnya kamu senang karena mendapatkan istri sepertiku. Aku bisa membuat keturunanmu berkualitas unggul. Aku tinggi, putih, dan cantik layaknya wanita Korea pada umunya. Jika di tambah gen darimu yang memang, yaa harus aku akui kalau kamu tampan. Pasti keturunanmu akan semakin unggul nantinya"
Yovi terus menhan tawanya karena semua kata yang keluar dari mulut orang yang tidak sadar sepenuhnya itu.
Namun hampir saja tawa Yovi pecah sebelum Beca mencoba menanggalkan bajunya sendiri.
"Kenapa kamar ku panas sekali" Beca mulai melepas kancing dressnya satu per satu.
"Beca!! Apa yang kamu lakukan!!"
Yovi langsung menahan tangan Beca agar tidak melanjutkan aksi nekatnya itu. Saat ini saja Yovi sudah bisa melihat warna dari bra yang di kenakan Beca.
"Hentikan Beca!! Tidurlah dengan tenang, jangan membuatku dalam masalah" Ucap Yovi sambil terus menahan tangan Beca.
"Kak Yovi?? Kamukah itu??" Mata Beca yang sedikit terbuka terlihat berbinar.
"Iya ini aku. Cepat tidurlah dengan tenang. Jangan macam-macam"
Tiba-tiba saja Beca terkikik dengan sendirinya. Entah apa yang ia tertawaan saat ini.
"Ternyata kamu tampan juga kalau di lihat dengan jarak sedekat ini"
Yovi menahan nafasnya ketika Beca tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya.
"Apa yang kamu la..."
Cup...
Yovi bungkam karena Beca sudah mendaratkan bibirnya di bibir Yovi. Dengan mata yang terpejam, Beca mulai menggerakkan bibirnya. Merasakan kelembutan yang baru kali ini ia rasakan. Meski Beca melakukannya dengan sangat amatir dan berantakan namun dengan ritme yang pelan membuat Yovi terbuai dengan apa yang Beca lakukan itu.
Genggaman tangan Yovi pada tangan Beca berlahan mengendur. Kesempatan itu langsung di gunakan beca untuk memperdalam ciumannya dengan menahan wajah Yovi.
Rasa hangat dari bibir Beca membuat Yovi semakin hanyut. Dia langsung mengambil alih peran Beca sehingga dia yang menguasai permainan itu. Dengan badannya yang kekar itu Yovi mulai mendorong Beca hingga ambruk kembali ke ranjang Yovi.
***
__ADS_1
Adegan selanjutnya bayangin aja sendiri lah ya... Kalian yang sudah dewasa pasti paham wkwkwk