
"Puas lo??"
Baru saja Viola keluar dari kamar tapi sudah di sambut dengan suara kasar dari Sarah.
Niatnya Viola keluar kamar hanya untuk mengambil minum, namun sialnya dia justru harus bertemu dengan wanita yang tampaknya sengaja menunggunya daei tadi.
"Maksud lo??" Sudah lama mereka berdua tidak berbicara sefrontal itu.
"Iyaa, lo puaskan sekarang?? Lo udah buat hidup gue hancur!! Lo udah rebut Mas Erland dari gue!!"
Viola berjalan ke dapur sedikit menghindari Sarah. Dia was-was karena bisa saja Sarah akan berbuat nekat seperti kemarin. Bisa saja Sarah akan mendorongnya hingga terjatuh seperti sandiwara yang ia buat.
"Lo salah Sarah!! Hidup lo hancur karena salah lo sendiri. Kenapa lo harus menyalahkan orang lain bukannya merenungkan sikapmu sendiri?? Seandainya lo jujur dari awal, Bang Erland nggak mungkin semarah itu sama lo. Seandainya lo nggak main api di belakang Bang Erland, pasti kalian nggak akan bercerai. Jadi stop menyalahkan orang lain Sarah. Renungkan saja kesalahanmu yang sudah sangat jelas terlihat itu!!"
Viola mengambil minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang terlalu kering karena mengeluarkan cukup banyak kata untuk Sarah.
"Gue nggak butuh ceramah dari lo Viola. Gue cuma mau ingetin lo, kalau semuanya nggak akan semudah itu. Lo nggak usah seneng dulu karena gue bakalan rebut posisi gue lagi bagaimanapun caranya!!"
Di mata Viola, Sarah bagaikan seseorang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Jika orang itu sudah terbukti bersalah seharusnya dia diam dan menerima akibat dari kesalahannya itu. Tapi tidak dengan Sarah, wanita itu justru semkin menggila dan merasa paling benar.
"Terserah lo Sarah. Gue hargai perjuangan lo mempertahankan rumah tangga kalian. Pesan gue cuma satu" Viola mendekat pada Sarah, berdiri tepat di samping wanita yang tinggi dan ramping itu.
"Jangan gila kalau semua usaha lo itu tidak berhasil" Bisik Viola pada Sarah.
"Lo!!" Sarah sudah mendelik tajam pada Viola.
Namun Viola bergegas pergi dari dekat Sarah. Dia merasa suah cukup menghadapi Sarah malam ini.
Viola bernafas lega saat melihat suaminya masih tertidur lelap di tempat semula. Viola tidak ingin membuat Erland kembali menghadapi Sarah untuk malam ini. Dia ingin memberi sedikit waktu untuk Erland mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Dengan berlahan karena tak ingin mengusik suaminya, Viola mulai menaiki ranjangnya. Tangannya merapikan selimut untuk Erland sebelum mulai berbaring di sisi suaminya.
"Dari mana?? Kamu nggak kenapa-napa kan??" Suara serak mengagetkan Viola yang baru memejamkan matanya.
"Habis minum air dingin Bang" Erland merapatkan dirinya pada punggung Viola. Seperti biasa, tangan Erland akan otomatis melingkar pada perut Viola.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang tidur lagi. Abang cuma takut kalau kamu tiba-tiba mau melahirkan" Suara Erland tertahan tengkuk oleh bahu Viola.
"Masih sekitar tiga mingguan lagi Bang. Tapi bisa maju bisa mundur, jadi jangan terlalu khawatir" Meski kali ini kehamilan pertama bagi Viola, dia tidak merasa takut sama sekali untuk menghadapi waktu persalinan. Dia justru sangat menanti-nanti momen yang begitu membahagiakan itu.
"Tetap saja Abang khawatir, Abang deg-degan sendiri. Rasanya kaya Abang yang mau melahirkan"
Viola terkekeh sampai punggungnya ikut bergetar karena kekhawatiran Erland itu.
"Kamu ketawain Abang??" Erland membuka matanya yang sejak tadi tertutup.
"Habisnya Abang lucu banget, yang mau melahirkan kan aku. Kenapa Abang yang ketakutan sendiri"
Erland menarik Viola agar bisa menghadap ke arahnya.
"Kamu pikir Abang sebagai suami melihat istrinya berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan keturunan Abang itu, Abang bisa tenang??" Erland tak terima dengan Viola yang seakan menganggap rasa khawatirnya itu berlebihan.
"Iya Bang, aku tau kalau Abang khawatir, tapi kalau Abang kaya gini justru bisa mempengaruhi aku Bang. Sebaiknya Abang memberikan semangat sama aku. Jadi aku bisa lebih tenang lagi"
Erland mengangguk. Setelah dipikir benar juga apa kata Viola. Jika dia saja sudah ketakutan menghadapi persalinan Viola, maka siapa lagi ayang akan memberikan semangat pada Viola.
Cup..
Erland mengecup kening Viola sekilas. Hanya sebagai ungkapan rasa sayangnya pada istrinya itu. Istri yang sebentar lagi akan menjadi satu-satunya bagi Erland.
"Ayo tidur lagi Bang. Katanya tadi suruh aku tidur lagi, tapi malah ngobrol panjang lebar" Gerutu Viola.
"Ya nggak papa dong yank. Jarang kan kita kaya gini, Abang selalu pingin punya momen seperti ini sama kamu"
Viola membenamkan wajahnya pada lengan Erland yang kekar itu.
"Iya besok kan masih ada waktu Abang. Kalau sekarang aku udah ngantuk banget" Mata Viola sudah mulai setengah terpejam.
Kini giliran Erland gang terkekeh geli sampai punggungnya bergetar seperti Viola tadi.
"Ya udah ayo kita tidur lagi. Selamat tidur istriku tercinta"
__ADS_1
Viola tak menjawab namun dia masih mendengar dengan jelas apa yang Erland katakan meski matanya sudah begitu berat.
Ada rasa hangat saat Erland menyebutkan kata "Istriku" kepadanya.
Lagi-lagi Viola hanya bisa meminta maaf pada Erland di dalam hatinya karena belum bisa membalas ungkapan cinta dan kata-kata manis dari Erland itu.
Keduanya benar-benar terlelap setelah itu. Berpelukan, berbagi kehangatan dengan perasaan yang masih sama bagi Viola dan masih terhitung baru tumbuh bagi Erland.
*
*
*
Sarah terbangun di dalam kamarnya sendiri. Kamar yang sudah hampir emat tahun ini doa tempati. Sarah memandang nanar ke seluruh penjuru kamar itu meski nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Dia tersadar jika Erland benar-benar menceraikannya, maka mau tak mau Sarah harus meninggalkan kamar itu.
Semua kenangan indahnya berama dengan Erland ada di kamar itu. Erland yang selalu memperlakukannya dengan lembut dan juga mencurahkan cinta kepadanya sebelum kedatangan Viola melekat erat pada kamar itu.
Sarah memang tak mau kalau sampai Erland menceraikannya. Namun segala kemungkinan itu ada. Apalagi Erland sudah memegang semua bukti perselingkuhan Sarah.
Lamunan Sarah harus terganggu karena bunyi ponselnya yang begitu mengganggu. Karena menurutnya melamun adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.
Melihat nama si penelepon saja sudah membuat Sarah. Cemas. Apalagi masih pagi-pagi begini. Hal sepenting apa hingga dia berani mengganggu ketenangan Sarah kali ini.
"Mau apa pengacara b*doh ini telepon gue" Meski menggerutu tapi Sarah tetap menekan ikon hijau pada ponselnya.
"Halo" Sapa Sarah dengan malas pada pengacaranya itu.
"..........."
"APAAA??!!!!!!"
Suara Sarah menggema ke seluruh sisi kamarnya. Pagi-pagi sudah mendapatkan kabar yang membuat harapannya runtuh seketika.
__ADS_1