
Hari bahagia Beca dan Yovi tiba. Hari yang akan menjadi titik dimana kehidupan Beca akan berubah. Hari yang akan menjadikan Yovi satu-satunya keluarga ya ia miliki seperti harapannya saat meminta Yovi menikahinya.
Tentu saja rasa gembira begitu menyelimuti Beca saat ini. Rasa gugup melanda sejak pagi tadi sampai telapak tangan Beca tak henti-hentinya berkeringat. Dadanya terus bergemuruh seolah-olah dia akan meyambut calon suami yang sangat ia cintai.
Tapi ada sisi lain dari hatinya yang sangat mengganjal. Entah itu apa tapi yang jelas Beca tidak bisa menebaknya sama sekali. Jika mengenai acara penikahannya, Beca sudah memastikan tidak ada yang terlewatkan. Tapi tetap saja, Beca merasakan sesuatu yang sedikit mengganggunya.
"Mikirin apa??" Sejak tadi Viola melihat tangan Beca yang saling menggenggam erat dengan tatapan mata tak tenang.
"Nggak tau, tapi rasanya ada yang aneh. Kaya ada apa gitu"
"Udah cek semua?? Nggak ada yang kelupaan kan?? Cincin gitu misalnya?? Kak Yovi udah benar-benar menyiapkan semuanya kan??"
"Udah, udah semua. Mungkin cuma perasaanku aja. Aku terlalu gugup makanya jadi nggak tenang"
"Ini minum dulu, biar agak tenang" Endah menggugurkan air mineral pada Beca.
"Makasih ya, untung ada kalian. Kalau nggak, apa nggak mengenaskan?? Masa mau nikah nggak ada satu keluarga pun yang datang" Ucap Beca setelah meneguk air minumnya.
Beca memang benar-benar merasa beruntung karena berada di tengah-tengah keluarga Viola. Beca bukan siapa-siapa tapi bisa mengadakan pesta seperti ini juga akibat campur tangan dari Via dan Dito, bukan hanya dari keluarga Yovi.
"Tenang aja, kita kan keluarga. Jadi kita memang sudah seharusnya seperti ini. Iya kan Ndah??".
"Benar, jadi jangan berkecil hati. Aku yakin setelah ini Kak Yovi dan keluarganya juga akan memperlakukan kamu dengan baik" Tambah Endah.
"Aamiin, makasih ya Ndah"
Kini mereka bertiga berada di kamar hotel yang akan menjadi tempat diadakannya acara pernikahan Yovi dan Beca. Orang tua Yovi yang memilih hotel mewah itu karena mereka akan menikahkan anak semata wayang mereka.
Pengusaha kaya raya tentunya akan mengundang semua relasi bisnisnya, jadi mana mungkin mereka akan mengadakan acara yang biasa-biasa saja.
Beca semakin merasa beruntung karena mendapatkan calon mertua yang begitu baik dan menerima dia apa adanya. Walaupun dia termasuk tak jelas asal usulnya, tapi itu semua tak menjadi alasan untuk mereka menolak Beca sebagai menantunya. Semua itu menghilangkan pandangan Beca terhadap orang-orang kaya yang mementingkan bibit, bebet dan bobot dalam memilih menantu untuk anaknya.
"Jangan pakai acara nangis-nangis loh ya, luntur nanti make upnya!!" Viola berkaca dari Endah saat itu. Sebelum acara di mulai saja sudah berkali-kali membetulkan make upnya gara-gara air matanya terus keluar.
"Nyindir ya?" Lirik Endah tajam.
__ADS_1
"Enggak sih, kalau ada yang ngerasa ya sorry" Viola membekap mulutnya menahan tawa.
"Resek" Cibir Endah.
"Udahlah kalian malah ribut sendiri. Aku jadi tambah gugup nih"
Beca masih menunggu saat dimana dia akan di jemput menuju tempat akad. Meski kini sudah siap dengan baju kebaya dan riasan khas pengantin jawa sesuai dengan permintaan Mama Yovi tapi acara tak kunjung di mulai. Padahal jika melihat jam pada undangan yang mereka sebar, ini sudah lewat dari setengah jam.
"Sorry sorry. Lagian ini kenapa lama banget sih, udah molor banget loh ini" Keluh Viola. Dia paling tidak suka acara tak tepat waktu seperti ini.
"Udah coba hubungi Yovi belum?? Udah sampai mana mereka??"
Yovi dan keluarganya memang memutuskan untuk berangkat dari rumah. Tidak langsung jadi satu di hotel itu dengan Beca yang merias diri di sana.
"Udah tapi nggak aktif. Mungkin lagi di jalan" Beca mulai terlihat cemas.
"Coba aku suruh Mama buat hubungi Mamanya Yovi dulu" Ucap Viola seraya keluar dari kamar Beca untuk menemui Via yang berada di kamar sebelah bersama Gendis dan Alisa.
"Tenang, mungkin mereka kena macet di jalan. Nggak usah panik" Endah mencoba menenangkan Beca.
"Takutnya Kak Yovi ragu dengan keputusannya dan lebih memilih lari dari pernikahan ini Ndah"
Sebenarnya Endah juga ikut merasa cemas, namun dia tak mungkin menunjukkan itu pada Beca.
"Gimana Vi??" Sergap Beca kala Viola kembali ke kamarnya.
"Nggak bisa, mereka sama-sama nggak bisa di hubungi. Bang Erland juga udah coba menghubungi Kak Yovi, tapi tetap tidak bisa. Tapi jangan khawatir, mereka pasti datang. Mereka orang baik dan bertanggungjawab. Mami dan Papi yang menjaminnya" Viola juga mencoba menenangkan Beca.
Tapi Beca tentu bukan anak kecil yang mudah percaya atau terhibur dengan omongan kedua sahabatnya itu. Beca tentu memiliki perasaan sendiri, dimana hatinya semakin cemas dan ketakutan.
Menit pun terus berlalu hingga sudah satu jam terlewatkan dari yang seharunya. Para tamu undangan juga mulai bertanya-tanya kenapa acara tak kunjung di mulai. Penghulu juga sudah tiba di tempat di selenggarakan pernikahan mewah itu. Tapi pengantin prianya tak kunjung tiba di sana.
"Vi, gimana ini?? Kenapa Kak Yovi nggak datang-datang?? Apa dia nggak jadi datang kesini??" Air mata Beca mulai tumpah saat ini.
Kebahagiaan yang ia rasakan sejak kemarin kini berubah menjadi ketakutan.
__ADS_1
"Tenang, biar Bang Erland dan yang lainnya mencari keberadaan Kak Yovi dan kelurganya"
"Tenang dulu Beca, kita sudah mengutus seseorang untuk datang ke rumah Yovi" Ucap Erland yang kini ada di kamar Beca.
Beca belum bisa tenang juga, saat ini rasanya dia ingin berlari ke rumah Yovi sendiri. Dia ingin menyeret laki-laki itu untuk mempertanggungjawabkan kata-kata manisnya kemarin.
"Er!!"
Vino datang ke kamar Beca dengan nafas yang terengah-engah. Wajahnya tampak panik di mata Beca.
"Ada apa?? Apa ada kabar tentang Yovi??"
Vino mendekat pada Erland langsung membisikkan sesuatu yang sepertinya tak boleh di dengar oleh ketiga wanita di sana.
"Apa??" Meski sangat pelan, namun Beca bisa mendengar suar Erland yang memekik terkejut.
"Ada apa Kak?? Apa yang terjadi dengan Kak Yovi?? Dia suah ada di bawah kan??" Tanya Beca.
"Beca tenang dulu!!" Rasanya Erland tak sanggup mengatakan apa yang baru saja ia dengar dari Vino.
Sementara Vino, pria yang bari saja datang dengan berlari itu kini bersandar lemas pada daun pintu kamar Beca.
"Sebenarnya ada apa Bang??" Endah yang mengerti situasi mendekat dan berbisik pada Vino.
Tak jauh berbeda dengan Erland, Endah yang mendengar kabar dari Vino juga amat terkejut. Namun Endah masih bisa mengontrol mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
"Jadi di sini tidak ada yang ingin memberitahuku tentang apa yang terjadi pada Kak Yovi??" Tanya Beca sudah dengan kemarahan yang menumpuk dalam dadanya. Seharusnya dia yang berhak tau dimana Yovi saat ini. Namun mereka semua seakan mengabaikan Beca di sana.
"Bang!! Sebenarnya apa yang terjadi?? Jangan membuat Beca semakin kacau!!" Viola juga salah satu yang belum tau tentang apa yang di katakan Vino.
"Beca sebenarnya...."
"Beca, Ya Allah anak Mami" Ucapan Erland harus terhenti saat Via langsung menerobos masuk dengan deraian air mata di wajahnya.
"Yang sabar ya sayang. Mami yakin kamu kuat" Via menangis histeris memeluk Beca.
__ADS_1
"Mami se-sebenarnya apa yang terjadi?? Kenapa Mami seperti ini?? Apa yang terjadi sama Kak Yovi memangnya??" Beca mulai berpikir yang tidak-tidak saat ini.
"Ikhlaskan Yovi nak. Biarkan dia pergi dengan tenang"