Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
52. Salah paham


__ADS_3

"Sekali lagi makasih ya Kak, maaf udah ngerepotin kamu"


Viola yang tiba-tiba lemas setelah minum susu strawberry tadi membuat Yovi tak tega melihat Viola mengendari mobilnya sendiri.


"Iya, jangan sungkan gitu. Kaya sama siapa aja. Lekas istirahat, aku pulang dulu" Yovi mulai berjalan menjauh dari rumah Erland.


Sebenarnya Viola juga tidak mau merepotkan Yovi. Tapi karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil sendiri, dengan terpaksa Viola menerima tawaran Yovi.


Viola masih lemas saat memasuki rumah, bahkan untuk berjalan saja harus menyeret kakinya. Rasanya sudah sangat ingin berbaring di kasurnya.


Viola menyalakan lampu dalam kamarnya, tapi seseorang yang tengah duduk di sofa dekat jendela berhasil membuat jantungnya melompat dari tempatnya.


"Astaghfirullah" Viola mengusap dadanya dengan pelan.


"Kenapa bisa pulang di antar sama dia??" Suaranya begitu dingin terdengar di telinga Viola.


"Ayolah, yang tadi pagi aja belum selesai masih mau di tambah lagi??" Gerutu Viola dalam hatinya.


"Tadi pusing banget jadi nggak bisa nyetir sendiri" Jawab Viola dengan jujur.


"Kan bisa hubungi Abang minta jemput!!" Erland langsung berdiri menghampiri Viola.


"Kamu kenapa sih Vi?? Seakan-akan kamu itu tidak bisa menghargai Abang sama sekali!! Abang juga merasa kamu tidak menganggap Abang tau nggak!! Tidak memberi tahu tentang kehamilan kamu itu sudah sangat membuat Abang kecewa. Apalagi kamu lebih memilih meminta Yovi mengantar kamu pulang daripada meminta Abang menjemputmu"


Viola melempar tasnya yang bahkan belum sempat dia letakkan itu hingga teronggok tak berdaya di atas lantai.


"Sekarang aku tanya, apa kamu mau mengangkat panggilan dariku?? Seharusnya di ponselmu itu sudah ada catatan berapa kali aku mencoba menghubungimu kan??" Mata Viola langsung memerah.


Tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin sekali beristirahat, tapi harus di hadapkan dengan kemarahan Erland yang membuat Viola ingin sekali menangis.


Erland kini terdiam, karena amarahnya pada Viola tadi pagi, membuat Erland mengabaikan pesan dan panggilan dari Viola.

__ADS_1


"Dan untuk maslah kehamilanku yang membuatmu sampai merasa tak di dihargai dan tak di anggap, aku punya alasan sendiri kenapa belum memberitahumu sampai tadi pagi"


Viola sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Bahkan rasanya ingin meneriaki Erland tepat di depan wajahnya.


"Kemarin aku memang pergi di temani Beca ke Dokter Niken. Aku memutuskan untuk memeriksakannya sendiri karena aku belum yakin hamil atau tidak. Aku tidak mau memberi harapan besar sama kamu, takutnya tidak benar-benar hamil. Kemudian malam harinya, kamu pulang kerja langsung masuk ke dalam kamar Sarah kan?? Aku bahkan menunggumu di bawah siapa tau kamu akan turun untuk sekedar mengambil aur minum, tapi ternyata tidak. Sementara ponsel kamu juga tidak aktif. Lalu pagi harinya, kamu sudah menemukan aku yang sudah mual-mual di kamar mandi. Jadi katakan!! Kapan aku harus memberitahumu??"


Suara Viola bahkan sudah terputus-putus karena menahan rasa yang begitu sesak dalam dadanya.


"Ponsel Abang kehabisan baterai kemarin malam Vi. Abang juga langsung tertidur saat itu karena sangat lelah. Abang minta maaf karen sudah salah paham" Erland ingin menyentuh Viola namun Viola lebih dulu menghindar.


"Aku dari tadi terus mencoba menghubungi kamu untuk menjelaskan sama kamu. Tapi kamu benar-benar tidak mau mengangkatnya sama sekali.Aku lelah sekali, badanku lemas, pusing, dan perutku masih belum bisa menerima makanan dari tadi. Untuk berdiri saja rasanya gemetar. Apalagi harus mengendari mobil sendiri, akhirnya Kak Yovi memaksa mengantar ku pulang, karena sebelumnya aku gagal menghubungi kamu untuk meminta menjemput ku"


Viola menyeka air matanya dengan punggung tangannya secara kasar.


"Itu saja yang ingin aku jelaskan. Terserah mau percaya atau tidak!!"


Erland kini menjadi gusar. Hanya karena rasa kesalnya karena merasa tak di anggap oleh Viola, kini Erland justru terkena getahnya sendiri.


Viola membuang mukanya dan lebih memilih berbalik membelakangi Erland.


"Aku lelah, mau mandi dulu lalu istirahat" Viola meninggalkan Erland dengan penyesalannya lagi.


"Sayang" Erland mencoba menahan Viola namun istrinya itu sudah tidak peduli.


"Kenapa aku harus sebodoh itu?? Sekarang harus bagaimana untuk membuatnya memaafkan aku?? Baru saja bisa membuatnya sedikit luluh, sekarang udah kaya gini lagi" Erland mengusap wajahnya dengan kasar, merutuki kebodohannya sendiri.


Erland dan Sarah sudah duduk di meja makan, tapi mereka belum menyentuh makanannya sama sekali karena masih menunggu Viola yang tak juga keluar dari kamar.


"Aku panggil Viola dulu" Ucapnya pada Sarah.


Erland sudah beranjak dari kursinya dan menuju kamar Viola.

__ADS_1


Ting.. Tong..


Suara bel mengehentikan Erland, membuatnya beralih menuju raung tamu.


"Biar saya saja Pak" Bi Tum menyusul Erland yang sudah berjalan keluar.


"Nggak usah Bi, itu pesanan saya. Biar saya aja" Erland dan Bi Tum langsung melihat ke belakang karena Viola menghentikan mereka.


Viola dengan cepat melewati Erland dan Bi Tum. Membuka pintu itu dengan bersemangat.


Ternyata orang yang di temui Viola itu adalah tukang ojek online yang mengantarkan pesanan Viola.


Viola begitu sumringah menatap bungkusan yang ada ditangannya. Wanita hamil itu kembali ke dalam melewati Erland begitu saja. Tapi dari baunya saja Erland sudah tau apa makanan yang di pesan Viola itu.


Erland menghampiri Viola ke dapur. Istrinya itu langsung menuangkan makanannya ke dalam mangkuk.


"Kenapa nggak bilang sama Abang kalau kamu mau makan bakso??" Tanya Erland dengan lembut.


"Nggak mau ngerepotin aja, takut kalau di telepon nggak di angkat" Erland langsung bungkam karena sindiran Viola itu.


"Abang minta maaf sayang, Abang mohon jangan diamkan Abang kaya gini" Baru saja sebentar Erland sudah tersiksa. Apalagi Viola yang seharian tadi di diamkan oleh Erland.


"Mas!! Jadi makan malam nggak sih!!" Sarah yang sedari tadi diam melihat suaminya begitu lembut memperlakukan Viola sudah tak tahan lagi.


"Kita makan di sana ya. Mau Abang bawakan baksonya??"


Viola menggeleng lalu mulai menyeruput kuah baso yang panas dan menyegarkan itu.


"Baguslah, makan di situ aja!! Lagian makanan apa sih, baunya nggak enak banget" Cibir Sarah yang sudah sangat marah.


"Abang ambil makan dulu ya. Lain kali, kalau kamu mau makan apa saja, bilang sama Abang ya?? Biar Abang yang belikan" Viola masih tetap diam menikmati bakso yang begitu didambakannya sejak tadi sore.

__ADS_1


Erland hanya bisa pasrah untuk saat ini karena memang dia yang salah. Tapi Erland tidak akan pernah berhenti membujuk Viola untuk memaafkannya. Karena sejujurnya Erland sungguh tidak bisa jika di acuhkan lagi oleh Viola.


__ADS_2