Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
145. Silaturahmi


__ADS_3

Sesuai janjinya, kini Beca sudah mulai menjalani hidupnya lagi. Mencoba mengikhlaskan Yovi dan jalan hidupnya yang berubah setelah gagalnya pernikahan mereka. Dia juga mencoba menerima kenyataan jika dirinya sudah tidak suci lagi. Dia hanya berharap jika kelak ada pria yang mau menerima kekurangannya itu. Atau jika dia memang di ditakdirkan untuk tidak pernah menikah, dia juga sudah menerima jalannya. Tak lagi seperti dulu yang berharap suatu hari nanti mendapatkan pria yang akan menjadi satu-satunya keluarga baginya.


Beca saat ini hanya ingin menjalani hidupnya dengan damai. Mungkin menerima takdirnya dengan ikhlas adalah jalan yang terbaik untuknya saat ini. Dia hanya akan mengikuti alur yang di buat Tuhan untuknya.


Beca juga tidak melupakan tengang Yovi namun dia hanya menyimpan semua kenangan yang hanya sekejap itu di dalam hatinya.


Wanita berdarah Korea itu juga tak memutus tali silaturahminya dengan Mamanya Yovi. Wanita yang sama-sama terluka karena kehilangan itu memutuskan untuk tetap berhubungan baik meski tak ada ikatan di antara mereka.


"Kamu sudah lama Beca?? Maaf ya Tante telat" Wanita sosialita itu duduk di hadapan Beca dengan tas mahal di pangkuannya.


"Tidak papa Tante. Beca juga baru datang. Bagaimana kabar Tante??" Ini kali pertamanya mereka bertemu setelah kejadian itu.


"Tante sehat Beca. Meski hati Tante masih terluka" Raut wajah Mama Yovi berubah sendu.


"Beca juga sama terlukanya Tante. Tapi Beca tau kalau apa yang Beca rasakan tak sebanding dengan Tante. Jadi Beca tidak bisa memaksa Tante untuk melupakan semuanya secepat ini" Beca memang belum pernah punya anak, tapi dia bisa membayangkan bagaimana rasanya di tinggal anaknya pergi lebih dulu.


"Tante ngerti, Tante juga sedang belajar untuk lebih ikhlas lagi. Karena Tante akan terus merasakan sakit kalau terus begini" Mata Mama Yovi kembali berkaca-kaca.


"Oh ya, bagaiman hasil pemeriksaan kamu?? Apa kamu mengandung cucu Tante??" Mama Yovi langsung berbinar menaruh banyak harapan. Jika dengan hadirnya seorang anak dari Yovi, pasti akan mengurangi sedikit rasa rindunya pada Yovi.


Melihat wajah bahagia Mama Yovi membuat Beca sedikit tak tega mengatakan hasil pemeriksaannya.


"Maaf Tante, Beca tidak hamil"


Jelas sekali kekecewaan pada Mama Yovi namun dia tetap berusaha menampilkan senyumnya pada Beca.


"Kenapa harus minta maaf Beca. Itu tandanya, kamu masih bisa melanjutkan hidup kamu lagi. Mungkin Allah tidak mengijinkan kamu untuk terus hidup dengan bayang-bayang Yovi"


"Tante.."


"Beca, jujur Tante sangat berharap jika kamu mengandung cucu Tante. Tapi Tante juga tidak mau kalau hidup kamu hancur gara-gara kesalahan satu malam itu. Meskipun kamu tidak hamil, tapi Yovi sudah merusak kamu Beca, merusak masa depan kamu. Tante minta maaf untuk kesalahan anak Tante ya??"


Mama Yovi juga seorang perempuan. Dia tau kalau Beca pasti berat untuk menjalani hidupnya dengan keadaan seperti itu. Tidak semua wanita percaya diri untuk menjalin hubungan lagi dengan kekurangannya itu.


"Tante tidak perlu minta maaf karena Kak Yovi sudah bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan"


Yovi laki-laki yang bertanggung jawab, meski akhirnya mereka berdua tidak sampai ke jenjang pernikahan karena maut yang memisahkan mereka. Namun Beca sudah sangat tersentuh dengan niat Yovi untuk menikahi dan belajar mencintainya.


"Tante hanya bisa berharap, kelak ada pria yang benar-benar tulus menerima kamu Beca. Tante akan sangat merasa bersalah kalau kamu sampai tidak berani menjalin hubungan lagi" Ucap Mama Yovi dengan tulus.

__ADS_1


"Terimakasih untuk doanya Tante, tapi untuk hal itu Beca hanya mengikuti arusnya saja"


Wanita berpakaian serba mewah itu hanya mengangguk menanggapi Beca.


"Beca, walau kamu tidak jadi menikah dengan Yovi tapi Tante tetap menganggap kamu sebagai menantu. Jadi setelah ini Tante harap kita jangan sampai putus hubungan. Karena dengan melihat kamu, Tante bisa mengobati rasa rindu pada anak Tante"


"Pasti Tante, Baca tidak akan pernah melupakan Tante. Kalau Beca ada waktu, pasti Beca sempatkan untuk mengunjungi Tante"


"Benarkah??" Mama Yovi tampak berbinar.


"Iya Tante"


"Ya udah sekarang kita pesan makan dulu ya. Tante sudah lapar"


*


*


*


Hari ini Erland sedikit merasa lelah karena terus berkutat dengan dokumen-dokumen yang Edgar kirimkan untuknya. Walau Erland memilih untuk bekerja di rumah, namun pekerjaannya sama saja menumpuk seperti saat di kantor.


Dengan handuk kecil di tangannya, Erland keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Wangi tubuhnya yang sangat segar langsung menyeruak ke dalam kamar mereka.


Erland sedikit terhenyak ketika melihat Viola yang sudah duduk di ranjang dengan menyilangkan kakinya.


"Sayang, bukannya kamu sudah tidur??" Tadi saat masuk Erland melihat Viola yang sudah tertidur dan menggulung tubuhnya dengan selimut.


"Memang, tapi aku terbangun karena mendengar Abang mandi"


Viola merubah posisi duduknya hingga baju tidur yang dikenakannya sedikit tersingkap di bagia pahanya. Membuat paha yang putih bersih tertangkap oleh mata Erland.


Erland langsung gugup dan membuang pandangannya ke tempat lain ketika tak sengaja melihat pemandangan indah itu.


"Kenapa Bang??"


Erland terbelalak karena tiba-tiba Viola sudah berada di depannya dan menyentuh dadanya dengan lembut.


"Sayang??" Erland semakin tak bisa mengontrol matanya karena di suguhkan dengan pemandangan indah di depannya.

__ADS_1


Baju yang di pakai Viola saat ini terlihat sangat tipis dan transparan ketika di lihat dengan jarak sedekat ini.


Viola melingkarkan tangannya pada pundak Erland.


"Iya Abang, kenapa??" Suara manja Viola itu membuat Erland menelan ludahnya dengan kasar.


Gerakan jakun Erland yang menonjol dan naik turun itu membuat Viola tersenyum nakal.


"Ka-kamu??"


"Aku kenapa Bang??" Jemari lentik milik Viola sengaja mengusap lembut jakun Erland yang terus bergerak itu.


"Kenapa kamu memancing Abang seperti ini??" Erland sampai memejamkan mata menikmati sentuhan tangan Viola, dan gejolak dalam dirinya yang terus mendesak ingin di tuntaskan.


"Memangnya Abang sudah terpancing??" Viola sengaja berjinjit dan berbisik di telinga Erland. Hingga nafas Viola menerpa kulit leher dan telinga Erland. Hal itu semakin membuat Erland merasakan adik kecilnya meronta di bawah sana.


"Abang bisa saja menerkam mu sekarang juga kalau kamu masih menggoda Abang seperti ini" Erland terdengar memggeram menahan dirinya agar tidak lepas kendali.


"Kalau begitu ,terkam aku aja sekarang" Viola kembali berbisik, namun Viola sengaja mengecup telinga Erland di akhir kalimatnya.


"Kamu yakin?? Abang tidak akan pernah berhenti kalau Abang sudah memulainya. Ingat itu!!" Viola sudah melihat mata Erland berselimut kabut.


"Siapa takut!!" Tantang Viola, wanita itu sengaja mengigit bibir bawahnya di depan Erland.


"Oh ****!!" Geram Erland dalam hatinya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan Viola yang terus menggodanya malam ini.


Erland membuang handuk kecil di tangannya. Pria yang sudah di selimuti kabut gai rah itu langsung mendorong Viola hingga ambruk di ranjangnya. Dengan tubuhnya yang tegap dan berotot itu, Erland mengungkung Viola di bawahnya.


"Kenapa kamu menggoda Abang seperti ini?? Bukankah kamu masih nifas??" Viola hanya bisa memejamkan matanya karena Erland bertanya sambil menggesekkan hidungnya pada pipi sampai ke rahangnya.


"Su-sudah selesai. Apa Abang nggak sadar, tadi kan kita sholat bareng" Jawab Viola menahan suaranya agar tetap tenang.


"Kalau gitu, sekarang adik Abang bisa silaturahmi sama rahim kamu kan, bukan dengan cara lain kaya kemarin??"


Viola ingin tertawa namun kecupan basah sudah terlanjur mendarat di lehernya.


"A-banghhh" Suara Viola tertahan karena ulah Erland.


"Iya sayang??" Erland masih sibuk berkutat pada leher Viola.

__ADS_1


"Malam ini, aku milik muhhhhhh"


__ADS_2