
Pemakaman Endah sudah selesai di laksanakan. Namun duka mendalam belum juga selesai menyelimuti keluarga yang ditinggalkan.
Tak hanya Vino yang hancur sebagai suami yang di tinggalkan untuk selama-lamanya. Namun juga Gendis sebagai Ibu yang melahirkannya. Kalau di tanya, apa Gendis tidak sedih?? Tentu saja Gendis sedih, hati seorang Ibu pasti akan sedih dan hancur ketika anak mereka pergi lebih dulu dari pada dirinya sendiri. Namun sebisa mungkin Gendis berusaha untuk tetap kuat demi kedua putra yang masih bersamanya di dunia ini.
Demi Erland yang juga sama hancurnya, dana juga demi Edgar si anak sulung yang masih membutuhkan dirinya. Gendis mencoba untuk mengikhlaskan kepergian putrinya meski begitu berat.
Satu persatu berangsur meninggalkan pemakaman. Hanya tinggal Vino yang masib setia bersimpuh di samping nisan Endah.
"Gue tunggu lo di mobil Vin" Ucap Erland. Meski dia masih ingin memberikan salam perpisahan untuk adik kesayangannya itu, tapi Erland lebih memilih mengalah kepada Vino. Dia beranjak pergi untuk memberikan waktu kepada Vino. Dia sendiri tau bagaimana perasan Vino kali ini. Dia juga sempat mengalaminya meski akhirnya anak dan istrinya bisa kembali bersamanya. Namun rasanya sudah mampu membuat Erland hancur.
"Endah, istriku. Abang sudah ikhlas melepaskan kamu kembali kepada Allah. Dengan sepenuh hati Abang akan terus mendoakan kamu agar kamu bahagia di sana. Abang janji, Abang akan merawat putri kita dengan baik. Abang akan mendidiknya menjadi wanita yang baik dan penuh kasih sayang seperti kamu meski tanpa adanya kamu di sisi Abang. Kamu juga tidak udah khawatir dengan Abang dan anak kita, karena kita juga akan hidup bahagia di sini seperti halnya kamu di atas sana. Maka dari itu Abang sengaja memberikan nama pada anak kita, Kalea Saira Raharja. Yang artinya kebahagiaan dan kebahagiaan, karena Abang ingin anak kita yang cantik selalu di selimuti kebahagiaan"
Vino mengusap air matanya yang tak kunjung kering itu dengan lengan tangannya.
"Tapi satu hal yang harus kamu tau sayang. Setelah kepergian kamu ini, sepertinya hati Abang sudah mati. Abang tidak akan bisa mencintai wanita lagi selain kamu. Di sisa hidup Abang ini hanya akan ada kamu dan anak kita. Abang janji, Abang tidak akan menduakan kamu, karena Abang begitu mencintaimu"
"Sekarang Abang pulang dulu, kasihan anak kita menunggu di rumah. Istirahatlah dengan tenang, besok Abang datang lagi"
Sebelum Vino beranjak, dia sempatkan untuk mencium nisan Endah yang di bawahnya di penuhi dengan taburan bunga itu.
*
*
*
Hari-hari berlalu, Vino benar-benar membuktikan bahwa dia akan menjadi Ayah yang baik untuk Kalea. Hingga saat ini usia bayi kecil itu satu bulan lebih. Vino selalu memprioritaskan buah hatinya di banding pekerjaannya. Vino tidak mau mengecewakan Endah jika sampai dia lebih mengutamakan pekerjaan yang menyita waktunya.
Namun demikian, Vino juga tak mengasuh Kalea sendirian. Sejak kepergian Endah, Vino memutuskan untuk kembali ke rumah Via. Bukan tanpa maksud jika Vino kembali ke sana. Pertama Via yang meminta, karena ia ingin membantu Vino mengurus Kalea. Menurut Maminya jika di rumah utama akan banyak orang yang membantu merawat Kalea, sehingga bayu kecil itu tidak merasa kesepian, termasuk adanya Beca yang lebih sering menidurkan Kalea jika Vino belum pulang dari kantor.
Dan alasan yang kedua, ini juga alasan yang membuat Vino semakin yakin untuk pindah ke rumah Via sementara waktu, yaitu karena bayang-bayang Endah di rumah itu yang terus saja membuat Vino terpuruk.
Segala sudut rumah itu begitu mengingatkan Vino dengan Almarhum istrinya itu. Bukannya Vino menghindar dan ingin melupakan Endah. Namun Vino tidak sanggup dan akan gila rasanya jika setiap hari seperti itu. Maka dari itu, seminggu setelah kepergian Endah, Vino memboyong anaknya ke rumah Via.
Malam ini adalah malam empat puluh hari Endah, dan acara itu di gelar Vino di rumah Via. Vino melakukan itu juga dengan berbagai pertimbangan, dan persetujuan dari Gendis. Hal itu di lakukan agar putrinya bisa ikut serta dalam acara doa untuk Mamanya itu.
__ADS_1
Semua keluarga sudah hadir di rumah Via. Termasuk anak-anak yatim dari panti asuhan yang sengaja Viola undang untuk ikut mendoakan Endah.
Meski masih terlihat jelas gurat kesedihan di wajah masing-masing terutama Vino. Namun acara itu bisa berjalan khidmat dan lancar.
"Makasih ya Vi, kamu udah bantuin Abang untuk menyiapkan semua ini" Ucap Vino tanpa adanya senyum seperti dulu.
Viola bisa merasakan perubahan yang amat besar pada Abangnya itu. Pria tampan yang dulunya begitu hangat kepadanya itu kini berubah dingin tak tersentuh dan jarang sekali menunjukkan senyumnya.
"Abang nggak perlu berterimakasih, aku melakukan semua ini juga demi sahabatku" Vino hanya mengangguk lalu pergi dari hadapan Viola untuk menghampiri putri kecilnya yang sedang di gending oleh Gendis.
"Hufftt. Abang ku sudah begitu berubah. Ya Allah semoga Engkau memberikan petunjuk agar Abang bisa benar-benar mengikhlaskan kepergian Endah, Agar Abang bisa kembali lagi seperti dulu" Batin Viola dengan miris.
Lalu Viola menoleh pada satu laki-laki lagi yang terlihat sendu. Siapa lagi kalau bukan suaminya, Erland.
Viola duduk di dekat Erland dan langsung meraih tangan Erland ke dalam genggamannya. Menurut Viola saling menggenggam adalah bonding yang paling bagus untuk pasangan.
"Sayang, kenapa?? Ezra mana??"
Erland sedikit terkejut karena dirinya sedari tadi tidak fokus lada sekitarnya.
"Abang hanya teringat Endah yank" Erland menatap Viola dengan sendu.
"Aku tau kalau tidak akan mudah melupakan seseorang yang kita sayangi. Tapi disini aku tidak akan meminta Abang untuk melupakan Endah. Aku hanya meminta Abang untuk lebih ikhlas. Abang pasti tidak mau kan kalau Endah kesusahan di sana karena semua keluarganya masih begitu meratapi kepergiannya"
Erland menarik tangan Viola dan mendekatkan punggung tangannya ke bibirnya.
"Iya, Abang tau. Abang akan berusaha. Terimakasih sudah mau mengingatkan Abang" Mereka berdua sama-sama bertukar senyum. Ketenangan dan kebahagiaan keluarga mereka memang baru saja di mulai namun harus kembali di uji dengan kepergian Endah. Namun mulai saat ini mereka semua akan mencoba untuk lebih ikhlas lagi untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang.
"Ezra di mana yank??"
"Sama Mami, itu!!" Viola menunjuk pada sofa yang agak jauh dari mereka. Ezra dan bayi kecil Kalea sedang menjadi bahan hiburan Nenek-Nenek mereka. Tak ketinggalan juga calon pengantin Edgar dan Alisa yang sudah tidak sabar ingin mempunyai bayi kecil yang lucu dan menegaskan seperti kedua keponakannya itu.
Tak lupa juga satu lagi wanita yang baru saja lepas dari keterpurukannya, yaitu Beca. Saat ini Beca sudah lebih terlihat bahagia. Dia berhasil menjalani hidupnya kembali setelah lepas dari bayang-bayang Yovi. Wanita Korea itu kembali seperti dirinya yang semula. Ramah, ceria dan juga selalu mengumbar senyumnya.
"Bahagia sekali rasanya melihat keluarga kita seperti ini ya yank?? Apalagi kalau Endah masih di sini, tentu saja akan semakin membahagiakan. Namun kalau seperti itu kita tidak akan pernah sadar kalau di balik kebahagiaan pasti akan selalu di bayangi dengan kesedihan"
__ADS_1
"Iya Bang. Aku juga tidak menyangka jika keluarga kita bisa bersatu seperti ini. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat senyum dari orang-orang yang kita cintai. Biarlah kita saat ini bahagia di sini, tapi kita tetap mengenang Endah di hati kita masing-masing. Aku rasa dengan hal itu, kita bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya" Viola menyandarkan kepalanya pada bahu Erland.
"Benar sayang, Abang juga berpikir seperti itu"
"Abang??" Erland mengalihkan perhatiannya pada Viola.
"Iya sayang??"
"Makasih ya sudah mau membalas cintaku" Mata mereka saling mengunci.
"Abang yang seharunya berterimakasih karena sudah di berikan cinta yang begitu besar dan sempat menyia-nyiakannya"
"Aku mencintai mu Bang"
"Abang juga mencintai kamu. Sangat-sangat mencintai kamu" Balas Erland dengan menggesekkan hidungnya pada hidung Viola.
"Sekarang kita tinggal menunggu jalan cerita yang lain. Jalan yang akan di tempuh Bang Vino atau Beca. Siapa dulu yang akan mendapatkan kebahagiaan mereka. Bang Vino dulu atau Beca dulu" Viola menatap sendu pada Erland.
"Abang juga nggak tau, kita tunggu otor aja, kapan dia mau buat season keduanya"
~ TAMAT ~
*
*
*
TERIMAKASIH YANG SEBESAR-BESARNYA OTOR UCAPKAN UNTUK READERS YANG SUDAH MENEMANI DAN MENDUKUNG VIOLA DARI AWAL SAMPAI AKHIR..
AKHIRNYA CERITA INI SAMPAI JUGA DI UJUNG JALAN...
JANGAN LUPA DUKUNG KARYA OTOR LAGI SETELAH INI YAA...
SAMPAI JUMPA DI KARYA SELANJUTNYA....
__ADS_1