
Siang ini Viola dan Erland benar-benar pergi ke Dokter kandungan. Mereka berdua duduk di ruang tunggu menunggu nomor urut mereka.
Berbeda dengan Viola yang tampak tegang, Erland begitu tenang di samping Viola. Mungkin karena Erland sudah pernah melakukan hal serupa sebelumnya.
Erland melirik Viola yang berada di sampingnya. Wanita yang dinikahinya saat koma itu tetap terlihat cantik meski pandangannya kosong menatap pintu yang menjadi tempat persembunyian Dokter yang akan memeriksa mereka.
Sekilas Erland mengingat tadi malam saat dia meminta ijin pada Viola untuk menggenggam tangannya saat tidur.
Sebenarnya Erland tidak berharap banyak jika Viola akan menerimanya. Nyatanya bak tertimpa durian runtuh, Viola memberikan tangannya begitu saja pada Erland.
Tidur semalaman dengan saling bergenggaman, meski pagi harinya tangan Erland terasa kebas namun rasanya menyenangkan.
Mulai dari sana, Erland semakin semangat untuk mengikis secara berlahan kebencian Viola kepadanya. Dia yang menanam kebencian itu, maka dia pula yang harus menebangnya.
"Nyonya Viola dan Tuan Erland!!" Panggil seorang perawat.
Panggilan itu menyadarkan Viola yang tadinya melamun, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan dimana seorang Dokter wanita sudah menunggunya.
"Selamat datang Nyonya Viola" Sapa Dokter itu.
"Sopan sekali anda??"
Erland tampak terkejut dengan jawaban dari Viola. Seharusnya tidak ada yang salah dengan sapaan Dokter itu. Tapi beberapa detik kemudian kedua wanita itu sama-sama tertawa.
"Apa kabar kamu Vi, lama banget nggak ketemu" Dokter wanita itu berdiri memberikan pelukan hangat pada Viola.
"Kabar baik Alhamdulillah. Nggak nyangka banget kamu sekarang benar-benar jadi Dokter kandungan seperti cita-cita kamu dulu Ken" Dokter bernama Niken itu adalah teman SMA Viola, dan berarti Endah juga mengenalnya.
"Iya Alhamdulillah, itu semua berkat doa kedua orang tuaku yang ijabah oleh Allah. Ayo silahkan duduk, aku mau dengar dulu apa yang membawamu bertemu denganku. Silahkan duduk Pak" Niken juga mempersilahkan Erland untuk duduk walau Erland masih bingung sejak kapan keduanya saling mengenal.
"Jadi aku kesini mau cek rahimku sehat atau tidak, kesuburan ku dan suamiku juga gimana, terus waktu yang tepat untuk pembuahan itu kapan, aku mau minta kamu jelaskan secara detail ya Ken??" Jelas Viola langsung pada intinya.
"Oke sekarang aku mau tau, sudah berapa lama kalian menikah??"
"Tiga tahun" Jawab Erland karena Viola tampak ragu untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Baik, lalu apa selama ini kalian terus berhubungan secara rutin?? Dalam artian berhubungan suami istri??" Tanya Niken lagi setelah menulis jawaban pertama.
Keduanya diam, Viola juga masih menimbang jawabannya.
"Aku yakin kamu pasti kaget kalau aku kasih tau Ken. Tapi kami belum pernah melakukannya. Ceritanya panjang, kapan-kapan aku akan menceritakannya. Yang jelas aku hanya ingin tau apa yang sudah ku katakan tadi" Jelas Viola yang berhasil membuat Niken terkejut.
"Baiklah, aku tidak akan banyak tanya lagi sebelum kamu menjelaskan sendiri. Sekarang aku akan langsung memeriksa rahim mu saja. Ayo berbaring di sana"
Viola sudah berbaring dengan selimut yang menutupi kaki hingga sebatas pahanya. Kemudian Niken mulai menempelkan alat yang Viola tau itu adalah alat USG.
Viola melihat ke arah Erland yang tampak serius melihat ke layar yang telah di tunjuk Niken. Sementara itu tangan Niken mulai bergerak di atas perut Viola.
"Rahim kamu sehat, bagus dan sangat siap untuk dibuahi. Tidak ada maslah apapun, kista juga tidak ada. Kemudian untuk masa subur tentu kamu bisa menghitungnya sendiri kan??" Viola mengangguk.
"Kalau itu kau sudah paham"
Niken sudah kembali ke mejanya beserta Viola yang juga turun dari pembaringannya. Sekarang giliran Erland yang akan di periksa.
"Sekarang untuk Pak Erland silahkan ikut salah suster untuk ke ruangan khusus untuk pemeriksaan serta mengambil sampel untuk pemeriksaa lebih lanjut" Erland menurut saja, kemudian pergi ke ruangan yang terpisah sari tempat Viola di periksa.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di luar. Terimakasih banyak untuk bantuan kamu. Aku janji akan menceritakan semuanya kalau kita bertemu lagi"
"Kita pasti bertemu lagi Vi, firasat ku mengatakan sebentar lagi rahim mu itu akan terisi benih dari suamimu itu" Senyum Niken yang menggodanya membuat pipi Viola memerah.
"Doakan saja"
*
*
*
Satu jam berlalu, hasil dari laboratorium juga sudah ada di tangan Erland. Merek berdua masuk lagi ke ruangan Niken.
"Kita lihat hasilnya gimana ya??" Niken mulai membuka amplop bertuliskan laboratorium rumah sakit itu.
Niken membacanya dengan teliti sebelum seulas senyum terbit di bibir tipisnya.
__ADS_1
"Hasil dari pemeriksaa Pak Erland juga bagus. Tidak ada maslaah sama sekali. Kalian berdua sehat. Seharusnya tidak lama dari proses pembuahan akan menghasilkan sebuah keajaiban di rahim mu Vi"
Sebagai seorang Dokter kandungan yang bisa dibilang masih muda. Namun perkiraan Niken tidak pernah meleset.
"Benarkah Dokter??" Niken baru mendengar suami Viola mengeluarkan suaranya untuk kedua kalinya.
"Benar Pak, jadi saya akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Terutama untuk teman SMA ku ini"
Erland baru paham jika mereka berteman sewaktu SMA setelah mendengar ucapan Niken barusan.
"Kalau gitu aku pamit ya Ken?? Selai lagi terimakasih banyak" Pamit Viola.
"Sama-sama. Jangan lupa, kalau sudah telat segera temui aku lagi" Pesan Niken.
"Terimakasih Dokter Niken" Ucap Erland.
"Sama-sama Pak" Niken merasa tak asing dengan wajah Erlsnd.
"Tentu saja" Viola melambaikan tangannya pada teman lamanya sebelum keluar dari ruangan itu.
-
-
"Vi, kenapa tadi saat kamu di USG Abang boleh melihatnya??" Tanya Erland pada Viola yang asik melihat jalanan di sampingnya.
"Maksudnya??" Viola bingung dengan pertanyaan Erland yang aneh itu. Ya jelas saja Erland boleh melihatnya, karena mereka berdua kan suami istri.
"Soalnya waktu Abang periksa kandungan Sarah, Abang sama sekali tidak boleh melihatnya. Bahkan Abang pernah menunggu di luar dan tidak di perbolehkan masuk oleh perawat di sana. Apa mungkin beda rumah sakit beda peraturan kali ya??" Erland menjawab perkiraannya sendiri.
"Emangnya udah pernah periksa ke berapa rumah sakit??"
"Baru kali ini sih yang beda, biasanya kalau sama Sarah selalu di rumah sakit yang di rekomendasikan sama Mamanya" Jelas Erland masih terus menyegerakan kedua tangannya utnuk mengemudikan mobilnya.
"Ya bisa jadi begitu" Jawab Viola asal, meski itu sangat aneh bagi Viola.
Viola kembali melihat jalanan di sampingnya, tapi setelah itu muncul senyuman miring di bibir Viola.
__ADS_1