Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
138. Baju pengantin


__ADS_3

Keputusan untuk pernikahan Beca dan Yovi sudah di ambil. Mereka akan menyelenggarakan pernikahan mereka dua hari lagi, satu minggu setelah kedatangan keluarga Yovi ke rumah Via waktu itu.


Semua persiapan dilakukan dengan cepat karena waktunya yang terlalu mendadak dan juga mepet. Namun semuanya bisa di urus dengan cepat oleh Yovi.


Beca tidak tau kenapa, saat ini justru Yovi yang terlihat sangat antusias dengan pernikahan itu. Padahal awal mulanya Yovi sendiri yang menolak tawaran Beca.


Tapi tak maslaah bagi Beca, karena Beca jadi tau kalau Yovi tidak menganggap pernikahan itu sebagai bentuk pertanggungjawabannya saja. Apalagi akhir-akhir ini Yovi sering bersikap manis kepada Beca.


Beca yang selama ini hanya menganggap Yovi sebagai teman saja, lama-lama bisa meleleh jika di perlakukan manis setiap hari oleh Yovi.


"Bagaimana menurutmu?? Apa aku terlihat tampan??"


Yovi dan Beca sedang fitting baju pengantin mereka, dan Yovi dengan percaya dirinya bertanya seperti itu pada Beca.


"Yah, aku akui kalau Kak Yovi itu tampan. Tapi tampan mu itu masih di garis rata-rata. Tidak lebih dari itu" Jawab Beca asal, namun dia juga jujur jika memang Yovi itu tampan.


"Kenapa kamu menghina calon suami kamu sendiri??" Kesal Yovi.


"Sekarang ngebet banget pingin jadi suami. Kemarin nggak mau, sampai menghina segala" Cibir Beca.


Entah perkataan Beca itu menyinggung Yovi tanpa sengaja atau bagaimana, yang jelas Yovi tiba-tiba diam lalu mendekat pada Beca yang masih belum mencoba gaun miliknya.


"Beca, maafkan tentang perkataan ku waktu. Dan untuk sekarang ini, masalah aku yang terlihat sangat antusias dengan pernikahan ini. Aku serius, aku benar-benar menerima pernikahan ini dengan senang hati. Aku juga tidak tau kenapa bisa sebahagia ini walau pernikahan ini begitu mendadak dan tidak di rencanakan"


Yovi memandang wajah cantik Beca, dan menerawang jauh ke dalam mata Beca.


"Umurku sudah semakin bertambah dan aku juga tidak tau batas umurku. Menurutku, sudah waktunya aku untuk melangkah maju, mencari kehidupan yang belum pernah aku jalani di sisa hidupku ini. Jadi aku minta sama kamu untuk memaklumi sikapku yang terkesan berlebihan menyambut pernikahan ini Beca"


"Kak..."


"Jujur aku merasa yakin jika pernikahan kita ini adalah pernikahan terakhir dalam hidupku, dan kamu adalah wanita yang ditakdirkan Allah untuk menjadi cinta terakhirku"


"Cukup Kak!! Apaan sih ngaco banget ngomongnya. Aku juga bahagia dengan pernikahan ini. Besok kita nikah, jadi jangan macem-macem!!" Beca melotot tajam pada Yovi.

__ADS_1


Beca kesal sendiri dengan omongan Yovi yang melantur seperti itu. Ini hari bahagia mereka. Harusnya Yovi mengatakan hal-hal yang membahagiakan, bukan kata-kata yang akan membuatnya melo seperti itu.


"Udah ah, aku mau coba baju dulu. Jangan terpana liat kecantikan wanita Korea" Ucap Beca sembari bangkit dari sofa menuju ruang ganti.


"Iya iya percaya. Cantik kaya artis yang kata Mama namanya Kim Kim itu kan??"


"Lebih dari itu" Ternyata bukan hanya Yovi yang terlalu percaya diri. Beca pun sama, mereka memang cocok untuk di satukan.


Beca sudah di bantu oleh pegawai butik itu untuk memakai gaun Ball gown yang identik dengan gaun yang sering di gunakan princess di negeri dongeng. Gaun yang putih nersih dengan sentuhan batu swarovski di bagian dada hingga pinggang semakin mempercantik tampilan Beca. Apalagi kulitnya yang seputih susu itu membuat gaun itu menyatu dengan wanita cantik itu.


Pegawai butik itu juga menata rambut Beca sedemikian rupa hingga benar-benar membuat Beca seperti pengantin sungguhan, bukan lagi calon pengantin yang sedang mencoba gaun yang akan dikenakan di hari pernikahan.


"Sudah Nona, saya akan membuka tirainya agar calon suami anda bisa melihatnya"


SREEKKK....


Suara tirai di buka dengan cepat itu seakan menjadi pertanda keluarnya pengantin wanita dari persembunyiannya.


Yovi yang sejak tadi menunggu Beca dengan begitu sabar, langsung terbayarkan setelah melihat calon istrinya berdiri di depan sana dengan gaun pengantin yang begitu pas dengan tubuh indahnya.


"Kak!!" Panggil Beca karena sedari tadi Yovi tampak tak beraksi sama sekali.


"Eh, iya kenapa??" Yovi berhasil kembali ke kesadarannya.


"Gimana??" Tanya Beca dengan kesal sambil menunjuk gaun yang dipakainya.


"Cantik, iya kamu cantik banget pakai gaun itu" Puji Yovi dengan jujur, karena dia saja sempat terpana dengan kecantikan Beca.


"Kalau gitu, kita udah cocok dengan yang ini. Ukurannya juga udah pas. Jadi kita tetap pakai ini ya" Ucap Beca pada pegawai yang tadi sudah membantunya.


"Baik Nona. Kalau begitu, bisa saya bantu melepasnya??" Pegawai itu susah ingin menutup tirai yang tadi telah di buka olehnya.


"Tunggu!!" Erland mendadak menghentikan pegawai itu.

__ADS_1


"Beri saya waktu sebentar lagi bersama calon istri saya??"


"Kalau begitu saya tinggal dulu"


Kini mereka hanya berdua di dalam ruangan itu setelah pegawai itu benar-benar keluar dari sana.


"Ada apa Kak?? Kenapa sampai harus menyuruhnya keluar segala??"


Padahal Beca sudah ingin mengganti bajunya karena gaun itu terasa berat di tubuhnya.


"Beca, meski belum ada cinta di antara kita tapi aku mau kita berusaha untuk menerima ya??" Yovi mencari sesuatu dari sakunya.


"Aku tidak bisa melamar mu dengan romantis. Aku juga tidak sempat memberi cincin pertunangan kepadamu. Hanya ini yang bisa aku berikan sebagai tanda keseriusanku kepadamu"


Yovi tak memberi kesempatan bagi Beca untuk melihat apa yang Yovi genggam di tangannya, namun Beca langsung tau jika itu sebuah kalung karena Yovi yang kini sudah merangkulnya untuk memasangkan kalung itu di leher Beca.


"Cantik" Ucap Yovi setelah kalung berliontin satu buah batu berlian berukuran kecil menggantung indah di leher Beca.


Beca memutar tubuhnya ke samping untuk melihat pantulan dirinya di cermin.


"Kapan kamu beli kalung ini Kak??" Seingat Beca, beberapa hari ini Yovi terus bersama Beca, kecuali malam hari saat mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Kemarin setelah nganterin kamu pulang, aku mampir sebentar ke mall karena kan memang searah sama apartemenku. Dan kamu tau nggak?? Mereka udah hampir tutup, untung aja mereka masih mau melayani ku sampai akhirnya menemukan kalung ini"


Beca tawanya hampir pecah saat membayangkan bagaimana Yovi yang memohon untuk membeli kalung di outlet yang hampir tutup.


"Sini, kita foto sebentar" Yovi menarik pinggang Beca agar mendekat kepadanya.


"Ngapain sih Kak, kan ini buat pernikahan kita"


"Ya nggak papa, nggak ada salahnya kan kita foto buat kenang-kenangan"


Yovi mengarahkan kamera depannya pada wajah mereka berdua. Yovi mengambil foto beberapa kali dengan foto yang tampak begitu mesra meski di baliknya mereka sama-sama belum memiliki perasaan cinta satu sama lian.

__ADS_1


Yovi tersenyum melihat hasil jepretannya. Mereka berdua tampak serasi dengan baju pengantin yang mereka kenakan.


__ADS_2