
"Radian, apa yang dimaksud Alisa?? Apa yang sebenarnya terjadi??"
Sarah yang sangat penasaran dengan ucapan Alisa akhirnya memilih menyingkir dari keramaian untuk menghubungi kekasih gelapnya itu.
"Sudahlah Sarah, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita. Aku sudah menyerah, aku juga tidak mau kehilangan adikku. Lagipula suamimu juga sudah mengambil alih restoran itu. Jadi tidak ada alasannya lagi aku bertahan di sisimu. Kalau soal cinta, aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba melupakanmu"
"Apa Radian?? Jadi Erland sudah mengambil Alih restoran kita?? Ba-bagaimana Bisa??" Sarah tampak sangat syok. Pasalnya Erland sejak kemarin juga masih bersikap biasa saja tak menunjukkan keanehan sedikitpun.
"Jelas bisa, karena dia menggunakan uangnya yang banyak itu. Sementara aku yang tak punya apa-apa hanya pasrah dan diam karena aku juga tidak mau ambil resiko. Bisa saja dia mencurigai ku saat aku berusaha menghalanginya"
"Lalu apa maksud kamu ingin melupakan cinta kita??" Amarah Sarah sungguh ingin meledak jika tidak mengingat saat ini sedang ada di mana.
"Sarah, untuk apa lagi aku bertahan?? Lagipula kamu juga akan mati-matian mempertahankan pernikahan kalian kan?? Sampai kapan lagi kau harus menunggu??"
"Ingat Radian, apa yang pernah kamu lakukan kepadaku!! Aku hancur juga kerena mu!!" Geram Sarah.
"Itu bukan salahku Sarah!! Itu salahmu sendiri yang tak mau menerima kenyataan!!"
"Tidak, kamu tidak bisa meninggalkanku!! Kamu harus tetap ada di belakangku, aku tidak mau kalau tiba-tiba menceraikan aku, di saat itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sisiku" Ucapan Sarah mulai gusar.
"Oohhh jadi begitu. Selama ini ternyata kamu hanya menganggap ku sebagai cadangan untukmu. Jadi kalau sewaktu-waktu kalian bercerai, kamu masih punya aku yang akan menerima kamu dengan segala kekurangan mu begitu??"
"Bu-bukan begitu maksud ku Radian!!"
"Sudahlah Sarah, dari jawaban mu saja aku sudah tau bagaimana posisiku selama ini di hatimu. Jadi lebih baik sampai di sini saja daripada aku juga ikut hancur saat suamimu mengetahui kebusukan mu"
"Radian, aku...".
Tut...
"Halo!! Radian?? Halo??"
"B****sek!!" Umpat Sarah karena Radian yang menutup panggilannya secara sepihak.
"S*alan!! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini" Sarah mencengkeram ponselnya dengan sangat kuat.
"Sepertinya aku harus mengeluarkan rencana cadangan ku saat ini" Senyuman licik menghiasi wajah Sarah yang tampak gelap itu.
"Baiklah, karena si miskin itu sidah pergi. Jadi lebih baik aku mengambil suamiku kembali. Aku hanya perlu menyingkirkan wanita pengganggu itu. Baru setelah itu semuanya akan kembali seperti semula"
__ADS_1
*
*
*
*
Acara pernikahan yang megah itu akhirnya berakhir juga setelah menghabiskan waktu seharian penuh. Dari pagi buta sampai kini langit yang menjadi gelap kembali, barulah Erland dan Viola undur diri terlebih dahulu.
"Ndah, Bang, aku pulang dulu ya. Sekali lagi selamat buat kalian berdua" Viola memeluk Endah dan Vino bergantian.
"Iya Vin, gue pulang dulu ya. Kasihan Viola pasti udah capek banget" Erland menarik pinggang Viola agar merapat ke arahnya yang langsung di hadiahi picingan mata oleh Viola.
"Iya nggak papa, kalian pulang dulu saja. Kamu harus segera istirahat Vi" Kata Vino.
Viola mengangguk pada Abangnya itu. Kemudian mengikuti Erland yang tanpa ia sadar telah menuntunnya dengan menggenggam tangan kirinya.
Sekali lagi Viola menoleh ke belakang, melihat Vino yang tampak sangat bahagia, juga kedua orang tuanya yang terus menyunggingkan senyumnya. Rasanya masih tak percaya bisa melihat kedua orang tuanya sebahagia itu setelah maslah yang ia buat dulu. Kesehatan Maminya juga sudah mulai membaik. Tak tega rasanya jika Viola dengan egoisnya menghancurkan kebahagiaan itu dengan menimpakan masalah rumah tangganya kepada mereka.
"Lihat apa?? Ayo pulang" Ucap Erland dengan lembut.
"Udah deh yank, nggak usah mulai lagi. Kamu tetap pulang sama Abang. Kalau Sarah tidak usah dipikirkan, dia sudah pulang dari tadi sama Mamanya"
Bibir Viola hanya membulat membentuk huruf O saja.
"Ya udah ayok, kamu sama baby pasti capek kan??" Erland melihat ke bawah, karena sepatu yang di pakai Viola agak sedikit tinggi.
"Hemmm" Jawab Viola.
*
*
*
*
"Kamu kenapa sih Sarah?? Jangan buat Mama pusing lihat kamu dari tadi mondar-mandir kaya gitu. Kasih tau Mama dulu biar Mama tau ada masalah apa!!" Rasti sudah sangat geram dengan putrinya itu.
__ADS_1
Tadi saat di pesta, Sarah mengajak Rasti pulang karena katanya ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Tapi nyatanya sampai di rumah, Sarah hanya mondar-mandir dan tampak cemas dengan sendirinya tanpa memberi tahu Rasti tentang apa yang sudah terjadi.
"Ma, ini gawat Ma!!" Sarah langsung duduk di samping Rasti.
"Apanya yang gawat?? Ngomong yang jelas!! Jangan buat Mama takut!!"
"Ma, akhir-akhir ini Mas Erland tidak berubah. Dia tidak terlihat aneh sama sekali. Dia tetap seperti biasanya"
"Ya bagus dong, harusnya kamu bersyukur dong. Kenapa harus khawatir pakai gawat-gawat segala" Rasti segera menepis pikirannya yang juga ikut cemas gara-gara tingkah Sarah tadi.
"Tapi justru itu yang aneh Ma!!" Sarah menyandarkan kepalanya pada sofa dengan lemas.
"Aneh apalagi?? Mama benar-benar nggak ngerti. Kamu itu ribet, cerita nggak langsung pada intinya!!" Kesal Rasti.
"Mas Erland itu hanya pura-pura di depan Sarah Ma. Dia itu berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal kata Radian, Mas Erland itu sudah mengambil alih restoran dari tangan Radian!!"
"Apa!!"
Barulah jantung rasti berdetak dengan cepat karena kabar buruk yang di terimanya dari Sarah.
"Kok bisa?? Kalau begitu Erland pasti tau kalau restoran itu atas nama Radian" Rasti ikut lemas setelah menyadari kesalahan anaknya.
"Itu yang aku pikirkan sekarang Ma!!"
"Salah kamu sendiri, Mama sudah peringatkan untuk tetap menggunakan namamu di pemilik restoran itu. Tapi kenapa tetap pakai nama laki-laki kere itu??" Rasti kembali bangkit dengan wajah masmnya.
"Mama tau sendiri kan Radian itu siapa?? Mana mungkin Sarah tidak menuruti kata-katanya Ma!!" Sarah jadi kesal dengan Mamanya.
Rasti kembali diam, sudah tidak tau lagi harus bagaimana jika Sarah sudah mengungkit cinta pertamanya itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Sarah?? Kamu sebentar lagi akan hancur!!" Rasti menatap.iba pada putrinya itu.
"Tenang Ma, aku sudah siapkan rencana ku jauh-jauh hari setelah Mas Erland melihatku bersama Radian"
"Rencana apa??" Rasti mendekat pada Sarah untuk mencari tau apa rencana anaknya itu.
Sarah menatap Rasti dengan senyuman liciknya, otaknya yang kotor itu ternyata sudah terisi rencananya agar bisa bertahan diri.
__ADS_1