Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
78. Hasutan Sarah


__ADS_3

Sepasang calon pengantin yang bisa di bilang susah sangat cukup umur untuk membina yang namanya bahtera rumah tangga, duduk berdampingan dengan tautan tangan yang sepertinya enggan terlepas.


"Mesra banget calon pengantinnya ya Pi??" Via menggoda Endah dan Vino yang duduk dihadapannya.


"Iya Mi, kaya kita waktu muda dulu"


"Udah dong Mi, kalian buat calon istri Vino malu" Tambahan dari Vino justru semakin membuat merah semburat di pipi Endah.


"Iya maaf, habisnya kalian itu menggemaskan" Sahut Via.


"Memangnya sudah sejauh apa persiapan pernikahan kalian??" Tanya Dito.


Sesuai keputusan kedua keluarga, akhirnya pernikahan Endah dan Vino akan di laksanakan satu bulan lagi.


"Baru enam puluh persen Pi" Jawab Vino.


"Waktu satu bulan itu terlihat lama Vin, tapi bagi kalian berdua yang masih bingung menyiapkan ini itu, waktu satu bulan itu sangat singkat" Via justru merasa cemas sendiri melihat pasangan itu terlalu santai.


"Iya Mi, Vino sama Endah juga sudah mikirin semuanya kok. Jadi Mami nggak perlu khawatir" Ucap Vino mencoba menenangkan Maminya.


Vino maklum jika Via bersikap seperti itu, karena ini merupakan pesta pernikahan pertana di keluarga mereka. Mengingat Viola belum mengadakan pesta pernikahannya sampai sekarang.


"Benar kata Bang Vino Mi. Mami jangan terlalu banyak pikiran. Semua ini biar jadi urusan Bang Vino saja. Endah nggak mau sampai Mami drop lagi gara-gara mikirin pernikahan kita"


Senyum Via terbit mendengar kekhawatiran dari calon menantunya itu. Sejak dulu memang Via begitu menyukai Endah. Sempat juga berharap jika Endah akan menjadi menantunya. Wanita yang berbakti kepada orang tuanya, baik dan mandiri. Menurutnya sangat cocok dengan Vino. Tapi harapan Via kini menjadi kenyataan. Sebentar lagi Endah akan menjadi menantunya secara resmi.


"Oh ya Mi, Beca dimana?? Kok dari tadi Endah nggak lihat dia??"


"Beca sedang...." Via mengangkat bola matanya ke atas seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Gimana menurut kamu??" Yovi menanyakan pendapat Beca tentang bangunan yang saat ini sedang mereka lihat.


Beca melihat satu demi satu ruangan dari bangunan dua lantai itu. Bangunan yang cukup besar dengan beberapa bilik kamar serta ruangan-ruangan lain yang terpisah oleh dinding pembatas.


"Cukup bagus, ruangannya banyak dan juga tidak terlalu sempit. Banyak juga yang masih terbuka bisa kita jadikan untuk ruang tunggu. Lokasinya juga strategis, halamannya luas. Kayaknya Viola bakalan setuju kalau pilih yang ini"


Saat ini Yovi sedang menemani Beca untuk melihat bangunan yang akan Viola gunakan sebagai kliniknya nanti.


Sejak pertemuan pertama kalinya Beca dan Yovi di acara lamaran Vino, kini mereka memutuskan untuk berteman. Yovi juga yang beberapa kali ini membantu Beca untuk mencari bangunan yang di inginkan Viola.

__ADS_1


Setelah lebih dari lima kali Beca survei ke lokasi bangunan. Sepetinya kali ini Beca cukup tertarik. Dari gambarannya tadi tampaknya sudah sesuai dengan yang mereka cari.


"Kalau menurut aku sih yang ini udah bagus banget di banding yang kemarin-kemarin. Viola kan masih menunggu melahirkan dulu untuk membuka kliniknya. Menurutku masih ada waktu untuk merenovasi beberapa ruangan seperti yang kamu inginkan. Yang penting kan lokasinya udah bagus dan tempatnya luas. Urusan dalamnya kan bisa di ubah. Jadi nggak usah khawatir" Yovi mencoba meyakinkan Beca.


"Benar juga kata kamu. Kita ajak Viola aja kesini. Biar dia lihat sendiri. Walau sebenarnya aku yakin Viola juga pasti setuju dengan tempat ini" Yovi mengangguk lalu Beca mulai menghubungi Viola.


*


*


*


Sore ini Sarah sengaja datang ke kantor Erland. Sudah dua bula lamanya dan kini dia baru menginjakkan kakinya di kantor suaminya itu.


"Mas??" Sarah muncul dari balik pintu. Seperti baisa, tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Kenapa Sarah?? Apa kamu ada masalah sampai datang ke sini sendiri??" Memang bubungan mereka sudah kembali membaik tapi Erland tidak bisa selembut dulu. Entah apa yang Erland sembunyikan dari Sarah hingga dia sering acuh tak acuh seperti itu.


"Loh kok kamu gitu sih Mas!! Emangnya harus ada alasan ya kalau seorang istri datang ke kantor suaminya sendiri??" Sarah sengaja menekuk wajahnya karena kesal dengan sikap Erland.


Pria itu sendiri yang memintanya untuk merubah sikapnya yang semuanya sendiri. Tapi sekarang justru Erland sendiri yang berubah terlalu jauh menurut Sarah.


"Bukan begitu, tumben aja"


"Pekerjaan kamu sudah selesai??" Tanya Sarah, mengusap lengan Erland.


"Sebentar lagi, kenapa??" Erland masih fokus pada layar laptopnya yang di penuhi angka-angka itu.


"Kita keluar yuk Mas. Udah lama kita nggak jalan bareng. Temenin aku ke mall ya, aku mau beli baju. Kayaknya berat badan aku naik deh gara-gara keseringan nyicip makanan di resto"


Erland sudah menduga pasti ada maunya Sarah sampai datang menghampirinya ke kantor.


"Tapi aku lelah, tidak bisa besok saja??"


"Ayolah Mas, sebentar aja. Masa kamu nggak mau sih. Udah lama loh kita nggak bisa quality time" Sarah merengek seperti anak kecil yang meminta permen pada Ibunya. Jika dulu Erland akan tertawa dengan sikap Sarah itu, namun berbeda dengan saat ini. Erland hanya melirik tajam pada Sarah.


"Ya sudah ayo. Tapi jangan lama-lama!!" Akhirnya Erland tetap harus mengalah untuk Sarah. Meninggalkan pekerjaannya yang baru saha selesai.


"Makasih ya Mas"

__ADS_1


Cup..


Kecupan di pipi Erland yang ia terima dari Sarah justru membuat Erland merinding. Bukan karena menyukainya, namun karena ada sebagian dari dirinya yang menolak.


Tapi sebelum beranjak, Erland sempat memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Dia takut kejadian yang sama terulang lagi.


Benar saja, satu pesan masuk ia terima dari Viola beberapa menit yang lalu.


📥Bang, aku keluar sama Beca dan Kak Yovi. Katanya mereka sudah menemukan tempat yang bagus untuk klinik ku. Aku tidak akan lama.


📤 iya, kamu hati-hati ya yank. Jangan pulang malam-malam. Abang juga akan pergi menemani Sarah keluar sampai ketemu di rumah.


Sarah tau siapa yang membuat Erland tersenyum seperti itu saat melihat layar ponselnya. Pemandangan itu membuat Sarah merasa kegerahan di ruangan yang dingin milik Erland.


"Ayo!!" Erland menyambar jasnya yang terlampir di kursi kebesarannya.


*


*


*


Sudah satu jam lebih Erland menemani Sarah berkeliling di dalam mall besar itu. Beberapa paper bag juga sudah di tangan Erland tapi Sarah masih belum juga lelah sepertinya. Di masih terus memasuki outlet demi outlet untuk mencari barang incarannya.


"Sarah, bisakah kita pulang sekarang. Aku benar-benar sudah lelah" Keluh Erland.


"Maaf Mas, aku suka kalap kalau udah belanja begini. Ya udah kita pulang sekarang yuk??" Sarah merasa bersalah menatap Erland yang tampak begitu kelelahan itu.


Sarah mengurungkan niatnya untuk masuk ke salah satu outlet dengan merk berharga fantastis itu. Dia memilih menarik tangan Erland untuk kembali ke rumah. Menurutnya sudah cukup untuk hari ini dia menghamburkan uang suaminya.


Tarikan tangan Sarah terasa berat karena ternyata Erland menghentikan langkahnya.


"Kamu lihat apa sih Mas??" Sarah mengikuti arah pandang Erland.


"Viola??" Sarah melihat Viola dari kejauhan.


"Bukannya dia Yovi ya, teman kamu itu??" Tanya Sarah.


Erland masih diam tak bersuara. Biarpun tadi Viola sudah mengatakan jika dia pergi bersama Yovi, namun melihat mereka tertawa besama seperti itu, membuat dada Erland terasa panas.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam aja Mas?? Kamu aja Marah waktu aku pergi sama Radian. Dia kan istri kamu juga, mana lagi hamil lagi. Bisa-bisa orang ngiranya Yovi bapaknya anak yang di kandung Viola"


Sarah justru mencoba memperkeruh suasana hati Erland.


__ADS_2