Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
88. Radian


__ADS_3

Pagi harinya Viola langsung menyingkirkan tangan Erland yang begitu leluasa memeluknya. Viola juga melihat kepala Erland yang berada di samping perut besarnya. Parahnya lagi Viola tidak terbangun semalaman sehingga baru menyadari jika Erland tidur di sampingnya saat ini.


Karena kantung kemihnya yang terasa sangat penuh, Viola menyingkir dari sisi Erland dengan cepat. Sama sekali tak mengusik atau mencoba membangunkan Erland Viola melaksanakan sholat subuhnya sendiri tampa imamnya yang masih terlelap.


Setelah melipat mukenanya dengan rapi, Viola akhirnya mengutus jari telunjuknya untuk membangunkan Erland.


"Bangun, sholat subuh dulu!!" Viola berkali-kali mencolek lengan Erland.


"Bang!!" Ucap Viola sedikit keras.


"Hemm" Sura serak itu menyahut meski matanya tak juga terbuka.


"Sholat dulu, nanti kesiangan!" Viola menjauhkan tangannya dari Erland.


"Iyaa"


Masih dengan matanya yang lengket dan sesekali menguap, Erland tetap bergerak turun dari ranjang.


Mungkin itulah satu hal baik yang di temukan Viola pada diri Erland. Pria itu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tak dapat di tampik, Viola juga merasakan ketenangan saat menjadi makmum dari suaminya itu.


Erland sudah siap berdiri di atas sajadahnya, dengan peci dan baju kokonya. Tapi Erland belum juga mengambil niatnya karena dia terus menatap Viola.


"Kenapa??" Tanya Viola.


"Ayok, Abang udah siap, kenapa kamu belum pakai mukena?? Kamu nggak mungkin datang bulan kan karena kamu sedang hamil" Tanya Erland karena Viola tak kunjung memakai mukenanya.


"Abang mau aku sholat dua kali??"


"Maksudnya??" Bingung Erland, tapi Viola hanya mengedikkan bahunya saja.


"Astaghfirullah, kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu sudah sholat yank??" Erland menepuk jidatnya kesal.


"Ya kan Abang nggak nanya" Jawab Viola acuh sambil asik menscroll akun instagramnya.


*


*


*


Saat tiba waktu sarapan Erland hanya duduk berdua dengan Viola. Dia sudah tidak menemukan Sarah di manapun pagi ini. Tapi seperti seorang pria yang pernah mencintai Sarah, Erland terkesan tak peduli dengan keberadaan Sarah.


Dia hanya menikmati momen sarapan bersama Viola yang baru kali ini mau bergabung lagi dengannya di meja makan.


"Bi Tum, memangnya Sarah ke mana??" Viola yang bertanya, bukan Erland.


"Saya tidak tau Bu, tadi Bu Sarah pagi-pagi sekali sudah rapi dan terlihat terburu-buru. Saat saya tanya, Bu Sarah hanya bilang ada urusan penting" Jelas Bi Tum seperti saat tadi berhadapan dengan Sarah yang pergi tergesa-gesa.


"Kamu nggak khawatir sama istri kamu itu??" Lirik Viola pada Erland yang asik menikmati nasi gorengnya.


"Enggak, paling dia juga pergi ke restoran" Jawab Erland benar-benar tak peduli.


"Kalau enggak gimana??"


"Ya itu urusan dia sama Allah. Dosa kan kalau berbohong sama suami, dari awal saja dia sudah dosa karena pergi tanpa ijin dari suami"


Viola langsung menatap Erland tak suka, tampaknya ada kata-kata dari Erland yang sedikit menyentilnya.


"Abang nyindir aku??"

__ADS_1


"Enggak sayang. Abang bahas Sarah bukan kamu" Erland nyengir kuda pada Viola.


Viola terlanjur menekuk wajahnya, bukan karena marah pada Erland tapi karena merasa dia juga dulu pergi jauh dari Erland selama tiga tahun tanpa persetujuan suaminya itu.


*


*


*


Sementara itu orang yang tadi pergi buru-buru ternyata sedang berada di depan rumah orang yang sangat di kenalnya.


Tok..Tok..Tok..


"Radian, buka pintunya!!"


Sarah kembali mengetuk pintu rumah itu dengan tidak sabaran. Hanya Sarah yang berani membuat keributan di depan rumah orang pagi-pagi begini.


"RADIAN!!" Teriak Sarah.


"KELUAR KAMU!!"


Cklek..


"Mau apa pagi-pagi kesini??" Sambut seseorang yang membukakan pintu untuk Sarah.


"Dimana Kakak kamu??" Sarah mencari seseorang di belakang Alisa.


Ya, Sarah ternyata pergi ke rumah Radian. Dia harus menemui pria itu secara langsung untuk menerima penjelasan atas apa yang Radian katakan tadi malam.


"Untuk apa lagi mencarinya?? Bukankah sudah jelas kalau hubungan kalian sudah berakhir??" Alisa masih berdiri di depan pintu, tak ingin membiarkan Sarah masuk ke dalam sesuka hatinya lagi.


"Silahkan saja, karena dia tidak akan pernah mendengarkan kamu lagi" Alisa tersenyum mengejek pada Sarah.


"RADIAN!!" Teriak Sarah lagi.


"Hentikan atau aku akan memanggil keamanan untuk mengusir mu dari sini!!"


"Aku tidak peduli!!" Sarah mendorong Alisa untuk masuk ke dalam.


"Keluar!!" Alisa tetap menghalangi Sarah dengan sekuat tenaganya.


"Biarkan dia Alisa!!" Seseorang yang di cari Sarah akhirnya menunjukkan batang hidungnya juga.


Alisa akhirnya menyerah, dia merapikan bajunya yang sempat berantakan karena desakan Sarah, kemudian pergi dari sana. Membiarkan Kakaknya menyelesaikan masalahnya bersama Sarah.


"Radian!! Akhirnya berani keluar juga kamu" Sarah menatap Radian dengan sinis.


"Untuk apa kamu datang ke sini?? Bukankah semuanya sudah aku jelaskan. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Sarah"


Sebenarnya Radian sudah malas berhadapan dengan Sarah. Tapi dia tau betul bagaimana sifat Sarah. Wanita itu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Enggak, aku nggak bakalan terima alasan yang tidak masuk akal itu!!"


Radian kembali berbalik menatap Sarah dengan begitu dalam.


"Sarah, sudahlah. Hubungan kita berakhir itu sudah keputusan yang paling terbaik. Aku sadar tentang kesalahanku selama ini. Aku tidak mau menambah dosa-dosa ku dengan terus berhubungan dengan istri orang" Jelas Radian dengan halus tanpa tersirat kemarahan di dalamnya.


"Hahaha..." Sarah justru tertawa dengan sumbang.

__ADS_1


"Jangan munafik kamu Radian. Mana pernah kamu memikirkan dosa dari dulu sejauh yang aku lihat selama ini, di dalam otakmu itu hanya uang dan uang. Kamu juga sudah menikmati uang dari Erland. Jadi jangan sok suci kamu!!"


Menurut Sarah, pengakuan Radian itu sangatlah lucu. Alasannya itu tidak masuk sama sekali di otak Sarah.


"Terserah apa kata kamu Sarah. Tapi aku memang benar-benar sudah menyerah dengan hubungan ini. Lebih baik kamu mencaci ku saat ini dari pada aku harus menerima akibatnya di kemudian hari" Tegas Radian.


"Cih.. Dasar sok suci!!" Cibir Sarah.


"Lalu bagaimana nasib restoran ku saat ini. Kenapa bisa Erland mengambilnya begitu saja?? Apa dia menemui mu??" Sarah teringat dengan sumber keuangannya itu.


"Aku tidak tau yang pasti dia mengutus orang untuk mengurus semuanya"


Sarah menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya itu rasanya sudah ingin pecah. Rasanya tidak sanggup untuk menghadapi Erland saat ini.


"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku masih ada pekerjaan" Ucap Radian kembali membelakangi Sarah.


"Cek.." Sarah berdecak kesal karena di usir secara terang-terangan.


"Baiklah, aku akan menerima keputusanmu. Asalkan kamu tetap tutup mulut untuk semua hal yang kamu tau dari aku" Ucap Sarah yang akhirnya pasrah.


"Aku bukan pria yang suka membuka aib orang lain" Jawab Radian tak mau berbalik.


Sarah menghentakkan kakinya dengan kesal karena merasa di acuhkan oleh Radian. Wanita itu akhirnya menyerah, dia membiarkan Radian memutuskannya begitu saja dengan alasan yang belum bisa di terima Sarah.


Dari balik jendela, Radian masih terus melihat Sarah yang pergi meninggalkan rumahnya.


FLASHBACK ON


"Kakak masih mau melanjutkan hubungan Kakak dengan Mbak Sarah??" Tanya Alisa dengan matanya yang memerah karena terus-terusan menangis.


"Susahlah Alisa, kita sudah pernah membahasnya kan??" Radian sangat malas sekali jika Alisa membahas hubungannya dengan Sarah.


"Kak, apa Kakak ingat pesan Ibu dan Ayah saat mereka masih hidup??" Alisa menatap lurus ke depan dengan pelupuk matanya tergenang air mata.


Radian mengangguk dan memandang wajah lesu Alisa.


"Bapakmu pernah bilang kalau Kakak harus jadi pria baik, bertanggung jawab dan juga menjadi panutan untukku sebagai satu-satunya keluargamu. Tentu saja Kakak ingat betul kan??" Radian kembali mengangguk.


"Tapi kenapa Kakak sekarang jadi pria jahat?? Dan bagaimana aku harus menganut Kakak kalau Kakak saja tidak pantas di jadikan panutan untukku?? Aku kasihan sama Bapak dan Ibu, pasti mereka kecewa di atas sana" Alisa menyeka air matanya yang bercucuran itu.


Sementara Radian tampak terdiam, tampaknya sedang mencerna ucapan Alisa itu.


"Kakak pernah berpikir nggak?? Seandainya Kakak ada di posisi suaminya Mbak Sarah?? Di khianati dan di manfaatkan istri dan mantan pacar istrinya sendiri" Alisa menjeda kata-katanya, lalu berdiri di depan Radian.


"Atau Kakak bayangkan saja jika Mbak Sarah itu aku. Apa Kakak mau punya adik seorang pembohong dan juga berhubungan dengan dua laki-laki secara bersamaan?? Apa Kakak tidak malu??"


Semua perkataan adiknya itu seakan menjadi pukulan yang amat keras bagi Radian.


"Tapi terserah sama Kakak kalau masih mau menjalin hubungan dengannya. Tapi maaf, aku nggak bisa lagi hidup dengan Kakak. Mungkin Kakak tidak takut nyang namanya kualat atau karma. Tapi bisa saja semua itu akan jatuh kepadaku, keluargamu satu-satunya. Jadi lebih baik aku pergi jauh dari Kakak daripada terkena karma atas perbuatan yang Kakak lakukan" Alisa berputar meninggalkan kamar Kakaknya itu.


"Alisa!!" Radian mengentikan Alisa yang sudah memegang gagang pintu.


"Kakak akan mengakhiri semuanya. Tapi Kakak mohon jangan pergi. Di dunia ini Kakak hanya punya kamu. Kakak juga tidak mau kamu malu mempunyai Kakak seperti ini"


Alisa langsung berbalik dan berbalik memeluk Kakaknya. Air matanya kembali tumpah di pelukan Kakaknya.


"Makasih Kak, aku senang sekali"


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Keputusan yang Radian buat sudah sangat bulat. Mungkin sudah waktunya juga dia memikirkan masa depannya sendiri.


__ADS_2