Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
129. Calon mertua


__ADS_3

"Nggak usah gugup. Mamaku nggak bakalan gigit kamu kok"


Yovi kali ini benar-benar membawa Beca ke rumahnya. Perkataannya waktu itu memang serius jika ingin bertanggung jawab. Namun Beca selalu menghindar jika Yovi ingin mengenalkan Beca kepada orang tuanya.


"Aku bukan takut karena itu. Tapi aku ragu kalau orang tua kamu mau menerima aku yang tidak jelas asal usulnya seperti ini"


Yovi terperangah mendengar ucapan Beca. Kemana hilangnya kepercayaan diri Beca saat mengajaknya menikah waktu itu. Kenapa sekarang dia justru ragu sendiri.


"Beca dengarkan aku. Aku dan keluargaku tidak pernah memandang status sosial seseorang. Mama dan Papa hanya ingin menantu yang bisa menerima aku dan keluargaku apa adanya. Untuk urusan harta dan tahta yang kita miliki hanyalah sementara. Pada akhirnya semua juga akan mati tanpa membawa apapun. Jadi jangan berpikir terlalu jauh. Ada aku, kamu tenang saja"


Yovi menggenggam tangan Beca untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah megah dan mewah itu. Rumah yang tak jauh berbeda dengan rumah Viola.


"Tapi Kak..."


"Beca, kamu pikir selama ini aku hidup sederhana tanpa menerima bantuan Papa untuk apa??"


Beca menggeleng. "Agar tidak ada yang mendekatiku hanya karena harta kedua orang tuaku saja. Yang kaya itu mereka bukan aku, aku itu tidak ada apa-apanya sama sekali"


"Bohong!! Kamu aja yang nggak mau buka hati karena udah ada Viola di hati kamu selama ini" Cibir Beca.


Jelas Beca tak percaya 100%, tampang Yovi yang begitu menjual serta gaji Dokter dan Dosen yang tak bisa di bilang sedikit tentu saja bisa menarik kamu hawa manapun. Mana mungkin tak ada wanita yang mendekatinya, kecuali Yovi sendiri yang tidak memberikan ruang untuk orang lain mengisi hatinya.


"Ya itu salah satunya" Yovi menggaruk tengkuknya.


"Tapi kenapa kamu mau menikahi ku?? Kamu awalnya menolak waktu aku ajak nikah, dan bisa saja aku nggak hamil kan??"


Beca malah jadi ragu sendiri di saat Yovi benar-benar mengajaknya menikah.


"Setelah aku pikir-pikir menikah sama kamu bukan ide yang buruk. Mana tau bisa membuat keturunan ku berkualitas unggul. Kamu cukup tinggi, putih, dan cantik layaknya wanita Korea. Ya bisa dong anakku nanti kaya oppa-oppa Korea kalau cowok" Yovi melirik Beca yang pipinya memerah, tampaknya dia mengingat sesuatu dari ucapan Yovi itu.


Beca memejamkan matanya. Dia bisa mengingat sekilas meski tak terlalu jelas saat dia memaki Yovi.


"Gimana?? Masih ada yang mau kamu tanyakan lagi?? Aku udah pegel nih berdiri di sini" Keluh Yovi.


"Tapi gimana sama perasaan kamu pada Viola?? Kita menikah tapi perasaan kamu terpaut pada perempuan lain. Aku sanksi pernikahan ini akan berjalan dengan baik" Wajah Beca langsung menyurut seketika.


"Ciee, ada yang mulai posesif nih" Goda Yovi.


"Apaan sih!!" Beca mendengus kesal.


Yovi kembali meraih tangan Beca menatap wanita berkulit putih mulus itu dengan begitu dalam.


"Aku tau kamu ragu dengan ku. Kamu takut kalau pernikahan ini akan sia-sia karena aku tidak bisa menerima kamu, begitu kan??" Beca mengangguk.


"Kita sama-sama tau kalau kita tidak saling mencintai satu sama lain. Tapi aku akan berusaha menerima kamu, belajar mencintai kamu. Kita pelan-pelan saja, saling terbuka dan saling menerima. Aku yakin perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kamu mau kan menikah denganku dan menjalaninya dengan ikhlas??"


Beca mendadak terharu mendengar permintaan Yovi itu.


"Jangan nangis dong!! Mau ketemu calon mertua masa make upnya luntur" Candaan Yovi membuat Beca terkekeh dengan air matanya.

__ADS_1


"Minta peluk bentar boleh nggak??" Ucap Beca sambil mengusap air matanya.


Yovi langsung merentangkan tangannya. Menyambut Beca yang masuk ke dalam dekapannya.


"Besok kalau udah nikah boleh peluk sepuasnya. Mau yang lain juga boleh" Bisik Yovi pada Beca.


Sementara Beca hanya mendengus saja dalam pelukan Yovi.


"YOVI!!"


Teriakan khas itu begitu melengking di telinga Yovi. Teriakan yang sudah Yovi hafal sejak kecil.


"Mama" Ucap Yovi langsung melepaskan pelukannya dengan Beca.


"Ngapain kamu peluk-pelukan di depan rumah kaya gini??" Wanita yang rambutnya di sanggul rapi itu berkacak pinggang dengan bola matanya uang melebar.


"Mama, kita masuk dulu. Nanti Yovi jelaskan"


Yovi menarik tangan Beca, kemudian tangan yang satunya dia gunakan untuk menarik tangan Mamanya.


"Kamu itu jarang pulang, tapi sekalinya pulang malah asik peluk-pelukan di depan pintu kaya gitu"


Omel Mama Yovi karena kesal dengan putranya itu. Biar Yovi sudah berkepala tiga tapi dia tetap anak kecil di mata wanita yang melahirkannya itu.


"Mah, udah dong. Yovi kesini mau kasih kabar gembira buat Mama. Tapi Mama malah ngomel kaya gini"


"Kabar gembira?? Kabar apa sayang??" Wajah Mama Yovi langsung berubah drastis menjadi berbinar dan penasaran.


"Ini ya kabar gembira yang Yovi maksud. Yovi bawa calon mantu buat Mama" Jawab Yovi sambil menaik turunkan alisnya.


"Ma-maksud kamu??" Mama Yovi bahan menganga tiga jari.


Yovi menggenggam tangan Beca lalu menarik nafasnya dengan dalam.


"Yovi mau minta restu Mama, Munggu depan Yovi mau menikahi Beca" Ucap Yovi dengan begitu lantang.


"Apa?? Menikah??"


"Iya Ma"


Sementara Beca yang sejak tadi tak bisa menyembunyikan kegugupannya terus meremas tangan Yovi yang menggenggamnya.


"Kamu baru pertama kali membawanya ke hadapan Mama tapi kamu sudah mau menikahinya?? Bahkan Mama saja belum tau namanya siapa"


Mama Yovi sudah tampak mengerikan di mata Beca. Ternyata menghadapi calon mertua memang semengerikan itu.


"Namanya Beca Ma. Dia temannya Viola dari Korea, Viola adiknya Vino. Yovi kenal sama dia kurang lebih udah beberapa bulan ini. Tapi baru kali ini bisa ngajak dia ketemu Mama setelah kita mutuskan untuk menikah" Jelas Vino.


"Korea?? Kamu dari Korea??" Tanya Mama Yovi untuk pertama kalinya pada Beca.

__ADS_1


"I-iya Tante. Tapi Ayah saya dulu dari Indonesia dan Ibu sayang yang berasal dari sana"


Mama Yovi langsung mendekat pada Beca yang duduk di samping Vino.


"Waaahhh.. Akhirnya kamu mewujudkan impian Mama selama ini Vi. Mama selalu bayangin punya mantu cantik kaya di drakor-drakor yang Mama tonton. Tapi sekarang kesampaian juga" Mama Yovi memandangi Beca dengan mata berbinar-binar.


"Astaga Mama. Beca ini bukan artis Korea Ma" Yovi menepuk jidatnya.


"Tapi lihatlah dia Vi. Cantik, tinggi dan putih bersih. Pokoknya persis banget sama yang ada di Tv" Mama Yovi masih mengagumi sosok Beca. Tak ayal itu membuat Beca hanya bisa menunjukkan senyum canggungnya saja.


"Tapi...." Mama Yovi langsung menatap Yovi dengan tajam.


"Apa Ma??" Yovi sedikit ketakutan dengan tatapan mata Mamanya itu.


"Kenapa kamu pingin cepat-cepat menikah?? Jangan-jangan kalian sudah.." Mama Yovi memicing tajam pada anaknya itu.


"Yovi khilaf Ma" Yovi meringis siap menerima amukan Mamanya.


"Dasar anak nakal!!" Telinga Yovi langsung jadi sasaran Mamanya.


"Mama selalu mendesak kamu agar cepat menikah itu bukan tanpa alasan Yovi!! Mama tau kalau kamu itu pasti bisa kebablasan. Kamu pria normal dan pasti butuh pelampiasan untuk hasrat kamu itu. Makanya kalau di kasih tau orang tua itu nurut!!" Mama Yovi menjewer telinga Yovi dengan sekuat tenaganya.


"Awww ampun Mama. Sakit Ma" Wajah Yovi sudah sangat memerah menahan rasa sakitnya.


"Tante, sudah Tante. Maafkan kami, kami melakukannya saat dalam pengaruh alkohol. Jadi bukan salah Kak Yovi sepenuhnya" Beca memohon pada Mamanya Yovi agar melepaskan pria yang sudah kesakitan itu.


"Apa?? Jadi kalian berani menyentuh minuman seperti itu??" Mama Yovi justru semakin marah mendengar penjelasan Beca.


"Maaf Tante. Waktu itu Kak Yovi menolak saat Beca mengajaknya menikah. Jadi Beca frustasi lalu mencoba minuman itu. Dan paginya kita baru sadar kalau kita melakukan hal itu" Jelas Beca lagi.


"Itu kan kamu yang mabuk, tapi dia sadar sepenuhnya kan??"


"Iya Ma, Yovi sadar. Yovi sudah bilang kalau Yovi khilaf" Yovi masih mengusap telinganya yang rasanya hampir putus.


"Dan apa Beca bilang tadi?? Kamu menolak ajakannya untuk menikah?? Kamu mau jadi bujang lapuk hah??" Mama Yovi kembali berkacak pinggang.


"Enggak Ma, waktu itu kita cuma lagi ada masalah aja. Tapi ternyata Beca nanggepinnya serius" Dusta Yovi yang mendapat tatapan tajam dari Beca.


"Oh Kim Ji Won ku. Maafkan anak Mama yang menjadikan kamu sebagai pelampiasan naf su anak Mama yang bandel ini ya??" Mama Yovi mencakup kedua pipi mulus Viola.


Beca sampai terheran-heran. Di usianya saat ini, Mamanya Yovi justru mengalami mood swing.


"Beca nggak papa kok Tante" Ucap Beca pelan, dia sebenarnya masih takut dengan Mamanya Yovi.


"Ma, namanya Beca bukan kim kim apa tadi" Protes Yovi.


"Ya terserah Mama. Menurut Mama dia mirip sama artis Korea itu" Mamanya Yovi masih mengagumi wajah mulus Beca yang tampak seperti tidak ada pori-porinya itu.


"Ma, jadi intinya Mama merestui kita nggak??" Yovi sudah sangat jengah karena Mamanya yang tergila-gila dengan drama Korea itu.

__ADS_1


"Ya udah, minggu depan kalian nikah!!"


__ADS_2