
"Abang kangen Vi"
Suara rendah yang tertahan itu berbisik di telinga Viola yang berada dalam pelukan si pemilik suara.
Setelah cukup lama hingga Erland puas menghirup aroma tubuh Viola dalam-dalam, barulah Erland melepaskan Viola.
Tangan Erland membelai lembut wajah yang masih tampak terkejut akan kedatangannya itu. Pasalnya tidak mengatakan jika akan pulang hari ini.
"Abang kangen sama kamu Vi, rasanya mau mati menahan rasa ini. Kamu sudah begitu jauh merasuki hati dan pikiran Abang Vi. Abang tidak peduli lagi mau kamu percaya atau tidak tapi Abang sudah yakin kalau Abang mencintaimu. Abang mencintai kamu, Viola"
Deg..
Viola masih terus menatap Erland yang sedang menatap inci demi inci wajahnya itu.
"Selama di sana, hanya kamu yang ada di pikiran Abang. Sampai Abang merasa menjadi suami yang tak adil karena mengabaikan Sarah yang ada di samping Abang. Tapi mau bagaiman lagi, bayangan kamu selalu muncul apalagi di saat mata Abang terpejam. Apalagi kamu yang tidak mau mengangkat panggilan Abang sama sekali, itu membuat Abang menggila Vi. Setidaknya ijinkan Abang untuk mendengar suara kamu sedikit saja. Tapi sungguh tega kamu menyiksa Abang dengan rasa rindu ini Vi" Air mata Erland mengalir dengan tak tau malu.
Pria itu tak sanggup lagi menahan perasaannya di depan Viola. Apalagi setelah berhasil melihat wajah cantik itu lagi, perasaannya semakin meluap-luap tak terkendali.
"Sekarang Abang tau kan, rasanya menahan rindu seperti apa?? Ini baru sepuluh hari Bang?? Lalu bagaimana dengan ku yang sepuluh tahun, tanpa boleh menghubungi kamu sama sekali. Tersiksa kan Bang??" Viola dengan tenang membandingkan perasannya saat itu.
Erland hanya bisa mengangguk, merutuk dirinya sendiri yang sudah memberikan siksaan rindu itu pada Viola. Dirinya sendiri saja sudah seperti orang tidak waras. Mungkin jika Erland yang berada di posisi Viola, Erland sudah benar-benar gila.
"Sungguh Abang menyesal Vi, kini di setiap hembusan nafas Abang hanya terselip kata maaf untuk mu. Abang memang pria b*rengsek yang dengan mudahnya meminta cintamu kembali Vi"
Erland beralih pada tangan Viola yang masih tak bergeming, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Bahkan dengan berani Erland mulai mendaratkan bibirnya di punggung tangan yang tanpa penolakan itu.
Mata mereka berdua kembali bertemu, meski tak bisa membaca sorot mata Viola, Erland tak peduli. Yang pasti dia sudah yakin dengan perasaannya kali ini. Erland tak pernah menyangka sebelumya jika perasaanya akan tumbuh secepat itu.
Mungkin benar, jika kita ikhlas menjalani takdir kita, maka Allah akan meyakinkan hati kita. Menunjukkan perasaan yang dulu tidak pernah ada, bahkan yang mustahil pun akan dengan mudah Allah munculkan.
__ADS_1
"Viola, Abang mencintai kamu" Sekali lagi Erland mengungkapkan perasaanya yang belum mendapat jawaban itu.
Deg..
Deg..
Deg..
Jantung Viola kembali bereaksi setelah ungkapan cinta yang pertama tadi sempat membuat jantungnya bermasalah.
Erland semakin mengikis jarak di antara mereka. Menyingkirkan senti demi senti, hingga mereka berdua bisa merasakan hembusan nafas dari keduanya.
Permukaan bibir Erland mulai menyentuh bibir lembut berwarna merah muda itu. Erland hanya membiarkannya saling menempel selama beberapa detik saja, karena Erland bisa merasakan tubuh Viola yang menegang.
Karena tak ada penolakan sama sekali, Erland mulai mengge rakkan bibirnya. Me**matnya dengan begitu lembut meski Viola tak juga membalasnya.
Viola lekas memejamkan matanya, membuka sedikit bibi rnya untuk memberikan akses bagi Erland.
Merasa mendapatkan ijin dari wanita yang kini dicintainya itu, Erland mulai memperdalam c*umannya. Menarik pinggang Viola hingga menem pel sempurna pada tubuhnya.
L*matan yang tadinya lembut kini mulai menuntut. Menimbulkan gejolak aneh pada tu buh Viola. Perut bagian bawahnya seperti tergelitik oleh ribuan kupu-kupu.
Erland dengan piawai menuntun Viola untuk membalas sentuhan bibi rnya. Dengan itu Erland bisa tau kalau istrinya itu belum pernah melakukannya sebelumnya. Senyuman kecil terbit di bibir Erland mengetahui dialah yang mengambil ci uman pertama Viola.
Semakin lama mereka semakin hanyut menikmati hal yang baru pertama kali mereka lalukan. Erland semakin mendesak ma suk mengabsen seluruh bagian mu lut Viola. Hingga Erland melepaskan tau tan mereka, dan sedikit menjauhkan wajahnya. Menatap Viola dengan tatapan mendamba dan penuh kabut gel ora.
"Bolehkan Abang memintanya sekarang sayang??"
Panggilan sayang itu membuat hati Viola berdesir sampai ke ubun-ubun. Karena badan mereka yang menempel, Viola juga bisa merasakan sesuatu mulai mengeras di bawah sana.
__ADS_1
Viola hanya mempu menjawab Erland dengan anggukan kepalanya saja. Namun itu saja sudah membuat Erland langsung mendorong Viola terus kebelakang hingga mereka berdua ambruk di ranjang mereka.
Tanpa memberi kesempatan bagi Viola untuk merubah posisinya yang sudah di kungkung oleh Erland. Pria yang sudah terbakar g*irah itu langsung menya mbar bibir manis itu lagi.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu lama hilang begitu saja saat di berikan obat yang begitu mujarab dari Viola. Seakan tubuh Erland kembali segar bugar saat dengan gagahnya menin dih Viola.
"Abang akan pelan-pelan, Abang janji"
Viola yang baru ingin melepaskan mahkotanya yang selama tiga puluh tahun ini ia jaga merasa gugup dan ketakutan.
Setelah tiga tahun pernikahan mereka, dan juga tiga tahun perpisahan mereka. Kini mereka berdua sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Erland merasa bangga menjadi pria yang dulu begitu di cintai Viola. Tapi bukan hanya itu, Erland juga amat bahagia karena dia menjadi yang pertama untuk Dokter cantik berstatus istrinya itu.
"Terimakasih sayang" Erland mencium pucuk kepala Viola setelah berhasil mengatur nafasnya yang memberubu setelah pele pasan mereka berdua.
"Jangan pernah protes kalau Abang memanggilmu seperti itu mulai sekarang"
Viola tak menjawab apapun, entah itu penolakan atau persetujuan. Dia hanya mampu memejamkan matanya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Baginya mengeluarkan suara saja rasanya sudah tak mampu.
Erland menyusupkan tangannya ke pinggang Viola memeluknya dengan dengan begitu erat. Memejamkan matanya tanpa berniat membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu.
Mereka berdua sungguh kehabisan tenaga setelah permainan mereka. Terutama bagi Viola yang baru pertama kali melakoninya.
Sementara di kamar lainnya Sarah hanya bisa pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa ketika Erland langsung menghampiri Viola saat baru saja menginjakkan kaki di rumahnya.
Jika Sarah kembali menunjukkan protesnya dan sikapnya yang kasar, bisa-bisa Erland kembali mendiamkannya.
Untuk saat ini Sarah akan menuruti apa kata Erland terlebih dulu, sebelum dia mencari celah untuk merebut Erland seutuhnya. Dari dulu apa yang menjadi milik Sarah hanyalah milik Sarah. Tak pernah mau di bagi dengan siapapun juga.
__ADS_1