
"Huekk..Huekk.."
Erland yang baru saja turun dari kamarnya mendengar suara Viola di kamar mandi belakang.
Viola sedikit terkejut karena tiba-tiba ada yang memijat tengkuknya dengan lembut.
"Kamu kenapa sayang?? Kamu sakit??" Erland terlihat begitu khawatir dengan keadaan Viola yang sudah terlihat pucat pasi.
Pagi ini sudah lebih dari lima kali Viola bolak balik ke kamar mandi untuk menguras isi perutnya.
"Nggak papa Bang"
Tangan Erland merapikan rambut Viola yang berantakan dan sedikit basah karena terkena air dari wastafel.
"Huek.. Huekk.."
"Sayang, kita harus ke rumah sakit sekarang!! Nggak papa gimana kalau kamu terus seperti ini" Erland sudah memegang bahu Viola, ingin menuntunnya keluar dari kamar mandi.
"Nggak papa Bang, ini wajar kok. Biasanya kalau orang hamil emang kaya gini tiap pagi" Jawab Viola dengan tenang.
"Ya udah ayo keluar, Abang buatkan teh hangat" Viola mengangguk menurut.
"Tunggu!!" Sepertinya Erland menyadari sesuatu.
"Ha-hamil?? Ka-kamu hamil??" Jantung Erland hampir saja terluas karena sempat tak menyadari dengan apa yang Vuola katakan.
Viola mengangguk tanpa ragu, melihat rekasi Erland yang seperti itu sebenarnya cukup menggelikan bagi Viola.
"Ja-jadi Abang bakalan jadi seorang Ayah?? Benar begitu??" Viola kesal karena Erland masih saja bertanya meski sudah tau jawabannya.
"Iya Abang, sebentar lagi aku bisa kasih Ibu cucu" Jelas Viola agar suaminya itu benar-benar percaya.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih sayang" Erland memeluk Viola dengan begitu Erat. Bahkan sampai Viola tidak memijakkan kakinya ke lantai karena Erland dengan mudah mengangkat tubuhnya.
"Abang lepaskan!! Aku tidak bisa bernafas!!" Pekik Viola.
"Maaf, apa Abang menyakitinya??" Erland langsung berjongkok dengan wajahnya tepat di hadapan perut Viola.
"Tidak, dia tidak papa" Melihat Mami dan Ibu mertuanya bahagia menyambut kehamilannya, ternyata lebih bahagia lagi setelah melihat reaksi suaminya.
"Apa benar dia sudah tumbuh di dalam sini sayang??" Erland meraba perut Viola dengan begitu lembut.
"Sudah, kemarin aku sudah memastikannya" Erland langsung kembali berdiri dan menatap Viola dengan kecewa
__ADS_1
"Kamu sudah periksa ke Dokter tapi nggak ngajak Abang?? Kamu bahkan baru kasih tau Abang sekarang. Mungkin kalau Abang nggak dengar kamu kamu mual, kamu nggak akan kasih tau Abang ya??"
"Yang penting kan sekarang udah tau" Jawab Viola acuh.
Erland menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lalu tanpa berkata apapun dia pergi begitu saja meninggalkan Viola yang merasa salah mengucapkan sesuatu yang menyinggung Erland.
"Bang!!"
Viola keluar mencoba untuk mengejar Erland, namun pria itu tak menghiraukannya. Bahkan panggilan Viola saja tidak membuatnya berhenti.
Erland sudah terlanjur naik ke lantai dua, sementara Viola sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke sana. Dia tidak mau menginjakkan kakinya dia area Sarah.
Akhirnya Viola memilih membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke kampus sembari menunggu Erland turun untuk sarapan.
Satu jam kemudian, tepat saat jam sarapan tiba. Viola kembali keluar, menemui Erland untuk menjelaskan apa alasan Viola tidak memberi tahu Erland sejak kemarin.
Tapi Viola menatap meja makan yang kosong, tidak ada satu orang pun di sana termasuk Sarah.
Hanya ada Bi Tum yang terlihat sibuk mencuci piring di dapur.
"Bi, Bang Erland belum turun ya??" Tanyanya pada asisten rumah tangganya itu.
"Loh, bukannya bapak sudah berangkat dari tadi ya Bu??"
"Memangnya kenapa Bu??"
"Nggak papa kok Bi, ya udah saya juga pergi dulu" Viola juga memilih tidak sarapan, perutnya sama sekali belum bisa menerima makanan pagi ini.
"Gue denger lo hamil ya??" Sarah turun dari tangga dengan wajahnya yang angkuh.
"Kenapa?? Bang Erland sudah kasih tau lo kan??" Siapa lagi selain Erland yang akan memberitahu Sarah tentang kehamilannya itu.
"Jangan besar kepala dulu lo, mentang-mentang baru sebentar kalian bersama tapi langsung hamil"
Viola hanya mengerlingkan matanya saja. Memupuk kesabaran dalam harinya agar tidak terpancing dengan Sarah. Viola ingat jika dia sedang hamil.
"Terus kenapa?? Iri??"
"Oohh sama sekali tidak. Gue justru seneng lo bisa hamil secepat ini. Karena secepatnya lo akan di buang begitu anak itu lahir. Ingat Viola, yang dicintai Mas Erland itu cuma gue. Dia mempertahankan lo hanya karena ingin anak dari lo. Harusnya lo mikir" Sarah menyeringai tajam pada Viola.
"Benarkah?? Lalu kenapa Bang Erland selalu bilang dia mencintai gue?? Manggil gue dengan sebutan manis, sementara sama lo gue nggak pernah dengar. Harusnya lo mikir juga!!" Berbeda dengan Sarah yang yang menatap Viola dengan sengit, Viola justru terlihat santai menghadapi Sarah.
"Lo bilang nggak iri sama gue, tapi di jidat lo yang kinclong itu tertulis dengan jelas kalau lo iri, ketar-ketir kan karena gue bisa mengandung anak Bang Erland secepat ini?? Sebenarnya lo yang takut di buang kan??" Balasan demi balasan di berikan Viola dengan telak.
__ADS_1
"Gue nggak takut sama sekali. Karena walaupun lo bisa kasih keturunan untuk suami gue, tapi gue lebih segalanya dari lo!!"
Viola menahan tawanya mendengar pernyataan yang sangat menggelikan itu dari Sarah.
"Oh ya?? Gue hargai kepercayaan diri lo itu. Biasanya orang yang udah putus asa memang harus menyemangati dirinya sendiri" Viola langsung pergi meninggalkan Sarah yang wajahnya sudah merah padam itu.
*
*
*
Selama di kampus, Via tampak sangat gelisah. Biasnya dia tidak pernah peduli jika perkataannya akan menyakiti Erland. Tapi kali ini berbeda, melihat Erland yang mengabaikannya dan pergi begitu saja, rasanya jadi tak tenang.
Viola kembali melihat ponselnya, taka ada pesan balasan sama sekali dari Erland.
"Kenapa jadi takut kaya gini kalau dia marah??" Gumam Viola seorang diri.
"Kamu ngomong sendiri Vi?"
Yovi sudah duduk di sebelah Viola dengan menyodorkan sekotak susu strawberry kesukaan Viola.
"Makasih Kak"
"Kamu kok belum pulang??" Yovi meneguk habis habis minuman kaleng yang di bawanya.
"Rencananya mau ke perpustakaan sebentar. Tapi capek banget rasanya. Kayaknya besok aja deh" Keluh Viola yang mulai merasakan kepalanya pening.
"Di minum dong" Yovi merebut susu kotak yang tadi diberikannya, lalu menusukkan pipet untuk Viola.
"Makasih Kak" Sudah dua kali Yovi mendengar kata itu dadi Viola.
Tapi baru saja susu rasa strawberry itu memasuki mulutnya, Viola langsung memuntahkannya kembali.
"Kamu kenapa Vi?? Nggak enak ya?? Udah basi??"
Viola menggeleng dengan lemas. Perutnya mulai bereaksi lagi.
"Aku cuma nggak tahan sama baunya Kak" Yovi merasa heran, bukannya dari kemarin-kemarin Viola suka sekali dengan minuman kemasan kotak itu. Tapi kenapa hari ini menjadi aneh.
"Biasanya kamu juga nggak ada masalah kan sama minuman itu??"
"Biasa Kak, hamil muda emang hidungnya sedikit bermasalah"
__ADS_1
"Ha-hamil??" Dunia Yovi seakan runtuh seketika.