Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
55. Dessert


__ADS_3

"Nanti sore Abang jemput ya??" Ucap Erland ketika sudah sampai di depan kampus Viola.


"Iya-iya, udah berapa kali sih bilang kaya gitu!!" Viola sampai bosan mendengar Erland terus mengatakan itu setiap kali mengantarkan Viola.


"Ya siapa tau kamu mau pulang bareng cowok lain" Viola langsung melirik Erland tajam.


"Udah deh, aku nggak mau ribut" Ketus Viola.


"Iya maaf. Kamu hati-hati ya, jangan capek-capek, kalau.."


"Kalau ada apa-apa hubungi Abang. Gitu kan??" Viol langsung memotong ucapan Erland dan melanjutkannya sendiri.


Erland terkekeh geli karena Viola yang menirukan gayanya berbicara. Bukannya marah Erland justru merasa gemas dengan Viola.


"Pinter banget istri Abang" Erland mengusap rambut panjang Viola dengan lembut.


"Udah ah, aku turun dulu. Sana berangkat, jadi bos tuh harusnya beri contoh yang baik untuk karyawannya. Jangan sering telat!!"


Erland gemas dengan bibir Viola mengerucut sambil terus berbicara.


Sebelum turun pun Viola langsung berinisiatif mencium tangan Erland tanpa disuruh. Mungkin karena Viola sudah mulai terbiasa melakukannya setiap ingin turun dari mobil Erland.


"Nggak mau cium Abang dulu??"


Viola hanya melirik Erland kemudian mencebikkan bibirnya saja sebagai tanda penolakan.


Seperti biasa, Erland akan pergi dari sana sampai Viola tak terlihat lagi dari jarak pandangnya.


Melakukan hal kecil seperti itu membuat hati Erland begitu senang. Melihat istri cantiknya itu berjalan dengan anggun di antara orang-orang yang terus memandang ke arahnya, meski Viola tak pernah menyadarinya.


Erland baru sadar jika pesona istrinya itu tak dapat dia tolak saat ini. Buktinya hati Erland saja langsung di buat jungkir balik oleh Viola.


Apalagi belakangan ini Erland melihat wajah Viola yang semakin berseri setelah kehamilannya. Aura kecantikannya seolah semakin terpancar dari dalam. Erland bahkan tak pernah merasa bosan untuk berlama-lama memandangi wajah ayu itu.


Erland tersenyum kecil sebelum mulai menghidupkan mesin mobilnya. Sepertinya membayangkan senyuman Viola saja sudah bisa menaikkan moodnya hari ini.


*


*


*


*


"Mau aku antar Vi??"


Yovi dan Viola berjalan berdampingan keluar dari kampus.


"Makasih Kak, tapi Bang Erland sudah jalan kesini. Kak Yovi duluan aja"


Sebenarnya Viola belum menghubungi Erland sama sekali. Tapi dia juga tidak mungkin terang-terangan menolak tawaran Yovi.

__ADS_1


"Beneran nggak papa?? Aku temenin sampai Erland datang ya??"


"Nggak papa Kok Kak. Sebentar lagi pasti datang" Viola hanya tidak mau memicu perdebatan lagi. Jika nanti Erland datang dan melihat Viola hanya berduaan saja dengan Yovi, pasti Erland akan bertindak gila lagi karena cemburu.


"Bisa-bisa laki gue ngreog nanti" Batin Viola.


"Ya udah, aku duluan ya??" Yovi berjalan menjauh, menuju mobilnya.


Setelah Viola memastikan mobil Yovi keluar, dia juga mulai pergi dari tempatnya berdiri sebelumnya.


Sore ini rasanya Viola ingin makan sesuatu yang manis. Sebuah cafe yang menyajikan berbagai dessert menjadi tujuan Viola saat ini. Karena lokasinya yang lumayan dekat dengan kampus, Viola memutuskan untuk berjalan kaki.


Sekitar lima belas menit menapaki trotoar jalanan yang cukup ramai dengan mahasiswa, akhirnya Viola bisa melihat pintu cafe yang terbuat dari kaca itu.


Melihat gambar berbagai macam dessert yang manis itu sudah membuat Viola menelan air liurnya dengan susah payah.


"Mbak, saya pesan ini, ini, ini, ini, ini sama ini" Viola menunjuk gambar yang menurutnya sangat menggoda itu.


"Baik Kak, ada tambahan lain??" Tanya pelayan perempuan itu.


"Minumnya ini sama ini. Saya di meja nomor 8 ya" Tunjuk Viola pada meja yang terletak di paling ujung.


"Baik Kak, Mohon tunggu sebentar ya"


Viola hanya mengangguk lalu menuju meja yang telah di tunjuknya tadi.


Di sana hanya Viola yang duduk seorang diri, tak ada teman seperti meja-meja yang lain.


"Kamu di mana sayang?? Abang udah di depan kampus kamu"


"Di cafe x dekat kampus"


"Tunggu Abang di situ, jangan kemana-mana!!"


Erland langsung memutuskan panggilannya begitu saja setelah itu.


"Siapa kuga yang mau pergi, pesanannya aja belum datang" Gerutu Viola menatap ponselnya dengan kesal.


Tak sampai sepuluh menit Erland benar-benar tiba di sana. Pria tampan dengan setelan jasnya yang formal itu langsung duduk di hadapan Viola.


"Kamu udah lapar ya?? Nungguin Abang kelamaan??"


"Enggak, emang sengaja"


Erland ingin protes kenapa Viola tak memberitahunya sama sekali. Tapi di urungkan niatnya itu karena pesanan Viola yang datang.


"Apa pesanannya ada yang kurang Kak??"


"Tidak, terimakasih"


Erland sampai tak berkedip melihat banyaknya pesanan Viola itu.

__ADS_1


"Sayang, kamu yakin makan sebanyak ini?? Ini makanan manis semua loh. Kamu kan Dokter, harusnya kamu tau kan kalau nggak boleh terlalu banyak makan manis kalau sedang hamil"


Erland tidak mau terjadi apa-apa kepada kedua orang yang disayanginya itu tentunya.


"Nggak usah ceramah deh, siapa juga yang mau makan semuanya. Aku cuma mau nyicip aja satu-satu" Viola menatap tajam pada Erland.


Elrand benar-benar melihat Viola menyendok satu per satu makanannya. Hanya satu sendok setiap variannya.


"Sayang, yakin kamu cuma nyicip dikit aja?? Kan mubazir yank" Erland masih heran menatap Viola yang benar-benar tak menghabiskan satu pun pesanannya.


"Ya udah, kamu aja yang makan. Gampang kan??"


"Perut Abang nggak muat dong sayang. Walaupun Abang lapar tapi nggak mungkin habis juga. Bisa-bisa perut Abang buncit, nanti kamu nggak bisa cinta lagi sama Abang" Erlan ngeri membayangkan semua makanan itu masuk ke dalam perutnya sekaligus.


"Nggak punya duit aja aku suka apalagi cuma buncit" Gumam Viola.


"Kamu ngomong apa yank??" Erland tak mendengar jelas apa yang Viola katakan itu.


"Enggak, ini kakiku di gigit gajah" Celetuk Viola dengan asal.


"Terus ini nasibnya gimana??"


"Ya udah makan aja beberapa, terus yang lainnya di bungkus. Tapi kamu yang bayar ya?? Sekarang udah banyak duit kan??"


"Iya Abang yang bayar. Banyaknya uang abang juga nggak bisa menyaingi banyaknya uang keluarga kamu"


Erland sadar jika apa yang dia dapat sekarang ini belum seberapa jika di bandingkan dengan keluarga Viola. Tapi keluarganya tak pernah memandang rendah sekalipun pada Erland.


"Nggak usah merendah gitu. Emangnya yang kamu dapat sekarang masih kurang?? Masih sama ambisiusnya kaya dulu ternyata"


Dulu impian Erland hanyalah mendapat uang yang banyak untuk menyekolahkan adik-adiknya dan membahagiakan Ibunya.


"Sudah lebih dari cukup untuk Abang sayang. Tapi kehidupan terus berjalan, takutnya Abang nggak bisa menafkahi kamu lagi. Roda kan terus berputar. Abang pernah di posisi paling bawah, Abang juga tidak merasa di atas untuk saat ini. Hanya Abang mencoba mempertahankannya"


Viola terdiam, dia juga pernah merasakan roda kehidupan itu sendiri.


"Oh ya, kamu kan mau bangun klinik di sini, Abang bisa bantu kamu berapa??" Erland meraih sendok yang ada di tangan Viola. Lalu mulai menyendok dessert berwarna ungu ke dalam mulutnya.


"Aku punya uang sendiri. Kalaupun butuh dana, aku bakalan cari produk yang mau kerja sama denganku nantinya"


Viola tak suka Erland memandangnya sebelah mata dengan meminta bantuan kepadanya. Walaupun Erland adalah suaminya sendiri.


"Bukan begitu yank, Abang hanya berusaha adil sama kamu dan Sarah. Karena Sarah baru saja mendirikan sebuah restoran dengan uang Abang. Jadi Abang juga mau memberikan bantuan sama kamu"


"Apa?? Kamu kasih uang sama Sarah dengan jumlah yang besar untuk mendirikan restoran??"


Pantas saja beberapa hari ini Viola sering melihat Sarah bepergian hingga pulang larut malam.


"Iya, katanya dia butuh pelarian karena dia terus kepikiran dengan kamu yang bisa hamil secepat ini sedangkan dia tidak"


"Bodoh!!" Batin Viola.

__ADS_1


__ADS_2