Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
82. Rahasia


__ADS_3

Malam yang begitu gelap karena tertutup awan mendung menemani perjalanan Viola dan Erland dari rumah gendis. Gelapnya langit di luar sana yang tak diterangi cahaya bulan sama seperti gelapnya aura di dalam mobil Erland.


Tangis Erland di depan Viola tadi ternyata belum bisa mengubah kerasnya hati Viola. Jika saja tidak karena Gendis, Viola juga enggan duduk di mobil berdampingan dengan Erland seperti sekarang.


"Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?? Hal sepenting apa sampai-sampai tidak ada yang boleh tau" Batin Viola.


FLASHBACK ON


Viola sudah selesai dengan makan malamnya, kemudian dia kembali naik ke atas untuk mengambil tas dan barang-barangnya, karena sebentar lagi ia dan Erland akan segera pulang.


Tapi sebelum Viola membuka kamar Erland, samar-samar dia mendengar suara orang sedang berbincang.


Viola melihat pintu kamar di seberang sedikit terbuka. Karena rasa penasarannya Viola mendekat dengan memelankan langkahnya.


Mata Viola mengintip dari celah pintu yang terbuka. Benar saja tebakannya jika yang ada di dalam sana adalah suaminya dan adik iparnya.


"Apa yang sedang mereka bicarakan??" Batin Viola.


"Kamu sudah dapatkan semuanya kan Ed??" Tanya Erland pada adiknya itu.


"Sudah Bang, semuanya ada di sini" Edgar menyerahkan amplop besar berwarna coklat pada Erland.


"Bagus, tapi Abang minta maslaah ini jangan sampai bocor ke siapapun dulu. Tunggu Abang sendiri yang akan menyelesaikannya" Erland menggenggam erat amplop dari Edgar itu.


"Iya Bang, aku ngerti"


Viola segera berbalik pergi dari sana. Takut jika Erland akan melihat keberadaannya.


"Apa isi amplop itu sebenarnya?? Kenapa mereka berdua seolah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting??" Gumam Viola setelah berhasil masuk ke kamar Erland dengan selamat.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Viola terus memikirkan hal itu, dia baru tau kalau suaminya punya sesuatu yabg sangat penting atau bisa di bilang rahasia karena tak boleh ada yabg tau sama sekali.


"Jika itu masalah pekerjaan, kenapa harus di rahasiakan begitu dari keluarganya. Aku yakin kalau itu pasti menyangkut salah satu dari kita. Tapi apa??" Pikiran Viola terus berpusat pada rahasia Erland itu.


"Lalu apa isi dari amplop coklat itu?? Apa aku harus mencari tau sendiri?? Tapi sepertinya tadi Bang Erland tidak membawanya pulang. Atau Bang Erland sengaja meninggalkan bukti itu di rumah Ibu agar aku tidak bisa melihatnya??" Viola terus berbicara di dalam hatinya.


"Sayang, kenapa kamu tidak bicara sama Abang dulu tentang maslaah tujuh bulanan tadi?? Abang kan suami kamu, Ayah dari janin yang di kandung kamu. Jadi sudah harusnya Abang tau lebih dulu kan??"


Pertanyaan Erland itu langsung membuyarkan pikiran Viola.


"Tadi aku sudah bilang alasannya kenapa kan?? Jadi kenapa harus tanya lagi??" Viola memalingkan wajahnya pada Erland sekejap.


"Tapi bukan hanya karena itu kan yank?? Abang tau kamu masih marah dan kecewa sama Abang, itu alasan yang benar kan??" Desak Erland.


"Udah tau pakai nanya" Ketus Viola.


Erland kira, setelah dia menjelaskan semuanya pada Viola, akan ada setitik harapan untuk kembali berdamai dengan Viola. Tapi nyatanya tidak sama sekali, Viola masih tetap sama.


"Stopp!!" Viola menghentikan ocehan Erland itu.


"Aku sebenarnya tidak peduli mau kamu menyentuhnya berkali-kali atau tidak toh dia juga istrimu. Dari dulu juga kamu sudah menjamahnya bukan?? Tapi kenapa harus berbohong?? Kenapa harus mengatakan kalau kamu sudah tidak berniat menyentuhnya?? Apa kamu ingin menarik simpati ku dengan cara murahan seperti itu??" Amarah yang di pendam satu bulan oleh Viola akhirnya keluar juga.


"Astaghfirullah, Abang tidak pernah berniat seperti itu yank!!" Tegas Erland.


"Niat atau tidak yang jelas itu sudah membuat ku paham bagaimana dirimu yang sesungguhnya"


Erland menepikan mobilnya, dia tidak bisa berkonsentrasi mengemudi dalam keadaan seperti itu.


"Apa yang kamu paham dari Abang?? Apa yang sudah berhasil kamu simpulkan?? Apa Abang ini pria b*hat yang suka mengumbar janji begitu?? Atau Abang ini tidak lebih dari seorang pembohong ulung di mata kamu begitu??"


Dua pasang mata itu saling menatap dengan kilatan tajam masing-masing.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa?? Memang sudah berulang kali kamu menunjukkan itu kepadaku!!"


Erland mengacak rambutnya dengan frustasi. Wajahnya memerah dengan rahangnya yang mengetat.


"Dengarkan Abang betul-betul Viola Tania, kebohongan Abang yang pertama itu karena Abang belum mencintaimu. Yang kedua karena Abang benar-benar lupa, lalu untuk yang ketiga Abang tidak tau sama sekali dengan apa yang terjadi malam itu"


Erland mengangkat tangan Viola hingga menempel di kepala Erland. Persis seperti yang Viola lakukan tiga tahun yang lalu di pernikahan Erland dan Sarah.


"Apa yang kamu lakukan??" Viola mencoba menarik tangannya namun Erland mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


"Abang bersumpah atas nama kamu Viola Tania Raharja. Kalau yang Abang katakan itu adaah kejujuran. Tidak ada satu niat pun Abang selipkan kebohongan diantaranya"


Mata Viola menajam namun menggenang dan basah hingga setitik ari matanya tergelincir dan turun melewati pipinya.


Saat itu juga Erland menarik Viola dengan sekali hentakan dan menyatukan bibir mereka.


Viola yang langsung tersadar mulai mendorong bahu Erland agar bisa menjauh darinya. Namun Erland sudah lebih dulu menahan tengkuk Viola agar memperdalam c*umannya.


Penolakan Viola sama sekali tak di hiraukan Erland. Dia justru semakin beringas seperti vampir yang menemukan darah sucinya.


Viola akhirnya menyerah dengan tenaga dan kekuatan Erland. Dia membiarkan Erland memainkan bibir dan lidah sesukanya, toh menolak pun Viola tidak akan bisa.


Viola hanya memberikan akses dengan membuka mulutnya tanpa berniat membalasnya. Hingga gerakan bibir Erland mulai lembur. Benar-benar menyusuri seluruh rongga mulut Viola.


Erland menghentikan aksinya itu saat dirinya mulai kesusahan mengatur nafasnya sendiri.


Seperti biasa, Erland tak langsung menjauhkan wajahnya. Dia lebih memilih menempelkan keningnya pada Viola. Merasakan hembusan nafas mereka yang saling beradu.


Jempol Erland mengusap sudut bibir Viola yang basah karena ulahnya.


"Tidak boleh marah, karena semua yang ada pada dirimu adalah milik Abang!!" Bisik Erland.

__ADS_1


"Memang semuanya milikmu, hingga aku sendiri tak mampu utuk menguasai hatiku sendiri" Jawab Viola dalam hatinya.


__ADS_2