
Susah satu minggu kepergian Erland dan Sarah. Sudah satu minggu pula Erland terus mencoba menghubungi Viola. Namun Entah mengapa, Viola sama sekali tidak pernah mau mengangkatnya.
Viola hanya akan memandangi ponselnya sampai berhenti berdering. Begitu juga dengan pesan-pesan yang tidak pernah di buka oleh Viola.
Bukan karena marah, tapi karena Viola tidak mampu mendengar suara Erland yang akan terus menghantuinya. Cukup wajahnya saja yang satu minggu ini selalu terlihat saat dia memejamkan matanya.
"Apa aku merindukannya?? Apa mungkin rasa benciku itu sudah hilang sepenuhnya hingga aku merasa seperti ini?? Apa benar kata orang jika benci dan cinta itu hanya berbeda tipis??" Batin Viola. Matanya terus tertuju pada ponselnya yang tak berhenti berdering itu.
"Kenapa nggak di angkat??" Yovi tiba-tiba sudah ada di belakang Viola.
"Males aja" Jawab Viola acuh. Dia tidak memberi tahu Yovi tentang kepergian Erland dan Sarah yang sedang berbulan madu.
Lagipula Viola juga tidak tau mereka pergi berlibur ke mana.
"Lagi marahan ya?? Masih sanggup bertahan sampai sekarang??" Yovi menyeruput minuman yang sudah di pesankan oleh Viola.
"Yaah, begitulah. Lihat saja aku masih di depan kamu dan sehat begini. Tandanya aku masih cukup kuat untuk bertahan" Ucap Viola dengan sedikit candaan.
"Kalau gini caranya, bisa pupus harapanku untuk mendapatkan jandamu" Keluh Yovi.
"Husshhh!! Kamu kok doain yang jelek-jelek sih Kak"
"Namanya juga berharap Vi"
Mereka menikmati makan siangnya di cafe dekat dengan kampus mereka. Beberapa hari ini memang Yovi sering mengajak Viola makan siang. Tak ada penolakan dari Viola sama sekali, karena dia hanya menganggap Yovi sebagai teman. Lain halnya dengan pria itu yang terus menaruh harapan besar pada Viola.
Erland tempak begitu gusar karena susahnya menghubungi Viola. Padahal dia selalu mencuri waktu dari Sarah untuk menghubungi Viola. Untuk sekedar mendengar suaranya yang begitu ia rindukan. Tapi Viola justru terlihat mengabaikannya. Tidak tau jika Erland begitu merindukan istri cantiknya itu.
"Mas, kamu sedang apa??" Sarah sudah melingkarkan tangannya di pinggang Erland dari belakang.
"Tadi ada telepon dari kantor" Sebisa mungkin Erland mengendalikan dirinya, agar Sarah tidak curiga dengan sikapnya yang sedang dilanda rindu.
Tangan Sarah mulai nakal, masuk ke dalam kaos yang di kenakan Erland. Meraba otot perut Erland yang terbentuk dengan sempurna. Sentuhan-sentuhan itu yang dulu membuat Erland langsung menyerang Sarah di atas ranjang. Namun kali ini berbeda. Ingin rasanya Erland menyingkirkan tangan Sarah dari tubuhnya, namun Erland tau itu akan menjadi boomerang untuknya.
__ADS_1
Erland tetap berusaha mengimbangi Sarah agar tidak membuat istrinya itu kecewa. Meski dalam bayangannya selalu muncul wajah Viola yang berada di bawahnya kali ini, Erland terus mengunci rapat mulutnya agar tak salah menyebut nama salah satu istrinya itu.
Erland merasa begitu berdosa pada Sarah. Karena mengkhianatinya secara tidak langsung. Ber**nta dengan Sarah namun dalam bayangannya hanyalah Viola.
Betapa Viola sudah masuk terlalu jauh ke dalam hati dan pikiran Erland hingga membuat Erland menjadi suami begitu naif. Berjanji untuk adil dan tetap mencintai keduanya dengan sama rata. Namun semakin kesini justru semakin terlihat berat sebelah.
Sarah terlihat sangat puas dengan permainan suaminya. Meski Erland tidak mau melanjutkannya meski Sarah menawarkan tubuhnya lagi, tapi Sarah sudah cukup bahagia.
"Kamu mau mandi dulu Mas?? Atau mau mandi bareng aja??" Sarah kembali menggoda suaminya.
"Aku duluan aja, aku sudah sangat lelah" Itu hanya alasan Erland saja.
Erland langsung menuju kamar mandi, membasuh tubuhnya yang tegap itu. Mendinginkan kepalanya yang rasanya sudah mau meledak. Tubuhnya bersama Sarah namun pikirannya bersama Viola.
Erland melihat ke bawah, di mana adik kecilnya sudah kembali lemas. Tadi adik kecilnya itu sempat tidak bisa bangun karena sentuhan Sarah. Tapi karena Erland yang terus membayangkan Viola yang memakai kemeja kebesaran miliknya waktu itu, adiknya bereaksi dengan cepat.
"Abang rindu Vi"
Viola baru saja pulang dari kampus, ada satu mobil yang tidak Viola kenali terparkir di depan rumahnya. Sempat memperhatikannya beberapa kali sebelum memilih masuk ke dalam rumah untuk mencari tau siapa pemilik mobil itu.
"Assalamualaikum Bi Tum!!" Ucap Viola sedikit keras.
"Oh ini ternyata madu yang di berikan Erland untuk anakku??"
Seseorang menyambut Viola dengan tangan yang bersedekap dan tatapan begitu meremehkan.
"Anda siapa?? Apa maksud anda berkata seperti itu??" Baru pertama kali Viola melihat orang di depannya itu.
Wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad, dengan gayanya yeng mentereng. Pakaian mahal, serta perhiasan yang menurut Viola terlalu berlebihan. Maminya saja yang punya satu lemari perhiasan tidak sepamer itu.
"Kamu belum tau siapa saya?? Saya adalah mertua dari suami yang menikahi kamu dengan paksa" Ucap wanita itu dengan sombongnya.
"Oohh, anda ternyata??" Rasti mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya, anda kan. Mertua yang numpang hidup sama menantunya??" Balas Viola dengan lebih kejam.
"Jaga bicara kamu, dasar perempuan tidak tau di untung!! Sudah di nikahi suami anak saya di saat kamu di abang kematian, tapi sekarang lagaknya seperti Nyonya besar!!" Rasti tersinggung dengan ucapan Viola.
"Memang saya Nyonya besar. Keluarga saya kaya raya. Bahkan lebih kaya dari menantu yang anda banggakan itu. Anda pikir saya tidak tau perhiasan, baju mahal, dan tas itu" Tunjuk Viola pada tas bermerk yang bertengger manis di atas meja.
"Di beli dengan uang siapa?? Jangan Sombong Nyonya. Seharusnya yang tau diri itu anda, anak anda yang tak bisa apa-apa itu sudah di jadikan istri oleh seorang pengusaha. Di bayarkan semua hutangnya, rumah yang anda tinggali saat ini juga sudah di tebus, tau kan yang tak tau di untung itu siapa??"
Tangan Rasti sudah berayun untuk menyapa pipi Viola. Namun dengan cepat Vioal bisa menangkisnya.
"Jaga batasan anda di rumah ini. Sekarang rumah ini bukan hanya milik anak anda yang bodoh itu, tapi juga milik saya!!" Tekan Viola pada wanita tua itu.
"Sombong sekali kamu. Mentang-mentang dari keluarga kaya. Tapi ingat satu hal, menantu saya tidak mencintai kamu sama sekali. Saya akan membuat Erland menjadikan anka saya satu-satunya ratu di rumah ini. Kamu yang hanya seorang selir akan di buang setelah itu" Mata tua yang keriput itu masih bisa melebar pada Viola.
"Ha.. Ha.. Ha.." Tawa Viola menggelegar di ruang tamu itu.
"Wajar kalau saya sombong karena itu uang saya sendiri. Sementara anda hanya bisa mengemis uang dari suami saya"
Rasti sudah ingin mengeluarkan suaranya namun di tahan dengan tangan Viola yang terangkat di depan dadanya.
"Dan apa tadi?? Menantu anda tidak mencintai saya??" Viola mengambil ponselnya.
Menunjukkan log panggilan yang puluhan kali tak di angkat itu. Viola juga terpaksa membuka pesan dari Erland yang sengaja tidak di bukanya itu.
"Lihat sendiri kan?? Bagaimana bisa orang yang tidak mencintai menelepon hingga puluhan kali. lalu anda bisa membaca ini kan??"
Rasti semakin marah karena merasa di rendahkan, di hinda dan di permainkan Viola.
"Viola, Abang sangat merindukanmu" Ucap Viola membaca salah satu pesan dari Erland.
"Apa aku perlu membalasnya dengan mengatakan jika aku juga merindukannya??"
Viola melihat Rasti yang wajahnya sudah memerah. Tanpa menunjukkan perlawanan lagi, wanita tua itu mengambil tasnya lalu pergi dari rumah yang memiliki dua Nyonya rumah itu.
__ADS_1