Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
49. Kedatangan Beca


__ADS_3

"Makasih ya Bang, udah anterin aku sama Ibu. Maaf ngerepotin" Endah berusaha menahan matanya agar tidak melihat pada pria yang begitu berkarisma itu.


"Iya Nak Vino. Makasih ya. Mau mampir dulu??" Tawar Gendis.


"Terimakasih Bu, saya masih ada urusan. Tidak perlu sungkan, saya nggak merasa direpotkan sama sekali kok"


"Ya sudah kalau begitu Nak Vino hati-hati ya. Salam buat Maminya"


"Iya Bu, pasti nanti saya sampaikan"


Setelah itu Gendis dan Endah keluar dari mobil Vino. Tanpa sepatah kata lagi, Endah langsung meninggalkan Vino yang belum juga pergi dari depan toko kuenya.


Saat ini hati Endah sedang tidak baik-baik saja. Ingin rasanya menangis saat ini juga, tapi ada Gendis yang akan bersamanya seharian ini. Jadi tidak mungkin Endah berani menitikkan sedikit saja air matanya, dia takut membuat Gendis khawatir. Jadi Endah akan tetap menebarkan senyum palsunya meski hatinya sedang dalam kondisi tak sebaik itu.


*


*


*


Satu bulan lebih telah berlalu, hari-hari Viola juga mulai berjalan normal. Mencoba ikhlas menjalani rumah tangganya. Meski sikapnya masih terkadang dingin pada Erland, namun Viola sekarang bisa lebih terbuka pada suaminya itu.


Sementara Sarah, wanita itu juga tak berulah lagi. Viola tidak tau apa yang membuatnya hanya diam dan tak banyak tingkah. Viola hanya menganggap sarah juga mulai menerima pernikahan Viola dan Erland.


Viola memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil yang di berikan Erland kepadanya. Satu bulan di Jakarta membuat Viola mulai terbiasa dengan jalanan di sana sehingga mulai mengendarai mobilnya sendiri.


Saat ini Viola sedang dalam perjalanan ke bandara untuk menjemput sahabat seperjuangannya, yaitu Beca.


Beca adalah wanita kelahiran Indonesia yang memiliki darah campuran Indonesia dan Korea. Saat usianya lima belas tahun, Beca di bawa kedua orang tuanya kembali ke Korea. Namun karena mereka kembali ke negara maju itu tanpa persiapan yang matang, tanpa yang dan tanpa pekerjaan. Beca yang malang itu di tinggalkan begitu saja oleh kedua orang tuanya di jalanan.


Dengan usia yang masih begitu belia, Beca mencari pekerjaan serabutan hanya untuk sesuap nasi. Tiga tahun kemudian Beca bertemu dengan Viola yang saat itu terlunta-lunta di jalan. Karena merasa memiliki nasib yang sama, akhirnya Beca membawa Viola untuk tinggal di flat kecil miliknya.


Viola sudah berdiri di depan pintu kedatangan. Melihat satu per satu orang yang mulai keluar dari sana. Mata Viola hanya terfokus untuk mencari wanita tiga puluh tahunan, berambut sebahu dengan kulit putih bersih khas orang Korea, keturunan dari Ibunya.


"Beca!!" Viola melambaikan tangannya pada Beca yang masih kebingungan mencari sumber suara yang memanggilnya.


Dengan menurunkan sedikit kaca mata hitamnya, Beca mulai menangkap sosok Viola dari kejauhan.


Senyumnya mengembang menarik kopernya menuju tempat Viola bediri.


"Vi gue kangen banget!!" Beca berlari kecil dengan tangannya yang terlentang ingin memeluk Viola.

__ADS_1


"Gue juga"


"Cieee, yang udah ikhlas. Auranya beda" Goda Beca.


"Apaan sih lo!!"


Pelukan mereka berdua harus terhenti karena Viola yang menjauhkan dirinya dari Beca.


"Kenapa sih lo??"


"Nggak tahan sama bau parfum lo!!" Kesal Viola.


"Hah?? Perasaan dari dulu lo nggak pernah protes sama parfum gue" Beca mencium bajunya sendiri, menghirup bau parfumnya yang masih seperti biasanya.


"Lo capek nggak?? Temenin gue ke Dokter yuk?? Kayaknya gue udah isi deh" Ucap Viola sedikit malu-malu.


"Hah?? Gue nggak salah denger?? Ngebut juga kalian ya??"


"Hah heh hah heh aja lo!! Ngebut gimana, gue baru satu kali begituan sama dia"


Beca semakin melongo mendengar ucapan Viola. Wanita itu begitu terbuka tentang urusan ranjangnya.


"Tokcer juga suami lo, baru sekali udah bisa hamilin anak orang" Viola membungkam bibir Beca yang tak bisa di kendalikan itu.


"Kenapa nggak sama suami lo aja. Biar dia tau sekalian" Beca merasa aneh dengan sahabatnya itu. Biasanya kan pasangan suami istri akan datang bersama untuk melihat calon anaknya tapi tidak dengan Viola.


"Gue belum kasih tau dia. Ntar aja kalau udah pasti"


"Ya udah ayok!!" Beca menarik tangan Viola, seolah-olah dia tau di mana Viola akan memeriksakan kandungannya.


*


*


*


"Gimana Ken??" Viola menatap cemas Niken yang sedang menggerakkan alat di permukaan perutnya.


"Bener kan firasat ku Vi, kalau nggak akan lama lagi kamu bakalan hamil. Nih lihat, masih kecil banget. Usianya baru 6 minggu"


Viola terperangah menatap makhluk yang begitu kecil itu tumbuh di dalam rahimnya.

__ADS_1


"Ken, aku nggak nyangka. Rasanya sebahagia ini lihat dia tumbuh di rahimku. Benar-benar ajaib, aku sekarang tau kenapa kamu pingin jadi Dokter kandungan" Ucap Viola dengan mata yang masih terkunci pada layar monitor yang menampilkan calon anaknya itu.


"Sekarang kamu tau sendiri kan?? Setiap hari di suguhi keajaiban ini rasanya begitu bahagia"


"Kak Erland pasti bahagia banget kalau tau lo bisa hamil secepat ini Vi" Sama halnya degan Viola, Beca bahkan sampai terharu melihat janin Viola.


"Gue gugup mau kasih tau dia gimana" Jawab Viola.


"Kamu belum cerita sama aku loh Vi" Tagih Niken pada temannya itu.


Niken menutup kembali baju Viola yang terangkat saat memeriksanya tadi.


Viola turun dengan pelan dari pembaringannya itu. Lalu duduk mendekati Niken di mejanya.


"Janin kamu sehat Vi, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya jangan terlalu lelah dan jangan mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat di trimester awal ini. Untuk makanan juga tidak ada pantangan sama sekali yang penting sehat dan banyak gizi. Aku akan meresepkan vitamin saja untuk kamu. Kalau mual dan muntah itu hal yang wajar untuk awal kehamilan" Jelas Niken dengan rinci.


"Makasih ya Ken" Viola menerima selembar resep yang di ulurkan Niken.


"Sama-sama"


"Ken, aku mau cerita apa yang terjadi sama aku sampai akhirnya aku datang kesini untuk memeriksakan kesuburan ku"


Nike menggeser kursinya lebih mendekat pada Viola. Pertanda jika dia siap mendengarkan Viola.


"Jadi sepuluh tahun yang lalu....."


Tak ada air mata lagi dalam cerita Viola saat ini. Viola sudah lebih kuat dan mencoba untuk menerima semua takdirnya.


"Kamu kuat banget Vi. Seandainya aku jadi kamu, belum tentu aku bisa bertahan sampai sekarang. Dan ternyata suami kamu itu Kakaknya Endah?? Pantesan wajahnya nggak asing, sekilas mirip sama Endah"


Beca mengusap pelan punggung Viola. Beca tau, meski tak ada tangisan lagi, tapi hati Viola belum sekuat itu.


"Aku juga nggak tau kenapa bisa bertahan sampai saat ini Ken"


"Mungkin karena kamu bilang sudah ikhlas menerima semua ini Vi. Kata ikhlas itu yang tanpa sadar menguatkan kamu. Mungkin untuk mencoba ikhlas itu sangat berat, tapi kalau kamu berhasil melakukannya, pasti akan terasa lebih ringan"


"Benar apa katamu Ken" Viola tersenyum tipis pada Dokter kandungannya itu.


"Aku hanya bisa memberimu semangat dan ikut berdoa yang terbaik buat kamu Vi. Jangan lupa bulan depan datang lagi, aku harap sama suami kamu" Nike mengusap perut Viola yang masih rata itu.


"Iya bener, harus sama suaminya. Masa sama gue lagi" Gerutu Beca.

__ADS_1


"Nggak ikhlas banget sih lo!!"


__ADS_2