
Lepas Viola!!" Sarah masih terus memberontak hingga kakinya tak bisa menjaga keseimbangannya.
"AAKKKHHH...."
"Sarah!!" Teriak Erland dari kejauhan.
"Awww, sakit!!" Rintih Sarah memegangi perutnya.
"Sa-sarah?? Kamu kenapa??" Viola masih berdiri menatap Sarah yang terjatuh di lantai.
Erland berlari untuk menghampiri Sarah yang tampak begitu kesakitan.
"Mas, sakit Mas" Sarah terus merintih meminta bantuan pada Erlsnnd.
"Sarah, apanya yang sakit??" Erland juga terlihat panik memghadapi Sarah yang terus merintih kesakitan.
"Perutku sakit Mas" Ucap Sarah dengan lemah.
"Kita bawa ke Rumah sakit saja Bang"
Erland mengangguk setuju lalu menggendong Sarah menuju mobilnya. Tak lupa Viola juga mengikuti Erland dan Sarah.
*
*
*
Tak lama kemudian mereka telah sampai di Rumah sakit. Erland sengaja memilih Rumah sakit yang paling dekat karena Sarah yang terus mengeluh tak tahan dengan rasa sakit pada perutnya.
Selama mereka berdua duduk di ruang tunggu, Erland sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun pada Viola. Dia terus bungkam dengan kekhawatirannya.
Tentu saja itu membuat rasa tak nyaman di hati Viola. Wanita dengan perut yang sudah sangat besar itu bisa melihat dengan jelas jika Erland begitu mencemaskan Sarah yang masih di dalam sana.
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya seorang Dokter keluar juga dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter??" Tanya Erland.
Dokter wanita yang masih terlihat muda itu hanya menunjukkan wajah muramnya sebelum memulai kata-katanya.
"Dengan berat hati harus saya katakan jika janin dalam kandungan pasien tidak bisa kami selamatkan"
"A-apa Dok?? Jadi istri saya keguguran??" Erland terperangah mendengarnya. Ada sebagian kecil dalam hatinya yang merasa tak rela. Erland takut jika yang Sarah kandung benar-benar anaknya.
"Benar Pak. Kandungan pasien yang memang lemah sejak awal di tambah benturan yang di alaminya membuat pasien mengalami pendarahan. Jadi janinnya tidak bisa diselamatkan lagi"
Hati Erland mencelos mendengar penuturan Dokter. Walaupun dia ragu dengan Sarah, tapi dia tau bagaimana perjuangan Sarah agar bisa hamil seperti saat ini. Erland tidak tau bagaimana menghadapi reaksi Sarah nantinya.
__ADS_1
"Lalu keadaan istri Saya bagaimana Dok??"
"Pasien baik-baik saja. Namun ada satu hal yan5g hari saya sampaikan pada Anda Pak" Dokter tadi terlihat sedikit bimbang dengan apa yang ingin ia ucapkan.
"Karena kejadian ini pasien dipastikan tidak bisa mengandung lagi"
Deg..
Jantung Erland mulai berpacu dengan cepat. Belum juga Sarah bisa mendapatkan keturunan namun sudah dipastikan tidak bisa mengandung lagi.
"Apa Dok??" Erland memegang kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Yang tabah ya Pak. Kalau begitu saja permisi"
"Baik Dokter, terimakasih"
Erland masih terdiam menatap ruangan di mana Sarah berada. Dia bahkan sampai mengabaikan Viola yang sejak tadi ada bersamanya.
"Bang, duduklah!! Sarah baik-baik saja, tidak usah khawatir seperti itu" Erland langsung menoleh pada Viola setelah mendengar ucapan istrinya itu.
"Apa maksud kamu sayang?? Kamu melarang aku untuk khawatir pada Sarah, sementara dia saja kehilangan bayinya saat ini. Kamu sebagai seorang wanita apalagi sedang hamil seharusnya tau bagaimana perasaannya saat ini, bahkan dia susah di vonis tidak bisa hamil lagi. Abang heran sama kamu kenapa bisa bilang begitu" Erland menatap Viola dengan aneh.
Sementara itu Viola sampai terdiam karena sedikit terkejut karena Erland memarahinya saat ini gara-gara ucapannya itu.
"Abang tau kalau kalian berdua itu tidak pernah akur, tapi bisakah kamu sedikit saja berempati pada Sarah saat ini??" Erland masih berbicara pada Viola dengan dahinya yang berkerut.
Perhatian Erland teralihkan saat melihat Sarah yang di dorong keluar dari ruangan itu.
"Ayo ikut Abang" Ajak Erland pada Viola untuk mengikuti Sarah yang akan di pindahkan ke raungannya.
Viola dengan perutnya yang besar itu hanya bisa berjalan dengan pelan mengikuti Erland yang agak jauh di depannya.
Rasa kesal saat ini hinggap di hati Viola. Dia merasakan di abaikan oleh Erland. Apalagi dia sempat mendapatkan teguran dari suaminya akibat kata-katanya yang terlihat tidak suka dengan Sarah.
Viola tiba di ruangan Sarah beberapa saat setelahnya, karena jalannya yang pelan. Begitu masuk Viola sudah melihat Sarah yang menangis di pelukan Erland.
"Semua ini gara-gara dia Mas!!" Sentak Sarah tiba-tiba sambil menunjuk Viola yang masih berada di ambang pintu.
"Tenang Sarah" Ucap Erland.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas?? Kamu lihat sendiri kan bagaimana dia tadi mendorongku ke lantai??"
Viola langsung membelalakan matanya mendengar fitnah yang di layangkan Sarah kepadanya.
"Aku sama sekali tidak mendorongmu Sarah!!" Bantah Viola dengan tegas.
Viola tak menyangka kalau Sarah tega mengarang cerita seperti itu. Padahal tadi dia yang sengaja menjatuhkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mas, lihatlah dia Mas!! Sudah setega itu sama aku, tapi dia masih saja tidak mau mengaku" Ucap Sarah dengan berderai air mata.
Erland menatap Viola meminta jawaban. Tadi dia memang melihat Viola memegang tangan Sarah saat kejadian itu. Tapi sejak tadi Erland berusaha menampik pikiran-pikiran jelek itu. Tapi kali ini Sarah sendiri yang mengatakan kalau dia di dorong oleh Viola.
"Aku tau kalau kamu iri sama aku kan Vi?? Kamu tidak mau perhatian Mas Erland terbagi karena kehamilanku kan, sampai kamu tega ingin menyingkirkan anakku" Suara Sarah hampir saja hilang karena tangisannya.
Viola semakin terkejut karena Sarah terus saja membumbui kesalahan yang sama sekali tidak Viola lakukan.
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu Sarah!! Aku juga tidak pernah berniat menyingkirkan anak dalam kandungan mu. Aku tidak setega itu!!" Bantah Viola lagi.
Mata Viola kini tertuju pada suaminya yang berdiri di sisi ranjang Sarah. Melihat laki-laki itu yang terlihat kebingungan dengan situasi ini.
"Mas, kamu lihat kan?? Viola bahkan tidak mau minta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia terus saja mengelak padahal jelas sekali dia yang mendorong ku di depan mata kamu. Apa masih perlu bukti lagi untuk membuktikan jika dia memang tak menginginkan anak ku Mas??" Sarah menatap Erland dengan sorot mata yang putus asa.
Erland bimbang saat ini, dia harus percaya kepada siapa. Jika dia percaya pada salah satunya, maka yang lain pasti akan sangat marah.
"Apa benar kamu melakukan itu sayang??" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari bibir Erland.
"Ja-jadi Abang tidak percaya padaku??" Hati Viola seperti di hantam batuan besar. Viola sampai tak percaya karena Erland melontarkan keraguan itu kepadanya.
"Bukan begitu sayang" Erland sedikit gelagapan dengan pertanyaan Viola, apalagi dengan tatapan Viola yang menajam ke arahnya.
"Kalau bukan apalagi?? Sudah aku katakan kalau aku tidak mendorongnya!! Aku juga tidak iri sama sekali dengan kehamilannya. Tapi kenapa Abang masih menanyakan hal itu??" Kemarahan Viola saat ini tak bosa terbendung lagi.
Viola berjalan mendekat ke arah Erland yang masih terpaku dengan Viola.
"Sekarang aku tanya, Abang akan percaya padaku atau tidak??" Viola mengunci tatapan Erland.
"Karena jawaban Abang yang akan menentukan hubungan kita" Mata Viola mulai berkaca-kaca.
"Ma-maksud kamu sayang??"
"Kalau Abang sudah tidak percaya kepadaku, untuk apa kita pertahankan hubungan kita. Setelah anak ini lahir, aku akan segera mengakhiri pernikahan kita" Ucapnya dengan sekali tarikan nafas dan buliran air matanya yang mulai keluar.
"Kamu mengancam Mas Erland Vi?? Tak ku sangka kamu selicik itu" Sela Sarah.
"Tidak, aku bukan mengancam. Aku hanya memberinya pilihan. Mau percaya denganku atau tidak. Kalau tidak, maka tidak ada gunanya lagi pernikahan ini. Lebih baik aku yang pergi" Tegas Viola sekali lagi.
"Kamu bicara apa sayang, kamu tetap akan menjadi istri abang selamanya. Jadi jangan pernah berkata seperti itu" Erland melembut pada Viola.
"Tidak!! Aku tidak akan bertahan kalau masih ada keraguan di dalam harimu. Maka dari itu aku tanya sekali lagi. Apa kamu percaya kepadaku??" Viola membiarkan pipinya basah oleh air matanya.
Erland menatap Viola dengan begitu dalam, ingin mencari kejujuran di dalam mata indah berlinang air mata itu. Tapi Sarah sengaja menarik tangan Erland untuk melihat ke arahnya.
Viola tersenyum kecut melihat perhatian Erland yang teralihkan itu. Dengan cepat dia menghapus sisa-sia air matanya.
"Aku beri waktu Abang sampai besok pagi. Berikan jawabanmu, karena itu yang akan menentukan masa depan pernikahan kita"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Viola langsung berbalik pergi dari ruangan Sarah.