
Viola mendengar suara pintu kamarnya berderit. Namun posisinya yang sedang berbaring membelakangi pintu tak bisa melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Rasa malasnya untuk sekedar memutar tubuhnya membuat Viola tetap diam dan justru menutup matanya untuk berpura-pura terlelap.
Viola menebak jika yang berada di kamarnya saat ini adalah suaminya. Tapi sudah beberapa saat berlalu, tak ada suara sama sekali dari Erland.
Entah apa yang sedang di lakukan Erland tapi Viola merasa sedang di perhatikan dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya. Tak lama setelah itu, Viola merasakan ranjang di belakangnya mulai bergerak. Kali ini Viola tau jika Erland mulai menaiki ranjang di belakangnya.
Dalam jarak sedekat ini baru Viola mulai mencium aroma tubuh Erland yang sangat menenangkan itu. Terlebih lagi sebuah tangan kekar bulai melingkar indah pada pinggangnya. Telapak tangan lebarnya juga sudah bertengger manis pada perut bagian depannya. Membelai dengan lembut nyawa yang masih bersembunyi di dalam sana.
"Sayang, kamu tidur??" Bisik Erland pada Viola.
Viola menggeleng pelan karena wajah Erland yang sengaja di letakkan pada bahu Viola membuatnya tak mudah bergerak.
"Kamu sudah makan??" Tanya Erland lagi.
"Belum, aku nungguin Abang"
Erland semakin mempererat pelukannya, lagi-lagi menghirup wangi kulit Viola yang begitu memabukkan.
"Kenapa nggak makan duluan?? Abang tau kalau kamu nggak bisa menahan lapar"
"Nggak tau, tapi pinginnya makan berdua sama Abang"
"Maaf ya, Abang dari tadi ninggalin kamu sendiri di sini"
Viola bergerak ingin merubah posisi berbaringnya. Ia berbalik ingin menatap wajah tampan milik suaminya itu.
"Nggak papa, aku tau kalau Abang butuh waktu untuk sendiri. Aku juga tau bagaimana perasaan Abang saat ini. Jadi aku nggak mau ganggu Abang dari tadi"
Viola mengusap lembut wajah Erland, kemudian jarinya berhenti pada alis Erland yang tebal dan rapi itu. Mengusapnya berlahan dan berulang, membuat Erland memejamkan matanya.
"Terimakasih karena kamu sudah mengerti Abang, sayang. Abang janji akan segera menyelesaikan masalah ini" Erland meraih tangan Viola yang masih berada di depan wajahnya.
Mata Erland yang terbuka langsung bertemu dengan mata yang indah dengan bulu mata lentik milik Viola.
"Sayang, Abang mencintai kamu. Benar-benar mencintai kamu sampai Abang tidak bisa membayangkan jika kamu yang pergi dari sisi Abang. Mungkin Abang bisa gila saat itu juga. Abang minta ma..."
"Ssssttttt" Viola menempelkan jarinya pada bibir Erland.
"Aku sudah memaafkan Abang. Jadi jangan ucapkan kata maaf lagi"
__ADS_1
Kata itu yang Erland tunggu-tunggu dari dulu. Puluhan kata maaf sudah Erland katakan namun Viola tak pernah memaafkannya dengan begitu ikhlas. Namun kali ini, Erland bisa merasakan keikhlasan Viola dari sorot mata istrinya itu.
"Terimakasih sayang. Kamu sudah memaafkan pria yang begitu jahatnya menyakiti perasaan kamu. Bukan lagi menyakiti, Abang bahkan sudah menghancurkan hati kamu sampai berkeping-keping"
Viola mengangguk, matanya ikut berkaca-kaca karena ujung mata Erland yang juga mulai basah oleh air mata.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Bang. Pasti semuanya juga pernah diliputi sebuah kesalahan. Akulah yang harusnya minta maaf karena terlalu lama menyimpan dendam di hatiku hingga tak pernah berniat untuk memaafkan mu"
Erland menggeleng dengan kuat. Dia menyangkal pernyataan Viola itu.
"Tidak sayang, wajar jika kamu bersikap seperti itu sama Abang mengingat apa yang Abang lakukan. Namun saat ini kamu sudah memaafkan Abang, jadi Abang harap, setelah ini kita bisa memikirkan kebahagiaan kita berdua kedepannya. Kamu mau kan??"
Viola mengusap air matan Erland lalu mengangguk dengan pasti.
Cup...
Erland mengecup kening Viola dengan begitu lembut. Membiarkan bibirnya menempel di sana selama beberapa saat.
Keduanya saling melempar senyum setelah Erland menjauhkan wajahnya. Kedua pasang mata itu sama-sama menyusuri wajah pasangannya dengan begitu rinci.
Tak puas dengan itu, Erland mulai mengikis jarak di antara mereka. Mengincar benda yang sangat ingin Erland sentuh dengan bibirnya. Bibir berwarna merah muda milik Viola yang begitu menggoda Erland.
Tak ada penolakan sama sekali dari Viola, karena dia justru mulai memejamkan matanya seolah menyambut apa yang akan di lakukan Erland kepadanya.
Krukk.. Krukk...
Erland segera menjauhkan wajahnya setelah mendengar suara yang tak asing di telinganya itu.
Krukk.. Krukk..
Mereka berdua langsung tertawa dengan renyah. Perut Viola yang sudah lapar ternyata tidak bisa di kendalikan lagi.
"Anak Papa sudah lapar ya??" Erland beralih mengecup perut Viola secara berulang.
"Kamu mau makan apa sayang?? Biar Abang belikan"
"Makan yang Bi Tum masak saja. Aku sudah lapar"
Erland mengangguk lalu membantu Viola untuk bangun dari posisinya berbaringnya.
__ADS_1
Mungkin hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi Erland karena mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan dari Sarah. Namun semua itu tertutup dengan satu hal yang membuatnya begitu bahagia, yaitu Viola.
Erland seakan tak pernah ingin jauh dari Viola. Untuk datang ke meja makan saja Erland terus menggenggam tangan Viola mesra.
"Kali ini biar Abang yang ambilkan makan buat istri dan anak Abang" Erland langsung mengambil piring di depan Viola.
"Tidak udah Bang, seharusnya kan aku yang melayani Abang"
"Untuk kali ini biar Abang yang melayani kami" Erland mulai mengambilkan nasi ke piring Viola.
"Mau pakai lauk apa??"
"Ini sama ini aja" Tunjuk Viola pada luk yang diinginkannya.
"Makan yang banyak" Ucap Erland meletakkan kembali piringnya di depan Viola.
"Makasih Abang" Ucap Viola dengan manis sampai membuat Erland tersipu tak tahan melihat gemasnya Viola dengan pipinya yang chubby itu.
Mereka berdua mulai menikmati makan siang yang sudah terlanjur lewat hingga mendekati malam itu.
Keduanya saling bercerita tentang masa-masa sulit yang di lalui mereka hingga sampai pada saat ini. Erland bahkan sampai lupa pada masalahnya dengan Sarah saat ini.
"Abang mau lagi??" Tawar Viola karena melihat piring Erland yang sudah mulai kosong.
"Sudah, Abang kenyang"
Viola juga lekas menghabiskan sisa makanan di piringnya.
"MAS ERLAND!!"
Teriakan seorang wanita dari arah luar membuat keduanya sempat terkejut.
"Kaya suara Sarah Bang"
Suara itu memang sangat di kenali oleh Sarah dan juga Erland. Tapi Mereka belum tau kenapa Sarah pulang teriakan menggema seperti itu.
"MAS!!"
Sarah sudah sampai di depan Erland dan Viola. Mengatur nafasnya yang masih berantakan karena teriakannya itu.
__ADS_1
"Kenapa harus teriak-teriak begitu Sarah?? Ada apa??" Sambut Erland dengan dingin.
"Aku nggak mau cerai dari kamu!!"