Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
110. Sidang perceraian


__ADS_3

Viola tampak cemas dengan terus memandangi suaminya yang sedang berbenah diri. Bukan tanpa sebab, Viola seperti itu. Melainkan hari ini adalah hari sidang perceraian Erland dan Sarah akan di gelar.


"Kamu kenapa lihatin Abang kaya gitu dari tadi??" Erland melihat Viola dari pantulan cermin saat dia membetulkan kemejanya.


"Aku khawatir aja sama sidang kalian nanti. Aku takut semuanya tidak akan berjalan lancar"


Erland berbalik menghampiri istrinya. Duduk di tepo ranjang persisi di sebelah Viola.


"Kamu tidak usah khawatir. Abang pastikan semuanya akan berjalan dengan semestinya. Atau kamu mau ikut saja??"


Sebenarnya sejak semalam Erland sudah membujuk Viola untuk menemaninya ke persidangan. Namun Viola selalu menolak karena dia merasa malu telah menjadi salah satu penyebab perceraian mereka.


"Tidak Abang. Aku tidak mau mengubah keputusanku. Aku hanya akan menunggu di rumah saja"


"Iya, Abang tidak akan memaksa"


Meski sebenarnya Erland yang tidak akan tenang jika meninggalkan Viola di rumah di saat mendekati waktu persalinan seperti ini.


"Ayo sarapan dulu. Abang tidak boleh lemas karena kelaparan ketika sidang nanti"


Viola menarik tangan Erland untuk mengikutinya ke meja makan.


"Pagi semua" Sambut Sarah yang sudah tiba lebih dulu di meja makan.


Sarah juga sudah rapi dengan kemeja putih dan juga rok span sedikit di atas lutut. Sarah tampak cantik dengan rambutnya yabg sebagian di ikat kebelakang juga tak lupa polesan wajahnya yang lebih natural ketimbang biasanya.


"Pagi Sarah" Hanya Viola yang menjawab.


"Sarapan kali ini adalah sarapan terakhir kita bertiga. Ini juga masakan terakhir yang aku masak di rumah ini untuk kalian, terutama untuk kamu Viola. Semoga rasa dari masakan ku ini bisa mengingatkan pada kalian tentang aku walau sedikit saja" Ucap Sarah menahan haru.


Viola dan Erland lekas duduk di kursinya masing masing. Meski rasa masakan Sarah tidak seenak masakan Bi Tum atau bisa di bilang masih pas-pasan, tapi Viola dan Erland tak pernah berkomentar. Mereka hanya memakannya dengan diam.


"Sudah kita sarapan dulu. Aku tidak mau telat datang ke persidangan" Ucap Erland masih sangat dingin pada Sarah.


"Ternyata kamu benar-benar ingin secepatnya lepas dariku Mas" Batin sarah.


"Ah iya baiklah" Sarah juga mengambil posisinya.


Mulai mengisi piringnya setelah memberikan kesempatan pada Viola untuk mengambilkan makanan untuk Erland.


"Kenapa Vi??" Sarah bertanya pada Viola saat melihat wanita hamil itu tampak mengerutkan keningnya setelah menyeruput tehnya.

__ADS_1


"Nggak papa" Jawab Viola meski merasakan sedikit aneh pada rasa minuman yang sudah sering ia minum itu.


Erland juga ikut melihat ke arah Viola. Sekarang ini, apapun yang berhubungan dengan Viola pasti akan menjadi perhatian Erland.


"Kenapa yank, apa kamu merasakan sesuatu??" Tanya Erland mulai khawatir.


"Nggak papa Bang. Ayo lekas habiskan sarapannya"


Mereka kembali fokus pada sarapannya, tanpa Sadar jika Sarah berulang kali melirik ke arah Viola.


"Aku sudah selesai. Aku akan berangkat lebih dulu. Aku tunggu kamu di persidangan Mas" Ucap Sarah setelah membersihkan bibirnya dengan tisu.


"Hemm" Jawab Erland acuh.


"Viola" Sarah mendekat ke arah Viola.


Dengan cepat Sarah memeluk Viola dari samping dengan posisi Viola yang masih duduk.


"Maafkan aku untuk semuanya Vi. Aku sudah berbuat jahat kepadamu, membuat hari-harimu tak tenang di rumah ini. Aku juga tega memfitnah kamu. Mungkin ini balasan yang aku terima dari Tuhan" Sarah mengurai pelukannya.


"Aku sudah memaafkan mu Sarah. Semoga kedepannya kamu bisa lebih baik lagi. Jalan kamu masih panjang Sarah" Ucap Viola dengan tulus.


"Terimakasih Viola. Semoga kedepannya kamu juga terus seperti ini. Dengan mudah memaafkan segala kesalahanku"


"Tidak papa, aku berangkat dulu. Sampai jumpa lagi dan semoga kebahagiaan kalian tidak berlangsung dengan singkat ya"


Lagi-lagi Viola di buat kebingungan dengan ucapan perpisahan dari Sarah itu. Tapi belum sempat Viola bertanya pada Sarah tentang maksud dari kata-katanya itu, Sarah sudah lebih dulu pergi.


"Kamu ngerasa ada yang aneh sama Sarah nggak sih Mas??" Tanya Viola pada suaminya.


"Iya, tapi tidak udah di pikirkan. Yang penting kamu hati-hati di rumah ya. Abang harus segera berangkat. Abang sudah tidak sabar ingin membuat kamu menjadi istri satu-satunya milik Abang"


Pipi Viola merona seketika karena kata-kata manis dari Erland itu.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi Abang atau suruh Bi Tum untuk terus menemani kamu setiap saat ya??" Viola mengangguk.


"Iya, Abang juga hati-hati di jalan"


Cup...


Satu kecupan di dahi untuk Viola dari suaminya itu.

__ADS_1


Viola mengantarkan Erland ke depan. Menunggunya hingga mobil berwarna hitam itu benar-benar hilang dari pandangannya.


"Ya Allah, mudahkanlah segala urusan suamiku. Lindungilah suamiku di setiap langkahnya. Amin"


*


*


*


Semua sudah siap di dalam ruang sidang. Termasuk Hakim juga sudah berada di depan kedua penggugat dan tergugat.


Sudah waktunya bagi pengacara Erland untuk membacakan gugatannya kepada tergugat yaitu Sarah. Pengacara yang sangat di percaya Erland juga sudah menunjukkan bukti-bukti yang bisa mendukung tuntutannya itu.


Sementara Hakim mulai mempertimbangkan gugatan Erland itu. Dari pihak Sarah sama sekaki tak mengeluarkan pembelaan sama sekali. Mereka hanya menerima segala sesuatu yang di sebutkan oleh pengacara Erland. Sarah juga dengan mudahnya menjawab pertanyaan dari Hakim, tanpa mengelak dan juga membantah.


Semuanya berjalan begitu lancar hingga Hakim membacakan putusannya termasuk pembagian harta gono-gini dari pernikahan mereka.


Dengan sangat adil, Erland menyerahkan sebagian hartanya untuk Sarah. Meski di dalam pernikahan mereka, Sarah sama sekali tak menghasilkan apapun dan semuanya murni dari hasil keringat Erland, namun Erland tak keberatan sama sekali. Yang penting Sarah tidak akan mengganggunya lagi kedepannya.


Tok..Tok..Tok..


Suara ketukan palu dari Hakim menjadi pertanda jika hubungannya dengan Sarah sudah benar-benar berakhir.


"Alhamdulillah" Ucap Erland di dalam hati. Akhirnya perceraiannya sudah di kabulkan oleh pengadilan. Persidangan yang memakan waktu hampir dua jam itu tidak mengecewakan Erland sama sekali.


"Mas" Panggil Sarah setelah mereka keluar dari ruang persidangan.


"Aku mau meminta maaf darimu atas semua kesalahan ku. Aku juga mau berterimakasih sama kamu karena kamu sudah menjadi suami yang begitu baik baut aku. Saking baiknya sampai kamu terlihat begitu bodoh"


"Apa maksud kamu??"


Sarah hanya membalas pertanyaan Erland dengan senyuman yang mengerikan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


Getaran ponsel di saku jas milik Erland membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk kembali menanyakan maksud dari kata-kata Sarah dan senyuman aneh itu.


Erland sudah merasa jika ada sesuatu yang tidak beres. Terlebih lagi Bi Tum adalah seseorang yang berada di balik panggilan pada ponselnya.


"Iya Bi Tum ada apa??"


"........"

__ADS_1


"Saya pulang sekarang!!"


Erland menggenggam ponselnya dengan begitu erat sambil berlari meninggalkan Sarah yang terus menatapnya dengan tawa puasnya.


__ADS_2