
Edgar tak menyerah mengejar Alisa. Dia tidak bisa menerima keputusan sepihak dari Alisa begitu saja. Jika memang menginginkan berpisah pun Edgar harus mendapatkan alasan yang jelas dari Alisa.
Sudah sejak satu jam lalu Edgar terus menunggu Alisa di depan rumah sakit. Pria berusia 27 tahun itu tampaknya begitu gigih mempertahankan wanita pujaannya itu.
Penantiannya itu tak berakhir sia-sia, karena Edgar berhasil menangkap sosok wanita yang masih menggunakan pakaian serba putih itu keluar dari rumah sakit. Namun saat Edgar ingin keluar, ternyata sebuah mobil sudah menghampirinya terlebih dahulu.
Edgar mengurungkan niatnya, dia lebih memilih menyalakan mesin mobilnya untuk mengikuti mobil yang membawa Alisa itu. Dia berubah pikiran, mungkin dengan mengikuti Alisa, dia bisa tau penyebab Alisa menghindar darinya.
Setelah beberapa saat mengikuti mobil itu. Kini Edgar tau tujuan Alisa kemana. Jalan yang sudah Edgar hapal, yaitu jalan menuju restoran yang kepemilikannya di akui oleh dua orang itu.
Sebenarnya wajar saja Alisa ke sana, karena memang Kakaknya ada di sana. Tapi karena Edgar saat ini sedang di landa keingintahuan yang sangat besar, maka Edgar tetap ingin tau tujuan Alisa ke sana untuk apa.
Setah melihat Alisa keluar dari mobil, yang ternyata adalah taksi online itu, Edgar meraih masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia tidak mau rencananya menguping itu gagal karena Alisa menyadari kedatangannya.
Edgar secara diam-diam mengikuti Alisa yang menuju ke arah belakang dari restoran itu. Mungkin ruangan Kakaknya yang Alisa tuju saat ini. Edgar merasa keputusannya untuk mengikuti Alisa adalah hal yang benar, karena dengan begitu dia juga akan mendapatkan informasi tentang Radian dan Sarah. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
"Kakak!!"
Edgar dengan jelas mendengar Alisa memanggil Kakaknya dengan lantang.
Edgar berdiri di balik pintu, dia hanya bisa mendengar suara tanpa bisa melihat siapa saja yang ada di dalam sana.
"Kecilkan suaramu Alisa!!"
Edgar sempat terkejut dengan suara berat yang terdengar tak suka dengan cara Alisa itu. Padahal waktu pertama kali bertemu Radian, Edgar bisa melihat betapa sayangnya Radian pada adiknya itu.
"Kalian berdua sama sekali tidak tau malu ternyata!!"
"Kalian berdua?? Siapa yang di maksud Alisa??" Gumam Edgar dari balik pintu.
"Jangan ikut campur kamu anak ingusan!!"
Kali ini Edgar tau siapa pemilik suara itu. Wanita yang Edgar tau sebagai pemilik restoran itu.
"Mbak Sarah seharusnya malu. Mbak Sarah hidup mewah dan bisa membangun restoran ini karena uang dari suami Mbak Sarah. Tapi kenapa Mbak sarah dengan tidak tau malunya masih berhubungan dengan pria lain!!"
Deg....
__ADS_1
Satu kenyataan baru saja Edgar dengar dari suara Alisa yang lantang dan sangat menggambarkan kemarahannya itu. Padahal setau Edgar Alisa adalah wanita yang lembut.
"ALISA!! JAGA BICARA KAMU!!" Bentak Radian.
"Kenapa Kak?? Harusnya Kakak juga berhenti berhubungan dengan wanita yang sudah bersuami!! Aku malu Kak, aku malu!!" Suara Alisa terdengar sudah bergetar.
"Aku bahkan sampai rela melepaskan pria yang aku cintai hanya karena aku tidak mau mereka menganggap ku wanita buruk akibat kelakuan Kakak!!" Alisa sudah tidak mampu lagi membendung rasa sakitnya. Air matanya luruh di hadapan Kakaknya.
"Jadi ini sebabnya kamu memilih mengakhiri hubungan kita Alisa??"
"Untuk apa aku harus mengakhiri hubungan ku dengan Sarah?? Aku yang lebih dulu dan dia yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupanku dan Sarah!!"
Radian yang selama ini menjadi figur Kakak dan Ayah yang baik dan bertanggung jawab bagi Alisa, kini terlihat berbeda dan begitu menakutkan.
"Sudah cukup!!" Sarah kembali bersuara.
"Lebih baik kamu tidak usah ikut campur Alisa!! Aku juga baru tau kalau kamu ternyata mengenal Edgar. Jadi aku harap kamu tetap tutup mulut untuk hal ini!! Bersikaplah seolah -olah tidak tau hubungan kita. Lagi pula benar apa yang Kakak kamu katakan. Hubungan kita tidak pernah berakhir dari dulu jadi jangan salahkan hubungan kita ini"
Edgar dengan sangat jelas mendengarkan semua yang Sarah katakan itu. Kaget sudah pasti, ternyata selama ini Abangnya dikhianati.
"Cihhh... Tapi Mbak Sarah sangat menikmati uang dari suami Mbak itu kan?? Aku memang anak kecil, anak ingusan tapi ijinkan aku memberikan saran pada Mbak Sarah. Lebih baik hentikan sekarang daripada suami Mbak melihat kelakuan Mbak Sarah sendiri"
"Terserah kalian!! Yang pasti saat ini aku benar-benar hancur karena perbuatan Kakakku sendiri!!"
Edgar langsung pergi dari pintu itu saat mendengar suara langkah Alisa mendekat.
"Alisa!!" Erland menunggu Alisa di luar restoran.
Deg...
Alisa menghentikan langkahnya meski tak mampu berbalik. Mendengar suara Edgar saja sudah membuatnya membeku saat ini. Dia ketakutan jika Edgar tau hubungan Kakaknya dengan Sarah.
"Jangan menghindari ku lagi!!" Ucap Edgar tepat di belakang Alisa.
Wanita yang membuat wajahnya terlihat baik-baik saja itu kemudian berbalik menatap Edgar.
"Aku tidak menghindar Mas, tapi karena memang kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi ya tidak ada yang aneh kalau aku tidak membalas pesan darimu" Ucap Alisa dengan senyumnya yabg terlihat sangat di paksa.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menerima keputusanmu itu. Jadi aku belum menganggap kita putus"
Alisa memejamkan matanya sekejap karena bingung bagaimana lagi menghadapi pria keras kepala di depannya itu.
"Jadi mau kamu apa Mas??"
"Aku mau kita kembali seperti dulu lagi!!" Jawab Edgar dengan cepat dan tegas.
"Aku tidak bisa!!" Tolak Alisa.
"Alasannya?? " Alisa langsung bungkam, bibirnya bagaikan di siram lem satu kaleng karena sama sekali tak bisa terbuka.
"Aku sudah tau alasan kamu ingin mengakhiri hubungan kita Alisa" Tatap Edgar dengan dalam dan menelisik pada Alisa.
"A-apa maksud kamu Mas, aku nggak ngerti" Alisa melihat ke arah lain untuk membuang kegugupannya.
"Aku sudah dengar semuanya Alisa. Aku bahkan mendengar kamu bersuara dengan begitu keras di dalam sana sampai terdengar ke telingaku"
Jantung Alisa langsung bekerja dnegan begitu keras. Dia takut dan malu, dia tidak bisa menghadapi Edgar saat ini. Tentunya Alisa sangat takut jika Edgar mulai membencinya gara-gara Radian.
"Ya, itulah alasan ku seperti ini. Jadi kalau Mas Edgar mau menghakimi aku karena menjadi adik dari orang ketiga dalam rumah tangga orang juga aku akan terima" Tunduk Alisa dengan pasrah.
Edgar tersenyum kecut mendengar pikiran picik dari Alisa itu.
"Apa kamu menilai ku sebagai laki-laki seperti itu??" Berlahan Alisa mengangkat wajahnya.
"Aku tidak peduli dengan Kakakmu itu. Yang aku mau hanyalah kamu. Jadi jangan pernah berpikir aku akan menilai mu buruk karena perbuatan buruk mereka!!" Edgar benar-benar menegaskan penilaian yang salah dari Alisa itu.
"Tapi Mas..."
"Cukup Alisa!! Aku tau kamu merasa bersalah kepada keluargaku kan??" Alisa mengangguk dalam.
"Kalau begitu maukah kamu membantuku agar rasa bersalah mu itu hilang??"
"Apa itu Mas?? Walaupun Kak Radian itu Kakakku sendiri, tapi perbuatannya itu sungguh tidak bisa di benarkan. Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan mereka Mas??"
Edgar tersenyum tipis lalu mengusap lembut pucuk kepala wanita yang sangat di rindukannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberi tahu Bang Erland dengan tangan kosong. Jadi, bantu aku untuk mencari bukti perselingkuhan mereka"