Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
97. Mengunjungi Sarah


__ADS_3

Pagi harinya Viola datang ke rumah sakit bersama Erland. Tadi malam Erland memang sengaja tidak kembali ke Rumah sakit dan lebih memilih menelepon mertuanya untuk menemani Sarah di rumah sakit.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan memasuki Rumah sakit. Bahkan kali ini Viola begitu erat menggenggam tangan Erland.


"Yang aku minta sudah kamu bawa kan Ca??"


Beca mengangguk cepat degan menunjukkan map yang di bawanya. Erland tidak tau kalau ternyata Beca juga sudah menunggu Viola dilobi Rumah sakit.


"Siap apa?? Sebenarnya apa yang akan kalian lakukan??" Erland seperti orang bodoh saat ini, dia sama sekali tidak tau apa-apa. Tujuan Beca ada di sana dan map yang di bawa Beca juga Erland tak tau.


"Abang tenang saja, aku hanya ingin menunjukkan kalau aku tidak bersalah. Yang perlu Abang lakukan hanya percaya kepadaku saja" Meski begitu Erland masih saja bingung dengan apa yang akan Viola lakukan.


"Gimana Kak?? Masih mau merubah keputusan?? Yakin Kak Erland percaya sama Viola??" Beca mencoba menabur keraguan di hari Erland.


"Tidak, aku percaya istriku. Ayo sekarang kita masuk" Erland menarik tangan Viola untuk kembali berjalan. Namun Viola masih enggan mengikuti Erland.


"Sebentar, kita tunggu yang lainnya dulu" Ucap Viola saat dahi Erland berkerut penuh tanya.


"Yang lain siapa??" Tanya Erland.


"Itu mereka!!" Ucap Beca menunjuk beberapa orang yang datang bersamaan.


Erland tampak terkejut karena semua keluarganya juga ada di sini.


"Kalian disini??"


"Iya Er, kami kesini atas permintaan Viola" Jawab Gendis.


Erland hanya mengangguk-angguk meski masih bingung dengan tujuan Viola mengundang seluruh keluarganya termasuk Endah dan Vino.


"Kamu nggak kenapa-napa kan Vi??" Vino terlihat khawatir dengan Viola, karena adiknya itu menelponnya pagi-pagi dan memintanya datang ke rumah sakit.


"Abang tenang saja, aku baik-baik saja kok. Sekarang ayo kita masuk!!" Viola dengan semangat berjalan lebih dulu.


Viola merasa dunianya yang suram akan segera berakhir saat ini juga. Jadi dia harus segera menyelesaikan semuanya sebelum rubah betina itu beraksi lagi. Viola juga kasihan kepada suaminya itu, pria bodoh yang sering di manfaatkan oleh Sarah.


Ceklek...


Vioa membuka pintu kamar rawat Sarah dengan pelan. Dua orang wanita berbeda usia langsung menyambut kedatangannya dengan tatapan kebencian mereka terhadap Viola.


"Selamat pagi semuanya" Sapa Viola dengan ramah.

__ADS_1


"Mau apa kamu kesini!!" Rasti langsung menyambut Viola dengan tak suka.


"Selamat pagi Jeng" Tatapan Rasti berubah tak kala mendengar suara lain di belakang Viola.


"Jeng Gendis, selamat pagi. Kalian disini ternyata, Endah juga?? Wah kalian perhatian sekali sama Sarah sampai pagi-pagi begini sudah menjenguk Sarah" Ucap Rasti dengan penuh kepura-puraan.


"Ibu" Ucap Sarah dengan lirih.


"Sarah, yang sabar ya??" Gendis langsung mendekati Sarah.


"Maafkan Sarah Bu, Sarah tidak jadi memberikan Ibu cucu. Seterusnya Sarah juga tidak akan bisa memberikan Ibu cucu karena rahim Viola sudah rusak hiks.. hiks..." Sarah memeluk Gendis yang berdiri di sampingnya.


"Jangan menangis, Ibu tidak papa. Yang penting kamu baik-baik saja saat ini. Kamu ikhlaskan saja, pasti Allah punya rencana lain setelah ini" Gendis juga merasa iba dengan menantunya itu meski kadang dia tak suka dengan sikap Sarah selama ini.


Sarah menggeleng di pelukan Gendis, dia masih terus terisak menumpahkan segala kesedihannya.


"Tida Bu, semua ini gara-gara dia!!" Tunjuk Sarah pada Viola.


"Benar Jeng, kalau bukan karena dia yang mendorong anak saya. Sarah tidak akan berakhir seperti ini. Dia pasti sedang bahagia bersama Erland menantikan perkembangan calon anak mereka"


Rasti sengaja membumbui apa yang Viola ucapakan. Mereka berdua memang ibu dan anak yang sangat cocok.


"Mama, sebaiknya Mama diam dulu!! Ucapan Mama itu justru semakin memperkeruh suasana" Tegur Erland pada mertuanya itu.


"Saya tidak takut dengan ancaman anda. Orang kaya yang tak tau malu" Cibir Rasti.


Vino sudah ingin bergerak maju, namun Endah menahan tangannya dengan erat.


"Sudah Bang, jangan ikut campur. Biarkan Viola menyelesaikan masalahnya dulu" Bisik Endah.


"Terserah apa kata anda Nyonya Rasti. Saya tidak peduli" Ucap Viola memandang remeh pada Rasti.


"Kamu memang tidak pernah peduli sama siapapun Viola!! Yang kamu pedulikan hanya dirimu sendiri. Kamu datang ke dalam kehidupanku, merebut suamiku demi kebahagiaan kamu sendiri. Kamu juga merebut perhatian Mas Erland dariku. Semuanya kamu rebut, cinta, kasih sayang dan keluarga Mas Erland juga ikut kamu ambil. Lalu sekarang, kamu juga mengambil anakku Viola, dimana perasaan kamu??"


Semua mata tertuju pada Viola kali ini. Termasuk Gendis yang sejak tadi menenangkan Sarah.


Namun Viola masih tetap dengan wajah tenangnya. Tanpa terpancing sedikitpun dengan semua ucapan Sarah itu. Dia justru terlihat sangat tidak peduli.


"Sarah tenang sayang, Mama pasti akan menuntut keadilan buat kamu" Ucap Rasti menenangkan anaknya.


Viola justru terkekeh mendengar ucapan Rasti pada Sarah.

__ADS_1


"Apa yang kamu tertawaan?? Dasar pemb*nuh!!"


"Mama, jaga ucapan Mama!!" Sentak Erland pada mertuanya.


"Kenapa kamu membentak Mama Mas?? Kamu belain dia?? Sudah jelas-jelas dia membuat ku keguguran, lalu apa lagi sebutan yang pantas kalau bukan pemb*unuh??" Sarah tak terima Mamanya di perlakukan seperti itu oleh Erland.


Viola dan Beca masih diam namun terus melempar senyumnya. Hanya kedua orang itu yang tau apa yang sedang mereka rencanakan.


"Sekarang aku tagih sama kamu Mas. Pilihan mana yang sudah kamu ambil?? Ceritakan dia atau penjarakan dia" Ucap.Sarah dengan bengis menatap Viola.


"Apa yang kamu katakan?? Kamu ingin memenjarakan adikku?" Vino bersuara lagi.


"Iya, memangnya kenapa?? Semua bukti mengarah kepadanya, jadi dengan mudah aku bisa menjebloskan dia ke dalam penjara!" Tantang Sarah pada Vino, sama sekali tak ada rasa takut.


"Abang tenanglah" Ucap Viola agar Vino mengontrol emosinya.


"Jawab Mas!!" Desak Sarah.


Erland mendekati Viola, menarik tangan Viola dan menautkan jari-jari mereka.


"Aku tidak akan menceriakan Viola, dan aku juga tidak akan memenjarakan istriku sendiri. Aku percaya sepenuhnya kalau dia tidak melalukan apapun kepadamu Sarah" Ucap Erland dengan tegas di hadapan Sarah dan seluruh keluarganya.


"Apa Mas??" Sarah menggeleng tak percaya.


"Kamu masih percaya kepadanya saat kamu melihat sendiri dia mendorongku hingga kamu kehilangan calon anakmu??" Hati Sarah mencelos karena jawaban Erland tadi.


"Sudahi drama mu itu Sarah. Sejak dulu aku hanya diam. Tapi tidak untuk kali ini. Aku sudah muak melihat semua kepura-puraan mu itu" Viola bersuara.


"Apa maksud kamu Viola. Siapa yang kamu maksud pura-pura?? Apa kehilangan anak sesuatu yang pantas untuk di sebut pura-pura??" Tanya Sarah lebih mendramatisir keadaan.


Viola justru terkikik geli sambil menutup mulutnya, sebenarnya ia ingin terbahak namun masih ia tahan.


"Jangan berlebihan seperti itu Sarah. Akting mu tidak bagus sama sekali" Cibir Viola.


"Viola!!" Bentak Rasti.


"Stttt, Nyonya Rasti diamlah dulu" Viola menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.


"Berikan padanya Beca!!" Perintah Viola.


Beca mengangguk, lalu membuka map yang sedari tadi ia bawa. Mengeluarkan beberapa.lnar kertas dan menyerahkannya pada Sarah.

__ADS_1


"Lihat sendiri dan pikirkan sejauh mana aku tau tentang dirimu" Ucap Viola langsung di atas angin.


Sarah mulai mencermati kertas-kertas juga beberapa lembar foto yang Beca berikan. Tak butuh waktu lama hingga membuat mata Sarah membelalak dan tangannya mulai bergetar.


__ADS_2