Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
98. Bukan kutukan


__ADS_3

Lihat sendiri dan pikirkan sejauh mana aku tau tentang dirimu" Ucap Viola langsung di atas angin.


Sarah mulai mencermati kertas-kertas juga beberapa lembar foto yang Beca berikan. Tak butuh waktu lama hingga membuat mata Sarah membelalak dan tangannya mulai bergetar.


"Kenapa Sarah?? Apa yang ada di sana sampai membuatmu bergetar seperti itu??" Tanya Viola membuat Sarah semakin ketakutan.


Sarah meremas semua kertas yang diberikan Beca tadi, menggenggamnya dengan erat seolah tak ingin siapapun.


"Enggak, aku sama sekali nggak tau apa arti kertas-kertas ini" Sarah menggeleng dengan kuat.


"Kalau nggak tau kenapa harus di remas seperti itu?? Terus kenapa wajah kamu ketakutan seperti sekarang ini??" Beca ikut bersuara, dia sudah sangat muak dengan sandiwara yang dilakukan Sarah.


Erland dan yang lainnya masih belum tau apa yang terjadi. Lembaran kertas apa yang di berikan Beca juga mereka belum tau. Mereka masih menunggu penjelasan dari Viola.


"Kamu pikir dengan menggenggam erat bukti itu, aku tidak bisa memberitahu mereka semua tentang kejahatan kamu selama ini??" Tantang Viola.


Rasti sepertinya mulai tau arah pembicaraan Viola kemana, sehingga dia mencoba mendekat pada Sarah.


"Sayang, sebenarnya apa yang kamu berikan pada Sarah sampai kamu membuatnya ketakutan seperti itu?? Bukti kejahatan apa yang kamu maksud sayang??" Tanya Erland penuh dengan rasa penasaran.


"Iya Viola, katakan saja yang sebenarnya. Jangan membuat Ibu mati penasaran" Sahut Gendis.


Endah dan Vino juga mengangguk setuju dengan permintaan Erland dan Ibunya.


"Bagaimana Sarah?? Kamu ingin mengakuinya sendiri atau aku yang akan membongkar borok mu??" Viola tersenyum miring melihat wajah Sarah yang pucat pasi.


"Apa yang harus aku akui?? Aku merasa tidak bersalah, jadi untuk apa aku mengakuinya??" Sarah mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak ingin emosinya terlihat meletup-letup sehingga membuat Viola semakin di atas angin.


"Baiklah kalau begitu" Viola beralih menatap


Erland.


"Abang?? Apa Abang ingat saat kita bertiga sarapan wakti itu, aku pernah bertanya sama Abang. Apa yang bisa membuat Abang menceraikan salah satu dari kita??"


Erland tampak mengingat sesuatu, tapi beberapa detik kemudian pria tampan itu mengangguk.


"Apa itu Bang??" Viola mencoba mengingatkannya lagi.


"Kebohongan dan perselingkuhan" Ucap Erland dengan tegas.


"Betul, kebohongan. Abang bilang satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan yang lainnya. Kemudian Abang akan melihat kebohongan apa yang kita lakukan sehingga bisa membuat keputusan untuk menceraikan kita. Iya kan Bang??" Erland lagi-lagi mengangguk. Dia memang mengatakan seperti itu pada Viola waktu itu.

__ADS_1


Sebenarnya Erland sudah tidak sabar ingin tau apa yang ingin di sampaikan Viola. Tapi istrinya itu tak langsung mengatakan pada intinya.


"Aku paham bagaimana perasaan seorang wanita kehilangan janinnya di saat penantian yang begitu lama. Aku juga sedang hamil, aku sangat mencintai anakku jadi aku tau betul bagaimana rasa sakitnya saat kehilangan dia yang sudah lama kita nantikan. Tapi aku tidak yakin denganmu Sarah!!"


"Apa maksud kamu?? Tentu saja Sarah lebih tau rasa sakitnya dari pada kamu. Apalagi janinnya sengaja di melenyapkan oleh wanita sepertimu!!" Sentak Rasti pada Viola.


"Tentu tidak tante. Mana mungkin Sarah merasakan semua itu karena sejak awal Sarah tidak mempunyai rahim"


"Apa!!" Ucap Gendis dan Erland bersamaan.


Sementara Endah hanya bisa membungkam mulutnya yang menganga akibat ucapan Viola.


"Enggak itu bohong!! Mas, jangan percaya Viola!! Dia sengaja memfitnahku Mas!!" Bantah Sarah mencoba meyakinkan suaminya.


Sarah tidak mau Erland sampai mempercayai kata-kata Viola. Sarah tidak mau sampai kehilangan Erland gara-gara Erland termakan ucapan Viola.


Beca menyerahkan salinan foto-foto yang di berikan pada Sarah tadi kepada Erland dan juga Gendis. Percuma saja Sarah mati-matian menyembunyikan foto itu dalam genggaman tangannya. Pada dasarnya, Viola tetap bisa membongkar semuanya.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang??" Ucap Sarah ketakutan dalam hatinya.


"Abang dan Ibu bisa lihat pada foto dan juga riwayat kesehatan Sarah delapan tahun lalu itu. Dulu Sarah sempat mengandung, lalu dengan senagaja meminum obat penggugur kandungan sehingga membuat rahimnya rusak. Di saat itu juga Sarah sudah di vonis tidak akan mempunyai keturunan karena Dokter telah mengangkat rahimnya yang rusak itu" Jelas Viola pada Erland yang masih membaca tulisan-tulisan rekam medis milik Sarah itu.


"DIAM!!" Bentak Erland dengan bola matanya yang hampir keluar.


"Teruskan sayang. Apa yang sudah kamu sembunyikan dari Abang tentang Sarah?? Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dari Abang kalau kamu sudah tau sejak lama" Sarah semakin merasa iba pada suaminya itu.


"Tidak. Jangan katakan apapun Viola!! Semua yang keluar dari mulutmu hanyalah kebohongan belaka!!" Sarah hampir saja mencabut jarum infusnya karena ingi menghampiri Viola.


"Tenang sayang, jangan terpancing emosi, kita pikirkan bagaimana caranya membantah wanita s*alan ini" Bisik Rasti yang memeluk Sarah.


"Sarah, tentu kamu ingat delapan tahun yang lalu saat kamu berada di ruangan Dokter Kim. Dokter spesialis kulit ternama di Korea. Waktu itu kamu yang tak bisa berbahasa Korea meminta seorang koas untuk membantumu berbicara dengan Dokter Kim karena kamu tau koas itu berasal dari Indonesia kan?? Dan kamu tau siapa dia??"


Pikiran Sarah melayang pada delapan tahun yang lalu, saat dia sengaja datang ke Korea untuk mempermak habis tubuhnya hingga kembali seperti semula.


"Enggak, enggak mungkin kalau dia itu..."


"Iya betul, dia itu aku!! Dulu mungkin kamu tidak bisa mengenaliku karena aku menggunakan masker dan juga penutup kepala. Namun aku tidak pernah lupa dangan wajahmu yang selau di tutupi riasan tebal itu" Viola tersenyum miring pada Sarah.


Sarah semakin gugup dan ketakutan. Dia merasa dunianya runtuh saat ini juga. Dunia yang ia impikan akan indah karena hidup dengan pria yang mencintainya juga harta yang berlimpah. Namun badai itu mulai datang saat Viola kembali masuk ke dalam pernikahannya.


"Sayang, Abang masih belum paham dengan semua ini. Tolong jelaskan sama Abang yang sebenarnya terjadi" Pinta Erland meski dia sudah bisa mengerti inti dari kebohongan Sarah.

__ADS_1


Sarah menggeleng, dia seakan meminta Erland untuk tidak mempercayai ucapan Viola. Dia masih ingin Erland mempercayainya seperti dulu.


"Abang, dulu waktu aku masih menjadi dokter koas di salah satu klinik di Korea. Aku bertemu pasien dari Indonesia, dia datang jauh-jauh ke sana ingin menghilangkan bekas operasi pengangkatan rahim pada perutnya. Dia tidak ingin pasangannya kelak tau kalau dia sudah tidak punya rahim. Karena dia takut tidak akan ada pria yang menerima kekurangannya"


Erland memandang Viola dengan tatapan kecewanya. Bukannya marah atau membentak Sarah, pria itu justru hanya diam menatap Sarah dengan dalam.


"Jadi sudah bisa di pastikan kalau kehamilan dan keguguran Sarah itu hanyalah rencana busuknya saja untuk memisahkan kita Bang"


Seorang Dokter wanita yang Erland kenali sebagai Dokter yang kemarin memeriksa keadaan Sarah masuk ke dalam ruangan itu.


"Ini adalah Dokter yang sengaja di bayar oleh Sarah agar memuluskan rencananya. Aku tidak tau kenapa Dokter ini mau melanggar kode etiknya demi uang. Yang jelas aku sudah bisa membuka mulutnya yang di bungkam oleh Sarah" Ucap Beca.


Beberapa waktu setelah pertemuan Beca dan Viola kemarin. Viola meminta Beca untuk menyelidiki Dokter yang mudah di suap itu.


"Maafkan saya Pak, saya terpaksa melalukan itu karena Bu Sarah mengancam saya" Dokter itu sudah menunduk dalam tak berani menatap Erland.


Erland meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa sakit mendadak menyerang hatinya.


"Mas" Panggil Sarah dengan lirih, dia hanya bisa diam sudah tak bisa membantah sama sekali.


"Sarah, kenapa kamu tega sama aku dan keluargaku?? Kamu membohongi kita semua Sarah. Program hamil, bayi tabung, pengobatan alternatif ternyata semua hanya tabiatmu saja untuk menutupi kebohongan mu Sarah"


Kini Erland tau alasannya kenapa Sarah selalu melarang Erland untuk ikut masuk ke dalam ruang periksa. Jelas alasannya karena Sarah takut kebohongannya akan terbongkar.


"Maafkan aku Mas, aku terpaksa melakukan itu" Sarah sudah kembali berurai air mata. Dia ketakutan melihat Erland yang menatapnya dengan nanar.


"Terpaksa kamu bilang?? Kamu sudah niat dari awal Sarah. Kamu juga memfitnah Viola sampai mengancam menjebloskan Viola ke dalam penjara atas tuduhan yang sama sekali tidak ia lakukan" Erland menggeleng masih tak percaya.


Dia selama ini ternyata begitu bodoh karena tak menyadari kebohongan yang di lakukan Sarah. Ternyata menjalin hubungan dengan saling percaya itu ada dampak buruknya juga.


"Kalau di pikir konyol juga, kamu hamil dan keguguran tanpa memiliki rahim. Sungguh kebohongan yang begitu keji Sarah"


Viola meraih lengan Erland dan mengusapnya dengan lembut. Dia tau kalau emosi suaminya itu sedang tidak stabil.


"Sayang, kenapa kamu baru membongkar kejahatan wanita ini sekarang??" Erland juga nampak kecewa pada Viola.


"Karena awalnya aku juga merasa bersalah pada Sarah karena hadir dalam rumah tangga kalian. Aku tau pasti berat jika seorang wanita tidak bisa mempunyai keturunan. Jadi ku biarkan Sarah menutupi kekurangannya itu. Tapi Sarah justru berbuat licik dengan mengaku mengandung anak kamu. Dari sana aku sudah ingin membongkar semuanya, tapi nyatanya Sarah yang lebih dulu membuat drama keguguran itu. Hal itu yang membuat aku semakin yakin untuk membongkar semuanya" Jelas Viola tentang maksudnya menyembunyikan rahasia Sarah.


Menurut Erland, Viola sengaja menyembunyikan sebuah bangkai dan menutupi baunya meski dengan alasan kemanusiaan. Tapi itu tetap saja salah menurut Erland.


"Jadi, sumpah ku yang waktu itu bukanlah sebuah kutukan yang aku lalukan dari dalam hati. Itu juga bukan kutukan yang aku lakukan untuk membalas dendam. Aku hanya melakukan itu karena memang aku sudah mengenali Sarah sebagai wanita yang sudah tidak bisa mempunyai anak. Itu hanya ungkapan rasa marah ku waktu itu"

__ADS_1


__ADS_2