
Selepas dari Dokter Erland benar- benar mengantarkan Viola ke mall untuk membeli baju. Seperti seorang suami yang sangat mencintai istrinya, Erland terus saja mengekor pada Viola dengan beberapa paper bag yang sudah memenuhi tangannya.
"Masih mau cari apa lagi??" Erland begitu sabar menuruti Viola, meski sudah lebih dari sepuluh outlet mereka jelajahi.
"Sudah cukup, lainnya kapan-kapan aja. Ntar uang kamu habis lagi" Ucap Viola degan acuh.
Barang sebanyak itu memang semuanya yang membayar adalah Erland. Tentu saja itu keinginan Erland sendiri, dan itupun dengan perdebatan kecil yang akhirnya di menangkan oleh Erland. Katanya, itu sebagai hadiah atas kepulangan Viola. Lagi pula itu juga untuk pertama kalinya Erland mengeluarkan uangnya untuk keperluan Viola di luar nafkah yang setiap bulan dikirimkan pada Viola.
"Uang Abang nggak akan habis kalau cuma buat beliin kamu baju Vi. Karena kamu nggak ambil barang mewah sama sekali"
Erland memang tau sejak dulu kalau Viola yang notabennya seorang putri dari keluarga kaya, tidak pernah tergiur dengan barang-barang dengan harga selangit. Memang yang di pilih Viola tetaplah barang yang bermerk, namun masih terjangkau. Apalagi kehidupan Viola di luar negeri juga tak mengubah Viola sedikitpun.
"Sombong, mentang-mentang udah jadi kaya raya" Cibir Viola yang membuta Erland terkekeh.
"Makanya, kamu pakai uang yang abang kirimkan buat kamu. Itu sepenuhnya hak kamu kok. Antara kamu dan Sarah jumlahnya juga Abang samakan. Bahkan Sarah sempat minta tambah entah untuk apa, sedangkan kamu malah nggak mau pakai sama sekali "
Uang bulanan yang dikirimkan Erland juga cukup banyak menurut Viola, karena jumlahnya mencapai dua digit.
"Iya, iya besok juga di pakai kalau kepepet. Aku mau makan dulu lapar" Viola tiba-tiba berbelok ke salah satu restoran di mall itu.
Erland juga tak menolak, karena dia juga merasa lapar. Apalagi hari ini harus menjadi kuli untuk istrinya itu.
Viola memesan berbagai menu untuk dirinya dan Erland tanpa menanyakan dulu suaminya itu ingin makan apa. Tapi Erland tak protes sama sekali, karena yang Viola pesan semuanya Erland menyukainya.
"Kamu di sini Vi??" Tiba-tiba seseorang menyapa Viola dari belakang Erland.
"Eh, Kak Yovi di sini juga?? Sama siapa??" Viola melihat ke belakang Yovi.
"Sendiri aja, kebetulan banget kita ketemu di sini ya??" Yovi menoleh pada pria yang duduk di depan Viola yang posisinya kini di samping Yovi.
"Er?? gue kira siapa, s*alan lo!!" Yovi menonjok pelan lengan Erland.
__ADS_1
"Lo kira gue preman main tonjok-tonjok aja" Gerutu Erland. Dia dari tadi diam karena kesal dengan kedatangan Yovi.
"Aaaahhhh gue ingat sekarang. Saat gue nganterin Viola kemarin, itu rumah lo kan Er?? Ya,ya gue ingat sekarang" Yovi memang baru sekali datang ke rumah Erland sesaat setelah pernikahan mereka, karena Yovi tidak sempat datang ke pernikahan Erland dengan Sarah.
Viola sudah gugup bagaimana menjelaskan pada Yovi tentang statusnya dengan Erland.
"Emangnya kenapa?? Lo juga ngapain nganter istri orang sampai ke rumahnya" Ketus Erland sampai membuat Yovi ingin terjungkal karen terkejut dengan perkataan Erland. Begitu juga dengan Viola yang semakin gelagapan karena Erland begitu mudahnya mengatakan hubungannya dengan Viola.
Yovi langsung menarik kursi dan duduk di samping Erland. Ingin memastikan apa yang di maksud oleh Erland.
"Istri maksud lo??" Yovi begitu penasaran.
Viola rasanya ingin membungkam mulut Erland saat ini juga. Tapi kenyataan jika dia adalah istri ke dua Erland tidak bisa terus di sembunyikan.
"Viola istri gue"
"Apa!!" Erland memejamkan matanya karena Yovi berteriak di depan wajahnya.
"Nggak, nggak mungkin. Erland bercanda kan Vi??" Yovi hanya diam menatap Yovi, dan itu sudah bisa membuat Yovi tau apa jawabannya.
"Ceritanya panjang, tapi Viola memang istri ke dua gue"
"Gila lo serakah banget" Yovi menggelengkan kepalanya seakan masih belum menerima kenyataan yang baru saja dia dapatkan.
Lalu dia menatap Viola yang sedari tadi hanya diam. Dia ingat betul Viola pernah mengatakan jika dia ada yang punya tapi bukan pacar.
"Gue baru bisa percaya kalau lo cerita apa yang sebenarnya terjadi!!" Yovi menatap tajam pada Erland.
"Ini masalah rumah tangga gue, lo nggak usah ikut campur!!" Tolak Erland.
"Ya udah, kalau gitu gue bakalan rebut Viola dari lo"
__ADS_1
"Kak!!" Akhirnya Viola bersuara.
"Lo!!"
"Apa Vi?? Seharusnya kamu tau kan kalau aku tertarik sama kamu. Dan ternyata kamu malah menjadi istri ke dua Erland. Tinggalin dia Vi, nikah sama aku. Aku janji akan menjadikan kamu satu-satunya"
Erland langung mendorong bahu Yovi hingga pria itu hampir saja terjatuh.
"Jangan macem-macem lo!! Viola istri gue, dan selamanya akan jadi milik gue!!" Erland hampir mengeluarkan bola matanya.
Viola tak menyangka kedua pria yang berteman sejak lama itu akan berdebat di tempat umum gara-gara dirinya.
"Berhenti!! Apa yang kalian lakukan?? Malu di lihat orang banyak!!" Ucap Viola dengan memperhatikan sekitarnya yang mulai menatap ke arah mereka.
Erland dan Yovi mulai tenang tapi Yovi mendekatkan wajahnya pada Erland. Membisikkan sesuatu yang membuat darah Erland mendidih.
"Lo tau kan Er kalau dari dulu gue udah ngincer Viola?? Tapi kenapa lo serakah banget harus punya dua. Gue nggak peduli apapun alasan di balik pernikahan kalian. Yang jelas, kalau lo nggak bisa pilih salah satu dari mereka. Gue yang bakalan buat Viola lepas dari lo!! Ingat itu!!" Erland mengepalkan tangannya, siap untuk meninju salah satu bagian wajah Yovi. Namun Erland masih bisa mengontrol dirinya.
"Vi, aku pergi dulu ya?? Lupa kalau masih ada janji. Sampai ketemu lusa" Yovi sengaja mengacak rambut Viola dengan lembut sebelum dia pergi. Tak peduli lagi dengan tatapan tajam dari Erland. Yovi juga tidak peduli dengan hubungannya dengan Erland yang akan rusak setelah ini.
Viola melihat tatapan Erland yang menajam ke arahnya. Mungkin karena Viola yang tak bisa menghindar dari sentuhan tangan Yovi di kepalanya tadi.
"Kita pulang saja!!" Ucap Erland dengan dingin.
"Pulang?? Makanannya belum datang loh" Protes Viola.
Erland mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya. Meninggalkan begitu saja di atas meja lalu beranjak pergi meninggalkan Viola lebih dulu.
"Kamu kenapa sih sebenernya??" Kesal Viola saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mulai besok jangan dekat-dekat dengan Yovi!!" Ucap Erland dengan dingin dan begitu rendah seperti menahan sesuatu di dalam hatinya.
__ADS_1
Kening Viola mengernyit menatap suaminya dengan bingung.
"Sebenarnya dia kenapa?? Apa yang tadi di bisikkan Kak Yovi kepadanya sampai berubah menyeramkan kaya gini??"