
Saat Erland tiba di depan ruang periksa milik Niken, suasana di sana sudah sepi. Tidak ada seorang pun menunggu di depan sana. Wajar saja karena hari sudah hampir maghrib, tentu saja poli kandungan sudah tutup sejak tadi.
Sementara itu ponsel Erland tak pernah berhenti untuk menghubungi Viola, meski tak pernah ada jawaban dari istrinya itu.
"Bodoh!! Bego lo Er!!" Erland merutuk pada dirinya sendiri.
"Kenapa gue bisa nggak ingat sama sekali!! Pantas saja sejak tadi ada yang mengganjal rasanya" Erland menyusuri lorong rumah sakit, siapa tau dia masih menemukan Viola di sekitar sana meski kemungkinannya kecil. Ini sudah lewat dari lima jam dari waktu yang di kirimkan Viola melalui pesan. Tentu saja Viola pasti sudah sangat kecewa pada Erland hingga memutuskan untuk pergi dari sana.
"Halo Bi Tum, apa Viola sudah sampai di rumah??" Erland menelepon Bi Tum agar Erland tidak membuang waktu untuk mencari Viola jika istrinya itu ternyata belum pulang.
"Belum Pak, sejak siang tadi Ibu belum kembali sama sekali"
"Ya udah, nanti kalau sudah pulang langsung hubungi saya"
"Baik Pak"
Erland kemabli melajukan mobilnya, kali ini dia mengendarai dengan pelan. Menyusuri jalanan di sekitar rumah sakit. Matanya terus melihat kiri dan kanan, berharap bisa menemukan Viola.
Rasa khawatir dan takut tergambar jelas di wajah Erland. Khawatir karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu. Sementara takut karena Viola pasti akan sangat kecewa kepadanya. Viola pasti berpikir jika Erland berbohong karena tidak menepati janjinya.
"Ya Allah tolong lindungi istri dan anakku. Bantulah aku untuk membuat Viola percaya lagi denganku ya Allah"
Erland begitu gusar karena tak kunjung menemukan Viola.
"Sayang, dimana kamu??" Tanya Erland dalam kesendirian.
Erland langsung mengambil ponselnya, terbesit pikiran jika Viola pergi ke rumah Maminya.
Tanpa ragu Erland langsung menghubungi Ibu mertuanya itu.
"Assalamualaikum Mi. Apa kabar??"
"Walaikumsalllam Er, Mami baik. Sudah lebih sehat. Kabar kalian bagaimana??"
__ADS_1
Dari jawaban Via saja Erland sudah bisa menebak jika Viola tidak ada di sana.
"Kami baik Mi, Alhamdulillah. Maaf Erland belum bisa ke rumah Mami lagi"
"Tidak papa, yang penting kalian di sana sehat. Terutama Viola sedang hamil, jadi kamu harus lebih menjaganya lagi"
"Itu pasti akan Erland lalukan Mi. Ya sudah, Erland hanya ingin tau kabar Mami saja"
"Baiklah kalau begitu, terimakasih untuk perhatian kamu. Salam buat Viola"
"Iya Mi, nanti Erland sampaikan. Assalamualaikum"
Erland kembali menelan kekecewaan karena tak kunjung menemuka istrinya.
"Sebenarnya di mana kamu Sayang?? Kamu pasti marah sama Abang kan?"
Erland melanjutkan lagi pencariannya. Bahkan kini Erland beberapa kali memasuki cafe dan restoran searah jalan pulang dari rumah sakit ke rumahnya.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Erland memutuskan untuk pulang, siapa tau Viola juga sudah ada di rumah namun melarang Bi Tum untuk memberitahunya.
"Yovi?" Gumam Erland dan langsung keluar dari mobilnya.
"Sayang??" Panggil Erland. Akhirnya Erland bisa melihat wanita yang dicintainya itu lagi setelah beberapa jam jam lalu mencarinya tanpa henti.
"Kak, makasih ya udah anterin aku pulang. Aku masuk dulu"
"Sama-sama Vi"
Viola tak menghiruakn Erland sama sekali. Dia justru melangkah masuk meninggalkan Erland setelah mengucapkan terimakasih pada Yovi.
"Makasih ya udah antar Viola sampai rumah. Tapi tadi lo ketemu sama Viola di mana??" Ini kali pertamanya Erland berbicara dengan santai kepada Yovi setelah kejadian di restoran mall waktu itu.
"Lo kalau nggak bisa nepatin janji, mending nggak usah buat janji deh!!" Kini gantian Yovi yang memandang Erland tak bersahabat.
__ADS_1
"Lo nggak tau ceritanya men, tadi tiba-tiba Sarah datang ke kantor gue, katanya hari ini ulang tahun Mamanya. Gue nggak bisa nolak karena dia ngancem nggak akan pulang kalau gue nggak ikut sama dia. Tapi saat itu gue benar-benar nggak ingat kalau udah janji sama Viola. Gue sibuk dari pagi sampai nggak buka ponsel gue " Jelas Erland berharap Yovi bisa mengerti keadaannya saat itu.
"Ya minimal lo kasih kabar ke Viola kek, atau gimana caranya biar Viola nggak nungguin lo berjam-jam di sana!!" Ingin rasanya Yovi menyapa rahang Erland yang tegas itu dengan kepalan tangannya.
Kemarahannya Yovi kembali tersulut saat teringat menemukan Viola yang duduk bangku trotoar dengan tangisnya yang pilu.
"Ponsel gue di bawa sama Sarah Vi, jadi gue nggak bisa kasih kabar sama Viola. Yang pasti saat itu gue masih belum ingat kalau ada janji dengan Viola"
"Lo emang benar-benar b**ngsek!! Jadi laki itu harus tegas. Kenapa lo bisa diam aja sama Sarah kalau ponsel lo di tahan sama dia??"
Erland tak mampu menjawab, dia terus mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sekarang lebih baik lo masuk, lo minta maaf sama dia. Lo bujuk dia supaya mau makan karena dari tadi dia nggak mau makan sama sekali. Gue tadi nemuin dia di pinggir jalan, dia nangis karena kecewa sama lo. Sebenarnya gue mau kasih bogem ke wajah bodoh lo itu, tapi sayang sama tangan gue"
Lalu Yovi masuk ke dalam mobilnya lagi, meninggalkan Erland yang masih terdiam karena membayangkan Viola yang terlunta-lunta di pinggir jalan karenanya.
"Satu lagi. Kalau lo nggak sanggup punya dua, lepaskan salah satunya. Gue siap menerima Viola dan anak kalian"
Wajah Erland langsung kembali memerah karena kalimat Yovi itu. Tapi Yovi tak peduli, dia lantas menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah temannya itu.
"Nggak akan, gue nggak akan melepaskan Viola buat lo atau siapapun itu" Erland langsung bergegas mencari Viola ke dalam rumahnya.
Hati Erland mencelos saat mencoba membuka pintu kamar Viola. Begitu marahnya Viola sampai-sampai tak mengijinkan Erland masuk.
"Sayang, buka pintunya!! Abang mohon, Abang akan jelaskan semuanya" Erland terus mencoba mengetuk pintu itu.
"Sayang, Abang minta maaf karena tadi tidak datang menemui kamu. Sekarang buka dulu pintunya, beri Abang waktu untuk menjelaskan semuanya"
Ketakutan Erland sejak tadi benar terjadi. Kini Viola benar-benar marah kepadanya. Pintu itu juga tidak terbuka sama sekali.
"Sayang, maafkan Abang" Seru Erland dari luar kamar. Erland yakin jika Viola masih mendengarkannya dari dalam sana.
"Viola sayang, Abang mohon dengarkan penjelasan Abang dulu. Abang benar-benar takut jiak kamu terus diam seperti ini"
__ADS_1
Erland rasanya ingin mendobrak pintu itu. Menerobos masuk secara paksa. Namun dia takut jika hal itu akan membuat Viola semakin marah kepadanya.