Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
83. Guna-guna


__ADS_3

"Kamu masih mau mengejar Viola walau sangat abu-abu??" Beca menyeruput minuman dinginnya yang berwarna merah muda itu.


"Masih abu-abu kan?? Belum terlalu jelas jadi aku masih sangat berharap" Kalau Yovi memilih minuman yang berwarna hitam dan berkafein tinggi.


"Cih, menghibur diri sendiri dari kenyataan" Cibir Beca mengerlingkan matanya.


"Memangnya kamu yakin kalau hubungan mereka bakalan berhasil??"


Beca tampak memikirkan suatu hal, hingga matanya menyapu ke seluruh penjuru cafe itu sebelum hembusan nafas kasar keluar dari hidungnya.


"Nggak yakin juga sih. Sebenarnya akhir-akhir ini Viola tidak pernah cerita apa-apa tentang rumah tangganya, tapi dari wajahnya yang sendu itu gue bisa lihat kalau dia pasti dia lagi nggak baik-baik saja" Beca tau betul sifat Viola, jadi jika ada yang aneh sedikitpun pasti Beca langsung curiga.


"Apa selama kalian bersahabat dia tidak terbuka sama sekali??"


Beca menggeleng "Dia ekspresif, dia terbuka sama aku. Makanya kalau dia diam seperti itu justru membuatku curiga"


"Aku paham kenapa dia seperti itu, wanita mana yang sanggup di madu. Kalaupun Viola mengatakan ikhlas, pasti itu juga karena terpaksa" Beca ikut pusing dengan masalah yang di hadapi sahabatnya itu.


Yovi mengangguk menyetujui pendapat Beca itu. Sebagai laki-laki Yovi juga sedikit ngeri jika dia harus beristri dua. Berhubungan dengan dua wanita, dia tidak yakin jika bisa melakukanya seperti Erland.


"Tapi walaupun begitu, aku tetap berdoa untuk Viola. Rasanya jahat sekali karena di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku menginginkan mereka tetap bersama"


"Walaupun Viola harus berbagi selamanya??" Yovi kurang setuju dengan harapan Beca itu.


"Yaaa kita kan nggak ada yang tau akhirnya akan seperti apa" Beca mengedikan bahunya.


Sementara Yovi terus menatap Beca, sepertinya Yovi melihat sesuatu yang sengaja di sembunyikan Beca. Namun Yovi sendiri tidak tau itu apa.


*


*


*


Tok..Tok.. Tok..


"Siapa??" Teriak Viola dari dalam.

__ADS_1


Tok..Tok..Tok..


"Bi Tum ya??" Viola heran karena yang mengetuk pintu kamarnya tak bersuara.


Tok..Tok..Tok..


"Iya sebentar!!" Dengan kesal akhirnya Viola membuka pintu kamarnya.


Ceklek..


SREETT...


Seseorang dengan cepat mengambil celah agar bisa masuk ke kamar Viola.


"Kenapa kesini?? Malam ini kamarmu bukan di sini!!" Viola langsung mengeluarkan taringnya.


"Abang tidak peduli, yang penting saat ini Abang mau tidur di sini!!" Tegas Erland.


Biasanya Erland akan mengalah dengan tidur di luar, dia tidak ingin membuat Viola semakin membencinya. Apalagi setelah satu bulan ini Erland dan Viola terlibat perang dingin, namun hari ini Erland tidak peduli lagi.


"Kalau gitu aku yang akan keluar!!" Viola ingin berbalik namun tangannya berhasil di cekal oleh Erland.


"Keluar aja kalau bisa!!" Tantang Erland.


Pria yang sudah berkepala tiga itu tersenyum miring lalu membaringkan tubuhnya pada ranjang yang sudah ia rindukan selam satu bulan.


"Egois kamu!!" Tatap Viola dengan tajam.


"Iya memang Abang egois, karena kalau tidak begini, Abang tidak bisa masuk kesini!!" Jawab Erland dengan santai.


Viola tak mau berdebat panjang dengan laki-laki yang berhasil memporak-porandakan hatinya itu. Dengan diamnya, Viola menarik selimut dan juga bantalnya.


"Loh yank, kamu mau kemana??" Tak perlu Viola jawab Erland tau karena Viola menuju ke sofanya.


"Bobok sini aja yank. Kalau di sofa nanti badan kamu sakit semua. Kamu kan lagi hamil juga" Di samping memang benar yang Erland ucapkan itu. Erland juga merasa sedih karena Viola tak mau seranjang dengannya.


Viola tetap melanjutkan keinginannya. Merapihkan selimut yang akan membungkusnya di sofa itu. Tidak peduli badannya akan sangat sakit besok pagi. Yang jelas dia ingin memperlihatkan pada pria yang di anggapnya egois itu kalau Viola tidak akan semudah itu menuruti permintaannya.

__ADS_1


Malam ino Viola akan membiarkan Erland menginap di kamarnya. Bukannya menyerah, tapi karena memang Erland yang memaksanya dengan cara licik.


Viola mulai memejamkan matanya, menghiraukan Erland yang tampak tak tenang di ranjangnya, seperti cacing kepanasan yang bergerak ke kiri dan kanan. Jika menjadi pembual adalah keahlian Erland maka menjadi acuh tak acuh adalah spesialis Viola.


Viola yang mulai terlelap tiba-tiba merasakan perutnya di sentuh oleh seseorang. Bulan orang lain, Viola jelas tau siapa pelakunya.


"Sayang, apa kita akan terus seperti ini??" Erland duduk bersila di atas karpet, menjadikan tangan Viola sebagai bantalan wajahnya yang sejajar dengan perut Viola itu.


"Abang kangen banget sama kamu, sama anak kita. Kenapa saat kita sudah mulai dekat, selalu ada maslaah yang membuat kita kembali jauh. Rasanya tersiksa sekali seperti ini" Tiba-tiba Erland terkekeh di ujung kalimatnya.


Sementara Viola yang tadinya sudah bersiap terbang ke alam mimpinya, kini harus kembali terjaga.


"Kalau di pikir-pikir, kamu itu siapa sih yank?? Dulu kamu itu hanya wanita yang aku anggap pengganggu. Mati-matian aku selalu berusaha menolak kamu. Abang bahkan selalu bersikap acuh tak acuh dan berkata kasar agar kamu pergi dengan sendirinya. Kamu dulu bagaikan hama yang ingin Abang musnahkan. Tapi kenyataannya apa sekarang??" Erland lagi-lagi tertawa dengan sendirinya. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.


Viola ngeri sendiri mendengar Erland seperti itu. Berbicara dengan lembut dan setengah berbisik namun diiringi tawa yang mengerikan.


"Kamu lihat sendiri kan yank?? Kenyataannya sekarang justru seperti ini. Abang merasa tak sanggup jauh darimu. Abang bisa sangat frustasi hanya karena kamu mengacuhkan Abang. Kamu yang sekarang bisa-bisanya membuat Abang jungkir balik hanya memikirkan kamu, wanita yang dulu tak pernah Abang inginkan"


"Cihhh, kamu sebenarnya sudah beri Abang apa sih?? Pelet?? Atau semacam guna-guna?? Sungguh ini tidak masuk di dalam perkiraan Abang sama sekali karena bisa jatuh sedalam-dalamnya dengan cintamu dalam waktu sesingkat ini"


Erland mencium punggung tangan Viola dengan lembut. Lalu beralih kepada tempat di mana anaknya masih bersembunyi saat ini.


Cup..


"Hey anak Papa, Jagoan atau Princess Papa, baik-baik di dalam sana ya?? Sebentar lagi kita ketemu. Jadi anak baik yang tidak membuat Mama kesusahan. Papa sangat mencintai kalian berdua" Bisik Erland dengan bibirnya yang hampir menyentuh parut Viola.


"Tunggulah sebentar lagi yank, insyaallah sebentar lagi kita bisa hidup dengan tenang tanpa harus merasakan sakit hati lagi. Abang harap kamu sabar menunggu Abang"


Cup...


Erland mendaratkan kecupan pada kening Viola dengan begitu dalam.


"Abang tau kamu belum tidur, segeralah pindah ke kasur, biar Abang tidur di luar saja. Mana mungkin Abang tega membiarkan istri Abang tidur di sofa seperti ini"


Erland sekali lagi mengusap perut Viola, begitulah caranya dia menunjukkan kasih sayang pada anak dan istrinya.


"Selamat tidur istri dan anak Abang"

__ADS_1


Setelah itu Viola mendengar langkah kaki menjauh dan tak berapa lama pintu kamarnya terbuka dan tertutup kembali.


Barulah setelah itu mata yang pura-pura terpejam itu berlahan terbuka. Memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan Viola setelah mendengar semua ucapan Erland tadi.


__ADS_2