Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
95. Ancaman ke dua


__ADS_3

"Mas, kamu percaya sama aku kan Mas??" Sarah masih melihat Erland terus melihat ke arah perginya Viola.


"Aku hancur sekarang Mas. Aku benar-benar hancur saat ini. Harapan satu-satunya yang aku punya kini telah hilang. Dia yang seharusnya menjadi pengikat antara kita sudah tidak bisa kembali lagi. Sekarang aku harus bagaimana Mas?? Aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu akan meninggalkan wanita cacat sepertiku" Sarah kembali terisak.


Erland sebenarnya ingin mengejar Viola, nanun karena melihat kondisi Sarah yang seperti itu membuat Erland mengurungkan niatnya.


"Kamu tenang dulu Sarah, jangan terlalu di pikirkan. Ikhlaskan dia, karena dia yang akan menyambut mu nantinya"


Sarah menggeleng dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


"Enggak Mas, mana mungkin aku bisa ikhlas!! Kamu tau sendiri bagaimana susahnya aku untuk hamil. Tapi semua itu musnah begitu saja hanya gara-gara istri kedua kamu itu!!" Suara Sarah mulai meninggi.


Tampak sekali jika Sarah sangatlah frustasi dengan musibah yang baru saja dia alami. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan dan suaranya parau.


"Aku tau itu sulit buat kamu Sarah. Tapi mau bagaimana lagi selain ikhlas?? Hanya itu yang bisa kita lakukan"


Sarah menggeleng masih dengan air matanya yang berderai. Dia masih tetap keras kepala, dia merasa semua yang terjadi padanya itu gara-gara Viola.


"Tidak Mas, aku tidak akan membiarkan pemb*nuh anakku bebas di luar sana!!"


"Apa maksud kamu Sarah!!" Bentak Erland.


"Aku akan menuntut Viola. Aku akan menjadikan keguguran ku ini sebagai bukti penganiayaan yang di lakukan oleh Viola" Ucap Sarah Berapi-api.


Erland sampai membelalakkan matanya karena keputusan Sarah itu. Bagaimana mungkin Sarah akan menuntut Viola di saat hamil besar seperti itu. Erland juga tak akan rela jika Viola sampai di penjara karena kesalahan yang mungkin saja tidak di sengaja oleh Viola.


"Sarah, apa harus dengan laporkan Viola seperti itu?? Apa tidak ada jalan lain?? Dia belum tentu mendorongmu kan?? Atau mungkin saja dia tidak sengaja!!"


"Jadi kamu tidak percaya padaku Mas?? Baiklah kalau begitu kita putar cctv saja, lihat saja apa yang di lakukan Viola kepadaku. Kamu bisa melakukan itu dari ponselmu kan?? Cepat lakukan sekarang!!" Perintah Sarah.


Tampaknya Sarah sudah sangat gigih dengan keputusannya. Dia merasa sangat benar karena dengan berani menantang Erland untuk memutar cctv di rumahnya.


Dengan rasa gugup, Erland mulai mengotak atik ponselnya. Dia gugup kalau seandainya yang dikatakan Sarah itu benar, dia takut menghadapi kenyataan jika Viola memang benar mendorong Sarah.


Mereka berdua saling terdiam, Sarah masih menunggu Erland yang sedang memutar cctv dari ponselnya.


Wajah Erland mulai berubah, matanya sedikit melebar dan dahinya berkerut.

__ADS_1


"Gimana Mas?? Kamu percaya sekarang??"


"Tapi ini belum bisa menjadi bukti kuat Sarah. Posisi Viola membelakangi kamera, dia juga hanya terlihat memegang tanganmu saja, sama sekali tak terlibat dorongan dari rubuhnya kepadamu" Erland masih mencoba mengelak.


Sarah terkekeh mendengar pembelaan Erland kepada Viola


"Apapun itu, bukti dari rumah sakit ini lebih kuat. Lagipula di video itu aku juga terjatuh di depan Viola. Itu saja sudah cukup menurutku"


Sangat terlihat sekali jika Sarah memang sangat ingin menyingkirkan Viola dari kehidupan mereka.


"Apa tidak ada cara lain Sarah. Kalian berdua istriku, mana mungkin aku membiarkan kalian berselisih seperti ini. Jika kamu di posisi Viola, aku juga tidak akan membiarkanmu di tuntut oleh Viola"


Erland mencoba membujuk Sarah, dia yakin saat ini Sarah sedang terguncang. Jadi Erland akan menunggu emosi Sarah stabil dulu agar wanita itu bisa merubah keputusannya.


"Bohong!! Nyatanya sekarang kamu lebih mencintainya Mas!!" Sarah hampir saja berteriak di depan Erland.


"Sarah, aku mohon kendalikan dirimu. Kita bisa bicarakan baik-baik. Aku akan melakukan apapun asalkan jangan bawa masalah ini ke jalur hukum"


Sarah mulai tenang, dia terdiam mengusap.aur matanya. Mengatur nafasnya yang memberubu karena emosinya.


"Apa!!"


Erland menganga tak percaya dengan permintaan Sarah kali ini.


"Ceraikan dia atau aku akan jebloskan dia ke penjara!!"


Ancaman itu di berikan Sarah untuk Erland. Itu memang tujuannya, memisahkan Viola dan Erland.


"Jangan gila kamu Sarah!!" Bentak Erland.


"Aku tak peduli, hanya itu yang aku inginkan. Kamu tidak mau menceriakan dia juga tak masalah, tapi kamu akan melihat dia di penjara"


"Kamu mengancam ku Sarah??"


Erland sekarang benar-benar tak tau harus berbuat apa-apa. Kedua istrinya memberikan pilihan yang sama-sama sulit untuknya.


"Bisa di bilang begitu" Jawab Sarah dengan santai

__ADS_1


Erland memilih pergi dari ruangan itu. Dia perlu menenangkan diri sesuatu yang benar-benar menekannya.


*


*


*


BRAKK..


"Benar-benar wanita ular!!" Beca menggebrak meja didepannya.


"Pelan-pelan Beca, malu diliatin orang banyak" Bisik Viola.


"Sorry, gue emosi sama Sarah. Bisa-bisanya dia melakukan itu. Kita selama ini udah diem, kita simpan boroknya. Seandainya kuta sudah buka semua aibnya pasti sudah di tendang dari dulu tuh orang"


Beberapa waktu yang lalu, Viola menelepon Beca dengan sura bergetar. Dia mengajak Beca untuk bertemu di sebuah Cafe. Sementara Beca tau kalau Viola sudah seperti itu pasti ada sesuatu yang sedang mengguncang hatinya.


Benar saja, setelah Beca mendengarkan cerita dari Viola. Dia menjadi marah, dia tidak terima Viola di perlakukan seperti itu oleh Sarah.


"Gue udah curiga dari awal, sejak dia mengatakan dia hamil. Gue masih biarin dia, gue cuma mau lihat sejauh mana drama yang dia buat. Tapi ternyata alurnya kaya gini"


"Terus apa yang mau lo lakuin setelah ini??"


Kalau Beca jadi Viola, mungkin sudah membuat Sarah di ceraikan dari dulu. Namun Beca benar-benar mengakui baiknya Viola hingga dia memendam keburukan Sarah hingga saat ini.


"Kita tunggu dulu sampai besok. Kalau Bang Erland sudah mengambil keputusan" Beca mengangguk menyetujui keputusan Viola.


Viola melirik ponselnya yang kembali berdering. Sejak tadi memang Viola sengaja mengabaikan panggilan telepon dari suaminya itu. Dia tidak dalam keadaan yang baik untuk berbicara dengan pria itu.


"Kenapa nggak di angkat aja sih??" Beca kesal sendiri melihatnya.


"Males gue" Jawab Viola dengan acuh. Dia malah asik menikmati makanan di depannya.


Setelah beberapa kali panggilan akhirnya getaran ponsel itu berhenti juga. Namun ada satu notifikasi sebuah pesan masuk dari pria yang sama.


📩 Sayang, kamu di mana?? Abang butuh kamu saat ini. Ada yang ingin Abang sampaikan. Abang tidak tau lagi harus berbuat apa. Jadi Abang mohon temani Abang untuk mengurangi beban di kepala Abang ini. Pulanglah sayang, Abang menunggumu.

__ADS_1


__ADS_2