
"Abang minta maaf, sungguh Abang tidak ada niatan untuk melupakan janji Abang untuk mengantar kamu periksa ke Dokter. Abang juga sangat ingin melihat anak kita sayang. Tapi.."
"Tapi karena Sarah mengajak kamu ke pesta, dan sepertinya pergi ke pesta lebih menyenangkan dari pada datang ke rumah sakit begitu kan??"
Viola kembali menatap Erland dengan tatapan yang sama seperti tiga bulan yang lalu saat pertama kali Erland menjemput Viola ke Korea.
Erland tersentak karena Viola ternyata tau penyebab Erland tak bisa datang ke rumah sakit.
"Abang bisa jelaskan sayang"
"Stop memanggilku seperti itu!!" Viora mencampakkan sendok yang sudah di genggamnya itu ke dalam mangkuknya lagi dengan keras.
Wanita hamil itu lalu berdiri berhadapan dengan Erland dengan wajahnya yang tegas.
"Aku tidak memintamu untuk menemani ku memeriksakan kandunganku. Tapi kamu sendiri yang memaksa, kamu yang mengatakan ingin selalu terlibat dalam urusan anak ini. Nyatanya semua itu hanyalah permainan lidahmu saja. Buls**t!!"
Meski tatapan Viola yang tajam itu tak mengendur sama sekali. Tapi berlahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya itu mulai menetes. Kemarahannya membuat dadanya terasa sesak, bahkan untuk sekedar manarik nafas pun terlalu susah untuk Viola.
"Sayang, sungguh Abang tidak pernah berniat membohongi kamu. Abang benar-benar lupa, apalagi Sarah tiba-tiba dagang dan mengatakan jika Mamanya merayakan ulang tahun. Katanya Abang sudah berjanji untuk datang ke pestanya, padahal seingat Abang Sarah tidak pernah mengatakan apa-apa sama Abang. Apalagi setelah itu Sarah mengambil hape Abang, katanya agar tidak ada pekerjaan yang membuat Abang pergi dari pesta Mamanya. Maafkan Abang sayang, Abang yang salah. Sungguh Abang lupa, bukan Abang sengaja. Abang berani bersumpah"
Erland tidak tau akan menggunakan kata-kata apa lagi agar Viola bisa percaya kepadanya.
"Kepercayaan ku yang aku rajut kembali untukmu itu bahkan belum lebih tebal dari selembar tisu. Tapi dengan mudahnya kamu menuangkan segelas air ke atasnya hingga kamu membuatnya robek lagi. Setelah ini aku tidak tau lagi, bisa kembali percaya kepadamu atau tidak" Viola menghapus air matanya. Ia rasa hanya sia-sia mengeluarkan air matanya untuk laki-laki tak berpendirian seperti Erland.
"Sayang, jangan bilang begitu. Abang sungguh-sungguh ingin membuat kamu percaya lagi sama Abang. Maafkan kesalahan Abang, setelah ini Abang tidak akan mengecewakan kamu lagi. Abang mohon sayang" Erland mendekati Viola, meraih ke dua bahunya agar menghadap ke arahnya.
"Abang ketakutan melihat kamu seperti ini, Abang tidak tenang saat kamu mendiamkan Abang seperti ini. Abang mohon, maafkan Abang ya?? Kamu boleh memaki Abang, boleh pukul Abang, asal jangan diamkan Abang, sungguh Abang tersiksa"
Viola masih tak mau menatap mata Erland yang bisa saja sedang memerankan peran untuk membohonginya lagi. Viola juga masih tak peduli dengan apa yang Erland katakan. Viola justru menyingkirkan tangan Erland dari bahunya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Viola meninggalkan Erland. Meninggalkan bakso yang belum di sentuhnya sama sekali itu.
__ADS_1
"Sayang!"
Erland mengejar Viola yang ingin kembali ke kamarnya. Dengan sigap Erland menahan pintu kamar Viola yang sudah hampir di tutup oleh Viola.
"Lepas atau aku pergi dari sini!!" Ancam Viola dengan matanya yang masih memerah itu.
Erland kalah, dia pasrah membiarkan Viola mengunci pintunya kembali. Itu artinya Erland tidak akan punya kesempatan lagi untuk berbicara dengan Viola.
"Sayang, kalau kamu tidak mengijinkan Absen masuk tidak papa. Tapi kamu makan dulu ya, baksonya belum kamu makan sama sekali. Nanti kamu sakit, Abang ambilkan ya??" Bujuk Erland dari luar kamar Viola.
Erland juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak membiarkan Viola menyelesaikan makannya dulu. Dia justru langsung membuat Viola kembali tersulut amarah.
Tak ada pergerakan dari dalam. Sungguh malam ini Viola memilih kelaparan dari pada harus berhadapan dengan Erland.
Erland kembali duduk pada sofa yang sejak tadi menemaninya di depan kamar Viola. Tangannya mulai memijat kepalanya yang mulai terasa pusing. Sejak siang tadi dia belum memasukan makanan sedikitpun ke dalam lambungnya. Rasa laparnya sudah hilang saat dia mengingat janjinya pada Viola yang sempat dia lupakan.
-
-
"Bi Tum!!" Biola sedikit berteriak karena rasanya tidak mampu untuk berjalan menghampiri Bi Tum yang sedang memasak di dapur.
"Iya Bu!!"
Suara kerasa dari kedua wanita itu membuat tidur Erland terusik.
"Bi boleh minta tolong sebentar??" Ucap Viola setelah Bi Tum sudah mendekat padanya.
"Apa yang bisa saya bantu Bu??"
"Tolong ke depan sebentar ya Bi, belikan saya minyak angin. Punya saya habis" Viola memberikan sejumlah uang pada Bi Tum.
__ADS_1
Erland yang baru saja mengerjabkan matanya langsung bangkit meski masih sedikit limbung.
"Abang saja yang belikan ya??"
"Itu uangnya buat Bi Tum naik ojek ke depan ya??" Viola tak mempedulikan Erland sama sekali.
"Saya saja yang beli Bi!!" Ucap Erland.
"Cepat sedikit ya Bi, saya tunggu di kamar!!"
"I-iya Bu" Bi Tum sebenarnya bingung, mana yang harus didengarkannya antara dua majikannya itu.
"Bi Tum masak lagi aja, biar sayang beli" Bi Tum melihat ke arah Viola.
"Ya sudah. Mana uangnya Bi, biar saya yang beli" Sela Viola.
Erland menghembuskan nafasnya. Kalau sudah begini Erland tak bisa berkutik.
"Bi Tum pergi aja. Panggil ojek biar nggak kelamaan" Putus Erland akhirnya. Dia tidak akan tega melihat Viola pergi sendiri ke apotek pagi-pagi begini.
Sebelum Viola kembali menutup pintu kamarnya, mata mereka berdua sempat bertemu meski hanya sekilas. Erland menangkap ketidaksukaan dari mata Viola untuknya.
Rasanya sakit sekali saat Viola menatapnya dan menolaknya seperti itu. Erland bagaikan suami yang tak ada gunanya bagi Viola.
Erland kembali merasakan kepalanya pusing seperti semalam. Ia memilih ke kamar atas untuk mengganti bajunya yang belum di gantinya dari kemarin itu. Dia ingin kembali ke bawah sebelum Viola berangkat ke kampus nantinya.
Tapi nyatanya tak semudah itu, kepala Erland terasa begitu berat, pandangannya juga berkunang-kunang. Tangan Erland mencari pegangan di sekitarnya untuk menopang tubuhnya.
Kakinya yang mulai menaiki anak tangga bahkan mulai terlihat gemetar. Erland sadar itu pasti karena dia tidak makan apapun sejak kemarin. Sarapan kemarin adalah terakhir kali Erland mengunyah makanan. Apalagi Erland yang mempunyai riwayat sakit maag membuat asam lambungnya mulai naik.
Bi Tum yang sudah kembali dari apotek ingin langsung mengetuk kamar Viola, tapi di urungkan niatnya itu karena melihat keadaan Erland yang berada di ujung tangga.
__ADS_1