
"Aku nggak nyangka kamu berubah menjadi iblis seperti ini Sarah" Erland menurunkan nada bicaranya.
"Iya aku puas!! Bahkan lebih puas lagi jika anak s*alan itu benar-benar m*ti!!" Ucap Sarah dengan bengisnya. Matanya berganti menatap Erland tajam dan berair.
"Aku tidak mau melihat kalian bahagia di atas penderitaan ku. Kalian juga harus merasakan pesakitan yang aku rasakan!! Terutama wanita s*alan itu, aku tidak akan rela sampai kapanpun jika dia bahagia sama kamu" Sarah menyeringai licik.
Erland mengepalkan tangannya semakin kuat hingga ujung kukunya memutih. Rasanya sudah hilang kesabaran Erland menghadapi wanita mengerikan di depannya itu.
"Sarah, aku menemui mu di sini dengan harapan besar jika aku bisa melihat penyesalan atas perbuatan mu itu. Tapi nyatanya tidak, hatimu memang sudah benar-benar membatu"
Sarah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, sampai mengundang perhatian sipir yang berjaga di sana.
"Kamu pikir, aku berubah seperti ini karena siapa?? Kalian nggak sadar kalau kalian sudah membuatku seperti ini?? KALIAN YANG MENGHANCURKAN HIDUPKU!!" Teriak Sarah di akhir kalimatnya.
Mendengar hal itu Erland justru tersenyum miring, seolah mengejek Sarah yang tampak frustasi saat ini.
"Sepertinya menceraikan mu adalah keputusan yang paling tepat Sarah!!"
Sarah kembali menatap Erland dengan tak bersahabat. Mungkin jika tangannya tidak di borgol, Sarah sudah menyerang Erland dan mencabik-cabik wajah tampannya.
"Akhirnya aku terbebas dari wanita tidak waras sepertimu. Mana ada orang waras yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. Hanya orang gila yang seperti itu. Dari awal kamu yang salah, tapi kamu melimpahkan kesalahan mu pada orang lain. Meski siapapun tidak akan percaya omongan mu itu, tapi kamu selalu meyakini jika kamu tidak pernah bersalah. Jadi apa namanya kalau bukan tidak waras?"
"Tutup mulut kamu Erland!!" Desis Sarah dengan giginya yang mengatup erat.
"Tentu saja. Aku hanya ingin mengatakan itu. Aku juga tidak mau berlama-lama disini" Erland sudah bangkit dari bangku kayu yang di gunakan untuk duduk berhadapan dengan Sarah itu.
"Oh ya satu lagi" Erland berbalik kepada Sarah.
"Aku akan pastikan kamu mendapatkan hukuman yang setimpal untuk perbuatan mu"
Setelah itu Erland benar-benar pergi meninggalkan Sarah yang masih termenung menatap lurus ke arah Erland menghilang.
Tak ada penyesalan sama sekali dalam hatinya setelah mendengar apa yang Erland katakan. Menurutnya tindakan yang telah dilakukannya itu hanya salah satu bentuk memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
*
*
__ADS_1
*
Kedua orang berlawan jenis itu masih terdiam dengan pikirannya masing-masing meski mereka sudah duduk berhadapan lebih dari sepuluh menit.
Cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka juga lumayan sepi jadi membuat suasana di sekitarnya terasa hening.
"Lebih baik aku pulang aja dari pada terus diam kaya gini. Kerjaan aku masih banyak"
Yovi menunjukkan laptop yang menyala kepada wanita di depannya.
"Yahhh, jangan dong. Kita pesan minum aja belum" Cegah Beca.
"Ya terus kenapa dari tadi diem aja??" Kesal Yovi sambil kembali memainkan jarinya di atas laptopnya.
"Nggak tau aja apa yang harus di omongin. nggak ada topik" Jawab Beca mulai membuka buku menu di cafe itu.
Yovi sampai melotot tak percaya dengan pikiran random milik Beca itu. Bisa-bisanya wanita itu mengajaknya bertemu secara paksa, namun tidak tau tujuan mereka bertemu itu untuk apa.
"Cepetan pesan minum habis itu pulang. Aku udah capek banget" Ucap Yovi ketus.
"Yeee, galak amat. Pantesan nggak laku-laku" Cibir Beca.
"Umur kita beda lima tahun ya, jangan lupa" Beca tak mau kalah.
"Sama aja, untuk ukuran perempuan umur segitu sudah terlalu tua" Yovi menahan tawanya saat melihat wajah Beca yang sudah merah padam.
"Resek kamu!!" Kesal Beca.
"Kamu yang mulai, jangan lupa" Yovi semakin tak bosa menahan tawanya karena Beca benar-benar kesal dengan menunjukkan wajah masamnya.
"Berhenti nggak!!" Beca semakin geram karena Yovi terus saja menertawakannya.
"Iya, sorry" Yovi masih mencoba mengendalikan dirinya agar tidak mengeluarkan tawa kerasnya lagi.
"Ngomong-ngomong, kamu mau ke rumah Viola lagi kapan??"
"Kenapa?? Mau barengan ke sana ya?? Takut sama Kak Erland kalau kamu ke sana sendiri??" Beca memicingkan matanya.
__ADS_1
"Ya tau sendiri kan kalau Erland itu pencemburu berat. Niatnya kan aku cuma mau nengokin anak mereka aja"
Beca mencebik tak percaya. Dia tau betul kalau Yovi ingin melihat keadaan Viola, namun anak mereka yang menjadi alibi.
"Anaknya apa Mamanya??" Goda Beca yang langsung membuat Yovi salah tingkah.
"Apaan sih Ca. Aku udah nggak ngarep lagi kok sama Viola. Aku udah tau kalau cerita ku sama dia bakalan sad ending"
Beca bisa melihat perubahan Yovi saat mengatakan itu. Pria tampan itu tampak lemas dan pasrah.
"Pesimis banget sih"
Beca kemudian memanggil pelayan untuk memesan minum dan makanannya.
"Bukan pesimis, tapi kamu tau sendiri kan kalau hubungan mereka semakin erat. Viola juga terlihat masih mencintai Erland. Jadi apa lagi yang aku harapkan sekarang. Aku juga tidak mungkin memisahkan mereka. Aku tidak ingin anak sekecil itu harus kehilangan kasih sayang dari Ayahnya"
Ucapan Yovi tadi membuat Beca terdiam. Tidak tau apa yang sedang di pikirkan oleh wanita yang tidak pernah merasakan di cintai oleh seorang pria itu.
"Jadi kamu benar-benar sudah merelakan Viola bahagia dengan suaminya Kak??" Tanya Beca.
Yovi mengangguk "Selama itu yang membuatnya bahagia, aku tidak masalah"
Lagi-lagi Beca terdiam, kali ini cukup lama hingga makanan yang mereka pesan sudah tiba. Tak ada lagi obrolan dari merkea karena keduanya lebih memilih menyantap makanan mereka.
"Kak??"
"Hemm??" Jawan Yovi karena mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Apa orang tua mu tidak mendesak untuk segera menikah?? Aku dengar dari Viola kalau kamu adalah anak tunggal. Tentunya orang tua kamu ingin segera punya cucu dari kamu kan??"
Beca meneguk minumannya hingga habis karena mendadak tenggorokan Beca mengering karena menanyakan hal seperti itu pada Yovi.
"Tentu saja. Mengingat umurku yang sudah tidak muda lagi. Tapi kamu tau sendiri kalau wanita yang aku sukai sudah bersuami. Sementara tidak ada lagi wanita yang dekat denganku. Jadi ya biarkan saja dulu, mereka pasti paham kalau aku juga butuh waktu untuk mencari pendamping hidupku" Jawab Yovi terdengar acuh namun Beca bisa terlihat guratan kesedihan di matanya.
Beca menarik nafasnya dengan dalam lalu melepasnya berlahan demi mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba melandanya.
"Kalau gitu ayo kita menikah!"
__ADS_1
"Uhukk..uhukk..uhukk!!" Yovi terus terbentuk sampai rasanya hampir mati karena tersedak.