
Malam ini Viola dan Erland memutuskan untuk menginap di rumah Dito. Memberikan kesempatan bagi Oma dan Opa agar puas bermain bersama cucunya. Lagipula, sudah terlalu larut juga bagi mereka untuk pulang, kasihan Ezra yang masih terlalu kecil.
Erland menyusul Viola ke dalam kamar setelah puas berbincang dengan Vino dan Papinya. Selain Viola, Vino dan Endah juga menginap di sana.
Vino dan Endah memang sudah tinggal di rumah mereka sendiri sejak beberapa hari setelah pernikahan mereka. Sebenarnya Via juga tidak mengijinkan Vino untuk keluar dari rumah itu setelah Viola juga di bawa oleh suaminya. Namun Dito yang memberikan pengertian pada Via jika anaknya sudah dewasa dan perlu privasi untuk belajar hidup mandiri bersama istrinya. Meski sedih dan kecewa, akhirnya Via memberikan ijin untuk Vino keluar dari rumah itu besar itu.
Cklekk..
Erland membuka pintu dengan pelan agar tidak membuat Ezra terkejut di dalam sana.
"Ezra udah bobok yank??"
"Udah Bang, baru aja" Viola merapikan selimut yang menutupi tubuh kecil yang baru bisa menggeliat dengan lucu itu.
"Uh, anak ganteng Papa, yang pesonanya nyaingin Papa. Pinter ya kamu, nggak rewel bobok di rumah Oma" Erland menciumi pipi putranya dengan lembut. Menyentuh kulit bayinya saja Erland sedikit takut. Dalam bayangannya, kulit setipis itu bisa saja mengelupas jika Erland terlaku keras menyentuhnya.
"Jangan bilang kaya gitu sama Ezra Bang. Takutnya dia besarnya narsis kaya kamu" Viola sering kali merasa geli mendengar celotehan menggelikan dari suaminya itu.
"Ya nggak papa dong. Kan memang anak Abang, malah lucu kalau dia kaya Yovi" Ucap Erland dengan asal.
"Auk ah" Kesal Viola. Suaminya itu kadang menyebalkan dengan candaannya yang menjengkelkan itu.
__ADS_1
"Sayang" Panggil Erland dengan lembut.
Erland berganti posisi, kini kepalanya ia letakkan di pangkuan Viola yang sedang duduk bersandar di ranjang.
"Kenapa Bang??" Tak biasanya Erland memanggilnya dengan manja seperti itu.
"Abang tau ini lucu, tapi kamu mau nggak kalau Abang melamar kamu lagi. Meminta kamu menjadi istri Abang walau kamu memang sudah menjadi istri Abang. Tapi anggap saja itu sebagai ganti saat dulu Papi dan Vino yang justru melamar Abang"
Viola merutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar telah menyinggung hati Maminya dan kini suaminya juga ikut merasa jika omongannya itu adalah hal yang serius.
"Abang, jangan anggap serius omonganku tadi. Aku cuma bercanda karena melihat Mami yang begitu antusias menyambut keluarga Kak Yovi. Benar-benar tidak ada maksud yang lain. Aku minta maaf karena kata-kataku tadi justru menyinggung Abang. Tapi sungguh aku tidak ada maksud lain Bang" Jelas Viola tak ingin membuat suaminya terus salah paham tentang masalah tadi.
Viola juga tidak pernah berpikir jika dia iri dengan Beca dan Endah yang melewati pernikahan dengan berbagai proses sebelumnya.
Hanya satu hal yang menjadi pikirannya saat ini, yaitu tentang Sarah. Viola berharap masalahnya dengan perempuan itu segera berakhir. Hingga keluarga kecilnya bisa hidup tenang setelahnya.
"Enggak, Abang nggak masalah dengan ucapan kamu tadi. Tapi ini Abang serius, kamu mau nggak kalau kita mengulangnya dari awal. Lamaran, kemudian mengadakan resepsi pernikahan yang belum sempat kita lakukan. Abang ingin membahagiakan kamu sayang. Abang ingin mengenalkan kamu sebagai istri Abang ke semua orang"
Viola tersenyum, menyisir rambut Erland dengan lembut menggunakan jari-jari tangannya. Momen seperti ini yang selalu Viola dambakan.
"Abang, aku tidak ingin semua itu. Apalagi resepsi, aku juga belum ada bayangan tentang itu. Lagi pula, Abang juga baru saja bercerai. Apa kata orang nantinya?? Bukannya aku malu karena di anggap orang ketiga, tapi akan ada banyak hal negatif berdampak pada perusahaan Abang, dan aku nggak mau itu sampai terjadi. Aku nggak mau semua usaha Abang selama ini hancur karena mementingkan kebahagiaan kita"
__ADS_1
"Dulu saat aku masih begitu polos, menyatakan perasaanku sama Abang. Aku yang belum paham betul jika semua yang ada di dunia ini butuh uang bukan hanya cinta. Aku sempat berpikir jika hidup berdua dengan Abang, mau makan sepiring berdua pun aku mau. Tapi sekarang, terlebih ada Ezra, semua tidak semudah bayangannya" Viola mengingat dengan kelas pikiran-pikiran yang kini di anggapnya konyol itu.
Pikiran gadis remaja yang sedang di mabuk cinta. Dengan lugunya dan dengan keberaniannya yang dia pupuk setiap hari. Tanpa berpikir panjang menyatakan cinta pada pria yang lima tahun di atasnya.
"Saat Abang mengatakan kalau Abang tidak punya apa-apa di bandingkan dengan keluargaku. Aku hanya berpikir jika tak maslaah hidup sederhana asalkan dengan kamu" Viola tekekeh mengingat kekonyolannya.
"Menikah di KUA yang gratis, kemana-mana naik motor butut kamu tanpa mobil. Walau kehujanan atau kepanasan, asalkan sama kamu rasanya tetap membahagiakan. Tapi nyatanya cinta tak seindah itu. Aku hanya belum melihat lebih luas, arti cinta yang sebenar-benarnya" Hampir saja air mata Viola menetes kalau saja dia tidak cepat menghapusnya.
"Cukup!! Abang tidak mau dengar lagi!!"
Viola sempat terkejut dengan penolakan Erland itu.
"Cukup Abang mendengarkan sesuatu yang membuat Abang semakin terlihat bodoh sayang. Abang nggak sanggup lagi. Maafkan suami kamu ini" Erland menyembunyikan wajahnya pada perut Viola. Memeluk pinggang Viola yang masih ramping meski baru saja melahirkan.
Viola bisa mendengar suara Erland yang parau menahan tangisnya. Sudah tak heran lagi dia melihat Erland menangis di depannya. Sudah sering dan berkali-kali. Tapi tetap ada rasa sedih ketika melihat suaminya itu mengeluarkan air mata.q
"Maaf Bang, bukan maksud ku mengingatkan Abang tentang masa lalu. Aku hanya ingin Abang tau kalau menyenangkan aku bukan soal kemewahan, kejutan besar, bahkan resepsi pernikahan. Aku hanya ingin Abang selalu untuk aku dan anak kita"
Erland menjauhkan wajahnya dari perut Viola menatap kembali wajah cantik istrinya dari bawah.
"Ternyata orang menggunakan otaknya itu beda-beda ya?? Abang bisa menggunakan otak Abang untuk membangun bisnis Abang hingga sampai ke tahap ini. Tapi dulu Abang tidak menggunakan otak Abang untuk memilih pasangan hidup Abang. Justru menyia-nyiakannya terlebih dahulu"
__ADS_1
"Kamu itu seperti kail pancing, setelah Abang lempar jauh, untung saja masih ada tali yang bisa menarik mu kembali. Seandainya Abang tidak menerima permintaan Papi untuk menikahi kamu, pasti Abang saat ini sedang menangis darah karena menyesal" Ungkap Erland lagi-lagi tentang penyesalannya di masa lalu.
"Itu lebih baik Bang, dari pada tak punya otak sama sekali" Celetuk Viola membuat Erland langsung terduduk menatap tajam pada Viola. Istrinya itu seperti tak betah di ajak berbicara dengan serius.