
Endah yang sudah selesai berbelanja kebutuhan tokonya, mengurungkan niatnya untuk pulang karena melihat seseorang yang dia kenal.
Meski tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, tapi rasa penasaran Endah akhirnya membawa kakinya terus mengikuti orang itu dari kejauhan.
Endah belum tau siapa wanita yang bersama dengan pria yang sangat dia kenal itu. Tapi mereka berdua tampak sangat akrab. Bahkan pria itu tertangkap mata Endah berulang kali melengkungkan bibirnya.
Kedua orang yang Endah amati dari tadi itu memasuki sebuah toko perhiasan yang terkenal dengan koleksi berlian langganan para artis Ibukota. Tentu saja karena calon pembelinya saja pria kaya raya calon pewaris keluarga Raharja, siapa lagi kalau bukan Vino Putra Raharja.
Endah juga ikut masuk ke dalam sana. Rasa penasaran itu tidak bisa mencegah kakinya terus bergerak mengikuti pria yang dicintainya itu.
"Ini cincin pasangan keluaran terbaru Tuan, hanya ada lima seri di Indonesia. Kebetulan ini satu-satunya di toko kami"
"Cincin pasangan??" Batin Endah. Dia yang sengaja berdiri membelakangi Vino bisa dengan jelas mendengar jika karyawan itu menyebut cincin pasangan.
Dengan berlahan Endah mencoba melirik siapa perempuan yang bersama Vino itu. Dengan jarak sedekat itu, seharusnya Endah bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang di ajak Vino ke toko perhiasan.
Endah membulatkan matanya, menarik kembali wajahnya agar tetap membelakangi mereka. Betapa terkejutnya Endah, karena wanita yang bersama Vino adalah orang yang di kenalnya juga.
"Gimana menurut kamu?? Bagus nggak??" Tanya Vino pada perempuan cantik di sebelahnya.
"Bagus banget, elegan dan nggak terlalu berlebihan menurutku"
"Kalau gitu coba aja, pas nggak di jari manis kamu??" Ucap Vino lagi.
Endah sudah tidak kuat lagi di dalam sana, dia langsung bergegas keluar dengan langkahnya yabg cepat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
Endah tersungkur di lantai yang dingin itu, tak sanggup lagi kakinya melangkah membawa kehancurannya. Wajahnya menunduk mempersilahkan butiran-butiran bening itu terjun membasahi pipinya.
"Jadi yang di maksud Bang Vino itu Beca?? Wanita yang dicintai Bang Vino itu Beca??"
Bisa-bisanya Endah masih berharap jika apa yang Vino katakan itu hanyalah bualan belaka. Tapi nyatanya Endah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Vino mengajak Beca memilih cincin pertunangan mereka.
"Ya Allah, apa ini jalan yang Engkau tunjukkan kepadaku, jika dia bukanlah untukku?? Apa ini waktunya aku harus menyerah??"
Beberapa orang bahkan sampai melihat Endah dengan tatapan aneh. Seorang wanita tanggung menangis sendirian di dalam mall.
Rasanya Endah tak akan sanggup melihat pria itu bersanding di pelaminan bersama wanita lain. Apalagi Endah sendiri juga mengenal wanita itu.
Kini Endah bisa merasakan betapa sakitnya Viola dulu saat melihat pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain.
"Endah??"
Endah secepat kilat mengusap air matanya karena tau betul siapa pemilik suara itu. Endah merutuki kebodohannya sendiri karena tak langsung pergi dari tempat itu. Buktinya Vino bisa menemukannya saat ini. Saat masih dalam kondisi kacau.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ndah?? Kamu jatuh??"
Wajar Vino menanyakan itu karena posisi Endah yang bersimpuh di lantai.
Endah langsung berdiri lalu berbalik menatap orang yang ada di belakangnya, dengan senyum yang sangat di paksakan di bibir Endah.
"Iya Bang, tadi kesandung" Jawab Endah dengan mengendalikan suaranya yang masih parau itu.
"Makanya hati-hati dong Ndah" Suara Beca.
Endah memandangi Beca dan Vino secara bergantian. Mengagumi sosok Beca yang cantik dengan kulit putih mulusnya, juga Vino yang tampan dan bertubuh tinggi.
"Sungguh pasangan yang serasi" Puji Endah dalam hati.
"Oh ya, kalian dari mana??" Endah pura-pura tidak tau.
"Kita.."
"Kita habis beli cincin untuk acara lamaran ku" Vino menyerobot Beca yang ingin menjawab pertanyaan Endah.
"Lamaran ya?? Kapan??" Endah menahan bibirnya yang mulai bergetar dengan menariknya hingga mengulas sebuah senyuman.
"Tidak lama lagi. Kamu harus datang Ndah, jangan sampai kamu melewatkan momen membahagiakan ini" Ucap Vino yang langsung di jawab Endah dalam hatinya.
"Iya Bang, tentu saja itu sangat membahagiakan, tapi itu untukmu bukan untukku"
Endah menarik nafasnya panjang, berusaha mengendalikan dirinya agar terlihat senormal mungkin.
"Makasih Ndah. Aku senang karena kamu ikut bahagia dengan pertunangan ini" Endah hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan senyumnya yang palsu.
"Kalau gitu aku duluan ya" Endah langsung berbalik dengan cepat. Tak kuat berlama-lama berhadapan dengan Vino. Pria yang sangat dicintainya sekaligus pria yang meruntuhkan harinya pula.
"Dia kenapa??" Tanya Beca pada Erland karena melihat Endah yang bersikap aneh.
"Tidak tau. Ayo pulang" Vino memandangi punggung Endah yang mulai berjalan menjauh.
*
*
*
Sudah beberapa hari sejak Erland memberikan sejumlah uang pada Sarah, wanita itu jarang di rumah. Terkadang juga Sarah kembali ke rumah di saat hari sudah larut atau Erland yang sudah tertidur pulas. Malam ini pun begitu, tapi malam ini Erland akan tidur di kamar Viola.
__ADS_1
"Kenapa??" Viola menegur Erland yang membuka tirai jendela kamarnya, entah untuk ke berapa kalinya.
"Sudah malam begini Sarah belum juga pulang" Erland juga mengkhawatirkan istrinya uang satu itu.
"Ya di teleponlah, suruh pulang" Ucap Viola dengan matanya yang tak beralih dari buku di tangannya.
"Tidak bisa, nomornya tidak aktif. Udah Abang coba berkali-kali tapi tetap tidak bisa"
"Kalau gitu susul aja" Lagi-lagi Viola tampak acuh meski bibirnya mengeluarkan suara.
Erland menutup tirainya lagi lalu mendekati Viola di ranjangnya.
"Ya nggak mungkin dong yank. Masa Abang ninggalin kamu disini sendiri"
"Ada Bi Tum" Viola sama sekali tak mau memandang wajah Erland yang sudah berada si sampingnya.
"Enggak ah. Abang nggak mau ninggalin kamu. Lagian malam ini kan giliran Abang tidur di sini"
Viola menutup bukunya dengan keras, lalu melepas kaca mata bacanya untuk menatap Erland dengan tajam.
"Kalau gitu Abang bisa tenang nggak?? Kalau merasa khawatir sama istrinya itu, ya udah sana keluar aja. Cari sampai ketemu dan bawa pulang sekarang juga. Jangan disini, pusing aku lihatnya, bolak-balik buka tirai, mondar-mandir nggak jelas. Ganggu tau!!"
BRAKKK...
Viola meletakkan bukunya di atas meja dengan keras hingga membuat Erland menciut.
Saat bersama Sarah, Erland juga pernah melakukan hal yang sama pada Viola. Saat itu Sarah juga marah, tapi Erland lebih marah pada Sarah yang tak mau mengerti dirinya yang mengkhawatirkan Viola.
Sedangkan dengan Viola. Matanya yang tajam itu mampu membuat Erland ketakutan, kata-katanya yang mengatakan terganggu membuat Erland merasa bersalah, dan suara buku yang di lempar dengan keras tadi membuat Erland tak bisa berkutik. Nyali Erland melempem begitu saja di hadapan Viola.
"Maaf yank, ya udah Abang tidur sekarang" Erland langsung berbaring masuk ke dalam selimut.
"Ayo yank!!" Erland meraih tangan Viola yang masih duduk bersandar dengan matanya yang melirik Erland dengan tajam.
Akhirnya Viola mengalah, mulai berbaring di sisi Erland. Membiarkan pria itu memeluknya, menyusupkan wajahnya di lekuk leher Viola.
Rasanya Viola baru saja memejamkan matanya tapi haris terusik dengan Erland yang terus bergerak tak tenang.
"Apa sih Bang?? Keluar aja deh kalau masih nggak tenang mikirin Sarah mu itu!!" Kesal Viola masih dengan matanya yabg tertutup.
"Bukan itu. Abang nggak mikirin Sarah. Tapi Abang pingin yang lain"
Viola langsung membuka matanya, mendengar Erland mengeluarkan suara rengekan seperti anak kecil membuatnya merasa aneh.
__ADS_1
"Apaan??"
"Abang pingin...."